
"Siapkan gue air hangat buat mandi cepetan."Kata Siska dengan suara keras.
"Baik non,"Jawab Inul langsung berlari kedalam kamar Siska untuk menyiapkan air hangat dikamar mandinya Siska yang ada di dalam kamar.
"Hufh lama-lama aku bisa jantungan kalau nenek lampir itu masih ada didalam rumah ini."Kata Inul lirih sambil menyiapkan air hangat untuk Siska.
"Padahal tinggal buka kerennya aja isi bak dengan air keran aja pakai nyuruh, dasar orang kaya."Lanjut Inul ngedumel.
"SUDAH BELUM MBAK ER....!"Bentak Siska dengan suara keras mengagetkan Inul yang sedang berada di dalam kamar mandi.
"I..i...iya sebentar lagi non."Jawab Inul gugup campur takut tiba-tiba Siska sudah ada didalam kamar.
Ting...tong...
Terdengar suara bel ketika Inul sedang berada didalam kamar Siska
"Sudah biarkan saja Mbak,biar Caca atau Juju yang bukain pintu."Perintah Siska dengan suara keras.
"I..iya non."Jawab Inul gugup.
"Hufh...nih orang sedang kerasukan setan mana sih?"Gumam Inul dalam hati.
"Rendi.. Siska..."Terdengar bu Citra memanggil anak dan menantunya dari lantai satu.
Bu Citra tadi habis mengajak suaminya jalan-jalan keliling komplek untuk menghirup udara segar diluar.
"Dimana mereka mbak?Apa mereka sudah pulang?"Tanya bu Citra sambil membantu suaminya duduk di sofa ruang santai.
"Sudah nya, mereka ada didalam kamarnya masing-masing nya."Jawab Caca sambil membawa beberapa kantong plastik berisi belanjaan.
Bu Citra tidak heran lagi jika menantu dan anaknya berada didalam kamar yang terpisah karena Rendi dari baru menikah sampai sekarang belum mau tidur bersama istrinya.
"Ya sudah, tolong kamu siapkan makanan yang tadi aku beli ya mbak, terus panggil Rendi sama Siska."Perintah bu Citra.
"Baik nyonya."Jawab Caca, asisten rumah tangga mereka.
Tidak lama terlihat Inul turun dari lantai dua.
__ADS_1
"Lho..mbak Er, habis ngapain diatas?"Tanya bu Citra.
"Anu nya..itu...non Siska minta di siapkan air hangat buat mandi."Jawab Inul.
"Lha... memangnya kerannya tidak nyala?"Tanya bu Citra penasaran.
"Nyala kok nya."Jawab Inul jujur.
"Ya sudah, sekarang kamu boleh kembali ke belakang."Perintah bu Citra.
"Iya nyonya."Jawab Inul singkat,ia bergegas pergi kebelakang meninggalkan dua majikannya yang sedang duduk di ruang santai.
"Papa mau mandi sekarang apa nanti ?"Tanya bu Citra pada suaminya.Pak Burhan menganggukkan kepalanya menandakan kalau dia ingin mandi sekarang.
Ya sudah ayok kita kekamar saja."Ajak bu Citra membantu suaminya untuk pindah duduk di kursi rodanya lalu bu Citra mendorong kursi roda suaminya menuju kamar mereka yang sekarang sudah pindah di kamar yang biasa ditempati kedua orang tua mereka kalau pulang ke Pekalongan yang ada di lantai satu karena bu Citra merasa repot jika harus naik turun tangga.
Setelah beberapa menit pak Burhan dan bu Citra keluar dari kamar, terlihat Rendi yang sudah kelihatan rapih dan segar sedang duduk sambil minum kopi di meja makan.
"Selamat pagi ma,pa."Sapa Rendi saat melihat kedua orang tuanya sedang berjalan sambil mendorong papanya yang sedang duduk di kursi roda menghampiri dirinya di meja makan.
"Dia habis tidur sama pela**cur itu ma."Terdengar suara Siska dari belakang bu Citra.
"JANGAN PERNAH SEBUT DiA KATA ITU LAGI."Bentak Rendi langsung bangkit dari duduknya dan menggebrak meja makan sangat marah.
