Ketulusan Cinta Rini 2

Ketulusan Cinta Rini 2
Bab 22.Kami saling mencintai


__ADS_3

"Kamu... ngapain kamu kesini?"Tanya pak Burhan saat melihat Rini dibelakang ibunya.


"kamu kenapa sih Han?"Gadis ini bekerja sama ibu,ya tentu saja dirumah ibu."Kata nenek sedikit berbohong untuk melindungi pacar cucunya.


"Kamu kan sudah aku ingatkan agar menjauhi Rendi,kenapa kamu masih menemuinya?Kamu sengaja ya deketin ibu aku buat deketin Rendi."Tanya pak Burhan ketus dengan wajah yang terlihat marah.


"Maaf om...aku sangat mencintai mas Rendi." Jawab Rini pelan.


"Hah...cinta... perempuan seperti kamu mana ngerti soal cinta,kamu hanya memanfaatkan anak kami demi uang kan?"Tanya Pak Burhan lagi dengan angkuhnya.


"Pa.. Papa gak boleh bicara seperti itu sama Rini,kami saling mencintai Pa...."Kata Rendi dengan tegas.


"Sudah... sudah.. kalian kenapa sih... Datang malah marah-marah gak jelas."Bentak Nenek.


"Ibu... Asal ibu tau aja,kalau perempuan itu yang sudah membuat Rendi berubah, sudah tidak mau mendengarkan kita lagi sebagai orang tuanya.Karena perempuan si***n ini juga Rendi menolak Siska, perempuan baik-baik yang sekarang sedang hamil anak Rendi."Jelas Pak Burhan tampak emosi.


"Bohong Nek... bukan Rendi yang sudah menghamili Siska, Rendi berani sumpah demi apapun Nek...kalau Rendi tidak pernah menyentuh Siska apalagi sampai menghamilinya."Kata Rendi membantah tuduhan dari Papanya.


"Rendi...."Bentak Pak Burhan sambil menatap tajam ke arah Rendi.


Rini hanya diam saja sambil menundukkan kepalanya tidak berani menatap kedua orang tua Rendi, hatinya sungguh merasa sakit dengan ucapan dari orang tua Rendi.


Tampak kedua matanya terlihat berkaca-kaca.


"Ren...kamu antar gadis ini kerumahnya dulu ya,besok kamu jemput dia lagi untuk diajak kesini."Perintah Nenek sambil menggenggam tangan Rini yang terlihat bergetar karena ketakutan.


Rendi langsung berjalan menghampiri Rini dan merangkulnya untuk turun ke lantai satu.


Setelah mereka keluar rumah Nenek, pak Burhan dan istrinya mendekati Nenek yang sedang duduk.


"Ibu apa-apaan sih...kok malah terima dia kerja disini.Kan aku sudah bilang bu... Rendi harus pulang dan segera menikahi Siska,dia sedang hamil anak Rendi bu."Kata Pak Burhan mencoba meyakinkan ibunya.


"Apa kamu punya buktinya kalau anak itu anaknya Rendi Han?Coba kamu selidiki dulu kebenarannya sebelum kamu terlalu jauh melangkah nanti kamu yang malu sendiri sudah menuduh anak kamu berbuat memalukan.


Kenapa kamu tidak mau mempercayai anakmu sendiri Han?"Kata Nenek menasehati anak pertamanya.


"Tapi bu...."Ucap pak Burhan tidak diteruskan karena Nenek memotong pembicaraan Pak Burhan.

__ADS_1


"Sudah...sudah... jangan bahas masalah itu lagi, kalian kalau kemari cuma mau buat ribut, mending kalian pulang saja sana ke Pekalongan."Usir Nenek.


"Ibu..."Protes Pak Burhan nampak kesal dengan sikap Ibunya.


"Kamu Citra...kamu kan ibunya Rendi..masa kamu gak bisa ngertiin anak kamu sendiri sih."Kata Nenek menatap tajam wajah menantunya.


"Maaf bu...aku hanya tidak mau Rendi salah memilih perempuan untuk di jadikan istri." Bu Citra membela diri.


"Haduh... kalian ini sabenarnya sudah tua tapi pikiran kalian seperti anak kecil.


Cobalah kalian berpikir dewasa....


Han... pokoknya kamu harus selidiki dulu masalah Siska, jangan bersikap gegabah.


Percuma kamu memiliki banyak anak buah kalau masalah seperti ini saja kamu tidak tau."Kata nenek tegas.


