
Damar menatap jalan yang ia lewati, ramai sekali.. bahkan lebih ramai dari kota malang saat malam hari.
Yah.. tentu saja.. Bandung tidak bisa di bandingkan dengan Malang.
" Tujuannya kemana tadi?" suara sopir taksi online membuyarkan lamunan Damar dan Yoga.
" Bojong soang," jawab Yoga cepat.
" Dayueh kolot ya ini?" tanya si sopir lagi.
Yoga menatap Damar.
" Sesuai alamat yang saya tulis tadi, daerah universitas telkom kalau tidak salah," jawab Damar.
" Siap.." jawab si sopir yang usianya terlihat lebih muda dari pada Damar dan Yoga.
" Masih jauh ya?" tanya Damar,
" baru sampai Buah batu.."
" Berapa lama lagi?"
" sekitar 25 menit kalau tidak macet..
a'ak nya bukan orang sini?" tanya si sopir.
" Bukan," jawab Damar pendek.
" Oh..asli mana kalau boleh tau?" tanya si sopir terus dengan logat sundanya yang kental.
" Malang,"
" oh.. malang? kebetulan ada saudara kuliah di malang..
dengar dengar nyaman dan santai sekali hidup di sana?" si sopir taksi tersenyum.
Damar tidak menjawab, lama..
hingga akhirnya Yoga yang mengambil alih perbincangan.
" Ah.. sama saja, saya kira hidup dimanapun sama nyamannya dan santainya.. asal kita bisa menempatkan diri dengan baik.." jawab Yoga tersenyum ramah.
" Aduh.. saya dengar disana tidak ada macet ya?"
" Yah.. memang jarang macet kalau tidak ada hal hal yang mendesak terjadi.."
" enak atuh.." sahut si sopir tersenyum tak kalah ramahnya.
Sementara Damar sejak tadi sudah mengalihkan pandangannya keluar jendela, ia tak berniat mendengarkan perbincangan Yoga dan si sopir.
Melihat situasi malam yang begitu meriah,
ada perasaan tidak senang yang menyusup di hati Damar.
Bisa bisanya Kinanti lari ke kota ini, apalagi sampai seminggu.
Kota yang begitu ramai dan banyak hiburannya,
"bagaimana kalau istriku tidak mau pulang?,
bagaimana kalau dia sudah kecewa padaku dan lebih memilih hidup disini?,
dan..
dan bagaimana juga kalau dia mengenal laki laki lain yang lebih menarik dariku disini?
orang bilang laki laki bandung itu ganteng ganteng.." batin Damar, bibirnya terkatup rapat menahan perasaannya yang cemas.
Pikirannya kemana mana, rasa tidak percaya diri terus muncul, ketakutan ketakutan yang sebelumnya tak pernah ia rasakan,
kini seperti menyergapnya.
__ADS_1
Dinda jalan jalan santai dengan Alfian di sekitaran resort, hanya untuk menikmati udara malam.
" Teh Kinan sudah tidur?"
" iya, dia mudah letih.. tidak seperti dulu, entah kenapa.."
" Ada kesedihan yang disembunyikan.." itu terlontar begitu saja dari mulut Alfian.
Membuat langkah Dinda terhenti,
" Kau bahkan bisa melihat itu?" tanya Dinda,
" tentu saja.. dia perempuan yang cantik.. namun selalu terlihat sedih dan sendu.." jawab Alfian ikut menghentikan langkahnya.
" Sama.. dengan dirimu saat awal awal pindah kesini..
kau selalu memaksakan senyummu..
padahal wajahmu menyiratkan kesedihan yang dalam.."
Dinda tertunduk,
" Tapi bukankah itu sudah berlalu? aku berharap luka itu sudah mulai sembuh.." Alfian berharap.
" Sudahlah.. kita sudah cukup baik dengan seperti ini.." ujar Dinda sembari kembali melangkah.
" Terus menjadi teman? itu yang kau mau? meski kita sama sama tau kalau ada ketertarikan diantara kita?" Alfian mengejar langkah Dinda.
Tak lama Hp Dinda berdering berkali kali, membuat Dinda risih.
" Iya?" jawab Dinda setelah melihat baik baik nomor yang memanggilnya.
" Kalian cari saja penginapan sekitar sana, di terusan buah batu juga banyak" jawab Dinda.
" kalau kau memang sayang dan perduli dengan istrimu bersabarlah!" tegas Dinda lalu menekan tombol akhiri panggilan.
" Siapa?" tanya Alfian,
" Suaminya? mau menjemputnya?"
" kurasa.."
" baguslah.. kenapa raut wajahmu tidak senang?" Alfian heran.
" Bukan tidak senang, wajarlah jika aku menyimpan kekesalan pada laki laki itu,
dia sudah membuat temanku menangis.."
Alfian tersenyum mengerti, lalu menarik tangan Dinda.
