
Damar baru saja pulang dari sawah, kaki dan tangannya kotor karena tanah, sejak pagi ia sibuk bergumul dengan hasil panen mbah utinya, sesungguhnya ia tak perlu ikut campur, tapi terjun langsung dengan para pekerja membuat pekerjaan lebih cepat menurutnya.
Ibu ibu dan bapak bapak lebih maksimal jika Damar ikut membantu sembari berbincang.
" Makan sekarang mas? biar saya panaskan lauknya ya?" ujar Yuk keluar dari pintu rumah.
" Ndak usah yuk.. saya masih capek.. nanti saja.." jawab Damar duduk di lantai teras setelah mencuci kaki dan tangannya.
Ia terlihat payah, keringatnya bahkan menetes bergantian dari dahinya.
Tapi tak lama angin datang menerpa wajahnya, membelai ujung ujung kulitnya dan mempermainkan rambutnya yang hanya beberapa senti saja panjangnya itu, sehingga keringat dan kepayahan itu menghilang perlahan.
" Wah.. tidak berubah ya kelakuanmu, andaikan bapakmu masih hidup, kau tak akan berani berpenampilan menyedihkan begini.." terdengar suara ibu tiri Damar, entah sejak kapan perempuan setengah baya itu tiba tiba berdiri tak jauh darinya.
" Wah.. ibu keluar dari tempat persembunyian..?" Damar tersenyum.
" Aku bukannya sembunyi, hanya malas saja melihat lalu lalang yang bagiku tidak penting.."
" Lalu kenapa ibu bicara padaku? berangkat saja arisan.." ujar Damar tenang.
" Jangan sok Damar, harusnya kau bersyukur aku mau bicara padamu..!"
jawab si ibu ketus.
" Bersyukur yang bagaimana menurut ibu?" Damar memperbaiki posisi duduknya, namun tetap tak memandang ibu tirinya,
ia lebih memilih melihat hamparan sawah yang hijau.
" Sikap dan penampilanmu hanya membuat kami malu saja?!, lihatlah tampangmu yang lusuh dan berpakaian ala kadarnya,
belum lagi kau ikut ikutan orang orang bekerja di sawah?! apa kau tidak kasihan dengan adikmu? apa kata teman temannya jika mereka tau Kaila mempunyai seorang saudara yang berpenampilan seperti ini?"
Damar tersenyum sembari membuang pandangannya.
" Sudahlah bu, rasanya tidak pantas ibu mengomentari hidup saya.."
" Jadi begitu? aku sudah banyak diam, bahkan saat kau menikahi istrimu yang tidak memberikan keuntungan apapun itu! aku juga tidak berkomentar saat kau mulai berfoya foya!"
" Berfoya foya?"
" Yah..! mobil itu tidakkah terlalu berlebihan?! mobil Kaila harganya bahkan tidak ada separuh harga mobilmu?!"
Damar lagi lagi mengulas senyum,
" Jadi karena saya membeli mobil baru? dan mobil itu lebih mahal dari mobil Kaila?"
si ibu terdiam.
" Ibu?!" terdengar suara Kaila yang mendekat.
" Kalau mau berangkat berangkat saja?! kenapa menganggu mas Damar?!" Kaila tak terima kakaknya di ganggu.
" Biarkan.. mungkin ibu ingin mobil baru.." ucap Damar sembari melirik mobil ibu tirinya yang masih mulus itu.
__ADS_1
" Tidak mas?! mobilku dan mobil ibu masih sangat berfungsi dengan baik, dan juga masih bagus, tidak perlu mas berpikir untuk memberikanku atau ibu yang baru..!" tegas Kaila membuat ibunya itu kesal.
" Tapi ibu keberatan tentang mobil baruku La..." Damar tersenyum, namun dalam senyumnya penuh provokasi,
jujur hatinya kesal sekali.
" Tidak mas? mas adalah kepala keluarga, mas berhak membeli apapun karena mas bekerja keras?!" jawab Kaila,
" benarkah? lalu apakah kau malu mempunyai saudara sepertiku? yang berpenampilan seperti ini dan berkotor kotor di sawah?"
" tidak mas, aku justru bangga dengan mas yang bisa mengerjakan pekerjaan apapun..?"
jawab Kaila membuat Damar tersenyum senang.
" Ah.. percuma aku bicara pada kalian! kalian seperti berkomplot menentangku!"
" tidak ada yang menentang ibu.." jawab Damar tenang.
