
Damar mengamati Laki laki di hadapannya, laki laki itu tertunduk dan menyembunyikan wajahnya.
" Kami tidak masalah berjalan di belakang anda, silahkan lanjutkan perjalanan anda kembali.." Ujar Wiwit membaca ketakutan Yoga.
Tentu saja, laki laki setegap dan setinggi Damar, semua orang akan berpikir beberapa kali untuk menyinggungnya.
Raut wajahnya pun tegas, pembawaannya sungguh lengkap untuk seorang laki laki.
Damar mengawasi tangan dan jemari laki laki berjaket merah itu.
" Itu tangan Yoga.." ucap Damar dalam hati,
namun pikirannya mengambil alih, bahwa tidak mungkin itu Yoga, Yoga tidak mengenal kegiatan outdoor dan melelahkan semacam ini.
Tidak mungkin, dan sangat tidak mungkin laki laki ini Yoga,
mungkin saja itu hanya kesamaan,
tangan yang putih dan halus semacam itu banyak di miliki laki laki jaman sekarang yang suka dengan perawatan.
Tentu saja.. sebagai seorang dokter Yoga cukup baik merawat kulitnya, Damar sadar betul itu.
Berbeda dengan dirinya yang hanya memakai lotion sekedarnya.
" Ngomong ngomong dari mana?" tanya Dedy tau tau sudah menengahi.
" Kami dari malang saja.." jawab Wiwit cepat.
" Ya sudah kalau begitu.. kami duluan ya?" ujar Dedy menarik Damar agar berbalik dan kembali berjalan.
" Apa tarik2?!" Damar kesal karena sejak tadi Dedy menarik nariknya.
" Kau sih! kita jadi tertinggal jauh!" Dedy lebih galak.
Damar hanya menghela nafas lalu kembali berjalan di depan Dedy.
Sementara Yoga langsung terduduk lemas saat melihat Damar sudah mulai berjalan kembali.
Darahnya serasa terkuras habis, jantungnya seakan ingin lari dari tubuhnya saking takutnya.
" Minum dulu.." Wiwit memberi Yoga sebotol air.
" Bagaimana bisa menyelesaikan masalah jika berhadapan saja sudah setakut ini?" ujar Wiwit sembari menggeleng gelengkan kepalanya.
Yoga diam tak menjawab, ia minun air di botol kecil itu sampai habis.
" Mau duduk dulu atau langsung jalan?" tanya Wiwit,
" Uhukk uhukkk..!! uhukk uhuukkk..!!" Yoga tersedak air yang di minumnya karena terlalu tegang.
" Pelan pelan mas?" ujar Wiwit sembari menepuk dada Yoga yang sedang terduduk.
Langkah Damar terhenti, ia berbalik.
" Ada apa lagi? kau mau sampai ranu pani jam berapa kalau berhenti terus?!" sembur Dedy saat melihat Damar menghentikan langkahnya dan tiba tiba berbalik.
" Kau turun saja dulu, tidak usah menungguku." Suara Damar terdengar berbeda, raut wajahnya pun berubah kaku.
Tanpa menunggu jawaban dari Dedy, Damar berjalan kembali ke arah belakang, melewati dedy begitu saja hingga Dedy sedikit terdorong dan oleng.
Untung saja, Dedy terjatuh ke arah kiri dan bukan ke arah kanan, karena di sebelah kanan sudah tidak ada jalan setapak atau pepohonan, namun sebuah turunan yang lumayan menyusahkan jika terperosok ke bawah.
Dengan susah payah Dedy bangkit, mengejar langkah Damar.
" Uhukk! uhukk!!" Yoga menepuk nepuk Dadanya sendiri.
" Aku tersedak.." Ucap Yoga dengan suara lirih.
Yoga tak menyadari kalau Damar sedang berjalan kearahnya.
Sekitar jarak tiga meter Damar terhenti, Wiwit yang tersadar membantu Yoga berdiri.
Yoga tercekat, menyadari Damar berdiri tak jauh darinya.
" Mau sampai kapan kau mengikutiku?" suara Damar tertekan.
Yoga yang merasa sudah tidak bisa lari lagi dan sepertinya sudah ketahuan membuka topi yang menutupi kepalanya.
