Damar Untuk Kinanti

Damar Untuk Kinanti
di luar jendela


__ADS_3

Hari sudah cukup sore saat Alfian, Dinda dan Kinanti kembali ke Dayueh kolot.


dalam perjalanan Kinanti terus tertidur, karena saat terbangun semalam, ia tidak bisa kembali tidur hingga pagi menjelang.


Untung saja saat jalan jalan tubuhnya tidak lemas, namun selera makannya cukup hilang.


Dinda semakin tidak senang melihatnya,


niat Dinda adalah menyenangkan hati Kinanti, membuatnya lupa akan beban bebannya.


Tapi bukan lupa akan bebannya, Kinanti malah lebih kepikiran karena mimpi yang tidak jelas itu.


" Teh Kinan kelihatan lelah.." ujar Alfian tenang sembari menyetir.


Ia berhati hati sekali, karena jalanan lembang yang berkelok kelok.


" Iya, dia tidak tidur sampai pagi.." jawab Dinda sambil mengotak atik HPnya.


" Tidak nyaman?" tanya Alfian dengan logat sundanya.


" Mimpi buruk.." jawab Dinda.


" Kita mampir makan ya? sambil beli oleh oleh untuk ibu.."


Dinda tak menjawab, ia hanya mengangguk saja pertanda setuju.


Entah kenapa setelah berhenti untuk makan, dan setelah kembali ke mobil Kinanti tertidur lagi,


bahkan terlihat nyenyak sekali.


Mungkin karena semalam ia hanya tidur beberapa jam saja, yah benar..


Tapi syukurlah, makannya lumayan banyak tadi, tidak seperti biasanya.


Dinda senang melihatnya, hingga sebentar sebentar Dinda menengoknya.


Alfian menyetir dengan cukup baik, dari lembang sampai kembali ke Dayueh kolot lagi.


Kebetulan Alfian cukup sigap, dia bisa memilih jalan jalan alternatif sehingga mereka tidak begitu terjebak kemacetan, dan menghabiskan waktu yang terlalu lama di jalan.


Tentu saja, karena ini adalah hari minggu, tidak mungkin tidak ada macet,


semua orang tentu saja sibuk untuk berlibur,


atau hanya sekedar keluar untuk makan atau berkeliling untuk melepas penat setelah bekerja dari Senin sampai sabtu.


Alfian mengurangi kecepatan mobilnya dan mulai masuk ke gang rumah mereka.


Alfian berhenti tepat di depan pagar.


Namun betapa terkejutnya Alfian melihat dua sosok laki laki sedang duduk duduk di teras rumah kontrakan Dinda.


Tanpa menunggu Dinda, Alfian segera keluar dari mobil dan menghampiri keduanya dengan langkah cepat.


Melihat Alfian mendekat keduanya tentu saja bangkit dari duduknya.


" Punten, maneh saha? ( permisi, kalian siapa? )" tanya Alfian dengan raut kurang ramah.


Di lihat kedua laki laki itu baik baik,


yang satu tingginya sedang, berkulit putih bersih, terlihat menawan dan senyumnya ramah.


Yang satu tinggi, Kulitnya sawo matang, raut wajahnya tegas, berhidung mancung dan tampak tidak ramah.


Damar dan Yoga saling menatap sejenak, keduanya sama sama tidak faham apa arti dari kalimat laki laki yang tiba tiba saja datang mendekati mereka itu.


" Maaf, kami tidak faham bahasa sunda.." kata Yoga sopan.


" Apa benar ini rumah Dinda yang dari malang itu?" tanya Damar langsung memotong, ia tak ingin berbasa basi.

__ADS_1


" Suami Kinanti?" Suara Dinda mendekat,


Alfian menatap Dinda, lalu kembali menatap Dua laki laki di hadapannya.


" Ya, saya Adamar, suami Kinanti." jawab Damar sembari mengawasi Dinda, ia melihat samping kanan dan kiri Dinda, mencari sosok istrinya.


" Istri saya dimana?" tanya Damar tidak sabar ingin melihat istrinya.


Dinda tersenyum melihat itu,


" Jangan main main Din?! Kinan mana?!" suara Yoga tegas.


" Eh, yang sopan bicaranya ya?!" Alfian melangkah maju ke hadapan Yoga, tapi Dinda menarik lengan Alfian dan menggeleng pelan.


Melihat itu Alfian kembali mundur, patuh pada Dinda.


" Ah.. cecunguk ini, masih hidup untuk membuat kekacauan di hidup Kinan.." Cemooh Dinda kesal melihat Yoga.


" Ngomong seng genah awakmu Nda?! mas ku adoh adoh rene ngolek i bojone?!


ojok sampe mbok singit singitno koyok pas ambek aku biyen yo?! ( ngomong yang benar kamu Nda?! kakakku jauh jauh kesini mencari istrinya?! jangan sampai kamu sembunyikan seperti ketika dia masih bersamaku dulu ya ?! )" peringat Yoga.


Dinda tertawa sengau sembari menatap Yoga.


" Mas Damar.. bisa bicara dulu? tanpa saudara mas itu tentunya.." Dinda beralih pada Damar.


