Ketulusan Cinta Rini 2

Ketulusan Cinta Rini 2
Bab 57.Tiket untuk bulan madu.


__ADS_3

"Selamat pagi sayang..!"Kata bu Citra kepada Siska yang baru keluar dari kamarnya.


"Selamat pagi semuanya!"Ucap Siska sambil tersenyum melihat keluarga suaminya yang sedang berkumpul, duduk di kursi meja makan.


"Mana suamimu sayang?Apa dia belum bangun?"Tanya pak Burhan.


"Sudah keluar dari tadi kok pa...,dimana ya mas Rendi?"Kata Siska sambil menoleh ke kanan-kiri untuk Mencari keberadaan suaminya.


"Oh..itu dia pa."Kata Siska sambil menunjuk Rendi yang baru datang dari depan.


Pak Burhan menoleh ke belakang untuk melihat anaknya.


"Kamu darimana Ren?"Tanya pak Burhan kepada Rendi.


"Joging pa,mencari udara segar."Jawab Rendi tanpa melihat kearah papanya.


"Pengantin baru habis bertempur masih kuat joging Ren?"Goda mamanya Rendi.


"Bertempur apaan sih ma.. memangnya lagi berperang apa!"Jawab Rendi sambil berjalan menuju kamarnya.


Nenek yang sedang duduk disebelah kakek menatap punggung Rendi dengan tatapan yang sulit diartikan.


Hatinya terasa sakit melihat keadaan Rendi.


"Apa kamu sangat menderita Ren?"Kata nenek dalam hati sambil melihat kearah Rendi yang sudah menjauh.


"Siska tinggal dulu ya semuanya,mau lihat mas Rendi dulu."Kata Siska kepada kedua mertuanya dan kakek-neneknya Rendi.


"Iya sayang.. ajaklah suamimu sarapan bareng setelah selesai membersihkan diri."Kata bu Citra kepada menantunya.


"Iya ma."Jawab Siska,ia langsung pergi menuju kamar untuk menemui suaminya.


Siska membuka pintu kamar, terdengar suara keran menyala dari kamar mandi menandakan suaminya sedang mandi.


Siska duduk dipinggir ranjang cukup lama menunggu suaminya selesai mandi setelah menyiapkan baju ganti untuk suaminya terlebih dahulu.


Ceklek..


Pintu kamar mandi dibuka, terlihat Rendi keluar dari kamar mandi hanya dengan mengenakan handuk yang dililitkan sampai pinggang.


Terlihat dada Rendi yang terlihat begitu menggoda tanpa tertutup sehelai benang.


"Ngapain lo dikamar gue?"Tanya Rendi yang merasa terkejut melihat Siska sudah berada di dalam kamarnya.

__ADS_1


"Lo tuh gimana sih Ren?Gue kan istri lo, kamar lo ya kamar gue juga lah,aneh."Kata Siska terlihat santai.


"Pergi sana."Ucap Rendi ketus.


"Lo mau sampai kapan sih seperti ini terus Ren?Bisa gak sih Ren,bersikap manis sama gue sekali saja."Kata Siska dengan wajah memelas.


"Hah...gue suruh bersikap manis sama lo...!Hello...jangan mimpi lo ya."Kata Rendi sambil berjalan melewati Siska yang sedang duduk.


Rendi membuka lemari bajunya.


"Gue udah siapin baju buat lo Ren."Kata Siska sambil mengambil kaos dan celana santai yang tadi diletakkan di pinggir ranjang dekat lemari baju Rendi,tapi Rendi tidak perduli,ia mengambil baju yang lain didalam lemari bajunya tanpa menoleh ke arah Siska.


"Ya sudah lah, terserah lo maunya apa.


Gue capek lihat sikap lo Ren,gue sudah bersikap manis, berusaha menjadi istri yang baik,tapi tidak pernah dihargai sama sekali."Kata Siska sambil meletakkan lagi baju milik Rendi diatas ranjang mereka dengan kasar.


"Hah.. lagian siapa yang suruh lo bersikap baik sama gue,bodoh amat..gue gak pernah perduli dengan apa yang lo kerjakan.


Sudah sana keluar,gue mau pakai baju."Kata Rendi dengan suara keras.


"Lo jahat Ren, oke gue keluar.


Tapi ingat ya Ren, didepan mama,papa, kakek dan nenek lo harus bersikap manis sama gue.


Gue gak mau mereka tau tentang keadaan rumah tangga kita."Kata Siska tegas.


"Cepat sana pergi!"Bentak Rendi.


Siska langsung pergi dengan perasaan kesal dengan sikap suaminya.Ia berjalan keluar kamar untuk berkumpul kembali dengan keluarga suaminya.


