Damar Untuk Kinanti

Damar Untuk Kinanti
Pamit


__ADS_3

Damar menaruh motornya di garasi, laki laki itu terlihat berjalan ke teras rumah dengan kaki pincang.


Kaila dan Winda yang sedang berkumpul di teras rumah melihat itu, mereka buru buru mendatangi Damar.


" Kenapa mas?!" tanya kaila melihat jaket yang robek di bagian siku dan celana Damar yang robek di bagian lutut kanannya.


" Ya Allah!" Kaila kaget melihat ada luka yang besar di lutut damar, itu luka akibat kulit yang bergesekan keras dengan aspal.


" Panggil Yoga?!" perintah Winda keras,


" Jatuh dimana le??!" Winda membantu Damar berjalan ke dalam rumah dan mendudukkannya di sofa.


Wajah Damar pucat menahan pedih, namun laki laki itu tak berkata apapun ia hanya berbaring sembari menutup matanya merasakan sakit.


Winda berlari ke arah dapur, lalu kembali membawa segelas air putih.


" Minum le.. minum..?" Winda membantu Damar untuk minum,


lalu Damar kembali berbaring di sofa, merasakan betapa pedih siku dan lututnya.


Tak lama Yoga datang membawa peralatannya.


dengan sigap ia menggunting celana Damar, karena luka di lutut Damar itu lumayan lebar, itu membuat Winda dan Kaila bergidik, mereka membayangkan betapa pedihnya itu, kulitnya habis tergesek aspal.


Semua orang tau bahwa itu sakit, namun Damar bahkan tak mendesis sekalipun demi menahan sakit dan pedihnya.


" Bagaimana kau bisa jatuh mas?" tanya Yoga sembari membersihkan luka Damar.


Damar sesekali melonjak merasakan lukanya di tersentuh oleh Yoga.


" Tahan, luka ini harus di bersihkan.." ujar Yoga tau kalau rasanya pasti sakit sekali.


" Entahlah, tiba tiba saja ada kucing yang menyebrang, tau tau aku terpelanting dan terbaring di aspal.." jelas Damar.


" Kau ini pemotor handal mas.. bisa bisanya jatuh gara gara kucing.." komentar Yoga tidak habis pikir.


Kakak sepupunya ini bisa menaklukkan tanjakan dan jalanan yang sulit di hutan tanpa terjatuh ketika mengikuti klub motor cross, tapi kenapa ia malah jatuh karena hal sepele.


" Apa kau naik motor sembari melamun?" tanya Winda,


Damar diam cukup lama,


" tentu saja tidak.." jawabnya kemudian, namun sorot matanya aneh.


Sekitar 30 menit Yoga membersihkan dan merawat luka Damar,


" Sudah mas.. sementara jangan banyak bergerak dan jangan kena air.." ujar Yoga,


" Lho? aku ada kelas besok?" ucap Damar.


" Kau ini?!" Winda geram.


" Diam dirumah! jangan mencoba bekerja sebelum luka lukamu sembuh!" tegas Winda.


" Ada benarnya mbak Winda mas, dengarkanlah.. supaya mas juga cepat pulih.." nasehat Yoga.


Damar menundukkan pandangannya, ia diam sekarang, tak ingin membantah karena ia lebih butuh istirahat.


" Beri aku obat pereda rasa sakit yang bagus.." ujar Damar pada Yoga, ia benar benar menahan pedih di lututnya, rasanya ia tidak akan bisa tidur malam ini.


" pereda rasa sakit untuk kakimu atau hatimu?" celetuk Winda membuat semua yang di ruangan itu terdiam, tak ada yang komentar atau tertawa.

__ADS_1


" Kau serahkan semuanya padaku untuk sementara, baik itu pabrik atau lainnya,


jangan bertingkah bodoh lagi.." imbuh Winda menatap adik sepupunya itu serius.


" Ada apa mas sebenarnya?" tanya Kaila ketika semua orang sudah pergi.


" Kau bisa lihat kan?" jawab Damar lirih sembari menutup matanya.


" Orang yang begitu hati hati sepertimu mas? apa mas benar benar melamun di jalan?" Kaila begitu khawatir, ia tidak pernah melihat Damar selemah ini.


" jangan bahas hal yang aneh aneh denganku sekarang.." peringat Damar halus.


" Kenapa? apa benar kata mbak Winda? hati mas sedang terluka?" Kaila menatap kakak tirinya itu dengan gelisah.


" Perempuan mana sih yang membuatmu lemah begini?" ucap Kaila lagi.


" Diamlah Kaila, segera belikan aku obat yang di resepkan yoga, aku ingin tidur malam ini.."


mendengar kata kata Damar Kaila hanya bisa menghela nafas dan berdecak.


Kinanti menyerahkan surat pengunduran dirinya sembari berpamitan pada kepala sekolah dan guru guru lainnya.


Banyak raut wajah yang menampakkan kesedihan dan kekecewaan atas keputusan Kinanti,


namun mereka tak sanggup mencegah karena keputusannya ini berhubungan dengan ibunya.


Ketika Kinanti berjalan meninggalkan ruang kepala sekolah ia berpapasan dengan Tyo,


yah benar.. wajah laki laki itu yang paling nampak sekali kesedihan dan kekecewaannya.


