Ketulusan Cinta Rini 2

Ketulusan Cinta Rini 2
Disuruh tinggal di Jakarta.


__ADS_3

"Em...mas Wahyu,besok ada acara tidak?"Tanya Rini saat Wahyu sedang berpamitan hendak pulang karena sudah larut malam,para tamu undangan juga sudah pada pulang.


"Gak ada, besok gue masih cuti satu hari lagi."Jawab Wahyu apa adanya.


"Ada acara gak?"Tanya Rini lagi.


"Ada apa memangnya sih yang?"Rendi menatap Rini dengan penuh selidik.


"Aku cuma mau minta tolong sama mas Wahyu kalau besok gak ada acara tak suruh ajak mbak Er jalan-jalan."Jelas Rini.


"Non,a...aku...."Potong Inul gugup.


"Gak apa-apa Nul, nenek sama mama melarang aku pergi kemana-mana,kata mereka takut terjadi apa-apa dengan kandungan aku yang masih terlalu muda,besok mau ada mbah dukun beranak mau kesini buat memijat aku,kata mama takut ada apa-apa dengan kandungan aku soalnya kan habis melakukan perjalanan jauh."Jelas Rini lagi.


"Oh... kirain kamu...."Ucap Rendi merasa lega.


"Memangnya mas Rendi tadi mikir apa hayo..? Jangan suka berfikir negatif deh."Ucap mengusap lembut pipi suaminya.


"Oke, besok gue kesini,gue besok gak ada acara ataupun janji kok."Jawab Wahyu.


"Aduh... kenapa hati gue masih terasa sakit lihat mereka berdua, padahal gue kan sudah ada Adel, ternyata gue belum bisa melupakan lo sepenuhnya Rin, karena lo cinta pertama gue." Gumam Wahyu dalam hati sambil melihat kearah Rini dan Rendi yang terlihat begitu romantis.


"Mas Rendi kenapa lihatin non Rini seperti itu? Apa jangan-jangan dia menyukai non Rini?" Kata Inul dalam hati memperhatikan Wahyu yang sedang menatap majikannya.


"Ya sudah gue pamit dulu, sebentar gue mau pamit sama pengantin baru dulu,"Wahyu membalikkan badannya.


"Gue besok pagi gue kerumah nenek jam delapan, besok lo siap-siap ya."Kata Wahyu sambil tersenyum menatap Inul yang ada disampingnya,lalu ia bergegas pergi menemui pengantin baru dan juga nenek-kakek Rendi untuk berpamitan.


Keesokan paginya Wahyu benar-benar datang menepati janjinya,ia datang kerumah nenek tepat pukul delapan pagi.


Tampak Inul yang sudah rapih siap untuk pergi jalan-jalan bersama Wahyu


__ADS_1


Erna atau biasa di panggil Inul, gadis cantik yang selalu memakai jilbab berhati lembut sedikit pemalu.



Wahyu, seorang pemuda yang memiliki wajah tampan,baik, pendiam,tapi kurang beruntung dalam percintaan.


"Wow...lo cantik sekali Er?"Ucap Wahyu menatap Inul kagum.


"Ah...mas Wahyu bisa aku lho,jadi malu aku mas."Jawab Inul polos.


"He... he...ya sudah ayok kita berangkat sekarang,lo sudah siap kan?"Tanya Wahyu sambil tersenyum menatap wajah Inul yang terlihat begitu manis.


"Mas Wahyu... nitip mbak Er, pokoknya bikin mbak Er seneng jangan di apa-apain mbak Er nya ya mas?"Seru Rini melihat kebawah kearah Wahyu dan Inul dari teras lantai dua ketika Wahyu dan Inul sudah berada diluar gerbang rumah nenek.


"Rebes...gue bakal bikin dia seneng hari ini, nanti gue balikin dia dalam keadaan utuh lo tenang aja bos."Teriak Wahyu dari bawah mengangkat kepalanya melihat kearah Rini yang sedang berdiri di teras lantai dua.


"Ayok Er kita berangkaaat."Seru Wahyu sambil naik keatas motornya diikuti Inul duduk dibelakang Wahyu.


"Iya non, pamit ya non da..."Teriak Inul dari bawah sambil melambaikan tangannya ke arah Rini.


Rini tersenyum melihat kedua pemuda yang sudah pergi menjauh meninggalkan rumah nenek.


