
"Bu... Rini pamit ya !"Ucap Rini setelah pak Rudi datang menjemputnya.
Rini pergi ke rumah sakit kembali dijemput oleh pak Rudi karena kedua orang tua Rendi yang menyuruh.
(Cihuy....sudah ada lampu hijau ternyata dari kedua orangtuanya Rendi, senengnya emak 😁)
"Hati-hati ya ndu'."Pesan bu Retno.
Akhirnya Rini berangkat ke rumah sakit setelah berpamitan kepada ibunya, sedangkan pak Karta sudah berangkat bekerja dari tadi.
Tuliling....
Terdengar bunyi handphone Rini sangat keras saat ia sudah berada didalam mobil.
Rini langsung mengambil handphone yang ada di dalam tas kecil miliknya.
"Sekar?"Ucap Rini saat melihat layar handphone tertulis nama Sekar, ternyata Sekar lah yang telah menelponnya.
"Halo Kar, tumben lo telpon gue?Ada apa Kar?"Tanya Rini setelah mengangkat panggilan telpon dari Sekar.
"Halo Rin,lo dimana Rin?"Tanya Sekar diseberang telpon.
"Gue lagi dijalan mau ke rumah sakit, memangnya ada apa Kar?"Tanya Rini penasaran.
"Kerumah sakit?Siapa yang sakit Rin?"Tanya Sekar .
"Mas Rendi Kar,tapi sudah membaik kok, katanya nanti sore sudah boleh pulang."Jawab Rini singkat.
"Oalah..kirain orang tua lo, syukur deh kalau gitu.Sabenarnya kita mau ajak lo bakar-bakar ayam dirumah bang Riko Rin,lo bisa datang gak nanti malam,Kita mau mengadakan makan bersama bakar ayam untuk menyambut tahun baru."Ajak Sekar.
"Wiiih....nyami-nyami...enak banget, pingin...!"Teriak Rini kegirangan.
"Ya sudah, nanti malam lo datang ya kerumah orang tua bang Riko."Ucap Sekar.
"Lihat nanti lah ya Kar,gue lihat keadaan mas Rendi dulu,kalau dia mengizinkan,nanti sore gue kerumah laki lo."Jawab Rini.
"Yah... berarti belum pasti dong! Padahal kita berharap banget lo mau datang biar tambah seru."Kata Sekar terdengar sedih.
__ADS_1
"Lo jangan sedih gitu dong Kar,kan belum pasti,semoga saja gue bisa ketempat Riko,nanti gue langsung hubungi lo deh kalau gue sudah minta izin sama mas Rendi."Kata Rini merasa tidak enak sudah membuat sahabatnya sedih.
"Oke...gue doain deh semoga Rendi ngasih izin ke lo buat bakar-bakar ditempat bang Riko."Kata Sekar sangat berharap sahabat baiknya itu datang di acara bakar-bakar atau panggang ayam,kata anak jaman sekarang suka bilang barbeque nan.
"Oke."Jawab Rini singkat.
Lalu terdengar panggilan telpon dimatikan oleh Sekar.
Tidak lama mobil yang dikendarai oleh pak Rudi akhirnya sampai di depan rumah sakit Keraton yang ada di Pekalongan.
Rini dan pak Rudi keluar dari mobil, saat bersamaan nenek dan kakek Rendi yang baru sampai di Pekalongan kemarin sore juga datang kerumah sakit itu dengan naik taksi.
"Rini..! Panggil seseorang yang baru keluar dari dalam taksi.
Rini yang sedang berjalan hendak masuk kedalam rumah sakit langsung menoleh kebelakang melihat siapa yang memanggilnya.
"Nenek..."Panggil Rini merasa terkejut langsung berjalan menghampiri neneknya Rendi yang baru keluar dari dalam taksi.
Ternyata tadi nenek yang masih berada didalam taksi terus memperhatikan mobil yang lebih dulu sampai di depan rumah sakit,nenek merasa terkejut ketika melihat seorang perempuan cantik yang tidak asing lagi bagi nenek keluar dari mobil yang ada didepan taksi.
Nenek langsung keluar dari taksi begitu taksi yang ia tumpangi berhenti diikuti oleh kakek.
