
" Mas Damar?!" panggil seorang ibu ibu, Mendengar suara ibu yang sedikit gelisah itu Damar segera mendekat kearah para petani yang sedang memetik hasil panen itu, mereka adalah pekerja mbah utinya.
" Lihat mas, banyak yang rusak.." si ibu menunjukkan cabai cabai yang baru saja di petik,
sebagian banyak yang rusak, di bagian tengah terlihat berwarna kehitaman seperti akan membusuk.
" Padahal semprotan nya lebih dari cukup budhe.." komentar Damar sembari membolak balikkan cabe itu.
" Ya sudah, panen saja, nanti biar saya yang terjun ke pasar..
jangan beritahu mbah ya budhe kalau panennya jelek.. nanti jadi pikiran.." ujar Damar tenang.
" Mas Hari..!" panggil Damar,
seorang laki laki berusia sepantaran Damar yang sedang memanen juga datang mendekat.
" Dalem mas?"
" Nanti kalau sudah di timbang, dan pick up pak anwar sudah datang, panggil saya..
bilang kalau saya mau ikut ke pasar.."
ujar Damar.
" Mas Damar mau cari pembeli sendiri?"
Damar mengangguk.
" inggih mas, nanti saya ngomong ke pak Anwar kalau mas Damar mau ikut.." Hari mengangguk.
" Ya sudah.. mas hari lanjut.. saya mau lihat padi dulu.." ujar Damar lalu berjalan melewati beberapa petak persawahan.
Jaraknya sedikit jauh, namun masih satu komplek persawahan.
Hamparan padi yang masih hijau dan baru saja bersemi tertiup angin,
mereka serempak bergoyang ke kanan dan ke kiri menghibur mata Damar.
Selain itu angin juga bertindak serupa pada Damar, mempermainkan ujung ujung rambut Damar, sehingga Damar bisa merasakan dahinya di sapu angin yang luar biasa sejuknya.
Diam diam ia tersenyum, pemandangan di sekitarnya membuatnya begitu tenang.
Belum lagi suara gemericik air yang terdengar tak jauh Dari telinga Damar,
tentu saja, ia sedang berdiri di samping perairan sawah, airnya mengalir deras dan jernih.
Damar bahkan bisa melihat beberapa yuyu, binatang sawah yang mirip kepiting berjalan kesana kemari.
Damar terus berjalan, menyusuri petak demi petak.
Lalu tak lama ia berjalan, dari kejauhan terlihat seorang laki laki setengah baya sedang sibuk mencangkuli lumpur dan meletakkannya di batas batas sawah.
Damar kurang mengerti apa manfaatnya, mungkin saja agar terlihat rapi dan agar batasan tanahnya bisa terlihat lebih jelas juga lebih mudah di tapaki.
Jarang sekali ada anak muda yang melakukannya, biasanya hal itu di lakukan para laki laki setengah baya dengan upah antara 50 sampai 100 ribu perhari tergantung berapa petak sawah yang mereka kerjakan.
Sesungguhnya Damar bisa melakukannya, untuk Damar yang ulet itu adalah hal yang mudah di lakukan, ia tak merasa segan ataupun malu untuk masuk ke dalam sawah yang berlumpur dan mencangkul cangkul.
Namun itu adalah mata pencaharian para laki laki di desa.
Tidak mungkin hanya karena terlalu rajin Damar mengambil mata pencaharian orang lain.
" Pak Subur..!" Sapa Damar mendekat,
__ADS_1
" nggih mas Damar..?!" balas pak Subur menghentikan kegiatannya.
Ia menunggu Damar mendekat.
" Pripun pak?" tanya Damar ramah,
" kirang kale mas..( kurang dua mas..)" jawab pak Subur sopan meski Damar berusia lebih muda Darinya.
Di desa ini, siapa yang menghormati orang lain, pasti akan lebih di hormati, entah itu muda atau tua.
" Owalah.. nggih pun pak.." ujar Damar.
" mas Damar..?" panggil pak Subur sembari menyeka keringat di dahinya.
" Dalem pak?"
" Selamat nggih mas.." pak Subur tersenyum.
" Selamat apa tho pak?" tanya Damar,
" Selamat mas.. akhirnya punya istri.." ujar Pak Subur sembari tertawa.
Damar tersenyum mendengarnya, wajahnya begitu bahagia mendengar kata kata pak Subur.
" Iya e pak.. akhirnya punya istri.." jawab Damar dengan hati yang berbunga bunga.
" bapak ikut senang.. akhirnya mas Damar punya pendamping..
tidak kemana mana sendiri terus dan ada yang menemani tidur..!" lagi lagi pak Subur tertawa, membuat Damar malu.
" Ah.. bapak.. bisa saja.." ujar Damar sembari tersenyum.
" Banyak yang patah hati lho mas..? perempuan perempuan desa ini mengeluh semua.. kenapa mas Damar tidak pernah melirik mereka.."
" Waduh.. pak Subur mengada ngada, saya kan kerja terus pak, mana ada kesempatan melirik perempuan.." sahut Damar,
" Calon istri saya? sudah kenal mulai SMA pak, adik teman saya..
hanya saja nyangkutnya baru sekarang.." jelas Damar,
" Owalah.. di kira di jodohkan mbak Winda? saya kira perempuan yang sering datang ke pabrik?"
" Bukan pak.. perempuan itu hanya belajar bisnis, sementara calon istri saya adalah pilihan saya sendiri.." jawab Damar lagi.
