
Keesokan harinya Rendi datang kerumah kedua orang tua Rini bersama dengan kedua orangtuanya.
Pak Karta dan bu Retno nampak terkejut melihat keadaan papanya Rendi yang ternyata lumpuh, mereka jadi teringat dengan keadaan Salsabila yang saat ini sedang berada dirumah kedua orang tua Agung.
"Seperti inilah keadaan papanya Rendi pak,bu!"Kata bu Retno yang mengerti dengan tatapan mata kedua orang tua Rini.
"Maaf bu,kami tidak tau kalau ternyata papanya nak Rendi sedang sakit, anak kami juga sama seperti suami ibu, akibat kecelakaan yang membuat kakinya lumpuh,tapi kata dokter lumpuhnya hanya bersifat sementara selama mau rutin melakukan terapi dan pengobatan.
Saat ini dia sedang melakukan pengobatan di Jakarta untuk memulihkan kondisinya."Jelas pak Karta.
"Semoga anak bapak cepat pulih kembali ya pak,papanya Rendi juga sebulan sekali melakukan terapi kok pak,dan Alhamdulillah sekarang sudah bisa berbicara sedikit-sedikit dan sudah mulai bisa melangkah sendiri satu dua langkah tanpa bantuan dari orang lain."Jawab bu Citra.
"Alhamdulillah, syukurlah bu, semoga suami ibu juga cepat pulih ya bu."Ucap bu Retno dengan tulus.
"Maaf bu,pak, maksud kedatangan kami kesini selain bersilaturahmi,kami mau minta izin sama bapak juga ibu, untuk meminta Rini menjadi istri anak semata wayang kami, karena terus terang bu,pa, kami sudah sangat pusing lihat anak kami ini, hampir setiap hari dia menanyakan kapan kami melamar Rini, sepertinya dia sudah sangat ingin menikah dengan Rini.
Kami sangat mengharapkan bapak,ibu mau memberi izin dan do'a restu untuk mereka berdua."Kata bu Citra langsung berbicara terus terang maksud mereka ikut datang kerumah kedua orang tua Rini.
"Kami sebagai orang tua terserah sama anak-anaknya saja bu,kalau mereka sudah saling suka,kami hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk mereka."Jawab pak Karta pasrah.
"Alhamdulillah kalau begitu kalian setuju dan merestui mereka untuk menikah?"Tanya bu Citra senang.
"Kami serahkan sama Rini saja, bagaimana ndu'?Apa kamu sudah siap menikah dengan Rendi?"Tanya bu Retno.
"Rini menundukkan kepalanya sambil tersenyum malu.
"Kamu tidak mau ndu'? Maaf bu, sepertinya putri kami tidak mau menikah dengan anak ibu."Kata pak Karta menggoda Rini.
__ADS_1
"Eh.. enggak kok pak, Rini mau."Jawab Rini langsung menatap tajam kearah bapaknya.
"Wah... ternyata putri kami juga kelihatan sudah tidak sabar ingin cepat menikah dengan anak semata wayang ibu."Jawab pak Karta membuat semua orang yang ada disana langsung tertawa.
"Lihat nak Rendi, putri bapak ternyata sudah tidak sabar ingin segera kamu nikahi,apa kamu sudah siap menjadi suami putri bapak ini lahir batin?"Tanya pak Karta ke Rendi yang sedang tersenyum menatap kekasihnya yang terlihat sangat menggemaskan.
"Aku siap lahir batin pak."Jawab Rendi jujur sambil tersenyum dengan kedua mata masih melihat kearah Rini.
Sedangkan Rini kembali menundukkan kepalanya ketika menyadari kalau ternyata bapaknya hanya mengerjainya saja.
"Maaf ya Rin, kami dulu sempat meragukan cinta kamu sama Rendi, kami sungguh malu dengan sikap kami dulu yang terus-terusan memaksa kamu untuk meninggalkan Rendi.
