Damar Untuk Kinanti

Damar Untuk Kinanti
Bawa aku juga..


__ADS_3

" Tetap bicara?! jangan diam! tolong Ji!" pinta pemuda itu dengan suara keras, nafasnya ter engah engah, wajah, tangan dan kakinya di penuhi luka.


Dengan sisa sisa kekuatannya pemuda itu menggendong temannya di punggung, ia bertekad, berangkat berdua pulang berdua, tidak ada yang lebih penting dari itu.


" Aku tidak akan meninggalkanmu! kita pulang bersama! aku akan mengantarmu pulang ke ibumu! kau dengar itu?!


jadi buka matamu, dan jawablah aku?!" tegas pemuda itu.


Ia berjalan setengah berlari dengan beban di punggungnya, kakinya pun sedikit pincang di karenakan jatuh beberapa kali.


Tanpa penerangan apapun ia menembus hutan yang pekat itu, menerobos rumput rumput yang hampir setinggi dirinya.


" Ji? Aji?" panggil laki laki itu, tapi temannya itu tidak menjawab.


" Jangan tidur Ji?! di depan sudah terlihat tanah lapang, mungkin kita semakin dekat dengan arah yang benar?!" ucapnya terus.


Diantara langkahnya ada air mata yang berjatuhan, hatinya sakit sekali,


Rasa sesal bertubi tubi.


Kenapa harus Aji yang jatuh ke sungai yang curam,


kenapa tidak dirinya saja,


andai dia tidak malas bangun dan tidak membiarkan Aji yang pemula ini mencari air sendiri mungkin tidak akan begini.


" Kita akan pulang! kita akan pulang aku berjanji padamu!" tegas pemuda itu lagi menghapus air matanya dengan cepat agar Aji tidak melihatnya.


Ia terus berjalan, di temani suara burung burung yang aneh.


" Srakk! srakk! srakk!" suara ilalang yang di tabrak oleh pemuda itu untuk membuat jalan.


Setelah sejam lebih berjalan tiba tiba langkah pemuda itu terhenti.


Tubuhnya kaku seketika.


" Tidak.." ucapnya lirih,


" jangan..??" ucapnya lagi,


ia baru sadar, sejak tadi Aji tidak menjawab, bahkan mendesis kesakitan pun tidak, dan semakin dirasakan punggungnya semaki berat.


Ia menyentuh tangan Aji yang berada di pundaknya.


Dingin,


Wajah Pemuda itu pucat pasi, menyadari sesuatu.


Dengan gerakan cepat ia menurunkan Aji dar punggungnya, di rebahkan tubuh temannya itu di atas rerumputan.


"Ji? Aji?" pemuda itu memanggil manggil temannya yang matanya terpejam rapat itu.


" Jangan seperti ini?! jawab aku?! buka matamu.. kumohon gerakkan mulutmu sedikit saja?!" pemuda itu menampar pipi temannya itu beberapa kali, berharap temannya itu bangun.


" Jangan? aku sudah berjanji membawamu pulang, aku akan minta maaf pada ibumu..


jangan seperti ini?! Aji..!!!" teriak pemuda itu keras di hadapan Aji yang sudah tidak bereaksi apapun itu.

__ADS_1


Wajahnya pucat membiru, matanya tetap saja terpejam rapat meski di tampar berkali kali oleh temannya,


" Jangan pergi seperti ini.. jangan tinggalkan aku seperti ini?!!" teriak pemuda itu, suaranya menghilang diantara gelap malam dan pepohonan.


" Akhh!" ada sakit di dadanya yang menusuk,


sesak, sesak sekali, rasanya sulit untuk bernafas.


" Aji.." ia terjatuh disamping tubuh temannya, suaranya lirih menyayat.


Tubuhnya sudah bertahan berjalan berhari hari, tanpa makan, mungkin ini batas akhir kekuatan tubuhnya.


" Aji.. Aji.." panggilnya kehabisan tenaga, tubuhnya tak bisa di gerakkan lagi.


Air matanya meleleh tak terkendali dari sudut matanya, ada kepedihan yang luar biasa yang tak bisa ia gambarkan.


"Bawa aku juga.." ucapnya dengan kepedihan yang menyayat.


" Bawa aku juga.. aku tidak mau hidup jika kau tak ada lagi di dunia ini.." suaranya parau berbisik di tanah yang di lapisi alang alang dan tumbuhan berduri di sekitarnya.


" Hu.. hu.. hu.. hu..!" Ratapnya, ia menangis sejadi jadinya.


" Hu.. hu.. hu..hu.. hu.." Ia menangis cukup lama, hingga..


" Hu.. hu.. hu.. hukkk!" tenggorokannya tercekat, dadanya kembali sesak rasanya seperti di tekan berkilo kilo beban.


" Hukkk! hukkk!" ia kesulitan bernafas.


