
"Ren..papamu nak..hiks..hiks ..."Kata bu Citra sambil terisak.
"Mana Siska nak?Kok kamu sendirian?"Kata bu Citra sambil menghapus air matanya saat melihat Rendi datang seorang diri kerumah sakit.
"Ma..kenapa papa bisa seperti ini ma,apa yang terjadi?"Tanya Rendi kepada bu Citra sambil menatap pak Burhan yang terlihat pucat diatas ranjang pasien.
"Kata dokter,papamu terkena serangan jantung nak."Jawab bu Citra.
"Hah.. terkena serangan jantung?Kok bisa ma?"Tanya Rendi kaget.
"Mama juga gak tau Ren, kemarin papamu mendapat telpon dari seseorang,mama gak tau siapa yang menelpon papamu, tau-tau papamu jatuh pingsan setelah menerima telepon dari seseorang."Jelas bu Citra.
"Papa..!"Panggil Rendi lirih sambil menggenggam tangan pak Burhan.
Sekeras apapun dia, Rendi tetap menyayangi papanya walaupun papanya duka bersikap tidak adil terhadapnya.
Pak Burhan selama ini memperlakukan Rendi seperti sebuah boneka yang harus menuruti kemauannya,hanya karena Rendi adalah anaknya.
Dengan sikapnya yang egois,pak Burhan menganggap semua miliknya, termasuk anak dan istrinya harus menuruti apa yang ia katakan.
Tidak boleh ada yang membantah atau menolak perintahnya.
Jika dirinya mengatakan merah,maka semua harus ikut merah.
Begitulah pak Burhan dengan keegoisan dan kesombongannya,dia anggap semua bisa dibeli dengan uang.
Bahkan dia pernah berusaha membayar Rini dengan sejumlah uang yang begitu banyak supaya Rini mau meninggalkan Rendi.
Pak Burhan bersikap seperti itu karena pengalaman dirinya waktu masih kecil.
Ketika kedua orang tua pak Burhan belum memiliki apapun.
kehidupan nenek dan kakek yang serba kekurangan, mereka tinggal disebuah kontrakan yang berukuran kecil di Jakarta.
pak Burhan kecil terpaksa harus makan seadanya.
Ketika itu, Burhan masih berumur lima tahun sedangkan Agung baru berusia dua tahun.
Kakek bekerja di sebuah konveksi kecil milik sahabatnya, sedangkan nenek terpaksa bekerja sebagai tukang cuci di perumahan mewah didekat kontrakannya untuk membantu memenuhi kebutuhan mereka.
Burhan dan Agung sering diajak nenek bekerja.
Burhan sering mendapat perlakuan tidak enak oleh anak dari majikan ibunya yang sombong.
__ADS_1
Hinaan dan cacian sering beliau terima saat menemani sang ibu bekerja.
Pernah anak dari majikan ibunya Burhan melakukan kesalahan,dia memecahkan guci kesayangan orang tuanya.
Tapi burhan lah yang dituduh memecahkan guci itu,dan akhirnya ibunya Burhan dipecat dan diusir dari rumah mereka.
Keluarga majikan ibunya suka berbuat seenaknya karena mereka punya uang, mereka bisa melakukan apapun dengan uang yang mereka miliki.
Sehingga Burhan kecil sering berfikir,jika suatu saat nanti aku punya uang banyak,gak ada seorangpun yang boleh menghinaku dan keluargaku.
"Ternyata betapa pentingnya uang untuk kita.
Karena dengan uang kita bisa membeli dan melakukan apapun yang kita mau."Gumam Burhan kecil didalam hati.
Nenek menyuruh Burhan kecil untuk bersabar dan ikhlas.
Hingga akhirnya berkat kerja keras dari kakek bersama dengan teman-temannya yang tidak mengenal lelah, mereka berhasil mengembangkan konveksi mereka yang tadinya hanya konveksi kecil, berubah menjadi besar.
Sejak usia Burhan sembilan tahun,ia sudah membantu bapaknya menjahit sepulang sekolah.
Sang bapak mengajari Burhan bagaimana cara memotong kain lembaran untuk di jadikan baju.
Hingga saat Burhan berusia lima belas tahun,ia sudah pandai mendesain baju sendiri,dan hasilnya banyak pengusaha pakaian yang menyukai rancangan baju yang dibuat oleh Burhan.
Karena kepandaian Burhan dalam membuat desain baju agar terlihat sangat menarik, konveksi milik orang tua Burhan akhirnya bisa semakin maju.
Hingga saat umur Burhan 25 tahun, kakek atau bapaknya Burhan bekerja sama dengan teman-temannya, membuat sebuah pabrik tekstil di Jakarta.
