Damar Untuk Kinanti

Damar Untuk Kinanti
itu lamaranmu..


__ADS_3

Damar memasukkan motornya ke dalam garasi.


Dengan langkah cepat ia menaruh helm dan tasnya, lalu segera berjalan ke arah rumah mbak Winda.


" Bundamu kemana?" tanya Damar pada putri tertua Winda.


" Dirumah mbah buyut om.." jawab putri Winda.


Dengan langkah cepat Damar berjalan kerumah mbah utinya, ia berjalan melewati persawahan dengan hati hati, karena langit sudah mulai di penuhi warna jingga dan abu abu.


" Aku mencarimu mbak?!" suara Damar sembari berjalan mendekat.


Winda yang sedang duduk disamping mbah uti tertawa,


" Nah.. panjang umurnya mbah.. yang di bahas datang.." ujar Winda.


Damar tak menjawab, ia langsung duduk di kursi kosong di hadapan Winda.


" Bagaimana mbak? apa kata ibu??" tanya Damar tidak sanggup menunggu lebih lama.


" Kesan ibu Kinanti baik.." jawab Winda,


" Lalu Kinannya?"


" Tidak ada, sedang pergi dengan yang namanya Haikal katanya.." jawab Winda.


Damar terdiam mendengar nama Haikal, ada kemarahan di matanya yang sedang ia tahan.


Bisa bisanya setelah seperti itu dengannya Kinanti masih keluar dengan Haikal.


Itu berarti mereka masih meneruskan hubungannya, dan mereka tak membatalkan pernikahan mereka, ucap Damar dalam hati.


Tanpa berkata apapun lagi Damar langsung bangkit, ia berjalan keluar dari rumah mbah utinya begitu saja, meninggalkan Winda dan mbah uti yang masih tertegun dengan sikap Damar yang tak bisa mereka mengerti.


Belum selesai Winda bicara, tapi Damar pergi berhamburan begitu saja.


" Repot..." komentar Mbah uti melihat kelakuan cucunya itu.


Sesampainya dirumah Damar masuk ke dalam kamar,


ia menendang kursi yang diam tak bersalah hingga kursi itu membentur keras ke dinding dan kemudian jatuh kelantai.


Itu di lakukan nya untuk mengurangi kemarahannya.


Ia setengah mati menahan diri, kalau ia pergi kerumah kinanti atau Haikal sekarang, sudah pasti dirinya akan lepas kendali.


" Teganya kau Kinanti, teganya kepadaku.." suara Damar bergetar menahan amarah yang sesungguhnya sudah meluap luap di dadanya.


Padahal dirinya sudah berharap banyak,


ia berharap mendapatkan berita bagus begitu dirinya pulang mengajar.


Ia bahkan sudah berangan angan dengan pernikahan mereka.


Sementara Kinanti yang baru saja diantar pulang oleh Haikal dan Adisty berjalan masuk kerumah dengan wajah lelah.


" Kau darimana sih nduk? katanya sebentar?" tanya ibu yang sedang duduk di depan TV.


" Ada urusan kecil bu.." jawab Kinanti,


" Ya sudah nduk mandi.. sudah menjelang magrib.. itu ada air panas di panci kalau mau mandi.." ujar ibunya,


" Setelah mandi dan makan ada yang ingin ibu bicarakan denganmu.." ujar ibu.


Kinanti mengangguk,

__ADS_1


Ia masuk ke dalam Kamarnya untuk membersihkan wajahnya dan mengambil baju ganti.


Namun betapa kagetnya dirinya ketika menemukan tempat tidurnya di penuhi dengan barang.


" Apa ini??" tanyanya pada dirinya sendiri, ia melihat kotak kotak bening yang di hiasi pita pita, dan di dalamnya ada berbagai barang juga, yang membuatnya lebih kaget adalah satu kotak berisi satu set perhiasan.


" bu?! ibu?!" panggil Kinanti sembari berjalan keluar, wajahnya penuh dengan kebingungan.


" Itu barang siapa bu?! kok di kamar Kinan?!" tanya Kinanti mendekat ke arah ibunya dengan handuk yang melingkar di lehernya.


" Mandilah dulu.. nanti kita bicara.." jawab ibunya tenang.


" Jawab dulu bu?, Kinan tidak mau mandi kalau ibu tidak menjawab?!" tuntut Kinanti penasaran.


" Ada yang nitip barang lamaran? kok di taruhnya di kamar Kinan sih bu?!" Kinanti terus saja memprotes ibunya.


Ibunya menghela nafas,


" Itu barangmu.." jawab ibu.


" lamaranmu.." imbuh ibu,


Wajah Kinanti lebih aneh lagi sekarang.


" Kenapa ibu terima? apa orang tua Haikal kesini? bukannya ibu sudah setuju dengan keputusan Kinan yang membatalkan pernikahan dengan Haikal??" Wajah Kinanti gelisah dan penuh tanya.


" Bukan dari Haikal.."


" Lalu??"