"Mana suamimu sayang?"Tanya bu Citra saat melihat menantunya yang baru keluar dari kamarnya tanpa Rendi,anak semata wayang bu Citra dan pak Burhan.


"Sedang pakai baju dulu ma.. sebentar lagi juga keluar."Kata Siska sambil duduk dikursi.


Setelah menunggu cukup lama akhirnya Rendi keluar dari kamar dengan wajah yang sudah terlihat segar dengan memakai pakaian santai.


Ia duduk di sebelah istrinya.


"Dua hari lagi kalian berangkatlah ke Bali, karena mama sudah pesan dua tiket untuk kalian berbulan madu."Kata bu Citra saat Rendi sudah berada di ruang makan bersama mereka.


"Ngapain ke Bali ma....disini aja sudah cukup."Kata Rendi tidak suka.


"Mama nih..pesan tiket bukan madu gak tanya dulu sama Rendi mau apa enggak."Kata Rendi terlihat sangat kesal.

__ADS_1


"Itu kan untuk kebaikan kalian juga,mama lakukan ini agar kalian bisa lebih dekat, kalian nanti punya banyak waktu berdua tanpa ada yang menggangu, saat kembali dari sana,mama berharap diperut istrimu sudah ada cucu mama.


Tolong jangan kecewakan mama ya Ren."Kata bu Citra sambil menatap wajah Rendi penuh harapan.


"Kalian harus berbulan madu, agar cepat kasih cucu buat mama,kalau kalian tetap disini,bakal lama dapat cucunya,mama sudah pingin cepat menimang cucu, pokoknya kalian harus berangkat ke Bali dua hari lagi."Kata bu Citra tidak mau dibantah.


"Huh...."Rendi membuang nafasnya kasar.


Sedangkan Siska tersenyum merasa bahagia.


"Lho... Agung mana bu..kok dari tadi tidak kelihatan."Kata pak Burhan yang baru sadar kalau adiknya belum terlihat batang hidungnya dari tadi pagi.


"Tadi masih tidur Han.. kayak gak tau adikmu saja,kalau tidak ada kerjaan belum mau bangun sebelum jam 12 siang."Kata nenek.


"Oalah... penyakitnya belum sembuh-sembuh toh bu."Kata pak Burhan sambil menggelengkan kepalanya.


"Makanya cepat suruh nikah dia bu..siapa tau aja setelah menikah kebiasaan buruknya bisa ilang."Kata bu Citra.


"Haduh..capek ngomongin adikmu ndu'..gak taulah.. adikmu itu sudah gak bisa diomongi lagi,mau jadi apa dia,sudah tua,masih belum mau nikah juga."Kata nenek merasa pusing menghadapi anak bungsunya.


"Hayo..pada ngomongin apaan?Ibu nih... pasti lagi ngomongin Agung deh...!"Kata Agung tiba-tiba nongol.


"Panjang umur Gung...Baru lagi diomongi sudah nongol aja."Kata bu Citra sambil tersenyum melihat adik iparnya yang sudah berada di ruang makan.


"Nenek ingin om Agung cepet nikah lho om.


Kapan om Agung nikahnya?"Kata Rendi sambil makan roti bakar.


"Oh.. soal itu? Gampang...besok juga bisa."Kata Agung dengan santainya sambil duduk di sebelah Rendi.


"Gampang-gampang palamu peyang.


Setiap disuruh nikah pasti jawabannya gampang."Kata nenek kesal.


"Terus Agung mesti bilang apa dong kalau gak boleh bilang gampang?"Tanya Agung bingung.


"Bilang yang lain kek selain kata gampang bisa gak?"Kata Nenek ketus.


"Oh ya sudah.. kalau begitu Agung bilang besok ya bu."Kata Agung sambil mengambil roti bakar yang tadi sudah disiapkan oleh mbak yang bekerja di rumah pak Burhan dan bu Citra.


"Haduh Gung...."Teriak nenek tampak frustasi menghadapi sikap anak bungsunya itu.


"Sabenarnya kamu sudah punya calonnya belum toh Gung?Kalau belum punya,sama anaknya teman bapak mau gak?Dia sangat cantik lho gung,baru menyelesaikan kuliahnya satu bulan yang lalu, sekarang dia sedang belajar bisnis ikut ayahnya."Kata kakek yang dari tadi diam saja.

__ADS_1


"Agung sedang berjuang nih pa, untuk dapetin perempuan cantik yang Agung taksir.


Dia seorang perempuan yang berhati baik dan lembut."Kata Agung sambil tersenyum membayangkan wajah Salsabila, perempuan yang sudah mengisi hatinya.


__ADS_2