
"Bosan juga ya, terus-terusan di dalam apartemen ini."Gumam Rini dalam hati ketika dia sedang sendiri karena Johan sudah berangkat ke kantor.
"Gue gak bisa terus bersembunyi seperti ini.
Oke..gue harus berani,kenapa gue harus bersembunyi kalau gue gak melakukan kesalahan.
Gue jadi ngerasa seperti buronan aja deh.
Lagian mas Rendi kan sekarang sedang ada di Jawa,dia lagi berindehoi sama bininya.
Huh...gue harus bisa melupakan dia,gue harus bangkit.
Ayok semangat Rini,jangan biarkan cinta merusak hidup lo!"Kata Rini menyemangati dirinya sendiri.
"Oh ya,gue telpon mas Johan dulu deh, takut dia nanti nyariin kalau gue gak ada saat dia balik nanti."
Rini mengambil handphone miliknya yang dimasukkan ke dalam kantong celananya.
"Halo bos...aku izin,mau keluar sebentar ya bos.Bosen di dalam apartemen terus."Kata Rini setelah panggilan telponnya diangkat oleh Johan.
"Kamu gak takut?"Tanya Johan di seberang telpon.
"Buat apa mesti takut?Emang aku maling apa rampok."Jawab Rini.
"He..he...ya kali aja,kan kamu yang bilang mau bersembunyi dulu lagi gak mau ketemu dengan siapapun."Kata Johan.
"Sekarang sudah siap bos,ya sudah bos, aku keluar sekarang."Ucap Rini sudah tidak mau berdebat lebih lama lagi dengan Johan.
"Pulangnya jangan malam-malam Rin,nan..tut..tut..."Johan tidak melanjutkan ucapannya karena Rini langsung menutup panggilan telpon sebelum Johan selesai bicara.
"Eh.. dasar sikutu kupret, beraninya dia matiin telpon sebelum aku selesai bicara.
Awas saja nanti ya!"Kata Johan berbicara sendiri.
"Ada pa pak? Tanya Wahyu yang tiba-tiba ada disamping Johan.
"E..ladalah..Ini lagi ngagetin aja deh!"Kata Johan sambil mengusap dadanya sendiri karena merasa kaget dengan kedatangan Wahyu secara tiba-tiba.
"Maaf pak,tadi sabenarnya saya sudah ketuk pintu tapi bapak gak dengar,ya sudah saya masuk aja,orang pintunya gak ditutup."Kata Wahyu membela diri.
"Ini pak..saya mau menyerahkan ini,Bos besar minta supaya pak Johan menandatangani laporan ini secepatnya."Kata Wahyu menjelaskan.
"Apa ini Yu?"Kata Johan sambil memakai kacamata untuk memeriksa berkas-berkas yang Wahyu kasih.Penglihatan Johan kurang jelas saat membaca kalau tidak memakai kacamata.
"Itu surat perjanjian untuk para penulis yang hasil karyanya akan diterbitkan.
__ADS_1
Pak Joni minta tanda tangan dari bapak untuk menyetujui hasil karya mereka diterbitkan.
Karena menurut pak Joni,hasil karya mereka layak untuk diterbitkan."Kata Wahyu kembali menjelaskan maksud dia datang menemui atasannya itu.
"Oh.. begitu...,oke...!"Kata Johan dengan kedua matanya masih meneliti lembaran-lembaran kertas yang ada didepannya.
Ia membacanya sekali lagi isi kertas-kertas itu,lalu ia menandatangani semua kertas yang diberikan oleh Wahyu.
"Oke..sudah selesai."Kata Johan sambil menutup map yang berisi kertas-kertas penting lalu menyerahkannya kembali kepada Wahyu.
"Maaf kepo sebentar pak?Itu tadi bapak marah-marah sama siapa pak?he..he.."Ucap Wahyu sambil tertawa kecil.
"Oh.. itu tadi teman."Jawab Johan singkat sambil melepas kacamatanya.
"Yakin cuma teman...tapi sepertinya tadi bicaranya serius amat.
Pakai bilang pulangnya jangan malam-malam lagi,hayo..teman apa teman....?"Kata Wahyu menggoda Johan,yang merupakan atasannya sekaligus sahabatnya sejak mereka masih kuliah.
"Wahyu...jangan kepo deh,mau gue pecat lo!"Kata Johan sambil membulatkan matanya melihat ke arah Wahyu.
"Wus....gak berani bos...he..he..."Kata Wahyu sambil mengangkat tangannya.
"Tapi bos saran saya,kalau bos sudah merasa nyaman sama tuh cewek,mending cepetan bos langsung sikat aja,jangan sampai keburu diambil orang lain, nanti bapak nyesel.