Sedangkan Burhan sendiri setelah menikah dia memilih untuk tinggal di Pekalongan bersama dengan istrinya membuka usaha sendiri.
mereka bekerjasama mengembangkan konveksi yang tadinya hanya konveksi kecil berubah menjadi besar dan berkembang hingga ke berbagai daerah.
"Mana Siska sayang? Kenapa kamu gak ajak istrimu kesini?"Tanya bu Citra terus menanyakan menantunya.
"Gak tau.."Jawab Rendi terlihat cuek.
"Lho..kok gak tau, memangnya kalian gak pulang bareng? Kalian berantem lagi?Sayang..kamu jangan terlalu keras sama istrimu, kasihan Siska.
Belajarlah menyayanginya nak."Kata bu Citra dengan wajah sendu menatap wajah anak semata wayangnya.
"Sudahlah ma.. jangan bicara tentang Siska.
Rendi gak perduli dengan dia,mama jangan terlalu percaya dengan ucapannya karena mama gak tau siapa dia sebenarnya."Kata Rendi masih menggenggam tangan papanya.
__ADS_1
Lebih baik kita pikirkan saja keadaan papa,apa yang sabenarnya terjadi dengan papa, sampai papa seperti ini, pasti telah terjadi sesuatu."Kata Rendi lirih sambil melihat wajah papanya yang terlihat begitu pucat.
Bu Citra hanya diam saja tanpa berani berkata-kata lagi.
"Oh iya ma... handphone papa mana ma?Apa mama membawanya?"Tanya Rendi saat teringat kata mamanya,kalau papanya jatuh pingsan setelah menerima telepon dari seseorang.
"Ada, kebetulan mama bawa."Kata bu Citra sambil mengambil tasnya yang diletakkan diatas meja yang ada didalam kamar pak Burhan dirawat.
Bu Citra membuka tasnya, dicarinya handphone milik suaminya yang ia simpan didalam tas miliknya.
"Ini Ren.."Kata bu Citra menyerahkan handphone milik suaminya kepada Rendi.
"Apa yang akan kamu lakukan dengan handphone papamu nak?"Tanya bu Citra penasaran.
"Rendi cuma ingin lihat panggilan masuk terakhir sebelum papa pingsan."Jawab Rendi sambil mengutak-atik handphone milik papanya untuk mencari panggilan masuk dua hari yang lalu sebelum akhirnya papanya pingsan,sampai saat ini belum sadarkan diri.
"Hah.. Siska?Jadi papa sedang menelpon Siska saat itu ,apa yang dibicarakan oleh Siska sehingga papa bisa sampai terkena serangan jantung?"Kata Rendi didalam hati.
Dia kembali memencet tombol handphone mencari siapa yang papanya hubungi selain Siska pada hari itu,atau siapa yang sudah menelpon papanya sebelum papanya Rendi akhirnya menelpon Siska.
Ada nomor tidak dikenal karena tidak ada namanya.
nomor itu masuk 15 menit sebelum pak Burhan melakukan panggilan telpon dengan Siska.
"Nomor siapa ini?Apa yang sabenarnya terjadi?"Kata Rendi masih memperhatikan nomor handphone itu.
"Ada apa Ren?Apa yang terjadi?Apa kamu menemukan sesuatu atau petunjuk apa yang membuat papamu sampai terkena serangan jantung?"Tanya bu Citra terlihat sangat cemas.
"Ma..mama tau gak ini nomor siapa?"Tanya Rendi sambil memperlihatkan nomor telepon yang ada dipanggilan masuk handphone milik papanya.
"Em..mama gak kenal Ren, memangnya kenapa Ren? Apa jangan-jangan orang itu yang sudah membuat papamu sampai seperti ini."Kata bu Citra curiga.
"Mungkin..tapi kita tidak boleh asal menuduh,nanti Rendi coba selidiki masalah ini ma."Kata Rendi langsung memasukkan handphone milik papanya kedalam kantong tas ransel berukuran kecil milik Rendi.
"Nenek sama kakek sudah diberitahu belum ma?"Tanya Rendi.
"Sudah Ren,tapi mereka tidak bisa kesini karena nenekmu ternyata juga sedang sakit,
Kasihan nenek, mungkin karena kecapean. Baru beberapa hari mereka pulang dari sini.
Eh..malah dapat kabar papamu masuk rumah sakit. "Kata bu Citra menjelaskan.
"Ya sudah gak apa-apa, yang penting mereka sudah diberitahu soal papa."Ucap Rendi.
__ADS_1