" Apa mungkin bu Kinan kembali ke sekolah ini?" tanya Tyo,


" tidak sepertinya pak.." jawab Kinanti tersenyum kecil.


" apa saya.. boleh berkunjung lagi kerumah njenengan?" tanya Tyo hati hati,


" tentu saja pak.. njenengan kan teman saya.. saya malah bersyukur masih dianggap teman dan di kunjungi meski sudah tidak mengajar disini.." jawab Kinanti membuat wajah Tyo yang mendung sedikit cerah.


" Baiklah kalau begitu bu.. saya akan dengan senang hati berkunjung.." ucap Tyo.


Dan Kinanti kembali ke kost, ia mengemasi barang barangnya di bantu oleh teman teman se kostnya.


Ketika sore sudah menjelang Yusuf datang, ia memasukkan semua kardus kardus yang berisi barang Kinanti ke dalam mobil.


" Ada yang tertinggal?" tanya Yusuf pada Kinanti yang sudah duduk di dalam mobil, tepat disampingnya.


" Tidak ada Suf.." jawab Kinanti lirih.


Sorot matanya begitu sedih, Yusuf bisa melihat itu.


Yah tentu saja Kinanti sedih, tempat ini sudah menjadi tempat tinggalnya selama bertahun tahun, begitu pula teman temannya, tidak mudah untuk mencari teman baik, namun Kinanti sekarang harus meninggalkan mereka.


" ya sudah.. kita pulang sekarang.." ujar Yusuf mulai menyalakan mesin mobilnya.


" Kau akan baik baik saja setelah dua minggu.." ujar Yusuf ketika di tengah perjalanan.


Ia terganggu sekali dengan raut wajah Kinanti yang seperti orang patah hati.


" Hemm.." jawab Kinanti seperti malas bicara.


" eh, bagaimana dengan guru olah raga itu? apa dia mengatakan sesuatu ketika kau pamit?" Yusuf penasaran.

__ADS_1


" dia bilang akan berkunjung kerumah.." jawab Kinanti masih dengan suara malas.


" Baguslah, berarti dia memang menaruh hati padamu..?!" ujar Yusuf sembari sibuk menyetir.


" Terus kau mengharuskan aku menikah dengannya?" Kinanti mulai kesal, ia tau arah pembicaraan ini kemana.


" Kalau dia serius dan melamar mu dalam jangka waktu dekat, kenapa tidak?"


" Ayolah, kenapa kau memperlakukanku seperti perempuan yang tak laku? sehingga aku harus menerima siapapun?! aku bahkan masih 25 tahun?!"


Keluh Kinanti.


" Semua saudara Kita menikah di usia 22 dan 23, apa kau kira setelah melewati 25 tahun akan mudah mencari jodoh?"


" Kau juga 25 tahun?"


" Aku laki laki..!"


" lalu apa bedanya laki laki dan perempuan?!"


Yusuf gemas,


" Kau kan sudah janji padaku?! kenapa sekarang kau mengeluh lagi,


kalau aku sih mau kau jadi perawan tua tak masalah, tapi kau harus pikirkan ibumu,


sekarang kau adalah satu satunya yang dia pikirkan, dan itu sumber penyakitnya..?!"


Kinanti membisu seketika, mukanya terlihat masam.


" Sudahlah, kau bertemu saja dengan Haikal, dia juga usia yang cukup menikah.. dia pasti akan segera melamarmu jika kau setuju.."


" Gila kau?! kau menyuruhku menikah begitu saja, tanpa adanya chemistry sedikitpun?!"


" oh.. jadi kau butuh chemistry? baiklah.. lalu dengan laki laki mana kau punya chemistry? katakan?"


Kinanti diam tak menjawab.


" Tidak ada kan?" senyum Yusuf seperti mengejek,


" aku bahkan bingung, bagaimana kau betah sendirian setelah berpisah dengan mantan bajingan mu itu, padahal yang mendekatimu laki laki yang bisa di perhitungkan semua.."


" pangkat dan jabatan tidak menjamin orang itu tidak akan menyakiti atau mengkhianatiku Suf?!"


tukas Kinanti,


" memang benar, namun setidaknya ada sebuah hukum yang bisa menjerat nya ketika dia menyakitimu.."


" oh.. jadi aku sudah harus berjaga jaga untuk di perlakukan semacam itu lagi?"


" ih!! susahnya bicara denganmu! kalau kau tidak mau di sakiti kau menikah dengan teman kakakmu saja! mana dia kan punya rasa bersalah pada kakakmu?!" ujar Yusuf terdengar ngawur untuk Kinanti.


" pemikiranmu semakin tidak rasional!"


" Dimana nya yang tidak Rasional?"


" Dia itu laki laki yang aneh, aku malas meladeninya..!" Kinanti membuang pandangannya ke luar jendela.


" Aneh karena? coba jelaskan padaku?"


Kinanti diam sejenak, seperti berfikir kalimat apa yang pas.

__ADS_1


" Dia menyuruhku menikah dengan orang lain, tapi dia malah marah marah setiap melihatku bertemu laki laki lain.." jelas Kinanti kemudian.


Sontak Yusuf tertawa, ia bahkan terbahak bahak, membuat Kinanti bergidik karena kesal.


__ADS_2