" Kau bertindak semaumu tanpa meminta pendapatku! apa kau kira itu tidak menentang?! apa kau kira kau menghormatiku sebagai ibumu?!"
" Ibu?!" Kaila menarik lengan ibunya karena ia merasa ibunya sudah keterlaluan.
Damar diam, ia tersenyum dan menahan diri,
" saya lelah bu.. mau masuk dulu, ibu silahkan kalau mau pergi.." ujar Damar bangkit.
" Dari dulu kau itu anak yang bodoh! tidak becus pilih perempuan!" tegas si ibu membuat Damar sontak menatap ibu tirinya itu.
Pandangannya tak lagi sabar,
" Aku berkata yang sesungguhnya, bahkan orang bodoh pun bisa melihat apa yang terjadi di belakangan ini!"
" maksud ibu apa?" Damar masih menahan diri.
Si ibu tiri tersenyum mengejek,
" oh.. jadi tidak tau? atau pura pura tidak tau?,
Adik kesayanganmu itu.. apa kau tidak tau kalau dia sangat memperhatikan istrimu?"
Deg..
perasaan tidak nyaman melintas di hati Damar.
Kecurigaan yang susah payah ia Hilangkan dari pikirannya malah di singgung oleh ibu tirinya.
" Ibu??!!" Kaila, cegah.. biarkan ibu bicara sampai selesai.." ujar Damar.
" Mas mau mendengar omong kosong ibu?!" Kaila terlihat benar benar marah.
" Tentu saja kalian menganggap ini omong kosong, karena mata kalian tertutup!
hei Adamar.. kau bodoh jika tidak menyadari apa yang sedang terjadi,
__ADS_1
aku bisa saja diam dan melihat istrimu itu mengalihkan pandangannya pada Yoga,
tapi mengingat nama keluarga kita,
aku pun akan ikut malu jika sampai terjadi hal semacam itu antara kau dan Yoga, sepeti tak ada perempuan lain saja!
apa sih hebatnya istrimu itu sampai sampai membuat dua laki laki keluarga ini kepincut!"
Damar terdiam, gerahamnya mengetat menahan perasaan.
" Ibu keterlaluan!" Kaila berbalik, berhamburan pergi saking kecewanya pada kata kata dan sikap ibunya yang masih saja senang merusak suasana dan ketenangan hati Damar.
" muncul dari mana penilaian ibu itu?" tanya Damar dengan suara masih tertahan.
" Tentu saja karena aku berkali kali menemukan Yoga mengejar istrimu..
mereka seperti sepasang kekasih yang sedang bertengkar.."
Damar rasanya sudah tidak sanggup mendengar kata kata ibu tirinya itu.
Wajahnya merah padam,
" saya harap ke depannya ibu berhati hati dalam menilai dan berbicara tentang istri saya, saya mencintainya..
dan, ke depannya saya tidak mau mendengar hal semacam ini lagi dari ibu.." nada Damar penuh dengan ketegasan.
Dengan langkah tenang laki laki itu berbalik dan berjalan memasuki rumahnya, meninggalkan ibu tirinya yang rupanya sangat tidak puas dengan kalimat Damar.
" Dasar! anak bodoh! di butakan cinta! kalau istrimu di rebut saudaramu sendiri tau rasa kau nanti..!" gerutu si ibu tiri sembari berjalan ke arah mobil nya yang sudah terparkir di halaman rumah.
Kaila menerobos masuk ke dalam kamar Winda,
" astaga Kaila..!" pekik Winda yang sedang sibuk mengganti bajunya itu.
Bagaimana mungkin ia tak terkejut, Kaila menerobos masuk begitu saja tanpa mengetuk.
" Ada apa sih?!" Winda berkacak pinggang,
" Aku pasti akan marah sekali jika kau tak punya alasan jelas main masuk saja ke kamar, padahal aku sedang ganti baju?!"
Kaila terdiam, tapi matanya berkaca kaca.
" Aduh.. mewek.." keluh Winda,
" Ada apa sih La?!" Winda tidak sabar,
" Ibu..."
" ibumu? kenapa lagi?"
" Ibu bicara yang tidak tidak pada mas Damar..?"
" Bicara yang tidak tidak bagaimana?" Winda mengerutkan alisnya,
__ADS_1
" masa ibu bilang mas Yoga suka sama mbak Kinanti..?" rengek Kaila, dan seketika mata Winda terbelalak.