" Dari keluarga laki laki yang memangkumu di ruang tamu tadi malam.." jawab ibu dengan wajah tenang.


Wajah Kinanti merona, kalimat ibu membuatnya malu akan perbuatannya.


Tapi kemudian ia tersadar dengan kalimat ibu.


" lha...siapa lagi?" jawab ibu masih saja santai meski ekspresi putrinya itu tak karu karuan.


" Kok bisa begini bu?!" tanya Kinanti,


" apanya yang kok bisa begini?" tanya ibunya yang heran sekarang, terkadang ia tak mengerti pola pikir putrinya.


" Kenapa ibu menerimanya??" Kinanti gelisah.


" Lalu setelah melihatmu dan Damar seperti itu, ibu harus menolaknya??" sekarang ibu kesal.


" Bukan begitu bu, ku kira, ibu hanya akan membicarakan tentang kesalahan kami, dan menegur agar hal itu tidak terulang kembali.." jawab Kinanti tertunduk.


" Tidak terulang kembali? tidak mungkin.." tukas ibu,


" ibu tidak percaya padaku?! bahwa aku tidak akan mengulanginya?" tuntut Kinanti.


" Jangan omong kosong dengan ibu Nan..?!"


" Ibu?!!" Kinanti merengek.


" Damar harus bertanggung jawab karena sudah menyentuhmu!" tegas ibu,


" Kami hanya berciuman ibu?!"


Ibu terdiam, wajahnya menyiratkan ketidakpuasan terhadap sikap putrinya.


" Apa yang membuatmu bertindak keras kepala begini? padahal kau jelas jelas tau ada Damar dalam hatimu?!" tanya ibu dengan pandangan serius dan selidik.


" Bu.. tidakkah harusnya kita sadar diri dan menjaga jarak dari mas Damar,

__ADS_1


Keluarga kita tidak bisa mengimbangi keluarga mas Damar..


aku tak mau menyakiti diriku sendiri dengan angan angan yang terlalu tinggi bu..??" Kinanti mengungkapkan kegelisahannya.


" Aku tidak mau menjadi bahan cemoohan, aku tidak mau ada tuduhan tuduhan yang jatuh padaku nanti hanya karena status sosial kami terlalu jauh.." imbuh Kinanti.


" Sesungguhnya banyak yang ku perhitungkan bu, aku takut bu.. takut.."


mendengar curahan hati putrinya sang ibu sedikit luntur kekesalannya.


Sesungguhnya apa yang di takutkan Kinanti juga ibu takutkan,


tapi melihat betapa bertanggung jawabnya Damar,


dan betapa bijaksanaannya Winda tadi sore membuatnya yakin,


bahwa putrinya akan di perlakukan dengan baik.


" Terimalah ini dengan baik Nan.. dan percayalah diri, Damar tidak akan membiarkan seseorang mencemoohmu karena hal semacam itu..


apa kau lupa, dia yang menjadikan mu sarjana..


jangan ragukan bagaimana caranya menjagamu.." ujar ibu meyakinkan Kinanti.


" Lagi pula.. sudah tidak ada yang bisa ibu lakukan lagi..


ibu sudah menerima lamaran ini,


ibu juga sudah lelah Nan dengan kejadian kejadian belakangan ini..


kalau bukan sekarang kau menikah, ibu yakin kau tak akan pernah menikah untuk kedepannya,


karena kekecewaan..


kepercayaanmu pada hubungan mulai hilang,


ini adalah saat nya kau memberi Damar kesempatan untuk membuktikan kasih sayangnya yang tulus kepadamu..


biarkan dia menjagamu baik baik sebagai seorang istri..


bersyukurlah nduk,


jangan melewatkannya hanya karena trauma dan ketidak percayaan dirimu.."


Kinanti terdiam, ingin rasanya ia menangis tapi ia menahannya.


Sesungguhnya benar sekali kata ibu, ia seharusnya bersyukur, tapi rasa takut lebih besar dari rasa syukurnya.


Dulu mantan nya juga anak orang yang cukup, bajunya selalu bagus, mobilnya selalu keluaran terbaru.


ia mengira dirinya beruntung mendapatkan pacar yang seperti itu.


Tapi kenyataannya ia hanya bermimpi sesaat.


Mantannya itu akhirnya lebih memilih perempuan yang lebih cantik dan setara.


Apalah yang bisa ia perbuat dengan dirinya yang sederhana ini, selain menerima kenyataan bahwa sesungguhnya tidak layak untuk dirinya berandai andai mendapatkan suami yang kondisi ekonominya jauh berada di atasnya.


Diam diam ia mengeluh, hati dan pikirannya benar benar tak sejalan.


Dan dirinya belum menemukan cara agar keduanya berdamai.


Dengan langkah berat ia kembali ke dalam kamar, memandangi kotak kotak itu.


kebahagiaan dan ketakutan datang padanya secara bersamaan.

__ADS_1


Dan dia tak tau mana yang lebih besar


__ADS_2