Damar Untuk Kinanti

Damar Untuk Kinanti
Aku sudah tertarik padamu


__ADS_3

Kinanti berjalan terburu buru kerumah Winda.


Raut wajahnya tidak tenang sama sekali.


" Lho? Kinan.. sudah sehat?" tanya suami mbak Winda di depan pintu.


" Sudah mas.. itu.. mbak ada?" tanya Kinanti,


" Ada.. tapi sedang masak di dapur, biasa mbak mu jam segini, cemilan terus yang di urusi.." ujar Yudi sembari tersenyum.


" Wes.. masuk saja, langsung ke dapur..".


Mendengar itu Kinanti mengangguk dan berjalan masuk, dia melewati ruang tamu dan ruang tengah.


" Tante..?!" panggil Bagas yang sedang bermain dengan anak Winda.


" Iya sayang, main dulu ya.. tante ada perlu dengan budhe Winda sebentar.."


mendengar penjelasan Kinanti Bagas mengangguk dan kembali bermain.


Sesampainya di dapur Kinanti menemukan Winda yang sedang sibuk menggoreng pisang.


" Mbak? sibuk?" tanya Kinanti membuat Winda sedikit kaget.


" Kaget aku nduk...?!" ucap Winda dengan nada sedikit tinggi.


" Enggak, kenapa? anak anak minta pisang coklat sama pisang keju.." jelas Winda.


Ia mengangkat pisang yang sudah matang dari minyak panas.


mematikan kompor dan menaruh pisang itu di atas piring.


Setelah memberi toping sesuai selera anak anak, Winda mengantar piring berisi cemilan pisang itu ke ruang tengah, tempat dimana anak anak bermain.


" Kita ngobrol disini atau di depan saja?" tanya Winda setelah kembali dari ruang tengah lalu duduk di kursi meja makan.


" Disini saja mbak, di depan kan ada mas Yudi.." jawab Kinanti.


" Hemm.. ya wes.. ada apa ada apa?" tanya Winda sambil ngemil.


" Itu mbak.." Kinanti diam sejenak,


" itu apa?, Damar tho?"


Kinanti mengangguk,


" Memang beberapa hari ini diamnya aneh.. apa dia bicara sesuatu?"


" Tidak bicara apa apa mbak.. tapi, dari sikapnya yang berbeda padaku, sepertinya dia tau.."


" Tau tentang? dirimu dan Yoga?"


Kinanti mengangguk.


" Tau dari mana??"


" Tidak tau mbak, tapi perasaanku mengatakan kalau mas Damar sudah tau.."


Winda diam, terlihat berpikir.


" Harusnya ketika dia bertemu Yoga responnya akan terlihat, tapi sayangnya Yoga masih ada kegiatan di luar kota.."


" Ku dengar hanya 3 hari acaranya?"


" Entahlah, kenapa dia belum kembali juga, harusnya hari ini dia sudah kembali..


Bagas mencarinya terus.." keluh Winda.


" Mungkin besok mbak, aku juga menatikannya pulang, aku ingin bicara padanya,"


" Tentang apa? sudahlah, tidak usah.. pikirannya itu bebal.. nanti di kira kau masih ada perasaan padanya.."


" Ini peringatanku yang terakhir mbak,


aku ingin hubunganku benar benar normal layaknya saudara,


jika dia masih belum bisa merubah sikapnya,


aku akan meminta mas Damar untuk pindah dari sini.." suara Kinanti kalem namun penuh keyakinan.


" Kau bersungguh sungguh nduk??"


Kinanti mengangguk.


Melihat Itu Winda tak bisa berkata apapun lagi, ia hanya bisa pasrah atas apa yang terjadi.


Namun tetap, mengontrol Yoga adalah tugasnya sebagai seorang kakak kandung.


Semua mata memandangi Yusuf dan Kaila yang sedang duduk di kantin kampus.


Entah kenapa Yusuf semakin nekat saja menunjukkan dirinya seakan akan ingin memberi tahu pada semua orang bahwa Kaila miliknya.


" Bisa ya?!" Kaila melotot, namun Yusuf tetap tenang sembari meminum jus alpukatnya.


" Bisa apa.." sahut Yusuf tenang.

__ADS_1


" Kan pura puranya dirumah, kok malah nyamperin ke kampus sih?! malu tau!"


