Damar Untuk Kinanti

Damar Untuk Kinanti
Air mata ibu


__ADS_3

Kinanti ijin pada ibu untuk keluar menemani Adisty dan Haikal, mereka hanya berkata akan keluar sebentar tanpa memberi penjelasan apa yang akan mereka lakukan di luar.


Ibu yang melihat hal itu mulai tenang, satu masalah terpecahkan.


Jam 3 sore tepatnya, ibu mendengar suara deru dua mobil yang berhenti di depan rumahnya.


Ibu yang mendengar suara pintu mobil terbuka dan ramai ramai di depan rumah membuka pintu.


" Ngapunten (maaf).. rumahnya Kinanti..?" tanya Wanita yang bertubuh sedikit berisi itu.


" Nggih.. " jawab ibu mengangguk.


" Saya kakaknya Adamar bu.." ujar Winda sembari mengulas senyum santun, di belakang Winda ada Kaila yang juga tersenyum.


Sementara di pinggir jalan ada 2 laki laki yang entah siapa, mereka tidak ikut masuk.


" Monggo..." persilahkan ibu masuk.


Winda mengangguk dan masuk.


" Maaf.. rumahnya kecil.." ujar ibu menaruh dua cangkir teh di meja.


Penampilan Winda membuat ibu sedikit berpikir, kalau Damar ini memang berasal dari keluarga yang mampu.


Meskipun tinggal desa, Winda tak pernah sembarangan berpakaian.


Ia selalu tampak elegan namun tak berlebihan.


Sedangkan Kaila, ia tampak seperti remaja yang suka memakai baju yang bagus dan bermerk.


" Tidak apa apa bu.. sama saja.." jawab Winda.


" Mbak Kinanti kemana?" celetuk Kaila penasaran.


" Owalah.. Kinan tadi keluar.. dia tidak tau mau ada tamu.. saya sengaja, karena saya ingin pembicaraan ini antara kedua orang tua saja.." jelas ibu.


" Nggih.. tidak apa apa bu, memang harusnya begitu.." jawab Winda.


" La...coba tunggu di luar sebentar, mbak mau bicara dengan ibu.." ucap Winda pada Kaila.


" Iya mbak.." jawab Kaila patuh dan segera berjalan keluar.


Setelah situasi di rasa leluasa dan nyaman, ibu memulai pembicaraan.


" Sebelumnya saya minta maaf.. tapi apa Damar sudah menjelaskan kenapa saya meminta orang tuanya kemari?" tanya ibu hati hati.


" Nggih.. sudah bu, tapi sebelumnya saya minta maaf, hari ini saya yang datang kesini karena terus terang ibu kami sedang kurang sehat.." jelas Winda, meskipun sesungguhnya ibu tiri Damar sedang sehat sehat saja.


Winda hanya malas membawa orang itu, takutnya malah membuat masalah dan mengacaukan semuanya.


" Tidak apa apa mbak.. yang penting ada perwakilan dari keluarga.." jawab ibu.


" lalu bagaimana bu?" tanya Winda serius.

__ADS_1


" Saya sebagai orang tua mau yang terbaik saja bagi mereka, sesungguhnya tidak benar ibu berkata seperti ini, tapi keduanya mulai membuat ibu was was.."


" Iya bu.. saya faham, adik saya sekarang juga mulai sulit di kendalikan kemauannya..


kalau tidak salah dia sering kesini beberapa minggu ini?"


Ibu mengangguk,


" Awalnya saya kira tidak akan ada interaksi semacam itu diantara keduanya, karena..


saya cukup lama mengenal Damar..


dia anak yang cukup pandai dan bijak..


itu terbukti dengan betapa sabarnya dia mengawasi Kinanti Dari jauh saja tanpa menampakkan diri.."


Winda tersenyum,


" Jadi kita sebaiknya bagaimana bu, takutnya kalau di biarkan keblabasan..


bukan hanya ibu yang malu, tapi keluarga besar kami juga.. kami sangat berharap hal hal yang baik baik saja yang di lakukan Damar.."


" Itulah... ibu takut keblabasan.. andaikan mbak Winda tau.. ibu sampai malu sendiri melihat mereka seperti itu.."


Winda lagi lagi tersenyum,


" Kurang ajar Damar, bikin malu saja!" ucap Winda dalam hati meski di bibirnya tersungging senyuman manis.


tapi karena kami dengar dek Kinanti akan menikah waktu itu jadi kami urungkan niatnya.."


