
Sepulang dari rumah sakit Rendi langsung bergegas pulang ke rumah neneknya, ia langsung berlari naik ke lantai tiga begitu sampai di rumah.
Dibukanya dengan kasar pintu kamar Rini, ternyata Rini tidak ada didalam kamarnya.
Rendi mencari ke lantai empat,tapi tetap tidak menemukan keberadaan kekasihnya itu.
Rendi turun lagi ke lantai tiga dengan langkah yang terasa lemas karena orang yang dicarinya ternyata tidak ada.Ia duduk di tangga sambil menundukkan kepalanya, wajahnya terlihat sendu dengan kedua mata berkaca-kaca.
Ia merogoh kantong celananya dan diambilnya handphone miliknya yang disimpan di kantong celananya.
Rendi mencoba menghubungi nomor handphone Rini tapi tidak tersambung.
Lalu ia menelpon Salsabila.
"Halo assalamu'alaikum mbak, maaf mbak.. Rini pulang ke kontrakan gak mbak?"Tanya Rendi dipanggilan telpon setelah Salsabila mengangkat panggilan telpon dari Rendi.
"Rini gak pulang ke kontrakan Ren, memangnya Rini katanya mau pulang ke kontrakan ya?Dia belum sampai,kalian tidak sedang berantem kan Ren?"Tanya Salsabila penuh selidik.
"E..enggak mbak,ya sudah terimakasih ya mbak.
Nanti kalau Rini menghubungi mbak Salsa tolong beritahu Rendi ya mbak."Kata Rendi sedikit gugup, tidak berani berterus terang kepada mbaknya Rini.
"Iya Ren."Kata Salsabila singkat.
Lalu Rendi mematikan panggilan telpon setelah mengucapkan terimakasih.
Lo dimana Rini?"Kata Rendi setelah mematikan panggilan telponnya.
Saat Rendi hendak keluar rumah tiba-tiba ada sebuah mobil honda jazz warna biru berhenti di depan rumah nenek, terlihat seorang laki-laki yang sudah banyak umur keluar dari mobil,dia adalah kakeknya Rendi yang baru pulang dari luar kota.
Rendi membukakan pintu gerbang untuk mobil kakeknya yang masih diluar gerbang.Ia tidak jadi keluar rumah setelah mengetahui kakeknya pulang.
...
****
****
Di malam hari rumah nenek terdengar begitu ramai,terjadi perdebatan antara Rendi dan kedua orangtuanya.
Dan juga kakek Rendi yang baru pulang dari luar kota.
"Tapi.... Rendi tidak pernah melakukannya,kenapa Rendi yang harus bertanggung jawab."Kata Rendi berusaha meyakinkan kedua orang tuanya dan kakeknya.
Sementara nenek masih berada di rumah sakit karena keadaannya belum membaik.
"Rendi..Kamu harus ikuti kata nenek kalau kamu memang benar-benar sayang nenekmu,
__ADS_1
jika kamu tidak mau mengikuti keinginannya maka keadaan nenek akan semakin memburuk."Kata bu Citra dengan suara lembut.
"Ma....tapi kenapa harus dengan Siska?"Ucap Rendi keberatan.
"Terserah kamu saja,kalau kamu ingin melihat nenek kamu baik-baik saja,maka menikahlah dengan Siska, jika kamu tidak mau,maka jangan harap kamu bisa bertemu dengan nenek lagi."Kata pak Burhan dengan tegas.
"Hah..."Teriak Rendi nampak kesal.Sabenarnya dia ingin pergi dari sana untuk mencari keberadaan kekasihnya,tapi dia juga tidak tega melihat nenek menjadi lebih menderita gara-gara keegoisannya.
"Rendi... kakek gak pernah minta apapun dari kamu nak,tapi untuk kali ini tolong kakek, ikuti keinginan nenek dan kedua orang tua kamu nak, kakek mohon demi nenekmu Ren!"Kata Kakek lirih dengan wajah sendu.
"Tapi kek...aku sangat mencintai kekasihku,aku tidak mau menghianatinya."Kata Rendi dengan suara lembut kepada kakeknya.
"Rendi,kakek mohon."Kata kakek dengan kedua mata berkaca-kaca, karena kakek sangat menyayangi nenek, kakek tidak mau terjadi sesuatu dengan istrinya.
"Oke... Rendi mau menikah dengan Siska demi nenek."Ucap Rendi tegas.
"Alhamdulillah.. terimakasih Ren."Kata kakek langsung memeluk tubuh cucunya itu.
Pak Burhan dan bu Citra pun tersenyum merasa bahagia, akhirnya anak satu-satunya itu mau menikah dengan perempuan yang selama ini diharapkan untuk menjadi menantunya.
