
Damar mengendong Gendhis sembari mengawasi kayu kayu yang baru saja diangkut masuk ke dalam gudang.
" Biar saya yang gendong mas, sampean lanjut saja.." Yusuf menawarkan diri.
" Sama om Yusuf ya?" tanya Damar pada putri kecilnya,
" hek emb..!" Gendhis mengangguk dan membuka tangannya pada Yusuf.
Damar menyerahkan Gendhis pada Yusuf.
" Ndak boleh nakal lho nduk?" kata Damar kalem,
Gendhis tersenyum lebar,
" hek embb..!" jawabnya lagi membuat Damar dan Yusuf tertawa.
" Yawes.. ajak ke ruanganmu saja, banyak barang baru, pastinya banyak debu.."
Yusuf mengangguk, lalu cepat cepat membawa Gendhis pergi ke ruangannya.
Kinanti berjalan ke arah pabrik, karena i tak menemukan suami dan putrinya.
" Gendhis mana?!" tanya Kinan berjalan cepat menuju ke arah suaminya yang sedang membenarkan maskernya sembari memberi nomor untuk kayu kayu barunya.
" Sudah pulang?" Damar menoleh ke arah istrinya.
" Sudah, Gendhis??" tanya Kinan lagi setelah disamping suaminya.
" Ada dengan Yusuf.. " jawab Yoga membuka maskernya.
" Ya sudah mas lanjut saja, biar kuambil Gendhis.."
" hemm.. ya sudah, bawa pulang, sejam lagi aku baru selesai.. " ujar Damar memakai lagi maskernya, dan membiarkan istrinya pergi ke ruangan Yusuf.
Keesokan harinya Kaila dan Yusuf berkunjung kerumah Yoga.
Yusuf mendengar dari Kinanti bahwa Dinda sedang kurang sehat,
beberapa makanan dan oleh oleh mereka bawa.
" Sudah periksa mbak?" tanya Kaila dengan tangan yang sibuk mengupas jeruk.
" Aku baik baik saja, hanya sedikit pusing.." jawab Dinda sembari menerima potongan jeruk yang sudah di kupas Kaila.
" Masuk angin mungkin?" tanya Kaila sembari melirik Yoga yang dari tadi duduk diam disamping Yusuf.
" Lupa pake baju kali waktu tidur..? heheheee... " goda Kaila ingin mencairkan suasana, namum Yoga dan Dinda malah tak tertawa sama sekali.
" Mas? belum di periksa tho istrinya?" tanya Yusuf,
" yo uwes lah Suf.. ( ya sudah lah Suf..)" jawab Yoga kalem,
" terus?" tanya Kaila masih mengupas jeruk untuk Dinda,
" ehemm.." Yoga tiba tiba kikuk,
" kurang istirahat, kecapekan.. " lanjut Yoga membuang pandangan keluar jendela.
" Bukan karena di aniaya mas Yoga kan mbak?" celetuk Kaila,
" huss..?!" Yusuf mengingatkan istrinya.
Suasana tiba tiba hening, wajah Yoga dan Dinda kaku.
__ADS_1
" Mbak, jangan banyak banyak makan jeruk? nanti perut mbak sakit?!" Kaila memasukkan jeruk jeruk itu ke kantong plastik dan menjauhkannya dari Dinda.
" Padahal aku baru muncul nafsu makan, kau malah begitu..?" gerutu Dinda.
Kaila melirik Yoga,
" biarkan.." ucap Yoga lirih,
mendengar itu Kaila mengambil lagi kantong berisi jeruk itu dan menyerahkannya pada Dinda.
" Nih.. tapi awas sakit perut ya mbak??" kata Dinda.
Malam menjelang, Dinda belum juga masuk ke dalam kamar,
Yoga membolak balikkan tubuhnya di atas tempat tidur,
matanya tak bisa terpejam, apalagi tidak ada Dinda yang terbaring disampingnya.
" Owalah.." keluh Yoga akhirnya bangkit.
Ia berjalan keluar kamar,
matanya mencari dimana Dinda berada,
betapa terkejutnya Yoga saat menemukan istrinya sedang duduk di dapur dan memakan sisa jeruk yang di bawa Kaila tadi sore.
