
Kinanti memakai sandalnya, lalu berjalan ke arah motornya yang terparkir di teras rumah muridnya.
" Bagaiman keponakanku? bisa mengikuti?" tanya Haikal yang tiba tiba mendekat, ia masih memakai seragam dinasnya, kelihatannya ia baru pulang kerja.
" Eh, baru pulang kerja?" tanya Kinanti basa basi.
" Iya, baru pulang, lepas sepatu langsung kesini.. aku ingin menyapa ibu guru.." Haikal tersenyum.
" Bisa saja.. eh iya, keponakanmu nampaknya nyaman dengan pola belajar dan mengajar ku..
tapi ini kah baru awal..
kita lihat saja ke depannya, semoga mereka terus nyaman.." jawab Kinanti, sebenarnya ia tidak pernah mengajar privat, namun karena tawaran Haikal saat itu, dan ia juga butuh kesibukan dan pemasukan, ia menerima tawaran les privat itu dengan senang hati.
Meski uang bulanan dari Damar masih ada, tapi ia harus mencari uang sendiri.
Ia sudah bertekad untuk mandiri tanpa bantuan Damar.
" Kau mau langsung pulang?" tanya Haikal,
" Iya lah.. mau kemana lagi memangnya, sudah sore.." jawab Kinanti pasti.
Haikal diam sejenak,
" Mampir dulu kerumahku sebentar ya? lama kita tidak mengobrol..
toh rumah ku di sebelah ini.. tinggal melangkah, apa kau tega tidak mampir..?" wajah Haikal penuh harap.
" Tapi ini sudah sore.."
" ayolah Nan, sebentar saja.. aku ingin ngobrol denganmu.." bujuk Haikal.
Kinanti menghela nafas,
" Ya sudah.. sebentar saja.." Jawab Kinanti sungkan, mungkin kalau mampir sekali saja tidak apa apa pikir Kinanti.
Ia melangkah mengikuti Haikal, dan benar saja, rumahnya dekat sekali, hanya berjarak satu rumah.
Haikal tinggal di area perumahan yang tidak terlalu besar namun juga tidak terlalu kecil, pas untuk ukuran suami istri dan dua orang anak.
Kinanti masuk ke dalam rumah Haikal, dan duduk,
Tak lama Haikal membawa sepotong cake dan secangkir susu coklat dingin.
" Wah, hidangan mu tidakkah terlalu manis Kal?" komentar Kinanti sembari tertawa kecil.
" Bukanya kau dulu sama sepertiku, suka susu coklat.. apa kau sudah mengubah selera mu?" tanya Haikal dengan senyumnya yang selalu melekat.
" Aku masih suka, tapi semenjak jadi guru aku jarang minum susu.. aku malu kalau harus saingan dengan murid muridku.."
Haikal tertawa mendengarnya,
" Aku masih suka susu coklat, masih suka apapun yang ku makan saat kecil dulu, hanya saja.. aku lebih banyak berolah raga setelah makan sekarang.."
" Pantas saja, tubuhmu yang sekarang lebih seimbang di banding dulu.."
" Yah.. aku yang dulu sering di bully teman teman karena bentuk tubuhku..
__ADS_1
dan hanya Kau dan Yusuf saja yang mau berteman denganku di kelas,
aku ingat betul itu, karena itu setelah pindah kesini aku mencarimu dan Yusuf..
tapi ternyata kau mengajar di kota lain.." ujar Haikal sembari meneguk susu coklat dinginnya.
" Tapi sekarang aku disini, dan kau memberiku pekerjaan.." Kinanti mengangkat bahunya, ia juga turut meminum susu coklatnya.
" Ah.. pekerjaan kecil saja untuk waktu luangmu, tapi memang keponakanku agak bandel sih.. tidak ada guru privat yang betah dengannya, karena itu aku bersyukur jika si kembar itu tidak membuatmu repot di hari pertama.."
Kinanti tertawa,
" Mereka patuh padaku.. hanya saja sedikit berisik.. entah apa yang mereka rebutkan setiap menit.." komentar Kinanti.
" Yah begitulah, kadang kakakku sampe stress kalau mereka sudah ribut dan ricuh, kadang gara gara mereka berdua papa dan mamanya sampai ribut.."
Kinanti tertawa mendengar itu, yah memang si kembar yang di ajarnya tadi sedikit aktif, tapi selama dua jam belajar tadi mereka patuh dan belajar dengan baik.
" Bagiku, seribut apapun anak anak.. tetap saja luar biasa..
mereka selalu bisa memperbaiki suasana hati ketika lelah.."
" Benarkah? apa rambutmu tidak rontok mengajar begitu banyak anak?"