Dan terlihatlah dengan jelas oleh Damar, bahwa laki laki berjaket merah yang sejak tadi di belakangnya dan Dedy adalah Yoga.
" Mas.." Yoga tertunduk bersalah.
" Kau bahkan tidak membiarkan hidupku tenang?!" Suara Damar keras.
Sontak membuat Dedy menengahi menarik lengan Damar.
__ADS_1
Namun Damar tak berkutik.
" Dengarkan aku.. dengarkan dulu.." ucap Dedy perlahan.
" Sesungguhnya dia sudah mencarimu sejak semalam, tapi aku mencegahnya berbicara padamu sebelum kita turun.
kumohon.. ini gunung, kendalikan amarahmu, mari kita turun terlebih dahulu.." imbuh Dedy menenangkan.
" Jadi kau berkompromi dengannya di belakangku?" Damar menatap tajam Dedy.
" Ini demi kebaikanmu.. kita tidak dalam posisi baik saat ini, ada teman teman kita, apa yang akan terjadi jika kau tiba tiba marah seperti ini di hadapan banyak orang?
aku menjaga itu semua, karena itu aku dengan sengaja merahasiakan kehadiran saudaramu..?" jelas Dedy.
" Saudara?" ucap Damar tersenyum sengau,
" saudara apa yang ingin merebut istri saudaranya?" ucap Damar menatap Yoga penuh amarah.
" Aku tidak mas?" ucap Yoga memberanikan diri.
" Kau tidak?! benarkah?!
kau memohon mohon pada istriku agar tidak melupakanmu, kau kira aku tidak mendengar kata katamu?!" tuding Damar.
" Dam?! tenangkan dirimu?!" Dedy berusaha meredam.
" Tenang kau bilang? bagaimana perasaanmu jika kau jadi aku?
seorang laki laki bergelayutan di paha istrimu sembari memohon agar dirinya tidak di lupakan,
bahkan dia bersedia menjadi nomor dua!
perasaanku di cabik cabik oleh kenyataan bahwa dia adalah saudaraku sendiri,
dia bahkan saudara yang selama ini paling mengerti diriku?!!"
Damar meradang, Dedy sesungguhnya takut dengan sikap Damar saat ini.
Namun hanya ia satu satunya yang bisa mencegah hal hal buruk yang mungkin saja terjadi.
" Aku salah mas.. aku pendosa.. aku pengecut..?" Yoga berjalan mendekati Damar dan berlutut.
" kau tidak lelah berlutut? saat itu di hadapan istriku, lalu sekarang di hadapanku?" Damar mencemooh dengan tatapan sinis.
" Aku seperti itu karena tidak bisa menerima kenyataan,
ampuni aku mas..
ampuni aku, hal ini tak akan terulang kembali..
jika mas tidak puas,
hajar aku sepuasmu.." Yoga sungguh pasrah.
" Kau kira kekecewaanku akan hilang jika aku memukulmu..?
bukannya lega, tapi aku semakin tersiksa,
jadi menyingkirlah dari pandanganku sebelum kesabaranku habis dan aku berada di luar kendali lalu melemparmu kebawah!" tegas Damar tajam lalu berbalik.
" Kinanti mencintaimu mas.. di hatinya sudah tidak ada aku,
karena itu..
karena itu aku memohon kepadanya agar tidak melupakan aku..
jadi ini bukan salahnya.." ucap Yoga.
" Diam!" tegas Damar berbalik kembali, emosinya sudah di ubun ubun.
" Aku menahan diri karena kau sedarah denganku,
karena orang tua mu semasa hidup begitu perduli denganku yang di perlakukan buruk oleh bapakku sendiri,
harusnya kau tutup mulut dan tau diri,
buka terus bicara dan membuat dadaku sesak!"
" Pukul saja mas? pukul saja.. aku pantas menerimanya,
aku memang pecundang yang menganggu keharmonisan rumah tanggamu,
tapi tidak ada keinginan secuilpun untuk merusak atau merebut istrimu..
aku yang tidak bisa menahan diri karena begitu frustasi saat tau dia begitu mencintaimu dan berkali kali menolak sikap manisku padanya..