"Ya sudah kek, sekarang Rendi mau kerumah sakit dulu buat gantiin om Agung jagain nenek."Kata Rendi mengambil kunci motor dan bergegas pergi keluar untuk kerumah sakit.
Terdengar suara motor dari depan,lama kelamaan suara motor itu menjauh dan tidak terdengar lagi.
Dua minggu telah berlalu, undangan pernikahan Rendi dan Siska sudah menyebar.
Mereka mengadakan acara pernikahan di tempat mereka, yaitu di Pekalongan.
Nenek, kakek dan Agung sudah berada disana untuk menghadiri acara pernikahan Rendi.
Satu minggu yang lalu.
Pak Burhan beserta istri dan anaknya langsung pulang ke Pekalongan setelah nenek sudah dibawa pulang dari rumah sakit.
Pak Burhan juga langsung menghubungi anak buahnya untuk membuat undangan pernikahan anaknya begitu Rendi mengatakan mau menikah dengan Siska.
Undangan langsung menyebar meskipun pak Burhan dan istrinya waktu itu masih dijakarta.
Sementara didalam kamar, Rendi terlihat murung, duduk dipinggir ranjang sambil menatap sebuah foto yang ada di ponselnya.
"Maafin gue Rin."Kata Rendi mengusap lembut foto kekasihnya yang ia simpan di galeri foto handphone miliknya.
"Gue terpaksa melakukan ini demi nenek, maafin gue sudah membuat lo sedih.
Hati lo pasti sangat terluka waktu itu, sabenarnya gue pingin mengejar lo waktu itu agar tidak pergi,tapi gue gak bisa tinggalin nenek.
Tok..tok..
__ADS_1
Terdengar seseorang mengetuk pintu kamar Rendi dari luar.
"Siapa?"Tanya Rendi langsung menyimpan handphone miliknya di dalam kantong kemejanya.
"Ini gue Ren, boleh masuk gak?"Kata seseorang dari luar.
"Om Agung toh? Masuk aja om,gak dikunci kok."Kata Rendi.
Ceklek..
Pintu kamar dibuka, terlihat seorang laki-laki masuk kedalam kamar Rendi,ia langsung duduk di sebelah Rendi.
"Ciye ile...yang mau kawin,sudah siap-siap dikamar aja, pasti lo lagi mikirin buat malam pertama nanti ya?"Goda Agung.
"Mikirin malam pertama apaan, mikirin bagaimana caranya gue kabur dari sini iya."Kata Rendi ketus.
"Ha..ha.. lo bisa aja.Emangnya berani lo kabur dari sini?"Kata Agung meledek.
"Siapa takut...!"Kata Rendi singkat.
"Awas aja kalau lo berani kabur."Kata Agung mengancam.
"Memang apa yang akan om Agung lakukan kalau aku kabur?"Tanya Rendi.
"Gue jadiin lo bergedel."Kata Agung kembali mengancam ponakannya itu.
"Memangnya lo beneran mau kabur Ren? Jangan-jangan lo memang sedang berencana untuk kabur ya?"Tanya Agung curiga.
"Ya enggak lah om.
Om tenang saja,gue gak akan kabur kok."Kata Rendi.
"Apa lo yakin beneran mau menikah dengan Siska Ren? Sedangkan lo gak mencintainya, bagaimana kehidupan rumah tangga lo nanti jika lo menikah tanpa cinta.
Bagaimana dengan Rini?"Tanya Agung sambil menatap wajah Rendi yang terlihat murung.
"Gue terpaksa om, demi nenek,tapi gue akan terus cari bukti kalau apa yang diucapkan Siska sama nenek itu bohong.
Bukan Rendi yang sudah membuat dia hamil waktu itu, pokoknya gue akan bongkar semua kebohongan Siska selama ini sama kedua orang tuaku dan juga nenek ."Kata Rendi bersungguh-sungguh.
"Apa yang akan lo lakukan?"Tanya Agung penasaran.
"Adalah om, untuk sementara,okelah.. gue ikutin dulu permainannya,gue lakukan apa yang menjadi keinginan perempuan itu, hingga gue sudah mengumpulkan banyak bukti untuk membongkar kebohongannya selama ini."Kata Rendi dengan sebuah rencana.
"Hem... Apa yang bisa om bantu untuk menolong lo Ren?"Kata Agung.
"Nanti gue kasih tau sama om Agung, sekarang kita harus keluar, sebentar lagi para tamu undangan mulai berdatangan."Kata Rendi langsung berdiri dari duduknya dan bergegas keluar dari kamar diikuti Agung.
__ADS_1