
"Gue mau ketemu mertua lo,hai..lo, nyonya Rendi, pelakor, suruh mereka bukain pintu, karena gue ingin bertemu dengan mama Citra."Kata Siska dengan sombongnya.
"Ealah.. bertamu tempat orang kok gak sopan, pingin rasanya tak kremes-kremes tuh muka dia, amit-amit jabang bayi,jangan seperti perempuan itu ya nak." Gumam Rini dalam hati sambil mengusap lembut perutnya sendiri.
"Maaf mbak,mama sama papa sedang tidak ada dirumah, mereka sedang pergi kerumah sakit."Jawab Rini masih bersikap tenang meskipun Siska terus berbicara kasar dan menghinanya.
"Ya sudah suruh mereka buka gerbangnya,gue mau menunggu mereka pulang,jadi begini sikap kamu terhadap tamu."Kata Siska ketus.
"Maaf mbak,kalau mbak Siska tidak ada urusan mending mbak Siska pergi saja, karena aku mau istirahat,nanti gampang mbak Siska kesini lagi."Perintah Rini dengan suara lembut,lalu Rini membalikkan badannya dan berjalan meninggalkan Siska yang masih berdiri di samping mobil milik Siska sendiri yang terparkir diluar gerbang.
"Rini.. jangan pergi lo, gue belum selesai bicara, suruh mereka bukain gerbangnya gue mau ketemu mertua lo, Rin...! "Teriak Siska diluar gerbang,tapi tidak digubris oleh Rini yang terlihat cuek meski Siska terus berteriak memanggil namanya untuk membukakan pintu.
"Dasar lo perempuan pela**cur, pelakor."Teriak Siska terus menghina Rini.
"Awas lo Rin,gue balas lo nanti."Lanjut Siska.
"Ih.... jangan-jangan mbak Siska sudah mulai gila kali ya?Ah mending langsung masuk ajalah takut diculik lagi sama tuh perempuan gila."Kata Rini lirih sambil mempercepat jalannya agar cepat sampai kedalam rumah.
"Edan tenan iki mantane den Rendi pak, katanya dokter,kok sikapnya seperti itu."Bisik seorang satpam ke temannya yang juga seorang satpam sambil duduk ditempat jaga yang ada dihalaman rumah pak Burhan dan bu Citra di dalam gerbang rumah yang super mewah dan besar itu.
Salah satu satpam itu berdiri dari duduknya lalu berjalan mendekati Siska yang masih berdiri di depan gerbang, Siska yang terlihat sangat marah sambil menggoyang-goyangkan besi gerbang menimbulkan bunyi yang cukup keras.
Plontang.. plontang...
Seperti itulah kira-kira bunyi besi dari gerbang.
"Maaf mbak Siska, sebaiknya mbak Siska cepat pergi dari sini sebelum aku telpon pihak keamanan yang berjaga di depan komplek untuk mengusir mbak Siska dari sini."Kata seorang satpam yang dari tadi hanya diam saja sambil menahan amarahnya ketika Siska berbicara kasar dan terus menghina istri dari majikannya yang berhati baik dan lembut seperti Rini.
"Hai..lo, jangan berani-berani lo mengancam gue."Kata Siska menatap tajam kearah satpam yang berada didalam gerbang rumah super mewah dan besar itu.
Siska menghentakkan kakinya lalu membalikkan badan, dengan kasar ia membuka pintu mobil dan bergegas pergi meninggalkan rumah mantan mertuanya.
__ADS_1
"Ada apa non?Aku dengar didepan tadi ada keributan, memangnya di depan ada siapa non?"Tanya Inul yang sedang mengelap benda-benda antik koleksi bu Citra diruang tengah.
"Tadi ada mbak Siska."Jawab Rini sambil duduk di sofa ruang tengah, Rini mengambil remote televisi, ia memencet tombol remote dan mencari acara televisi yang bagus.
"Hah...buat apa dia kesini non? Untung den Rendi sudah pergi,kalau gak bisa di telan hidup-hidup dia sama den Rendi. "Ucap mbak Er dengan ekspresi wajah yang terlihat emosi.
"Hus.. sembarangan, memangnya mas Rendi apaan,he..he...kamu tuh ada-ada saja."Ucap Rini sambil tertawa geli.
"Jangan bilang sama den Rendi ya non kalau aku bilang begitu,he..he..