Itu karena kami terhasut dengan omongan Siska yang terus bicara seolah-olah kamu yang salah,yang sudah merayu Rendi untuk meninggalkan kami.
Kami jadi sangat marah dan berusaha dengan segala cara untuk menyingkirkan kamu agar tidak menggangu Rendi lagi,tapi ternyata cinta kalian begitu kuat, terus bertahan mesti kami dengan jahat sudah menghina dan memfitnah kamu agar kamu mau menjauhi anak semata wayang kami ini,tolong maafkan kami ya Rin."Ucap bu Citra dengan kedua mata berkaca-kaca,ia sangat menyesali perbuatannya dulu.
"Gak apa-apa tante, Rini sudah memaafkan om sana tante."Jawab Rini dengan suara lembut sambil tersenyum.
Pak Burhan menganggukkan kepala sambil tersenyum.
"Maaf sekali lagi pak, sabenarnya sebelum datang kesini Rendi sudah menyiapkan ini."Kata Rendi merogoh kantong kemejanya.
Terlihat sebuah kotak kecil berhasil dikeluarkan dari kantong kemejanya.
"Izinkan Rendi memberikan ini ke Rini pak,sebagai bukti kalau Rendi benar-benar ingin menikahi dia,dan sebagai tanda kalau dia hanya milik Rendi."Kata Rendi membuka kotak kecil itu, terlihat sepasang cincin bermata satu.
Rendi bangun dari duduknya dan berjalan menghampiri Rini yang sedang duduk disamping ibunya.
__ADS_1
Keempat orang tua yang ada disana menatap serius kearah Rendi.
"Dengan disaksikan kedua orang tua kita,hari ini aku melamarmu sayang."Ucap Rendi sambil berlutut dihadapan Rini yang sedang duduk.
"Aduh..mas Rendi jangan seperti itu dong,malu dilihatin bapak sama ibu juga kedua orang tua mas Rendi."Bisik Rini lirih dengan kedua mata berkaca-kaca masih diam ditempat duduknya.
Ia meremas tangannya yang ia letakkan diatas pangkuannya sendiri karena gugup campur malu tapi seneng.
Jantungnya berdebar sangat kencang saat Rendi mengulurkan tangannya.
Dan diraihnya tangan kiri Rini,dengan hati-hati Rendi memakaikan cincin bermata satu yang terlihat sederhana tapi sangat cantik dan elegan dijari manis Rini.
"Hiks..."Rini terisak merasa bahagia setelah Rendi selesai memakaikan cincin itu dijari manisnya.
"Sekarang gantian kamu pakaikan cincin yang satunya lagi di jari mas ya!"Perintah Rendi menyerahkan kotak kecil berisi satu cincin yang sama bentuk dan modelnya dengan cincin yang ia pakai.
Dengan gemetar Rini mengambil cincin berbentuk sama seperti cincinnya yang masih berada di kotak kecil,lalu ia pakaikan dengan hati-hati cincin itu di jari manis Rendi.
Selesai memakaikan cincin dijari manis Rendi,Rini menundukkan kepalanya lagi untuk menyembunyikan wajahnya yang sudah terlihat sangat merah menahan malu.
Keempat orang tua yang menyaksikan adegan itu hanya bisa tersenyum merasa bahagia melihat anak-anak mereka yang terlihat sangat bahagia.
"Rendi boleh cium kening Rini gak pak?"Tanya Rendi membuat Rini jadi semakin malu.
"Eh..belum muhrim belum boleh."Jawab bu Retno dan bu Citra bersamaan.
"Pelit amat sih bu, masak cuma cium keningnya aja gak boleh."Protes Rendi.
__ADS_1
"Enggak boleh...!"Bu Retno dan bu Citra kembali berteriak bersamaan.
Setelah cukup lama mereka membahas soal anak-anak mereka, akhirnya Rendi dan kedua orangtuanya pamit pulang.