Damar Untuk Kinanti

Damar Untuk Kinanti
hati yang sesungguhnya tergerak


__ADS_3

Yoga masuk ke dapur mbah uti, di belakangnya mengekor Bagas.


" Mbah buyut?! mbah buyut?!" Bagas segera menempel di pangkuan mbah buyutnya yang sedang sibuk mengupas jagung itu.


" Lha.. arek ganteng.." si mbah buyut menciumi pipi Bagas gemas.


" Mas.." panggil Yoga pada Damar yang duduk merokok di depan pintu Dapur yang sedang terbuka itu.


Pintu dapur itu terhubung dengan sawah, sehingga Damar bisa menangkap suara kodok yang bernyanyi bersahutan.


" Om Damal.. cari kodok.." celoteh Bagas membuat Damar tertawa.


" Lhoo.. ya ndak boleh.. sudah menjelang malam, banyak apa.. u.."


" ulat.."


Damar dan Yoga tertawa, sementara mbah yang gemas mencubit pipi Bagas.


" Ayo nderek mbah buyut.." ajak si mbah,


" Kemana?" tanya Bagas mengekor,


" mundut jajan.." jawab mbah sembari berjalan ke arah ruang tengah.


Damar dan Yoga hanya memperhatikan saja sampai keduanya menghilang di bali pintu.


" Mas tidur disini terus?" tanya Yoga, ia mengambil kursi kayu kecil dan duduk di depan pawon mbah yang masih membara.


" seminggu ini iya.." jawab Damar sembari melempar pandangannya pada persawahan yang mulai di telan kegelapan.


" Mana kopinya ini?" tanya Yoga menoleh kanan dan kiri.


" tuh, minum kopiku.. baru di buat, belum sempat ku minum.." ujar Damar.


Yoga melihat segelas kopi di atas meja,


ia bangkit mengambilnya dan duduk kembali.


" Aku tadi bertemu Kaila.. dia menangis.." ujar Yoga membuat Damar langsung menoleh ke arah Yoga.


" Kenapa?" raut Damar serius,


" apa ibu mencari gara gara lagi?" imbuh Damar.


" Tidak.. awalnya aku juga mengira begitu mas.." jawab Yoga sembari menyeruput segelas kopi di tangannya.


" Lalu kenapa dia menangis?"


" Jangan marah ya?" Yoga memandang Damar sembari tersenyum.


" Marah kenapa?" dahi Damar berkerut.


" Dia menemui perempuanmu.."

__ADS_1


Ekspresi Damar lebih serius sekarang,


" yang datang kesini waktu itu?"


" mungkin iya.. pokoknya dia bilang menemui pacarmu.. lalu yang mana lagi mas..? orangnya yang mana saja aku tidak tau.." jawab Yoga santai.


" Kenapa terus? kok bisa dia ketemu?"


" tidak tau.. pokoknya dia menangis, sepertinya dia memarahi perempuan itu.. dan saking kesalnya dia menangis..


mas tau kan, dia masih kekanak kanakan.."


Damar bangkit, membuang rokoknya yang masih banyak.


" Kan aku bilang jangan marah.." ujar Yoga melihat Damar yang berdiri dari kursinya.


" Kaila hanya ingin yang terbaik bagimu mas.. jangan marahi dia.."


Damar terdiam, entah apa yang ia pikirkan, yoga pun tak bisa menebaknya.


" Dia sedih sekali mas, dia menangis tersedu sedu.."


Damar masih terdiam.


" Aku pergi dulu.. kau disini saja temani mbah.." ujar Damar berjalan melewati Yoga.


Kinanti sedang di dalam Kamar ketika Damar datang,


" Nan.. di cari Damar.." panggil ibunya.


jangan jangan gara gara adiknya tadi siang.. dia langsung kemari.. ucap Kinanti dalam hati.


Kinanti berjalan keluar dengan Daster balinya.


" Iya mas?" jawab Kinanti membuyarkan lamunan Damar.


" Pakai jaket, kita keluar sebentar ya..?"


Kinanti diam sejenak,


" Aku tidak akan bisa tidur kalau tidak bicara padamu..?" imbuh Damar meyakinkan Kinanti agar mau ikut dengannya.


" ya sudah, mas tunggu sebentar.." ujar Kinanti masuk dan mengambil jaket.


Keduanya keluar dengan mengendarai mobil Damar.


Setelah agak jauh dari rumah Damar menghentikan mobilnya.


Keduanya hening cukup lama.


" Maafkan adikku.." ucap Damar lirih,


" dia masih terlalu muda untuk memahami situasi kita..

__ADS_1


aku mohon maafkan sikapnya yang tidak sopan terhadapmu.." imbuh Damar.


Kinanti menghela nafas, lalu tersenyum mengerti.


" Ku kira ada apa mas.. kalau soal adikmu, itu tidak ku masukkan ke dalam hati.. aku maklum dengan sikapnya.." ucap Kinanti.


" Apa dia memakimu?"


" apa menyebutku jahat termasuk memaki?" Kinanti tersenyum manis, ia ingin menenangkan Damar yang sepertinya tegang sekali itu.


" Maafkan aku.. aku benar benar tidak tau dia mengetahui semua hal ini dari siapa..


yah.. mungkin saja dari mbak Winda..


tapi tindakannya membuatku malu.."


Damar tertunduk.


" Mas... tidak apa apa.. dia hanya berkata aku jahat, dia tidak memakiku sama sekali..


jadi lupakanlah.."


wajah Damar masih belum baik, entah apa yang di pikirkan laki laki itu.


" Aku.." kalimat Damar terhenti,


" Ah, tidak.." ujarnya kemudian,


" Kita sudah berjanji akan baik baik saja kan mas.. jadi katakan apa yang ingin mas katakan.."


keduanya berpandangan.


Damar meraih tangan Kinanti dan menciumnya.


" Apa kau pasti bahagia menikah dengan Haikal?" tanyanya,


" Selama aku tidak mencintainya aku akan baik baik saja mas.."


Damar tak percaya dengan jawaban Kinanti, bisa bisanya pemikiran wanita di hadapannya ini terbalik dan tidak sama dengan perempuan perempuan lainnya.


" Kinanti.. aku tidak tau apa yang kau pikirkan dan inginkan sesungguhnya..


tapi carilah aku, jika suatu ketika nanti Haikal menyakitimu..


Aku akan selalu menerimamu, apapun kondisimu.." ucap Damar mencium tangan Kinanti sekali lagi.


Kinanti tertunduk, ia menahan air di sudut matanya agar tak menetes.


Damar benar benar menggerakkan hatinya, dan itu membuatnya tersiksa.


Hal yang sama sesungguhnya sedang mereka berdua rasakan, namun pendirian sang wanita membuat keduanya tak bisa bersama.


" Cukup mas.. ayo kita pulang.." suara Kinanti bergetar.

__ADS_1


Damar diam, ia memandang Kinanti cukup lama, namun kemudian ia sadar, tak baik kalau ia membawa seorang perempuan yang akan menikah pulang terlalu malam.


" Kita cari oleh oleh untuk ibu dulu.. setelah itu kita pulang.. " ujar Damar melepas tangan Kinanti dan beralih ke kemudinya.


__ADS_2