Bisa di pecat aku nanti,tapi... aku seneng banget deh, semenjak den Rendi menikah dengan non Rini, sekarang den Rendi jadi sering tertawa,sama kita juga jadi suka bercanda."Kata mbak Er dengan wajah ceria.
"Memangnya dulu mas Rendi seperti apa mbak?"Tanya Rini penasaran.
"Pendiam, bicara kalau ada perlunya saja,suka marah-marah, waktu masih bersama non Siska, tidak pernah terlihat romantis seperti saat bersamaan non Rini.
Den Rendi pasti sangat mencintai non Rini,aku berharap non Rini tidak meninggalkan den Rendi ya non,aku gak mau lihat den Rendi kembali ke sikapnya yang dingin,cuek dan suka marah-marah seperti dulu.
Nyonya sama tuan Burhan sekarang lebih sering menghabiskan waktu dirumah tidak seperti dulu yang selalu pergi,rumah cuma sebagai tempat istirahat aja,setelah cukup lama mereka berpisah, tidak saling bicara,jika sedang berkumpul pasti ujung-ujungnya bertengkar, karena sikap tuan dan den Rendi yang sama-sama keras kepala.
Aku sering lihat nyonya Citra menangis sendirian.
Sedih deh rasanya non, pingin nolongin,tapi nolongin apa?"Kata Inul dengan wajah sedih mengingat kejadian yang dulu dialami oleh keluarga majikannya.
"Masa si mbak?"Tanya Rini tidak percaya.
"Beneran non, makanya kami semua yang bekerja disini merasa senang dan bersyukur melihat keluarga ini jadi seperti sekarang,sering ngobrol, bercanda,itu semua terjadi semenjak non Rini datang dan mengubah rumah ini jadi terasa lebih hidup."Kata Inul berbicara dengan kedua mata berkaca-kaca merasa senang melihat keluarga majikannya yang sudah kembali ceria.
"Ah..mbak Er bikin aku jadi terharu deh."Ucap Rini sambil mengelap air matanya yang tiba-tiba keluar karena merasa terharu dengan ucapan Inul.
"Mbak, aku boleh minta tolong gak?"Tanya Rini mengalihkan pembicaraan.
__ADS_1
"Minta tolong apa non?"Tanya Inul penasaran.
"Tiba-tiba aku pingin makan martabak telur,mbak Er bisa bikin martabak telor gak?"Tanya Rini.
"Mbak Juju yang bisa, nanti kalau mbak Juju sudah pulang dari pasar,aku bilangin sama mbak Juju buat bikin martabak telor buat non Rini."Jawab Inul.
"Kalau dirumah gak ada mama sama papa juga mas Rendi, mbak Er jangan panggil aku non lah mbak, panggil Rini saja.
Aku suka risih di panggil non."Ucap Rini yang sabenarnya tidak suka dipanggil dengan panggilan itu.
"Mana berani aku non."Jawab Inul.
"Kita sepertinya seumuran deh,bener gak?Umur mbak Er berapa?"Tanya Rini
"Dua puluh tahun non."Jawab Inul
"Tuh kan kita seumuran, sekarang usiaku juga baru dua puluh tahun bulan kemarin, panggil aku Rini saja jangan non,aku suka merasa geli kalau dipanggil seperti itu."Jelas Rini.
" Ish..gak berani aku non, bagaimana kalau nyonya,tuan apa den Rendi tau,bisa dipecat aku nanti non."Jawab Inul tetap gak mau mengikuti perintah Rini.
"Kan sudah tak bilangin,kalau mereka dirumah kamu panggil aku non, tapi kalau mereka lagi gak ada dirumah cukup panggil Rini saja,oke."Ucap Rini sambil menepuk pundak Inul.
"Beneran gak apa-apa non,eh maksud aku Ri.. Rini."Ucap Inul terlihat ragu-ragu.
"Gak apa-apa Er,aku panggil kamu Er ajalah ya,agar lebih akrab, atau Inul saja seperti yang diucapkan oleh mbak Juju dan Caca."Ucap Rini lagi.
"Hehehe.. terserah Rini saja lah!"Jawab Inul pasrah.
Ting...tong...
Saat mereka sedang asyik berbincang-bincang tiba-tiba terdengar suara bel rumah berbunyi
__ADS_1