
Damar mengendong Bagas yang sedang sibuk bermain sendiri di ruang tengah rumahnya.
" kemana tante Kinan?" tanya Damar mencubit ujung hidung Bagas gemas.
" Sedang dirumah mbah Uti mas.." sahut di Yuk dari dapur.
" Sejak tadi? atau barusan?" tanya Damar.
" Sudah mulai siang mas.. tadi saya nyusul sama mas Bagas, tapi ternyata mbak Kinan ketiduran di kursi mbah.." jelas Yuk.
Damar mengangguk,
" Bagas sudah mandi yuk?" tanya Damar kemudian,
" Kata pengasuhnya tadi sudah mas.. sampun maem ( sudah makan ) juga.."
" ya wes.. diam disini ya, om mau mandi dulu.. bauuu.." ujar Damar menurunkan Bagas di atas sofa.
Damar masuk ke dalam kamar yang dia gunakan untuk bekerja.
Menaruh tasnya dan mengeluarkan laptopnya untuk di cas.
Dahinya sedikit berkerut melihat beberapa tatanan di mejanya yang berubah.
" Dia masuk kesini lagi.." gumam Damar, lalu menatap fotonya dan Aji yang terpajang di dinding.
" Adikmu masuk lagi ke kamar ini.. entah apa yang ia cari.." ujarnya berbicara sendiri.
Tak lama setelah menyusun lagi mejanya agar lebih rapi, Damar berjalan keluar, dan masuk ke dalam kamar yang ia tempati bersama Kinanti.
Kamar yang di penuhi aroma Kinanti.
Bau lotion dan krim krim perawatan kewanitaannya yang memanjakan hidung memenuhi ruangan.
Inilah hal hal baru yang di sukai Damar semenjak menikah,
Ia tidak merasa sendiri lagi, bau tubuh Kinanti selalu saja lekat di hidungnya dan membuatnya tak bisa berlama lama untuk jauh.
Namun sayangnya seminggu ini Damar tidak sehangat biasanya, ia tau dan menyadari itu.
Ia merasa kikuk gara gara kejadian waktu itu.
Ia bahkan menunjukkan sisi lemahnya di hadapan istrinya.
Ia menangis dan meratapi sahabatnya yang juga kakak kandung istrinya.
Sedih dan malu bercampur menjadi satu,
jangankan untuk mencumbunya, melihatnya pun Damar malu.
Setelah ia membersihkan diri, ia memutuskan menjemput istrinya itu dirumah mbah uti.
Seperti biasa, sesampainya di rumah mbahnya itu Damar langsung menuju Dapur.
Dan bertapa kagetnya ia melihat istrinya itu tertidur di kursi panjang yang biasanya di tiduri Damar juga.
Kinanti meringkuk disana, lelap sekali..
di tambah lagi hawa yang hangat dari api yang di nyalakan mbah uti.
" Jangan di bangunkan.. mesakne ( kasian ).." suara mbah uti pelan, beliau berjalan masuk dari arah pintu belakang yang menghubungkan langsung dengan persawahan.
" Pun maem mbah? ( sudah makan mbah? )" tanya Damar sembari mengamati istrinya.
" Bojomu? uwis.. maem karo mbah sak durunge turu..( istrimu? sudah.. makan sama mbah sebelum tidur..)" jawab mbah uti.
__ADS_1
" Mari ngomong opo e mbah? ( habis ngobrol apa mbah? )" tanya Damar melihat sisa sisa sembab di mata Kinanti.
" Ngomong e sak itik.. nangise seng akeh..( ngomongnya sedikit.. nangisnya yang banyak..)" ujar mbah tersenyum.
" Nangis kenapa dia mbah?"
" yo nangisi awakmu lee..?! ( ya nangisi kamu nak..?!)"
Damar terdiam,
" Damar baik baik saja.. kenapa harus di tangisi mbah.." ujarnya dengan pandangan sayu pada istrinya yang masih terlelap.
" Iku jenenge tresno.. ( itu namanya cinta.. ), kalau kamu sakit hati di juga ikut sakit hati lee..
kalau kamu bahagia dia juga ikut bahagia..
lha kamu ini sudah tua, harusnya faham perasaan istrimu..
saking bingungnya sampai lari kesini, nanya mbah ini itu.." ujar mbah uti.
Damar mengelus rambut istrinya perlahan,
" Mulai sekarang itu terbuka sama istri..
susah, senang.. jangan di pendam sendiri biar istri tau dan tidak salah faham..?"
" Damar emoh Kinanti susah mbah..( Damar tidak mau Kinanti susah mbah..)" ujar Damar.
" Semua orang tidak mau pasangannya susah cah bagus.. arek ganteng..
tapi apa gunanya rumah tangga kalau semuanya kau tanggung dan telan sendiri..
libatkan istrimu dalam berbagai hal..
selain menambah wawasannya, hal itu juga bisa memperkuat ikatan batin kalian..
kesusahan sekali kali juga baik untuk perkembangan nya, agar dia menjadi ibu yang layak dan bijak untuk mengurus anak anakmu kelak.." imbuh si mbah.