"Wahyu...!"Teriak Johan sambil melotot kearah temannya itu.
"He..he...sabar bos,ya sudah saya permisi ya bos.Selamat berjuang, semoga anda beruntung."Kata Wahyu sambil berjalan keluar ruangan Johan.
"Haduh.... ngomong apa kamu Yu..!"Kata Johan lirih sambil menggelengkan kepalanya setelah Wahyu sudah keluar dari ruangannya.
Sementara Rini yang berpenampilan seperti anak cowok,memakai topi dan kacamata hitam,kaos panjang warna navy dan celana jeans panjang warna hitam sudah berada diluar gedung apartemen milik Johan.
Rini berjalan santai dipinggir jalan dengan kedua tangannya dimasukkan ke dalam kantong celananya.
Ia berjalan sambil menundukkan kepalanya, sudah seperti buronan saja deh yang lagi menyamar agar tidak diketahui oleh siapapun.
Karena terus menunduk tidak melihat kedepan, Rini tidak sengaja menabrak seseorang.
"Eh maaf."Ucap Rini kepada pemuda yang ada di depannya tanpa berani melihat wajah pemuda itu.
"Punya mata gak sih? Lihat-lihat dong kalau jalan."Kata pemuda ketus.
Rini langsung nyelonong pergi begitu saja setelah mengucapkan kata maaf.
"Eh tunggu..!"teriak pemuda itu saat Rini sedang berjalan dan sudah berada ditempat yang agak jauh darinya.Rini langsung menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah pemuda yang ditabraknya tadi.
__ADS_1
Deg...
Jantung Rini seakan berhenti mendadak saat melihat wajah pemuda yang sedang berlari menghampirinya.
"Hah..kenapa dia ada disini? bukannya dia sedang....haduh... bagaimana nih..!Apa dia mengenalku?"Kata Rini didalam hati sambil membetulkan kacamatanya.Ia kembali menundukkan kepalanya menyembunyikan wajahnya karena takut pemuda yang sedang berjalan mendekat mengenali dirinya.
"Maaf,aku seperti kenal dengan suara anda."Kata pemuda itu sambil mengamati Rini.
"Ehem.....anda paling salah orang, maaf saya sedang buru-buru!"Kata Rini merubah suaranya sambil waspada takut pemuda itu membuka topinya,maka ketahuan deh penyamarannya.
"Em..iya maaf, gue memang salah,gue kira lo orang yang sedang gue cari.Soalnya tadi suara dan cara lo berjalan mirip banget sama teman gue itu."Kata pemuda itu yang ternyata adalah Rendi.
"Maaf mas...gue harus pergi sekarang."Kata Rini langsung membalikkan badannya dan bergegas pergi menjauh meninggalkan Rendi.
Ia berjalan dengan cepat meninggalkan pemuda yang masih memperhatikan dirinya.
Karena angin terlalu kencang tiba-tiba topi yang dia pakai jatuh tertiup angin yang sangat kencang.
"Haduh..kenapa juga nih topi mesti jatuh segala."Kata Rini lirih sambil mengambil topinya yang jatuh.
Rendi yang melihat kejadian itu langsung berlari menghampiri Rini yang sedang berusaha memakai topinya kembali.
"Rini..gue tau,lo pasti Rini.
Gue bisa mengenali suara lo mesti lo sudah berusaha merubahnya, akhirnya lo gue temukan."Kata Rendi sambil berlari untuk menghampiri Rini yang sedang memakai topinya kembali.
Rini tidak sadar kalau pemuda yang tadi ditabraknya atau Rendi, sedang berlari menghampirinya.
Ia kembali berjalan dengan santai setelah topinya dipakai kembali.
Rini merasa kaget, jantungnya terasa mau lepas dari tempatnya setelah tiba-tiba ada yang menggenggam tangannya begitu kuat dari belakang.
"Tunggu...gue tau lo Rini.
Sayang.. akhirnya gue menemukanmu."Kata Rendi langsung memeluk tubuh kekasihnya yang sangat dirindukannya.
"Ah.. maaf mas,kamu salah orang.Aku bukan Rini."Kata Rini sambil melepas pelukan Rendi yang begitu erat.
"Tidak..lo tidak akan gue lepasin.
Lo harus ikut gue sekarang.Gue gak akan biarin lo pergi lagi."Ucap Rendi masih memeluk tubuh Rini dengan kuat.
"Haduh.. maaf mas..kamu mau bunuh aku?"Kata Rini berusaha melepas pelukan dari laki-laki yang masih dicintainya,meski dia sudah berusaha melupakannya,namun kenyataannya perasaan itu masih ada didalam hati Rini.
Rini masih memikirkan cara bagaimana agar dia bisa pergi menjauh dari Rendi.
__ADS_1