"Ren.."Bu Citra memegang tangan anaknya mencoba menenangkan anak semata wayangnya itu.
"Ma.. Siska tadi sudah melukai Rini, seandainya mama lihat apa yang sudah dia lakukan sama Rini, sekarang pasti Rini sedang kesakitan gara-gara ulah dia."Kata Rendi sangat emosi.
"Memangnya apa yang sudah Siska lakukan sama Rini?"Tanya bu Citra penasaran.
"Dia sudah mencakar dan menjambak rambut Rini,dia datang-datang langsung ngamuk dan menganiaya Rini."Jelas Rendi.
"Benar itu Siska?"Tanya bu Citra menatap menantunya yang sudah duduk disampingnya Rendi.
"Iya, itu pelajaran buat dia yang sudah mengganggu rumah tanggaku."Jawab Siska.
"Hufh.."Bu Citra membuang nafasnya kasar sambil menundukkan kepalanya,ia diam beberapa saat lalu melihat mengangkat kepalanya lagi, ditatapnya wajah anak dan menantunya bergantian.
__ADS_1
"Mama sudah tidak tau apa yang harus mama katakan sama kalian,mama sama papa tidak mau memaksa lagi.
Jika rumah tangga kalian sudah tidak bisa di pertahankan lagi,mama sudah tidak mau ikut campur, terserah mau kalian apa."Kata bu Citra dengan wajah sendu.
"Rendi mau bercerai dengan Siska."Jawab Rendi dengan tegas.
"Tidak.. gue tidak mau bercerai dengan lo Ren."Jawab Siska menatap tajam kearah suaminya.
"Terserah, pokoknya gue mau bercerai dengan lo,buat apa kita masih mempertahankan hubungan yang tidak pernah ada rasa sayang dan cinta."Kata Rendi.
"Tidak.. tidak..."Jawab Siska langsung berlari ke lantai dua masuk kedalam kamarnya.
"Dasar keras kepala."Ucap Rendi.
"Maafin mama Ren,ini semua karena mama sama papa tidak pernah mau mendengarkan kata kamu."Ucap bu Citra dengan kedua mata berkaca-kaca menatap anaknya yang terlihat sangat menderita menikah dengan perempuan pilihan mereka.
"Sudah ma,nasi sudah menjadi bubur, sudah tidak bisa dibikin nasi lagi."Jawab Rendi.
Sementara didalam kamar terlihat Siska nampak kacau mengobrak-abrik isi kamarnya,dia sudah seperti orang gila karena cintanya kepada Rendi dari dulu tidak pernah dibalas oleh Rendi.
Sabenarnya Siska berhubungan dengan laki-laki yang bernama Rizky karena dia merasa kesal dengan Rendi yang selalu menghindar dan menolaknya tidak pernah mau menerima cintanya,tapi sesungguhnya dalam hatinya hanya ada Rendi seorang.
"Jika lo lebih memilih perempuan itu mendingan gue mati aja Ren, hiks.."Kata Siska meminum obat,gak tau obat apa.
Siska langsung memasukkan beberapa pil kedalam mulutnya dan dalam hitungan detik Siska langsung tidak sadarkan diri.
Saat bersamaan bu Citra datang mengetuk pintu kamar Siska, karena tidak ada jawaban dari menantunya,bu Citra terpaksa membuka pintu kamar menantunya yang ternyata tidak terkunci.
"Siska..."Teriak bu Citra membelalakkan kedua matanya merasa terkejut saat melihat menantunya sudah tergeletak di lantai dengan mulut keluar busa.
"Rendi.. tolong Ren... Siska...."Teriak bu Citra memanggil anak semata wayangnya.
"Ada apa ma?"Tanya Rendi langsung berlari naik kelantai dua saat mendengar teriakkan dari mamanya didalam kamar Siska.
Brak...
Rendi mendorong kamarnya yang cuma terbuka separo dengan kasar,ia membelalakkan matanya merasa terkejut melihat Siska yang sedang tergeletak di lantai dengan mulut mengeluarkan busa.
__ADS_1