" Damar faham mbah.. tapi tetap saja Damar tidak tega memberinya beban pikiran.. " ujar Damar masih mengelus elus rambut istrinya.
" Owalah.. ya wes.. rene.. ngombe kopi sek..( ya sudah kesini.. minum kopi dulu..)" ujar mbah.
Damar berjalan di belakang, mengikuti langkah istrinya.
" Awas.. ada batu.." ujar Damar memperingati.
Kinanti diam saja, dan masih terus berjalan.
Suara kodok bersautan, membuat suasana yang hening diantara keduanya tidak begitu terasa.
" awas ular.." ujar Damar lagi,
Kinanti mundur seketika,
" Mana?!" tanyanya cemas.
" Aku kan cuma bilang awas.."
" Ihhh..?!" kesal Kinanti, suaminya itu seperti sengaja menakutinya.
Damar tertawa, ia menangkap wajah Kinanti yang kesal dari bias lampu kecil yang sengaja di pasang tiap 5 meter di jalan setapak menuju rumah mbah utinya itu.
setelah keluar dari jalan setapak area persawahan Damar mengejar langkah Kinanti.
" Mas kok di tinggal sih?" tanya Damar meraih tangan kanan istrinya itu, ingin berjalan bergandengan.
__ADS_1
" Bukannya mas sudah tidak begitu perduli padaku?" sahut Kinanti,
" Lho? tidak perduli bagaimana??" Damar meraih bahu istrinya agar menghadap ke arahnya.
" Mas diam bukan karena tidak perduli.. justru karena mas sayang padamu..?" ucap Damar serius.
" Mana ada orang sayang yang mengacuhkan?"
" Mas tidak bermaksud begitu.. perasaan mas campur aduk rasanya..?"
Kinanti diam, ia hanya mendengarkan suaminya itu bicara.
" Kok diam..?" tanya Damar ketika lama keduanya terdiam di tengah jalan.
" Kita bicara dirumah.." ujar Kinanti,
" Masa kita bicara di tengah jalan.. di kira orang kita sedang ribut saja.." imbuh Kinanti.
Mendengar itu Damar mengangguk sembari tersenyum.
" Gendong ya..?" ujarnya,
" Gendong?" dahi kinanti berkerut,
Damar mengangguk,
" Mas lupa terakhir kali mas menggendongku mas gemetar seperti itu?!" protes Kinanti.
" Ya di depan lah.." ucap Damar kalem,
" di depan? aku bukan Bagas mas.." Kinanti setengah menggerutu, namun Damar tak mau tau.
Di angkatnya tubuh Kinanti ke atas, lalu di tariknya paha Kinanti agar melingkar di pinggangnya.
" Mas?! ini di tengah jalan?!" Kinanti memukul lengan Damar sembari menoleh ke kanan dan ke kiri, takut kalau kalau ada mata yang melihat mereka.
Tapi Damar hanya tertawa lebar, ia mengecup bibir istrinya yang sedang mengomel itu dengan gemas.
" Kau persis Bagas kalau begini.." gumam Damar.
" Mentang mentang tubuhku kecil, mas memperlakukanku seperti anak anak..?"
benar sekali, Kinanti terlihat seperti anak anak di dalam gendongan Damar yang bertubuh tinggi dan besar itu.
" Mana mungkin aku menganggap mu anak anak istriku..
jangan mengomel lagi, ayo kita pulang..?" ujar Damar kembali berjalan ke arah rumah sembari mengendong Kinanti di depan.
Kinanti yang sudah pasrah mengalungkan tangannya ke leher Damar dan menyandarkan kepalanya ke bahu Damar.
" Tidak apa apa kan aku bersandar dari depan?" tanya Kinanti pelan.
" Tidak apa apa sayang.. kita sampai pintu rumah sebentar lagi.." ujar Damar lalu membuka pintu dengan tangan kanannya.
Setelah pintu rumah tertutup Damar tak sanggup lagi bersabar.
Di ciumnya bibir Kinanti, perlahan dan lembut.
Kinanti yang masih di atas gendongan Damar tentu saja menggeliat saat ciuman Damar mulai turun ke lehernya.
Merasakan istrinya yang terus bergerak, kesabaran Damar sudah habis.
Di bawanya Kinanti ke arah kamar tidur mereka, dan mengunci pintu nya rapat rapat.
Semetara Yoga yang sejak tadi berdiri di depan jendela rumahnya hanya bisa menyaksikan pemandangan menyakitkan yang tersuguh di hadapannya.
__ADS_1
Di kepalkan tangannya demi menahan gejolak kecemburuannya.
Dirinya tak sekuat itu hingga harus melihat kemesraan kemesraan antara Damar dan Kinanti yang terkadang tak tau waktu dan tempat.