Damar Untuk Kinanti

Damar Untuk Kinanti
berbalik


__ADS_3

Semua anggota sudah packing pagi ini, belasan tenda peserta reuni sudah di rapikan.


Yoga mengawasi diam diam,


sementara Wiwit sudah selesai dengan sarapannya.


" Yakin mas tidak sarapan?" tanya Wiwit,


" aku sudah makan roti dua lapis dan sebotol susu.." jawab Yoga dengan lesu.


Terlihat sekali ia kesulitan tidur semalam, Wiwit yang menyadari itu menghela nafas.


" Mas.. boleh saya mengutarakan sedikit pendapat..?"


" silahkan.." jawab Yoga masih dengan mata lengket padahal sudah berkali kali ia mencuci wajahnya.


"Ada kalanya tidak usah banyak berpikir..


karena semakin banyak berpikir semakin ragu..


jika semakin ragu, maka semakin sulit hal itu di lakukan..


fokus saja dengan tujuan awal..


apapun yang terjadi terima resikonya,


toh kita ini laki laki..


benarkan?" Wiwit mengulas senyum,


"kita memang di ciptakan untuk menjadi sosok harus bertanggung jawab dalam berbagai hal..


termasuk kesalahan kita tentunya..


karena itu kita di beri pundak dan kekuatan fisik yang lebih.." ujar Wiwit.


" Entahlah.. aku tidak bisa berpikir dengan baik sekarang.." jawab Yoga.


Wiwit lagi lagi tersenyum.


" Mas.. saya tau mas adalah orang terpelajar dan tidak pernah susah..


tidak sulit bagi saya untuk membaca hal itu..


cobalah hidup di luar kebiasaan mas..


keluarlah dari lingkaran pemikiran yang selama ini membelenggu.." imbuh Wiwit.


" Maksudmu bagaimana?" Yoga memandang Wiwit yang santai itu dengan serius.


" Bertarunglah.. jangan jadi pengecut..


maaf jika saya kurang sopan..


tapi terkadang manusia baru bisa menjadi sosok yang baru dan lebih baik setelah di patahkan dan di remukkan oleh keadaan.." suara Wiwit tanpa beban, seakan ia berkali kali melewatinya.


" Kau menyuruhku bertarung dengan mas ku? kau bercanda.. sudah pasti aku remuk.." wajah Yoga berubah berkerut sedikit kesal dengan Wiwit.


Wiwit melempar pandangannya, untuk kesekian kali mencari sosok Damar.


" Tentu saja.. setelah saya lihat lagi beberapa kali pagi ini, saudara anda memang bukan tandingan anda dalam hal fisik..


tapi saya bisa lihat dia sedang dalam kondisi yang tidak nyaman,


pandangan matanya sering lepas entah kemana,


dia bahkan tidak banyak berbincang dan tertawa seperti lainnya.."


" Lalu kau masih ingin aku bertarung dengannya?! padahal akulah penyebab keresahan dan kesedihannya?!"

__ADS_1


Wiwit lagi lagi mengulum senyumnya.


" Terkadang kepercayaan harus di perjuangkan..


dengan bersikap berani, kepercayaan bisa di rebut.."


" Maksudmu jika meminta pengampunan dengan baik baik tak di terima, lalu aku harus berkelahi dengannya?"


" Saya tidak mengatakan tentang pertarungan yang sesungguhnya.. yang bisa mematahkan tulang atau berdarah darah.."


" Ah.. kau berputar putar.." gerutu Yoga,


" saya ingin anda bertindak lebih berani, tapi..


sepertinya sebelum bertarung dengan saudara anda..


anda harus bertarung dengan diri anda sendiri terlebih dahulu..


karena sorot mata anda lebih menyedihkan di banding saudara anda..


seperti lilin yang tertiup angin kesana kemari..


anda sedang di landa kebingungan dan ketakutan berlebihan.." ujar Wiwit panjang lebar.


" Ya sudah.. intinya jangan takut..


kalau begitu tolong keluar mas, saya mau packing tendanya,


meski kita tidak boleh terlihat, setidaknya jarak kita tidak terlalu jauh dari rombongan mereka.." ujar Wiwit bangun dan mulai membongkar tendanya.


Sementara Yoga yang masih bingung buru buru bangkit, ia memakai topi jaketnya, agar tak terlihat oleh mata Damar yang sedang sibuk mencuci nesting di tepi ranu gumbolo.


Benar kata Wiwit..


sebelum berhadapan dengan Damar, dia harus mampu menaklukkan ketakutannya dulu,


Entah kenapa dia selalu menjadi orang yang bodoh jika menyangkut perasaan.


Rasanya seperti percuma ia memperlajari ilmu ilmu pasti.


Karena, saat perasaannya mengambil alih, dirinya seperti tumpul dan tak pernah mengenal pendidikan apapun.


Di tengah lamunannya, ia mengingat sosok Kinanti.


