Ketulusan Cinta Rini 2

Ketulusan Cinta Rini 2
Dua laki-laki bertubuh kekar.


__ADS_3

Dua hari telah berlalu dari kejadian itu, keadaan Rendi sudah lebih baik,tapi dia minta tolong kepada mamanya, dokter dan para perawat serta kekasihnya Rini untuk merahasiakan kalau dirinya sudah sadar dari istri dan kedua mertuanya.


keesokan harinya Rini berniat datang kerumah sakit lagi untuk menemui Rendi dengan naik ojek,tapi di tengah perjalanan, Rini dicegat oleh dua sepeda motor yang dikendarai oleh dua laki-laki bertubuh kekar.


"Maaf lek,kenapa kalian menghalangiku?"Tanya Rini memberanikan diri.


Kedua laki-laki itu turun dari motor mereka dan berjalan mendekati motor yang dinaiki Rini dan bapak tukang ojek.


"Haduh mbak, sepertinya mereka berniat tidak baik, jangan-jangan mereka perampok atau begal,kita putar balik saja ya mbak!"Kata tukang ojek yang sudah paruh baya.


"Iya pak,ayok cepetan kita kabur pak!"Perintah Rini.


"Pegangan yang kencang ya mbak!"Perintah bapak tukang ojek.


Bapak tukang ojek Langsung memutar motornya dan bergegas pergi dengan kecepatan penuh meninggalkan kedua laki-laki bertubuh kekar itu.


"Breng**sek...!"Teriak salah satu laki-laki bertubuh kekar, mereka langsung naik ke motor mereka masing-masing dan langsung menjalankan motornya untuk mengejar tukang ojek yang membawa Rini.


Si tukang ojek yang begitu handal mengendarai motor, karena dia adalah mantan pembalap saat dirinya masih muda dulu,dengan lihai mengendarai motornya melewati banyak motor dan mobil didepannya, melewati gang-gang sempit untuk menghindari kejaran dari dua laki-laki bertubuh kekar yang sepertinya berniat tidak baik.


"Dimana mereka Jon?"Tanya laki-laki bertubuh kekar yang satunya.


"Mana gue tau."Jawab temannya.


"Busyet deh,tuh orang pintar banget bawa motornya."Lanjutnya lagi.


"Bede**bah tenan."


Akhirnya mereka memutuskan untuk pergi karena kehilangan motor yang membawa Rini.


"Sepertinya mereka sudah tidak mengikuti kita pak."Teriak Rini di belakang bapak tukang ojek.


Bapak keren,bapak dulu pembalap ya?"Tanya Rini kagum dengan cara bapak tukang ojek itu membawa motornya.


"He...he..biasa aja kali mbak."Kata bapak itu.


"Bagaimana mbak, kita mau lanjut kerumah sakit atau pulang saja."Lanjut bapak tukang ojek.


"Gimana ya pak?Aku jadi takut, tapi aku mesti ketemu sama kekasih aku pak, kemarin aku sudah janji kerumah sakit lagi."Jawab Rini bingung.

__ADS_1


"Janji memang harus ditepati tapi nyawa cuma ada satu mbak!"Kata tukang ojek mengingatkan.


"Iya pak, bagaimana ya pak? Sabenarnya aku juga mengkhawatirkan keadaan kekasihku itu pak."Kata Rini sambil berpikir.


"Ya sudah pak, kita kerumah sakit."Lanjut Rini.


"Beneran mbak,apa mbak sudah yakin? Bagaimana kalau kedua orang tadi ternyata menemukan kita lagi."Kata tukang ojek mengingatkan lagi.


"Aku serahkan semuanya sama yang diatas pak, biarlah Dia yang menolong dan melindungiku."Jawab Rini yakin.


"Ya sudah kalau seperti itu, bapak cuma bisa mendoakan semoga tidak terjadi apa-apa ya mbak!"Kata bapak tukang ojek memutar motornya lagi untuk kembali kerumah sakit yang dituju oleh penumpangnya.


Setelah cukup lama dijalan karena harus beberapa kali memutar jalan di tambah jalanan sedikit macet akhirnya mereka sampai didepan rumah sakit Keraton.


Bapak tukang ojek menghentikan motornya didepan rumah sakit Keraton.