" aku jelek ya?" tanya Yusuf membuat Kail tertegun sesaat.


Wajah Yusuf tidak jelek, cukup ganteng meski tak seganteng Yoga dan segagah Damar.


Kaila tiba tiba bingung harus menjawab apa.


" Jawab dong..?" tanya Yusuf lagi,


" Pertanyaan tidak penting dan tidak berbobot.." gerutu Kaila sengaja tak ingin mengakui kalau laki laki di hadapannya sesungguhnya cukup menarik juga.


" Sungguh?"


" Apanya?!" Kaila kesal.


" Kau bilang aku tidak berbobot..?"


Kaila diam, tak menemukan jawaban.


" Sudahlah lupakan.. segera habiskan minumanmu lalu pulang.." Nada Kaila menurun.


Ia canggung dengan pandangan teman temannya.


" Kau sungguh sungguh malu denganku?" tanya Yusuf masih belum puas,


" Atau kau memang sudah punya pacar disini sehingga kau sibuk mengajakku pulang?"


" Ih.. berisik..! habiskan minumanmu lalu kita pulang..!" tegas Kaila.


Sesampainya di mobil Keduanya sama sama hening.


Yusuf sepertinya kesal karena niat baiknya menjemput malah tak di hargai.


Sedangkan Kaila kesal karena Yusuf sudah melewati batas dengan menjemput masuk ke dalam kampus.


" Aku kurang kaya ya?" Yusuf membuka suara tiba tiba.


Laki laki itu tampak serius sekali memandang jalan raya.


" Omong kosong apalagi.. " gerutu Kaila.


" Ku kira aku tidak begitu jelek sehingga membuatmu malu dengan mengakuiku sebagai pacarmu.."


Kaila menyentuh keningnya sekilas, tak habis pikir.


" Pasti alasannya karena aku belum mapan kan?


aku masih bekerja pada orang tuaku dan belum punya bisnis sendiri?"


" Kita ini hanya pura pura pacaran, bukan mau menikah..!" tegas Kaila.


" Apa pentingnya membicarakan pekerjaanmu?" imbuh Kaila ketus.


" Perlu..!"


" Tidak perlu untukku..!"


" Aku dengar ibumu selalu menjodohkanmu dengan laki laki kaya..


jadi setidaknya aku tidak membuatmu malu.."


" Ah.. aku tidak pernah malu, aku juga tidak berpikir seperti ibuku.." jawab Kaila membuang pandangannya ke luar jendela.


" Tenanglah.. kau tidak membuatku malu, kau juga bekerja di tempat yang cukup di kenal di kota ini.."


" Aku bekerja dengan bertanggung jawab meski bos ku adalah orang tuaku sendiri..


papaku tidak pernah memanjakanku,


tenanglah.. aku bukan tipe yang mengantungkan diri pada orang tua.." Yusuf melempar senyum sekilas.


" Aku sudah membeli sebuah tanah, tinggal membangun sebuah rumah..


aku tak ingin setelah menikah istriku atau diriku ribut dengan mertua..


karena itu aku benar benar ingin tinggal berdua saja setelah menikah.." jelas Yusuf.


" Kenapa kau mengatakan hal ini padaku, katakan hal semacam itu pada calon istrimu sana.." keluh Kaila, ia mencoba menyibukkan diri dengan HPnya, di buangnya jauh jauh omongan omongan Yusuf itu dari pikirannya.


" Jangan menggoda seorang pelajar, kau tau aku masih semester dua, kalau ada yang salah denganku..


mas Damar yang akan menjadi lawanmu..


jadi berhentilah berbicara di luar kepentingan kita."


Yusuf menghela nafas mendengar itu.


" Lalu tanggung jawab macam apa yang di inginkan mas Damar? kau kira dia ingin adiknya di pacari saja tanpa kepastian?"


Kaila menatap Yusuf.


" Kau menipuku ya?" ucap Kaila, tatapannya tidak main main.


Yusuf yang peka meminggirkan mobilnya ke pinggir jalan raya.

__ADS_1


ia tak mau ada hal yang tidak di inginkan terjadi hanya karena dia tidak fokus menyetir.


" Menipu apa?" tanya Yusuf dengan mobil yang sudah di matikan mesinnya, namun kedua tangannya masih di atas setir mobil.