"Nenek apa kabar? Bagaimana keadaan nenek?"Tanya Rini sambil mencium punggung tangan nenek lalu berganti mencium tangan kakek.
"Oalah ndu'... Bagaimana keadaan kamu ndu'?"Nenek balik bertanya bukannya menjawab pertanyaan Rini.
"Alhamdulillah Rini baik-baik saja nek,nenek sendiri bagaimana kabarnya?"Tanya Rini lagi.
"Seperti yang kamu lihat ndu',nenek sangat baik-baik saja."Jawab nenek.
"Kok kamu ada disini? Terus kok bisa sih kamu datang sama Rudi? Memangnya hubungan kalian berdua apa?"Tanya nenek yang belum tau kalau Rini sudah kembali bersama Rendi.
"Maaf nyonya besar,aku disuruh nyonya muda menjemput non Rini."Jawab pak Rudi sopan.
"Hah...apa benar itu ndu'? Citra menyuruh kamu kesini? Bukannya dia sangat tidak suka jika kamu dekat dengan Rendi? Weleh-weleh... sepertinya ada sesuatu ini."Kata nenek tampak sedang berfikir.
"Em.. sabenarnya..."Ucap Rini terlihat malu dan ragu untuk menjelaskan.
__ADS_1
"Ya sudah nanti kita bicara didalam saja,gak enak diluar dilihatin orang,ibu bagaimana sih,malah ngajak ngobrol diluar."Kata kakek.
"Oh iya ya pak,he..he..ibu lupa."Kata nenek sambil ketawa kecil memamerkan deretan giginya yang sudah tidak penuh lagi karena sudah banyak yang ompong.
"Ayok ndu'!"Ajak nenek.
Mereka pun berjalan masuk kedalam rumah sakit untuk melihat keadaan Rendi.
"Maaf nyonya besar..tuan,aku pamit dulu kalau begitu,mau langsung ke konveksi saja.
Nanti sore aku datang kesini lagi kalau den Rendi sudah mau pulang." Kata pak Rudi menghentikan langkah kaki ke tiga orang yang sedang berjalan masuk kedalam rumah sakit.
"Oalah..yo wes."Jawab kakek.
Lalu mereka kembali melanjutkan berjalan setelah pak Rudi pergi.
Didalam kamar pasien, terlihat Rendi sedang duduk diatas ranjang pasien sambil bersender, dengan kedua kaki di selonjorkan kedepan dengan wajah yang sudah terlihat segar.
"Nenek.. Kakek..."Panggil Rendi saat melihat kedua orang tua sedang berjalan menghampirinya.
"Bagaimana keadaan kamu Ren? Ternyata cucu nenek sudah segar,apa kamu sudah siap untuk pulang nanti sore?"Tanya nenek."
"Sudah dong nek, Rendi sudah bosen disini terus."Jawab Rendi.
"Kok kamu bisa sih Ren, sampai masuk rumah sakit?"Tanya kakek.
"Iya lho...paling kamu bawa mobilnya ugal-ugalan,kamu sih gak ati-ati bawa mobil, untung kamu gak apa-apa, gimana?Enak tidak masuk rumah sakit?"Lanjut nenek.
" Enak nek ternyata masuk rumah sakit, Rendi gak nyesel kok, soalnya Rendi jadi semakin dekat dengan perempuan cantik yang saat ini sedang berdiri disamping nenek itu, setiap hari dia datang kesini untuk merawat Rendi."Jawab Rendi sambil tersenyum menatap wajah Rini yang sudah berubah merah.
"Kamu ini,orang kita khawatir takut kamu kenapa-kenapa,malah kamu bilang enek,gak nyesel masuk rumah sakit."Kata nenek menjitak kepala Rendi.
"Aduh nek..."Kata Rendi kesakitan.
"Mas Rendi gak apa-apa."Kata Rini berlari menghampiri Rendi.
"Cakit yang...!"Kata Rendi manja sambil mengusap kepalanya sendiri pura-pura kesakitan.
__ADS_1
"Ehem..."Nenek berdehem menggoda cucunya.
"Modus tuh pak, kelakuan cucu kamu tuh pak."Lanjut nenek menatap wajah cucunya sambil menggelengkan kepalanya karena merasa geli dengan sikap cucunya itu.