Perempuan itu penuh air mata dan lusuh saat terakhir kali ia menemuinya.


Ternyata benar..


kebahagiaannya adalah Damar sekarang, begitu Damar menghilang, dunia Kinanti seperti runtuh..


semua orang bisa melihat itu.


Yoga menghela nafas berat,


seakan sadar.. bahwa dirinya hanyalah duri dalam daging saat ini.


Ia sendiri yang terjebak dalam masa lalu, sementara Kinanti sudah beranjak sejak lama dan sudah membangun rumahnya yang baru.


Jam 8 pagi, semua rombongan reuni meninggalkan ranu gumbolo.


Mereka berjalan sedikit santai sembari saling mengejek dan menertawakan seperti saat saat mereka muda dulu.


Namun sejatinya kalimat kalimat yang mereka lontarkan hanyalah sebuah candaan dan semuanya tau akan hal itu.


Damar berjalan menjadi swiper dengan Dedy di belakangnya.


Beberapa kali Damar tertawa mendengar teman temannya yang saling mengejek.


Sementara Dedy sesekali menoleh ke belakang, memastikan Wiwit dan Yoga menjaga Jarak yang lumayan jauh.

__ADS_1


" Wajahmu terlihat lebih segar dari pada kemarin kemarin, awal kau datang.."


kata Dedy pada Damar yang berjalan tepat di depannya.


" Benarkah.. mungkin karena nasehatmu.. hatiku jadi sedikit lebih tenang.." jawab Damar.


" Sedikit kau bilang..?"


Damar tertawa,


" Jangan serakah.. sedikit saja sudah bagus.."


Dedy mengulas senyum,


" Heh.. mentang mentang sudah kuat naik gunung!" gerutu Dedy tiba tiba,


" kenapa memangnya?"


" Langkahmu jangan terlalu cepat, aku tertinggal..?!" protes Dedy.


" Ya sudah.. kalau begitu kau yang di depan.." langkah Damar terhenti.


" Tidak tidak.. aku di belakang saja, tapi langkahmu jangan cepat cepat..!" tegas Dedy juga berhenti, keduanya seperti anak anak yang sedang berebut siapa yang di depan dan di belakang.


" Sudah sudah.. cepat jalan lagi!" ujar Dedy takut jika langkah mereka tersusul oleh dua orang di belakang.


Damar dan teman temannya sudah melewati Watu rejeng, pos tiga,


dan mereka hanya berhenti selama 15 menit, lalu segera bangkit untuk melanjutkan langkah mereka menuju pos dua.


Saat rombongan depan sudah mulai berjalan jauh, Damar baru saja bangkit.


ketika baru berjalan beberapa langkah ia mulai menyadari sesuatu.


Ada dua orang pendaki yang sejak tadi bersikap sedikit aneh.


Saat rombongan Damar berhenti, keduanya juga berhenti di kejauhan, bahkan seorang ia melihat satu orang pendaki yang memakai topi di tambah lagi dengan topi jaket di suasana yang masih termasuk pagi ini.


Damar menghentikan langkahnya, dan berbalik.


Si pendaki berjaket merah tiba tiba terkejut dan melangkah mundur, padahal jarak mereka 8 sampai 10 meteran.


Damar yang melihat gelagat itu tak tenang.


Apalagi ia merasa tidak asing dengan postur tubuh itu meski di pakaikan dengan jaket yang tebal.


Damar mengamati tangan laki laki yang mundur dengan tiba tiba itu.


" Kau di depan, aku ingin menyapa pendaki di belakang kita.." ujar Damar berjalan melewati Dedy.


" Hei?! untuk apa Dam?! mereka hanya orang asing, ayo lanjutkan jalan?! kita tertinggal?!" Dedy menarik lengan Damar hingga Damar hampir saja oleng karena isi di dalam tasnya lumayan berat.


" Kau kenal mereka?" tanya Damar mengerutkan dahi.


" Tentu tidak! karena itu ayo kita jalan!"


" Aku risih dengan sikapnya, aku tidak akan tenang jika tidak mengajaknya bicara" Damar tak menghiraukan Dedy, ia tetap berjalan kembali ke belakang, mendekat ke arah dua pendaki itu.


" Jangan takut, jalan saja terus.." bisik Wiwit pada Yoga yang langkahnya sempat mundur.


" Kau adalah laki laki mas.." imbuh Wiwit membuat Yoga kembali melanjutkan langkahnya meski sedikit ragu.


" Kau ini benar benar ya Dam?!" kesal Dedy menyusul langkah Damar dengan tergesa gesa.


" Mas?!" suara Damar yang mendekat seperti petir di telinga Yoga,


reflek Yoga mundur kembali, ia masih ingat benar bagaimana Damar melemparkan tubuhnya dengan keras.


" Berdua saja? ayo gabung kita?" Damar semakin mendekat, dan akhirnya berhenti tepat di hadapan Yoga.

__ADS_1


__ADS_2