Damar Untuk Kinanti

Damar Untuk Kinanti
itu Yoga, adikmu..


__ADS_3

Senja sudah naik, dan langit yang mulai abu abu pun mulai menyapa Damar dengan gerimis.


Seakan ingin menyadarkan laki laki yang sedang tenggelam dan hampir saja mati dalam lamunannya itu.


Sebelum sampai kerumahnya, beberapa kali Damar hampir menabrak mobil di jalan raya, namun karena kesigapannya ia berhasil menghindar.


Lampu motor Damar menembus jalanan Desa yang sedikit rusak, menyusuri jalan yang becek dan penuhi genangan air.


Damar melewati area persawahan dengan pelan, seperti bimbang akan pulang.


Namun ia harus pulang, seberantakan apapun hatinya sekarang,


dirinya harus tetap bertindak sebagai suami yang baik.


Apalagi Kinanti yang sedang sakit membutuhkan dirinya.


Motor trail itu menderu memasuki garasi, Damar turun dengan gerakan enggan sembari melepas helmnya,


dan laki laki bertumbuh tinggi itu berjalan masuk kedalam rumahnya.


Langkahnya berat.


Ia bahkan tak perduli lagi dengan belanjaan yang seharusnya ia beli dalam perjalanan pulang.


" Kau dari mana? katanya belanja? mana belanjaanmu?" tanya Winda yang duduk di ruang tengah.


Damar tak menjawab, ia hanya berlalu begitu saja.


" Dam? kok meneng ae?! ( kok diam saja?!)" tanya Winda heran melihat ekspresi Damar yang muram dan sedikit pucat.


" Om?!!" suara Bagas melengking di telinga Damar,


Damar mundur dan menoleh ke arah kamar.


Disana Damar menemukan Bagas yang duduk di atas tempat tidur.


Bocah itu sedang melempar senyum lucunya ke Damar.


Namun Damar bukannya senang, hatinya semakin sakit melihat Bagas dan Kinanti begitu akrabnya.


" Itu adikmu le.. Yoga.." tiba tiba terngiang lagi kata kata ibu Kinanti di pikiran Damar.


Hatinya seperti di tusuk tusuk.


" Harusnya yang duduk di sebelah Kinan adalah anak kami.." keluh Damar dalam hati.


Di kepalkan tangannya demi menahan rasa tak nyaman di hatinya.

__ADS_1


" Om?! sini sini?!" suara Bagas lagi, namun kali ini Damar tidak mendekat, bahkan tidak masuk ke dalam kamar.


Laki laki itu melanjutkan langkahnya lurus ke arah kamar kerjanya dan kamar saat dirinya bujang.


Winda dan Kinanti yang melihat ekspresi Damar itu sedikit terheran heran.


Tidak biasanya laki laki itu tampak sangat sinis dan acuh.


Wajahnya juga terlihat kurang sehat.


Winda yang merasa ada yang tidak benar segera bangkit dari tempat duduknya.


" Suamimu tadi pamit kemana sih?" tanya Winda masuk ke dalam kamar dan bertanya pada Kinanti.


" Mau belanja kebutuhan di kota mbak.."


jawab Kinanti dengan wajah yang juga heran.


" Kita pulang saja, lalu mengaku kalau kita berbohong.. bagaimana?" tanya Kaila pada Yusuf yang sedang duduk sembari makan beberapa cemilan di kursi alun alun kota.


" Kau sejak tadi mengunyah terus dan tidak berpikir?!" Kaila geram.


Namun Yusuf tetap santai sambil mengambil lagi beberapa cemilannya dan memasukkan ke dalam mulutnya.


" Aku juga sedang berpikir... kau kira aku sedang apa?" sahut Yusuf, sembari menatap bianglala yang terus berputar.


Langit sudah gelap, namun Kaila dan Yusuf masih sama sama berpikir bagaimana menyelesaikan permasalahan keduanya.


Keduanya mengalihkan pandangannya ke arah jalan raya, sama sama mematung karena bingung.


Sementara mobil ramai berlalu lalang, dan setiap beberapa menit ada mobil kereta lengkap dengan lampu dan full musik berkeliling di area alun alun.


Penumpangnya tentu saja ibu ibu dan anak anaknya.


Yusuf tertawa kecil tiba tiba,


" Sepertinya lucu, ayo naik itu.."


ujar Yusuf tiba tiba, ia menaruh cemilannya dan berdiri.


" Itu hanya untuk anak anak, aneh..!" Kaila menolak.


" Terkadang ide muncul saat kita melakukan hal di luar aktifitas kita biasanya.." Yusuf menarik tangan Kaila hingga gadis itu mau tidak mau berdiri.


Yusuf mengandeng tangan Kaila dan naik ke mobil kereta yang sedang berhenti untuk menurunkan beberapa ibu ibu yang sedang menggendong putra putrinya.


Dengan malu malu Kaila duduk dengan tenang.

__ADS_1


Saat mobil kereta itu sudah mulai berjalan, barulah keduanya merasakan angin yang sedikit kencang menampar wajah dan mempermainkan rambut mereka.


Si sopir diam diam tersenyum melihat Yusuf dan Kaila, seperti mengira, bahwa keduanya sedang di mabuk asmara.


Kaila tertawa tiba tiba,


" Ada yang lucu? mana?" tanya Yusuf.


" Kau yang lucu.. sudah tua tapi suka sesuatu yang berbau kekanak kanakan.." komentar Kaila.


Yusuf tak menjawab, ia hanya tersenyum tipis lalu mengalihkan pandangannya pada cafe cafe yang baru di buka di pinggiran jalan.


" Kota batu semakin meriah saja ya, andai alun alun malang seramai ini.." gumam Yusuf.


" Kau belum makan kan? bagaimana kalau setelah ini kita makan?" Yusuf memandang Kaila.


" Harusnya kau mengajakku makan sejak tadi.."


" Gadis galak sepertimu bisa lapar juga.."


" Jangan sebut aku galak, entah kenapa aku hanya galak kepadamu.." gerutu Kaila sembari membenarkan rambutnya yang menutupi wajahnya.


Karena kesulitan dan anginnya kencang, Yusuf membantu merapikan rambut Kaila, bahkan memegangnya.


Kaila Kikuk merasakan Yusuf yang begitu dekat, bahkan tangannya erat memegang erat rambut Kaila seakan tangannya itu berubah fungsi menjadi karet gelang.


Wajah Kaila memerah, dan Yusuf menyadari itu.


" Kau merasa kikuk dengan om om ini?" ejek Yusuf sembari tersenyum ringan.


" Ih, biasa saja..!" Kaila membuang muka.


" Sudah lepaskan saja..!" imbuhnya.


Yusuf malah tertawa,


" Begini saja, dari pada kita berbohong.. lebih baik kita jadikan itu kenyataan.."


ucapan Yusuf membuat Kaila menatap Yusuf heran.


" Maksudnya?!"


" Kita pacaran saja.."


" Jangan gila?!"


" Tiga bulan saja.. hanya untuk menenangkan mas Damar.. bagaimana? setelah itu kita berpisah baik baik.."

__ADS_1


Yusuf melepas kan rambut Kaila dan menatap gadis itu baik baik.


Sedangkan Kaila, ia sepertinya sedang berpikir, apakah saran Yusuf itu pantas di perhitungkan.


__ADS_2