"Sebaiknya kalian istirahat dulu sana, kalian pasti capek habis melakukan perjalanan jauh."Kata Nenek sudah terlihat tenang seperti semula.


"Baiklah bu..kami mau ke kamar kami dulu ya bu."Kata pak Burhan.


"Lho... berarti ibu bohong soal perempuan tadi yang kerja disini?"Tanya Bu Citra.


"Lha memangnya Inah mana bu?"Tanya Pak Burhan penasaran.


"Inah pulang kampung gak balik ke sini lagi."Kata Nenek memberitahu.


"Kenapa bu?"Tanya Pak Burhan penasaran.


"Suami Inah lagi sakit, jadi si Inah harus mengurus suaminya yang terkena penyakit liver."Jelas Nenek.


"Kasihan ya si Inah... semoga suaminya cepat sembuh ya bu..."Kata Bu Citra.


"Ya sudah sana kalian mandi dulu, badan kalian pasti terasa lengket kan?"Perintah Nenek.


"He..he...iya Bu...ya sudah kami permisi mau membersihkan diri dulu ya Bu."Kata bu Citra sambil ketawa kecil.


"Em..."Jawab Nenek singkat.

__ADS_1


....


.....


"Sayang... maafin Papa Mas ya sayang..."Kata Rendi sambil menjalankan motornya.


Rini yang duduk di belakang Rendi hanya diam saja tak bersuara.


"Lho Mas...kenapa lewat jalan ini?Kan seharusnya lewat jalan itu untuk pulang ke kontrakan mbak Bila."Tanya Rini merasa kaget karena Rendi membawanya ke tempat yang Rini tidak mengenalnya.


Rendi sengaja membawa Rini ke suatu tempat agar mereka bisa ngobrol berdua tanpa ada yang menggangu.


"Mas Rendi mau bawa aku kemana?"Tanya Rini lagi mulai cemas.


Rendi menghentikan motornya di sebuah pantai yang ada dijakarta Utara tempat Rendi tinggal saat ini,dulu Rendi sering ketempat itu saat masih kuliah bersama Wahyu dan teman-teman cowok lainnya hanya untuk sekedar nongkrong menghilangkan stres.


Rendi turun dari motornya diikuti oleh Rini, Rendi duduk diatas pasir pinggir pantai, Rini menghampiri Rendi yang sedang duduk di atas pasir.


"Kenapa Mas Rendi bawa aku kesini?Mas Rendi lupa sama pesan Mbak Bila ya?"Kata Rini sambil duduk disebelah Rendi.


Rendi hanya diam saja tidak menghiraukan ucapan Rini.


"Kata Mbak Bila suruh cepat pulang se..."Rini tidak melanjutkan ucapannya karena Rendi tiba-tiba menciumnya.


"Sayang...Mas mohon jangan pernah tinggalkan Mas lagi apapun yang terjadi,kamu harus percaya sama Mas ya... Mas akan buktikan kalau apa yang di katakan Siska itu bohong."Kata Rendi setelah berhasil menghentikan ucapan Rini dengan cara mencium bibirnya , Rendi menatap wajah Rini dengan begitu dekat, hanya berjarak satu senti saja dengan kedua tangannya masih memegang pipi kekasihnya itu.


Kedua mata Rini berkaca-kaca menatap wajah Rendi, Rini menangis entah karena bahagia atau sedih,hanya Rini sendiri yang tau.


"Sayang tolong percaya Mas...kita harus bisa membuktikan sama Papa dan Mama kalau kita tidak akan bisa dipisahkan,aku sangat mencintaimu sayang..."Kata Rendi berusaha meyakinkan Rini.


"Hiks.. hiks...hua..."Tangis Rini semakin kencang mendengar ucapan dari kekasihnya itu.


"Sayang..."Panggil Rendi sambil mendekap erat tubuh Rini kedalam pelukannya.


"Aku takut,pada akhirnya aku akan terluka karena terlalu berharap.Aku gak mau melawan kedua orang tua Mas Rendi, lebih baik kita memang tidak bersama Mas... hiks...aku takut.. hiks..."Ucap Rini didalam pelukan Rendi sambil terisak.


"Tidak sayang... jangan bicara seperti itu, lebih baik Mas mati aja daripada Mas harus kehilangan kamu lagi."Ucap Rendi sambil mendekap erat tubuh Rini seakan tidak mau membiarkan Rini pergi ataupun siapapun mengambil Rini dari nya.

__ADS_1


__ADS_2