Yoga termenung sejenak, lalu berjalan memasuki dapur.
Dinda yang melihat Yoga berjalan melewatinya tak bergeming, ia tetap saja sibuk dengan apa yang ia makan.
Yoga membuat segelas susu segar dengan santai, lalu menaruh segelas susu itu di atas meja, tak jauh dari tempat Dinda duduk.
Bau susu sapi segar itu menyergap hidung Dinda dalam sekejap,
" hoouukk..?!"
terdengar suara yang memang di tunggu tunggu oleh Yoga, ia seperti ingin memastikan sesuatu.
Diam diam ia melirik istrinya, perempuan itu sedang menutup mulutnya dengan telapak tangannya demi menahan rasa mualnya, bau susu hangat itu benar benar menyiksanya.
Senyum tipis pertanda puas tersungging di bibir Yoga, hatinya bersorak sorak,
dan wajahnya sumringah seketika.
" Huuekk..?!" Dinda berhamburan pergi dari dapur,
bau susu segar luar biasa menyiksanya,
perutnya seperti di aduk aduk oleh aroma itu,
tubuhnya pun sontak memberi respon yang tidak menyenangkan.
Dalam hati, ia kesal sekali pada Yoga, kenapa dia harus bangun dan membuat susu yang baunya menganggu sekali itu.
Dinda membaringkan tubuhnya di atas sofa ruang tengah,
ia memucat dan lemas,
tangannya masih menutup mulut dan hidungnya.
Yoga segera berjalan mengikuti ke ruang tengah,
tangannya menyambar minyak kayu putih yang sejak tadi diam di meja samping tv dengan cepat.
__ADS_1
" Biar kubantu oles minyak kayu putih.." ujar Yoga langsung duduk disebelah Dinda yang terbaring.
Tanpa menunggu jawaban,
tangan laki laki itu menyusup masuk ke dalam daster,
mengusap perut Dinda dengan lembut, ia takut Dinda teringat malam dimana dirinya di tunggangi oleh setan.
Melihat Dinda yang akan bangun karena takut Yoga berkata,
" tenanglah, aku tau diri, tidak akan menganggu istri yang sedang sakit..".
Mendengar itu Dinda berangsur tenang, ia menjadi diam saja pasrah,
tenaganya tiba tiba terserap habis entah kemana.
" Dengarkan aku meski kau kesal padaku,
besok.. akan kuresepkan vitamin baru untukmu,
jangan terlalu lelah..
jangan naik motor dulu..
jangan pula mengangkat sesuatu yang berat,
tidak usah ke toko dulu sebulan ini,
jika ingin kesana akan kuantar.."
kata kata Yoga membuat Dinda bingung dan terheran heran.
" Memangnya aku sakit apa? sampai segitunya??" tanya Dinda penasaran.
" Jika kau tidak beristirahat, ini akan menjadi penyakit serius..
jadi dengarkan aku,
kau tidak mau tiba tiba jatuh pingsan kan?
lambungmu juga dalam kondisi yang kurang baik..
jangan minum minuman bersoda atau makan makanan terlalu pedas.."
" Kau serius?" Dinda masih bimbang,
" kau kira aku bercanda?" wajah Yoga serius, membuat Dinda mau tidak mau diam dan menuruti, meski masih sedikit ragu.
" Satu lagi.. jangan begadang.." imbuh Yoga,
" aku sakit apa sih?!" Dinda bangkit dan duduk, setelah tubuhnya terasa lebih baik.
" Belum tau jelas, besok aku minta sampel darah dan urine mu ya? biar ku periksa lebih lanjut di lab.."
Wajah Dinda memucat mendengar permintaan Yoga tentang sampel darah,
" Jangan menakutiku, kau mengerjai aku kan??
ini hanya alasanmu untuk memulai percakapan denganku kan??"
Yoga tersenyum sekilas,
" Ya sudah kalau tidak mau.. tidak masalah, tapi tetap ingat untuk menjaga dirimu,
__ADS_1
kondisimu sedang rentan.." nasehat Yoga terlihat menahan senyumnya.