" Alhamdulillah kalau begitu mas.. semoga acaranya berjalan lancar.."
" Nggih pak.. amin.. maturnuwun ( terimakasih ) pak.."
" Nggih mas.. sami sami ( sama sama ).."
Damar melempar senyum sekali lagi lalu berbalik, berjalan kembali menyusuri petak demi petak sawah itu.
Lalu kembali ke tempat dimana tanaman tanaman cabai sedang di panen.
Hari ini Kinanti di minta khusus menemani Winda berbelanja bahan pokok, seperti bumbu dapur dan keperluan lain.
Itu sengaja di lakukan Winda agar hubungan mereka makin dekat, dan agar Kinanti benar benar ikut merasakan bagaimana ribetnya persiapan pernikahan untuk orang desa seperti mereka.
Pesta pernikahan berarti semua keluarga berkumpul, berbincang dan memasak bersama.
Ketika mobil sudah penuh dengan barang barang yang di perlukan, Winda memutuskan mengajak Kinanti makan.
Mereka berbincang tentang segala sesuatu, termasuk tentang Damar dan ibu Damar.
__ADS_1
Winda merasa perlu memberitahu kondisi yang sesungguhnya pada Kinanti, agar Kinanti tidak kaget.
Dan tentunya karena Kinanti akan menjadi nyonya Damar dalam hitungan hari.
Winda memberi tahunya agar sabar sabar menghadapi ibu tiri Damar.
Kinanti diam mendengarkan dan mengangguk, tak ada yang bisa ia lakukan sekarang selain menerima.
Tidak mungkin dia akan mundur seperti pengecut.
" Kau harus sabar dan kuat kuat ya Nan, kalau ada masalah katakan pada mbak.. tenang saja..
dan Damar juga pasti lebih membela istrinya.." ujar Winda, dan lagi lagi, Kinanti mengangguk saja.
Setelah makan keduanya memutuskan untuk kembali pulang. Namun Winda meminta agar langsung pulang kerumah Winda.
" Lho mbak? saya tidak diantar pulang?" tanya Kinanti.
" Kerumah dulu, sekalian main lerumah mbak.. nanti biar diantar Damar pulang.." ujar Winda.
" Tapi mbak?" Kinanti gelisah membayangkan akan bertemu Damar.
" Jangan tapi tapi.. ini kan hari terakhirmu keluar.. besok kau sudah tidak boleh kemana mana, di pingit.." imbuh mbak Winda.
" Jadi beri keringanan Damar untuk melihatmu hari ini.." mbak Winda tersenyum lebar.
Tetap saja Winda menyayangi adiknya dan mengerti sekali akan kerinduan yang di pendam Damar.
Ia dengan sengaja membawa Kinanti kesini agar mereka bisa berduaan ketika pulang.
" Damar mana Mar?" tanya Winda mencari cari adiknya.
" Di sawah mbak, katanya tadi mau ke pasar, coba sampean lihat dulu.. sepertinya belum berangkat.." ujar Umar.
" Ya sudah.." ucap Winda mengajak Kinanti berjalan ke area persawahan.
" Tidak apa apa kan? kita cari Damar di sawah.." tanya Winda pada Kinanti.
" Tentu saja tidak apa apa mbak.." Kinanti tersenyum demi melihat kelelahan di mata mbak Winda.
Tak terlalu jauh berjalan Kinanti melihat sosok Damar, laki laki itu sedang mengangkat karung karung berisi cabai merah ke atas mobil pick up sembari tertawa lebar.
Tampaknya ia sedang bercanda dengan para ibu ibu yang sedang sibuk memilih milih Cabai dan menimbangnya dengan timbangan yang besar.
Mencolok sekali.. pikir Kinanti, meski Damar berkumpul dengan banyak orang ia tetap terlihat mencolok, pembawaannya yang tegap dan tinggi, juga wajahnya yang menawan..
" ahh.." Kinanti mengeluh dalam hati.
Dia sedang bercanda dengan para wanita dengan santainya, padahal dengan Kinanti dia tak pernah tersenyum selebar itu.
Senyumnya terlalu manis, bagaimana kalau sosoknya yang menawan dan sederhana itu memikat salah satu perempuan disana, pikiran Kinanti melayang kemana mana. Ia tidak tau kalau perempuan perempuan disana rata rata adalah ibu ibu meskipun tubuh mereka kecil.
Tentu saja Kinanti yang memandang dari jauh tidak bisa melihat itu dengan jelas.
" Kenapa? calon suamimu ganteng ya?
dia biasa membantu ibu ibu dan bapak bapak bekerja.." Winda menyadari pandangan Kinanti, calon adik iparnya ini terlihat jelas sedang terpikat oleh pemandangan di hadapannya.
" Dia tidak pernah olah raga, tapi tubuhnya bagus karena dia ringan tangan.. kadang dia memilih kayu kayu dengan tangannya, lalu seperti yang baru kau lihat, mengangkat ini itu.."
" Mbak memuji muji adik mbak sendiri.." komentar Kinanti membuat Winda tertawa.
Tapi benar ucapan mbak Winda, kesederhanaan dan keramahan Damar membuatnya tertegun dan terpesona.
__ADS_1
Entah berapa banyak kelebihan yang disimpan laki laki ini, Kinanti masih tak tau..
tapi yang jelas, ada sedikit kekhawatiran di hatinya melihat senyum Damar yang penuh keramahan pada orang lain.