"Ini pak ongkosnya,kata Rini memberikan uang lima puluh ribuan ke tukang ojek.


Tukang ojek menerima uang dari Rini.


"Sebentar mbak kembaliannya."Kata si bapak tukang ojek merogoh saku kemejanya.


"Beneran mbak? Alhamdulillah, terimakasih ya mbak."Kata tukang ojek bersyukur.


"Sama-sama pak."Jawab Rini.


Rini bergegas masuk kedalam rumah sakit.


Saat mau masuk ke lorong menuju ruangan Rendi dirawat, Rini melihat dua laki-laki yang tadi menghadang sedang berbicara dengan Siska dan seorang perempuan paruh baya.


Rini langsung bersembunyi sambil memperhatikan empat orang yang sedang berbicara, tapi ia tidak dapat mendengar ucapan mereka karena jaraknya dengan ke empat orang itu cukup jauh.


Terlihat Siska dan perempuan paruh baya didekatnya marah-marah dengan kedua laki-laki itu,lalu kedua laki-laki itu berjalan kearah Rini pergi meninggalkan Siska dan perempuan paruh baya itu.


"Hah... gawat."Ucap Rini lirih,ia langsung mencari tempat persembunyian agar tidak diketahui keberadaannya oleh kedua laki-laki bertubuh kekar itu.


Rini menutup mulutnya dengan jantung berdetak kencang ketika kedua laki-laki itu melewati tempat persembunyiannya.


Namun ia bisa bernafas lega saat kedua laki-laki itu pergi jauh darinya.

__ADS_1


"Oalah.. dasar perempuan ular,jadi dia yang nyuruh tuh orang menghadang kita tadi."Batin Rini.


Ia keluar dari persembunyiannya setelah memastikan kedua laki-laki itu sudah pergi jauh tidak terlihat lagi.


"Untung saja dia tidak lihat, hufh..."Kata Rini lirih sambil mengusap dadanya yang tadi terasa mau berhenti jantungnya sangking takut dan tegang.


"Bagaimana ini yak, ditempat mas Rendi berarti ada mbak Siska."Batin Rini.


"Gue harus cepat kesana takut mereka melakukan hal yang membahayakan untuk mas Rendi,bisa gawat ini."Kata Rini langsung berlari menuju ruangan Rendi saat ini dirawat.


Dan bener saja dugaannya, kedua perempuan itu terlihat sedang merencanakan sesuatu yang jahat untuk Rendi yang tengah tertidur dengan pulas karena habis minum obat.


Untung Rini langsung datang dan menggagalkan rencana mereka.


"Hai.. perempuan jala**ng,siapa yang suruh lo kesini?Kata Siska langsung menghampiri Rini yang sedang berdiri didepan pintu.


"Apa yang akan kalian lakukan sama mas Rendi?"Tanya Rini.


"Bukan urusan lo, pergi sana!"Kata Siska sambil mendorong tubuh Rini keluar dari ruangan Rendi.


"Tidak mau, kalian pasti hendak berniat jahat sama mas Rendi."Rini melawan Siska.


"lo sudah berani dama gue?Plak... sebuah tamparan cukup keras mendarat di pipi Rini.


Saat bersamaan bu Citra yang sedang mendorong pak Burhan dikursi roda datang.


"Siska...apa yang kamu lakukan?"Teriak bu Citra dari kejauhan saat melihat menantunya itu menampar perempuan yang sudah beberapa hari ini merawat Rendi tanpa Siska ketahui.


"Mama..."Ucap Siska terkejut saat melihat kedua mertuanya tiba-tiba datang.


"Kamu kenapa menamparnya?Apa kesalahan perempuan ini sehingga kamu menamparnya."Lanjut bu Citra terlihat sangat marah.


"Ma..dia sudah mengganggu rumah tangga Siska,mama kan tau sendiri kalau gara-gara perempuan ini mas Rendi tidak mau menikah dengan Siska, bahkan mereka..."


"Cukup...."Bentak bu Citra memotong ucapan menantunya.


"Ma..tapi perempuan jala**ng ini yang sudah merebut Rendi dari Siska."Kata Siska berusaha membela diri.


"Sudahlah Siska,kamu jangan menyakiti perempuan ini lagi,mama gak suka kamu bersikap kasar dengannya."Bentak bu Citra.

__ADS_1


__ADS_2