Dan Damar mengangguk, setelah melihat Damar mengangguk Dinda kembali pada Alfian.


" Tunggu disini sebentar saja.. dan biarkan Kinan tidur, jangan di bangunkan.." bisik Dinda,


lalu segera membuka pintu dan masuk ke dalam rumah bersama Damar.


" Silahkan duduk, maaf tidak ada kursi.." ujar Dinda duduk, dan Damar menyusul duduk, raut Damar masih begitu kaku dan serius.


" Sebelum sampean (anda) bertemu dengan Kinan, ada hal hal yang harus saya sampaikan dulu..


pertama, tolong jangan membuatnya kaget, dia sedang dalam kondisi tertekan,


" Lalu Kondisinya juga tidak begitu baik saya rasa, sejak datang dia tampak kurang sehat..


makannya tidak pernah banyak,


saya kira dia benar benar terpukul atas perbuatan sampean mas.."


Damar membisu, tak bisa menjawab apapun.


" Kalau memang sampean sayang dengan Kinanti, jangan membuatnya seperti ini..


sebagai seorang perempuan, saya faham betul..


bukannya Kinanti itu sengaja membiarkan Yoga mendekatinya,


tapi sebagai seseorang yang pernah berhubungan di masa lalu.. tentu saja dirinya butuh beradaptasi, apalagi dia baru tau kalau ternyata Yoga meninggalkannya dengan terpaksa.


Diam, bukan berarti dia ingin kembali..


tapi dia sedang menata hatinya untuk menerima bahwa ia sekarang bersaudara dengan Yoga.


Ada yang harus mas pahami.. ketika seorang wanita sudah sanggup bersikap ramah pada mantan kekasihnya, itu berarti perasaannya benar benar sudah hilang, beda dengan seorang laki laki..


jadi dalam hal ini tolong jangan terlalu menyalahkan Kinanti,


dia bukan malaikat..


dia juga tidak mengkhianati sampean mas..


mungkin di mata orang lain dia tidak tegas,


tapi dia meyakinkan pada saya..

__ADS_1


jika yang terlihat di kelopak matanya hanyalah sampean..


Semalam dia bahkan menangisi sampean..


dia berkata, semarah apapun sampean padanya..


dia tetap mencintai sampean, bahkan takut kehilangan sampean.." ucap Dinda panjang lebar, dan Damar masih membisu sembari menundukkan pandangannya, terlihat sekali penyesalan tumbuh semakin dalam di hati Damar setelah mendengar kalimat kalimat Dinda.


" Saya memang tidak berhak turut campur..


tapi saya harus ikut campur agar anda faham, bahwa Kepergian Kinanti ke sini karena dia sudah putus asa.


Bersyukurlah dia kesini, bukan lari ketempat lain, atau malah bunuh diri karena frustasi.


Bayangkan ada di posisi Kinanti, suaminya adalah saudara mantan kekasihnya, dan kalian hidup berdekatan?!.


Dia sudah menjaga jarak tapi Yoga yang selalu memaksakan dirinya mendekat,


anda harusnya menyadari..


betapa sulitnya menghindari Yoga jika berada satu lingkungan dengannya, apalagi perasaan Yoga masih kuat.


Bagaimana caranya Kinanti untuk terus lari?


untuk terus menghindar?!"


Dinda menghela nafas dan memperbaiki posisi duduknya.


" Anggap saja semua salah, baik anda maupun Kinanti, ketakutannya terlalu besar.. sehingga ia tidak bisa jujur tentang Yoga,


dia takut sampean akan mempunyai pemikiran pemikiran buruk karena kalian ada dalam satu lingkungan.


tapi sudahlah..


yang berlalu biar berlalu..


saya tidak menyembunyikan Kinanti,


sebelum anda membawanya pulang saya ingin dia menikmati suasana lembang.


Tidak mungkin saya memisahkan sepasang suami istri yang saling mencintai ini bukan?"


mendengar kalimat Dinda raut wajah Damar yang muram dan penuh penyesalan itu sedikit berubah.


" Lalu.. istriku dimana?" tanya Damar dengan suara tertahan.


Dinda tersenyum,


" Dia sedang tidur.. di dalam mobil.. tapi jangan di bangunkan,


biar dia bangun sendiri.." kata Dinda membuat mata Damar kembali bersinar.


Dengan gerakan cepat Damar bangkit dan berjalan keluar,


ia berjalan ke arah mobil berwarna putih itu tanpa alas kaki.


Segera mengintip dengan perasaan campur aduk ke dalam jendela mobil paling belakang.


Karena Kaca jendela berwarna hitam, ia harus benar benar menempelkan kedua tangan dan wajahnya.


Pandangannya berhasil menembus jendela, menangkap sesosok perempuan berambut panjang dan berdagu cantik yang sudah sebulan tak di lihatnya itu.


Matanya tiba tiba saja penuh,


rasa haru memenuhi hatinya,


perempuan yang di cintainya itu sedang tertidur dengan begitu pulasnya,


hingga tidak menyadari bahwa suaminya yang ia tangisi semalaman itu

__ADS_1


sedang memandanginya dari luar jendela, dan menunggunya terbangun.


__ADS_2