" Hahahaha..?! tidak lah.. yang aku suka dari mengajar di SD adalah, mereka tetap memanggilku dengan baik dan mencium tanganku.. meski aku sudah memarahi mereka.." wajah Kinanti berseri seri ketika menceritakan tentang anak anak muridnya.
" Kau rindu mereka?" tanya Haikal memperhatikan tiap ekspresi Kinanti.
" Tentu saja.. siapa yang tak rindu, mereka menggemaskan.." jawab Kinanti.
kenapa kau tak berpikir untuk memilikinya sendiri.." ujar Haikal santai, entah ia serius atau bercanda, yang jelas pandangannya tak lepas dari Kinanti.
" Maksudnya punya anak sendiri?" tanya Kinanti dengan ekspresi santai juga, ia menganggap ucapan Haikal hanya asal saja.
" Bagaimana aku bisa, menikah saja aku belum.." jawab Kinanti sembari tertawa renyah.
" Kalau begitu menikahlah.." sahut Haikal,
Kinanti diam, ia kehilangan senyumnya.
" Kenapa kau merusak suasana dengan membahas pernikahan, kau menyebalkan..
seperti yang lainnya.." wajah Kinanti masam.
" Apa aku terlalu lancang?" tanya Haikal serius,
Kinanti diam tak menjawab, ia meminum susunya sampai habis.
" Aku pulang sajalah.. terimakasih susunya.." Kinanti bangkit.
" Nan?!" Haikal ikut bangkit, mencegah Kinanti pergi dengan menarik tas Kinanti.
" Maafkan aku.." ujar Haikal dengan wajah serius.
" Bukankan kondisi kita sama? tidakkah kau berpikir kita bisa saling melengkapi?" kata kata Haikal membuat Kinanti tercengang.
Mereka baru saja bertemu setelah sekian tahun, bisa bisanya laki laki di hadapannya ini berkata demikian, ucap Kinanti dalam hati.
__ADS_1
" Apa aku terlalu terburu buru Nan? aku ingin dekat denganmu..?"
" apa apaan ini Kal, kita bahkan baru dua kali bertemu setelah belasan tahun, jangan seperti ini?" Nada Kinanti dingin.
" Aku siap menikah jika kau menginginkannya?" Haikal benar benar serius mengatakan itu.
Namun Kinanti yang kaget justru tak bisa menemukan kalimat yang pas untuk menjawab Haikal.
Tidakkah ini sebuah kejutan untuknya? bahkan Tyo saja tidak seterus terang dan se cepat ini.
Kinanti mencerna kalimat Haikal, menguasai keterkejutan dirinya.
" Aku bersedia Nan, kapanpun kau menginginkan pernikahan,
tolong pikirkanlah dulu..
aku akan menunggu,
tapi kumohon selama aku menunggu keputusanmu..
berilah aku kesempatan untuk menunjukkan ketulusanku..
boleh ya Nan?"
Kepala Kinanti rasanya berat tiba tiba,
apa apaan ini, pikirnya, apa ini prank? tiba tiba saja ada laki laki yang mengajaknya menikah.
" Biarkan aku pulang, ini sudah mau magrib" tegas Kinanti, ia tak menemukan kata kata lain.
Solusi terbaik baginya sekarang adalah kabur, menghilang dari hadapan Haikal dengan segera.
" Baiklah, biarkan aku mengantarmu..?"
" Tidak usah Kal, kau lupa aku membawa motor?"
Haikal terdiam.
" Baiklah.. tapi hati hati.. apa aku boleh menelfon mu nanti?" tanya Haikal semakin membuat pusing.
Kinanti mengangguk cepat, apa sajalah, yang penting ia segera pulang.
" Baiklah.. pulanglah.. hati hati dijalan.." Ujar Haikal dengan mata yang masih penuh Harap.
Kinanti berjalan pelan ke arah motornya, meski sesungguhnya ia ingin lari.
Ia tau kalau Haikal masih terus memandanginya sampai ia mendekat ke motornya, tidak ada yang bisa ia lakukan kecuali bersikap senormal mungkin.
Dan akhirnya ia seperti menemukan hawa yang segar, ketika ia memacu gas motornya keluar dari area perumahan rumah Haikal.
" Astaga.." keluhnya sembari mengambil nafas dan menghembuskan nya berulang ulang di tengah perjalanannya pulang.
" Ini pasti kelakuan Yusuf!! awas kau Yusuf!!" Kinanti memaki Yusuf dalam hati.
Tidak mungkin Haikal berani seperti itu kalau tidak mendapatkan masukan masukan dari Yusuf.
" Aduh.. menikah.. aduhhh...??!" ucap Kinanti keras sampai sampai membuat pengendara disampingnya menatapnya heran karena bicara sendiri.
__ADS_1