" Benar.. "


" Lalu sekarang bu..??"


" kebetulan sudah di selesaikan dengan baik baik.. kami tinggal mengcancel saja semua persiapan yang sudah di lakukan sebelumnya.." jelas ibu dengan raut sedikit canggung dan malu.


" Baguslah kalau begitu bu.. kedatangan kami sangat tepat.." Winda terlihat lega.


" Kalau begitu tinggal mencari tanggal saja ya bu?" kata kata Winda membuat ibu tertegun, ia memang berniat untuk menikahkan keduanya, tapi tak menyangka keluarga Damar malah bersikap terus terang sekali, dan nampaknya ingin cepat cepat.


" Kenapa bu apa ada masalah?" tanya Winda ketika melihat wajah ibu yang tertegun.


" Tanggal?" tanya ibu hati hati,


" Nggih.. tanggal pernikahan Damar dan Kinanti.." jelas Winda.


" Njenengan serius?"


" Maksud ibu??"


" njenengan serius mau menerima Kinanti yang berasal dari keluarga yang pas pasan ini??" ibu tak percaya,


" ibu.. apapun pilihan adik kami, itu juga yang terbaik untuk kami..

__ADS_1


percayalah bu, kami akan menghargai dan melindungi putri ibu dengan baik..


apalagi Damar bukan baru kemarin mengenalnya, tapi sudah bertahun tahun.. dan Kinantipun sering menolak Damar saya dengar..


saya yakin, Kinanti akan menjadi istri yang baik.."


mendengar ucapan Winda hati ibu trenyuh sekali, matanya berkaca kaca menahan air mata agar tidak tumpah.


" Maafkan saya.. saya hanya.." kata kata ibu terputus.


" Tidak apa apa bu, kami tau kekecewaan ibu...


jadi begini saja bu, soal hari yang baik.. serahkan pada kami..


apa ibu setuju?" tanya Winda,


Ibu mengangguk, penuh rasa bahagia, namun entah kenapa air matanya yang malah turun.


" Saya anggap ibu menerima lamaran kami ya bu..?"


lagi lagi ibu mengangguk, dan Winda tersenyum mengerti dengan air mata itu, ibu mana yang tak bahagia apalagi calon suami putrinya adalah sahabat baik almarhum putranya yang selalu menjaga dirinya dan Kinanti beberapa tahun ini.


" Sebentar bu," Winda bangkit dan berjalan keluar, memberi isyarat agar barang barang yang sudah di persiapkan di mobil di bawa masuk ke dalam rumah.


Tak lama Kaila dan dua orang laki laki yang sejak tadi berdiri di depan itu masuk.


Masing masing membawa kotak kotak yang sudah di hias dengan pita pita cantik.


Ada perhiasan, baju, tas, keperluan kewanitaan, barang barang dapur, dan perintilan perintilan yang khas.


Seluruhnya sekitar 20 kotak.


" Apa ini mbak Winda??" tanya ibu sembari bangkit dari duduknya, tangan ibu gemetar melihat barang barang itu tiba tiba memenuhi ruang tamunya.


" Ini tidak seberapa bu, karena kami buru buru menyiapkan.. untuk yang lainnya biar Damar dan Kinan sendiri yang mencari.."


" Ya Allah mbak Winda.. ini berlebihan..?"


" tidak bu, ini sudah sepantasnya.. saya memang ingin melaksanakan ini secepat mungkin.."


ibu lagi lagi tak sanggup menahan perasan terharunya.


" Jadi lamaran Adamar di terima ya bu??" tanya Winda sekali lagi.


" Iya nak.. iya.. ibu menerima Damar, ibu berharap keduanya segera menikah dan hidup tenang.." ucap ibu di sertai bulir bulir air matanya.


Winda mendekat dan memeluk ibu,


" ibu yang tenang tenang.. mulai sekarang kita jadi keluarga.. mengeluh lah pada saya kapan pun ibu merasa kesulitan bu..


ibu dan Kinanti sudah tidak sendiri.." ucap Winda membuat bahu ibu berguncang kuat.


Perempuan tua itu menangis, namun itu air mata haru karena putrinya mendapatkan perlakuan sebaik itu dari keluarga Damar.

__ADS_1


__ADS_2