"Sayang...ayok masuk jangan dilihatin terus, tenang saja, Wahyu itu laki-laki yang bertanggung jawab,mas kenal banget siapa Wahyu, dia pasti bakal menjaga mbak Er dengan baik,kamu gak usah khawatir."Kata Rendi yang tiba-tiba ada dibelakang Rini sambil memegang kedua pundak Rini.


"Iya mas, semoga mbak Er seneng ya mas hari ini. bisa melihat keindahan kota Jakarta, semoga aja mas Wahyu bisa jagain mbak Er dengan baik."Kata Rini menoleh kearah suaminya.


"Kamu sepertinya sangat menyayangi mbak Er ya? Sampai begitu mengkhawatirkan dia."Kata bu Citra yang sedang duduk di sofa ruang santai dekat teras lantai dua.


"Eh...ada Mama-papa toh ternyata."Rini kaget menoleh kebelakang ternyata ada bu Citra sedang duduk sofa dekat jendela teras bersama Pak Burhan.


"Karena Mbak Er nya baik,aku jadi suka sama dia,he.. he..aku khawatir sama Mbak Er karena dia kan baru pertama kali datang ke Jakarta,dia belum tau seluk-beluk kota Jakarta, kalau sampai dia tersesat bagaimana?"Jawab Rini sambil berjalan menghampiri Bu Citra.


"Tenang saja ndu'.., Wahyu bisa diandalkan,dulu suamimu sewaktu masih kuliah dan tinggal disini, dia yang selalu nemenin dan mengawasi suamimu."Sambung Pak Burhan.

__ADS_1


"Sini duduk, Mama mau ngobrol."Ajak Bu Citra.


"Aku kekamar aja ya Ma, ngantuk."Kata Rendi.


"Hus... nanti dulu Ren, Mama-papa mau ngomong sama kalian berdua,ini penting.Ayok duduk dulu."Perintah Bu Citra.


"Ya lah...!"Jawab Rendi dengan malas duduk di sofa diikuti Rini.


"Memang kamu tidur jam berapa semalam Ren?Kok jam segini masih ngantuk."Tanya Bu Citra.


"Tidur habis subuh Ma,aku gak bisa tidur,huap..."Jawab Rendi sambil menguap dengan lebar.


"Tutup mulutnya Mas, nyamuk masuk semua entar."Rini menutup mulut Rendi dengan tangannya.


"Kamu ngapain aja habis subuh baru tidur?"Tanya Bu Citra penasaran.


"Ah, sudahlah Ma,kayak gak pernah muda aja."Pak Burhan memotong pembicaraan istrinya.


"Nah tuh... Papa aja tau."Jawab Rendi.


Sedang Rini hanya menundukkan kepalanya merasa gak enak karena sabenarnya Rendi gak bisa tidur gara-gara dirinya.Semenjak hamil keinginan Rini suka aneh-aneh, tidak bisa jauh-jauh dari suaminya, tidak bisa tidur kalau tidak dibelai atau dipijat suaminya terlebih dahulu.


"Ada apa sih Ma?"Tanya Rendi penasaran.


"Kemarin Papa-mama juga Kakek dan Nenek sepakat ingin agar kamu sama Rendi tinggal di Jakarta untuk mengurus usaha Papa yang ada di Jakarta, bagaimana?Apa kalian mau tinggal di Jakarta buat ngurus usaha Papa yang ada di Kebayoran baru itu?"Tanya Bu Citra.


"Kalau Rendi sih terserah sama Rini saja ma,kalau Rini mau aku juga mau,tapi memangnya Papa gak apa-apa ngurus usaha yang di Pekalongan sendirian?Papa kan belum sehat betul."Jawab Rendi.


"Papa kan ada pak Rudi sama Alex dan juga mama kamu yang bantu jadi kamu gak usah khawatir."Kata pak Burhan menjelaskan.


"Ya sudah kalau begitu,kamu bagaimana yang?Apa kamu gak apa-apa jika kita harus tinggal di Jakarta?"Tanya Rendi menoleh kearah istrinya.


"Terserah Mas Rendi saja,kalau aku yang penting kita selalu bersama."Jawab Rini pasrah walau sabenarnya dalam hatinya ingin tinggal di kampung saja tapi sebagai seorang istri dia harus ikut di-manapun suaminya tinggal.

__ADS_1


__ADS_2