" Kau bilang padaku hanya pura pura selama tiga bulan? tapi sikapmu ini seperti seseorang yang menginginkan lebih dari tiga bulan, bahkan menginginkan keseriusan?!"


Keduanya beradu pandang, cukup lama, berusaha memahami situasi.


Namun Yusuf tiba tiba tersenyum, laki laki itu mengangguk.


" Benar.." ucap Yusuf pelan, namun terdengar jelas di telinga Kaila.


" Apanya yang benar?" Kaila semakin bingung, wajahnya menyiratkan sebuah tanda tanya.


" Kata katamu.. benar semua.." jawab Yusuf lagi.


Kaila tertegun,


" Sesungguhnya kau yang harus bertanggung jawab.. karena kau yang menjeratku terlebih dahulu.." Yusuf setengah berbisik.


" Aku sudah tertarik padamu sejak pesta pernikahan Kinanti dan mas Damar..


namun aku bersikeras pada diriku sendiri, kalau aku tidak boleh jatuh cinta pada gadis manja dan angkuh sepertimu,


ku kira dengan aku kasar dan sinis padamu perasaanku bisa hilang..


nyatanya kau malah berbohong pada mas Damar dan membuat kita semakin dekat..


kau tau,


jadi..bertanggung jawablah..


kau yang membuatku berani seperti ini.." jelas Yusuf sejelas jelasnya, ia merasa tak perlu lagi menutupi perasaannya.


" Aku bukan tipe laki laki yang romantis..


aku juga sedikit kasar..


tapi aku bukan laki laki yang suka bermain main dengan perasaan..


aku tipe laki laki yang serius dalam berhubungan..


dan..


harusnya kau tau, tamparanmu waktu itu membuatku tidak bisa tidur berhari hari..


ketertarikan dan kemarahan campur aduk menjadi satu..


dan itu membuatku kesal sekali.."


Kaila yang masih tertegun tak bisa berkata kata.


Ia sungguh terkejut dengan pengakuan Yusuf yang sungguh tidak masuk akal baginya.


Laki laki yang seperti musuh itu, ternyata menyimpan perasaan padanya.


Benarkah? itu pertanyaaan besar dalam kepalanya.


" Kau.. kau.. lelucon macam apa ini?!" sembur Kaila dengan wajah menahan amarah.


" Kau berniat mempermainkan ku? kau bahkan sudah tidak menghormati mas Damar? beraninya kau bersikap kurang ajar seperti ini?


kau kira karena aku belum dewasa jadi mudah kau bohongi?" nada Kaila terdengar tersinggung dan terluka.


Kaila berbalik, dengan gerakan cepat dia membuka pintu mobil.


Namun dengan cepat pulan Yusuf menarik tangan Kaila.


" Jangan seperti anak anak, selesaikan masalah, jangan malah lari?!" tangan Yusuf erat memegang pergelangan Kaila.


" Apakah pengakuan cintaku mengerikan? sehingga kau harus lari?" suara Yusuf tertahan.


Yusuf bangkit dari tempat duduknya menggeser tubuhnya ke arah Kaila dan meraih pintu mobil yang di buka setengah oleh Kaila.


" Kita bicara dengan tenang.." ujar Yusuf sembari menarik pintu di samping Kaila agar tertutup kembali.


" Kalau kau tidak suka padaku tidak masalah.. aku bukan tipe orang yang memaksakan kehendak ku pada orang lain.." imbuh Yusuf.


" Dan mungkin.. bagimu aku terlalu tua, aku bukan lagi anak muda yang bisa haha hihi seperti dirimu..


aku harus fokus bekerja dan belajar bisnis dari orang tuaku..


karena keluargaku tak sekaya keluargamu.."


Kaila membeku, tak ada satu kalimatpun yang keluar dari mulutnya.


Yusuf lagi lagi menghela nafas, ia juga harus menenangkan hatinya yang entah bagaimana rasanya sekarang.


" Bicaralah.. setidaknya tolak aku jika kau tidak suka padaku..?" pinta Yusuf.


" Kita pulang saja.." suara Kaila pelan,


" kumohon, cepat pulang..?" imbuh Kaila.


Yusuf benar benar kecewa sekarang,

__ADS_1


Jangankan menjawab, Kaila bahkan tak memandangnya.


__ADS_2