" Sudahlah.. kita kesini mau senang senang..
aku tidak rela kau kesal dan merasa tidak nyaman.." ujar Alfian lalu mengajak Dinda kembali berjalan di atas rerumputan dan mereka berkeliling di bawah temaram cahaya lampu taman.
Damar berdiri di depan pintu rumah itu dengan gusar, raut wajahnya yang sejak tadi tidak enak di pandang sekarang menjadi lebih tidak enak di pandang.
Sementara Yoga duduk di kursi teras rumah kontrakan Dinda itu.
" Aku bilang juga apa mas.. Dinda tidak akan menyerahkan Kinanti dengan mudah..
karena dulu juga begitu, setiap aku ribut dengan Kinanti, Dindalah musuhku.." ujar Yoga sembari mensejajarkan kakinya.
" Bagaimana ini.. mana aku ijin libur hanya 3 hari.." gumam Yoga kemudian.
" Apa aku menyuruhmu ikut?" suara Damar kesal.
" Ya tidak.." jawab Yoga pelan.
" Sudahlah, cari penginapan dekat sini." perintah Damar.
" Kalau ternyata besok mereka tidak pulang bagaimana?" tanya Yoga bangkit.
__ADS_1
" Aku akan menunggunya disini sampai dia pulang,
kau pulanglah sendiri ke malang." jawab Damar sembari berjalan keluar dari teras rumah kontrakan Dinda.
Yoga hanya bisa menghela nafas berat sembari berjalan mengikuti langkah Damar.
Damar berdiri cukup lama di samping jendela,
matanya merayapi pemandangan kota Bandung, sekitar hotel yang ia tempati saat ini.
Jalanan yang ia lihat sekarang tampak begitu Ramai, sepertinya sangat menyenangkan hidup dan bekerja disini, bahkan cafe berceceran di jalan, makanan jenis apapun dapat di temukan dan
muda muda terlihat begitu gembira menikmati malamnya.
Setidaknya itu yang di tangkap oleh Damar beberapa jam ini.
Dia sempat makan malam di cafe yang di rekomendasikan oleh sopir taksi online,
tempat dimana para pemuda pemudi dan pekerja datang selepas mereka bekerja.
Damar menghela nafas, lalu berbalik.
Di baringkan dirinya di atas tempat tidur meski matanya tidak mengantuk sama sekali.
Padahal waktu sudah menunjukkan tengah malam.
Meski ia punya uang yang lebih lebih,
ia tak terlalu sering tidur di hotel, bahkan bisa di hitung dengan jari selama hidupnya.
Tidak ada hal yang mengharuskan dirinya untuk menginap di hotel selain tuntutan pekerjaan,
itu pun terkait pekerjaannya sebagai dosen yang terkadang harus mengikuti kegiatan yang berhubungan dengan pengajarannya.
Lepas dari semua hal itu,
ia malah nyaman dengan hidupnya sebagai penduduk desa yang apa adanya.
Berpendidikan tinggi, mempunyai sebuah usaha yang lancar dan di mata orang lain mempunyai uang yang cukup tak membuatnya berbangga diri dan merasa nyaman begitu saja.
Ia memang lahir dari keluarga yang berkecukupan, namun caranya di besarkan tidak senyaman dan seenak yang di bayangkan oleh orang orang.
Hal itu yang membuatnya selalu waspada.
Kinanti terbangun dari tidurnya, di lihat jam dinding masih jam dua pagi.
" Kenapa? mimpi buruk?" tanya Dinda dengan mata setengah terbuka,
ia merasakan gerakan tubuh Kinanti, karena itu Dinda ikut terbangun.
" Iya aku mimpi.." jawab Kinanti sembari memegang dahinya, wajahnya bingung bercampur kantuk.
" Memangnya mimpi apa, sampai bangun begitu?" gumam Dinda masih terbaring disamping Kinanti.
" Aku mimpi.. suamiku menggendong bayi laki laki..
entah itu bayi siapa.." jawab Kinanti, keresahan menyergapnya, mengusir kantuknya perlahan.
" Alah.. cuma mimpi.. jangan di gubris,
ayo tidur lagi.." Dinda menarik lengan Kinanti.
" Rasanya aku sudah tidak ngantuk.. pikiranku jadi tidak enak.." Kinanti menolak untuk tidur.
" Jangan berpikir tentang sesuatu yang belum pasti secara berlebihan.. kesehatanmu bisa terganggu.. sudahlah.. berbaringlah kembali.." bujuk Dinda,
" Bagaimana kalau.." Kinanti tidak berani melanjutkan kata katanya.
" Kalau apa? mencari perempuan lain?"
kata kata Dinda sungguh menusuk hati Kinanti.
__ADS_1
" Kalau kau setakut ini? kenapa kau pergi sejauh ini?" tanya Dinda akhirnya bangkit dan menjauh dari bantalnya.