__ADS_1
padahal aku hany ingin berada disampingnya saja..
demi Tuhan mas, Kinanti tidak bersalah..
dia tak pernah memberiku kesempatan..
karena itu aku bertindak impulsif saat itu"
Yoga bersimpuh di kaki Damar.
" Pulanglah.. istrimu sakit.. dia terlihat kurus dan lusuh..
aku sungguh sungguh menyesali ke egoisanku..
karena aku kalian seperti ini..
aku bersalah mas,
tapi pulanglah.. istrimu menderita tanpamu..?".
Tangan Damar mengepal, ia menjauh dari Yoga.
Perasaannya sungguh campur aduk berantakan, kebencian runtuh saat ia mendengar nama istrinya, bahkan saat ia mendengar kondisi istrinya.
" Aku tidak pernah berbuat yang kurang ajar pada Kinanti mas.. sungguh..
kekurangajaranku padanya hanyalah saat aku bersimpuh sembari memeluk kakinya..
selebihnya aku tidak pernah berani,
sungguh.. demi Bagas aku bersumpah.." imbuh Yoga dengan air mata yang tak bisa lagi ia bendung.
" Demi anakku satu satunya aku bersumpah mas.. aku bersumpah..
aku menyesali perbuatanku..
aku sungguh menyesalinya mas.."
Suasana hening cukup lama, sedangkan Damar yang perasaannya campur aduk antara marah dan iba memejamkan matanya.
" Jangan mengambil keputusan saat emosimu sedang tidak stabil..
ayo kita turun,
lalu bicara baik baik..
Kau sudah cukup mempunyai kenangan yang menyakitkan dengan Aji disini,
jadi jangan menambahnya lagi.." suara Dedy tenang disamping Damar.
" Ayolah.. kuasai dirimu.." imbuh Dedy membuat Damar membuka matanya dan menatap Yoga redup.
" Aku belum bisa memaafkanmu, jadi bersikaplah tau diri dengan tidak sesering mungkin menunjukkan wajahmu di hadapanku" Damar menekan perasaannya.
Benar apa kata Dedy, ia tak mau mempunyai kenangan buruk lagi.
Meski kata kata Yoga cukup bisa ia percaya bahwa ia tak pernah menyentuh Kinanti, tapi perbuatan Yoga masih terlalu dini untuk ia maafkan,
kekurang ajarannya masih sulit di maafkan oleh Damar.
Damar pun yakin benar pada istrinya itu, meski Kinanti sudah tidak jujur perkara hubungannya di masa lalu dengan Yoga, ia tak mungkin sampai berbuat di luar batas dengan Yoga.
Ia tau benar tiap lekuk istrinya, Damar memeriksa tubuh istrinya tiap malam.
Dan jika memang mereka pernah berbuat macam macam selama pacaran, maka saat malam pertama kesucian Kinanti tak akan pernah di temukan oleh Damar.
Namun pada kenyataannya Damar menjadi yang pertama bagi Kinanti,
jadi ia tau benar, prinsip istrinya tak bisa ia remehkan.
Hanya saja.. melihat kelakuan Yoga saat itu,
kepercayaannya menjadi runtuh sesaat, dan amarahnya meledak ledak tanpa bisa ia kendalikan.
Sekarang muncul penyesalan, bagaimana bisa ia pergi dari rumah sampai berminggu minggu seperti ini,
dan hatinya semakin perih saat ia mendengar bahwa istrinya itu sedang menderita dan sakit karena menunggunya pulang.
Damar berjalan kembali, di hadapan Dedy, langkahnya lebih cepat sehingga Dedy sedikit kepayahan mengikutinya.
Namun setidaknya tidak terjadi perkelahian yang membuat Dedy bisa berpikir dan melangkah lebih tenang.
Sementara itu, Wiwit membatu Yoga berdiri, namun Yoga tidak ingin bangkit, ia masih tetap terduduk di tengah jalan setapak itu, sembari melihat sosok Damar yang mulai menjauh.
Tubuhnya lemas, pandangannya sayu.
__ADS_1
" Tampaknya.. perjuangan mas harus lebih keras.." ucap Wiwit lirih pada Yoga.
Ia juga turut sedih dengan hal ini.