" Damar?! Damar?!" Winda mengguncang guncangkan Tubuh Damar.


" Bangun Dam! Damar!" Winda meminta tolong pada para pekerja untuk membantunya mendudukkan tubuh Damar.


" Mbak..?" ucap Damar saat dirasa dirinya sudah baikan.


Laki laki itu menangis tersedu dalam tidurnya.


" Aku sudah bilang, tidur dirumah! bagaimana kalau ada apa apa? siapa yang akan mendengar suaramu sementara suara mesin bising begini!" Winda marah, semarah marahnya.


Sudah 3 kali ia menemukan Damar seperti itu saat tidur.


Dan Winda tau benar, itu akibat hal buruk yang sudah ia alami.


" Aku sayang padamu lee.. kau adikku, aku tidak mau ada hal hal buruk yang menimpamu.." imbuh nya kemudian dengan nada lebih halus setengah memohon.


Mata Winda berkaca kaca, ia sungguh merasa kasihan dengan Damar, Winda merasa beban yang di tanggung Damar terlalu berat..


hidupnya memang seperti tidak kurang, tapi Winda tau perasaan Damar tidak pernah tenang dan menderita.


" Kembalilah ke psikiatermu.." perintah Winda,


" Tidak ada gunanya.. yang ada aku gila minum obat terus.." gumam Damar masih lemas, ia terduduk sembari bersandar di sofa, di pipinya bahkan masih terlihat lelehan lelehan air mata yang mulai mengering.


" Aku capek.. aku ingin tidur.. tapi bahkan dalam tidurpun aku tidak bisa beristirahat.." keluh Damar dengan suara parau.


Air mata meleleh lagi dari sudut matanya.


" Owalah lee..." Winda memeluk adiknya, hatinya nelongso melihat Damar yang seperti itu.

__ADS_1


" Jangan bekerja lagi, pulang ya?"


Damar terdiam,


pandangannya sejenak kosong.


" Aku mau tidur dirumah mbah uti saja.." ujarnya kemudian,


" Yah.. sak karepmu le.. yang penting km tenang.." jawab Winda.


Ia justru merasa tenang jika Damar tidur dirumah neneknya, kebetulan rumah neneknya tidak jauh, cukup memutar ke belakang rumah.


Hanya saja rumah nenek di kelilingi sawah, itu karena memang orangnya masih suka bertani meskipun tua dan sudah berkecukupan.


" Kalau kau merasa tidurmu lebih nyenyak.. tidurlah terus dirumah mbah Uti, perkara rumahmu, biar mbak yang bersihkan.." ujar Winda menenangkan.


" Aku takut ibu ramai lagi jika aku terus terusan dirumah mbah Uti.." suara Damar lirih.


" Lha kenapa? wong itu mbahmu! mbah kita!"


" Aku takut di sangka mau merayu mbah lagi perkara warisan.. kemarin saja..


aku sudah dapat tuduhan serakah mbak.."


" Dasar itu perempuan kurang waras pikirannya! mimpi apa bapakmu dulu menikahinya, yang di pikirannya cuman harta!


meskipun kau memiliki semuanya itu adalah hakmu!


apa yang kau takutkan?!


biarkan mulutnya bicara apa saja, kau sudah cukup bersusah payah betahun tahun di luar rumah!


cukup cukup kau mengalah!" nasehat winda tegas.


Ia geram sekali sebenarnya pada ibu tiri Damar, namun ia tak bisa berbuat apapun karena Damar sendiri memutuskan bersabar dengan sikap ibu tirinya itu.


" Aku bisa apa sebagai saudara.. hanya bisa berjuang untuk membantumu memperoleh hak mu le.. tidak ada yang bisa mbak lakukan selain itu..


kebahagiaanmu.. dirimu sendiri yang harus mencari.. " imbuh Winda,


" Hidupku sudah ditakdirkan tidak akan bahagia mbak.. jadi sudah lah.." ucap Damar datar.


" Tidak boleh bicara begitu?! masa lalu sudah berlalu, jangan terus terusan membebani dirimu?!


menikahlah, siapa tau dengan menikah penderitaan mu ini berkurang atau justru bisa hilang.."


" Kalau bertambah?" Damar menatap Winda serius.


" Kalau kalian saling mencintai.. tidak akan ada yang namanya penderitaan lee..


kalau permasalahan semua keluarga mendapatkannya.. tapi selalu ada jalan keluarnya..


jadi jangan apatis.." Winda menenangkan Damar,


" Carikan aku istri.. istri yang tidak akan ketakutan dan meninggalkan aku yang suka menangis dan berteriak dalam tidur..


istri yang tidak akan menganggap ku gila mbak.." tatapan mata Damar menyayat hati Winda,

__ADS_1


" duh Gusti..." keluh Winda dalam hati, hatinya benar benar sedih.


__ADS_2