Ketulusan Cinta Rini 2

Ketulusan Cinta Rini 2
Akhirnya sampai.


__ADS_3

"Ayok yang,kita harus berangkat sekarang."Ajak Rendi ke istrinya yang malah asyik ngobrol dengan para asisten rumah tangga di belakang.


Selesai membagikan gaji para karyawan yang bekerja di konveksi milik kedua orang tuanya, Rendi bergegas pulang karena hendak pergi ke Jakarta.


"Iya mas sebentar, nunggu mbak Er pamitan dulu sama teman-temannya."Jawab Rini dari belakang.


"Ya sudah kami tinggal dulu ya semuanya,jaga rumah ya mbak-mbak, maaf mbak inul-nya aku bawa dulu buat bantuin nenek di Jakarta."Ucap Rini kepada kedua mbak yang ada dibelakang.


"Iya non, kalian hati-hati,kalau sudah sampai telpon kami ya Nul ."Ucap mbak Juju sambil memeluk tubuh Inul.


"Iya mbak Juju."Jawab Inul melepas pelukannya setelah itu ia berganti memeluk Caca, wanita cantik yang masih berusia 16 th,Caca terpaksa bekerja sebagai asisten rumah tangga karena keadaan ekonomi orang tuanya.


"Jangan nangis Ca, nanti kita beliin oleh-oleh buat kamu,oke."Kata Rini berusaha menenangkan Caca yang dari tadi menangis seperti hendak ditinggalkan biyungnya, Inul dan Caca sangat akrab sudah seperti adik kakak, makanya Caca sangat sedih harus berpisah dengan Inul.


Akhirnya tepat pukul empat sore Inul ikut ke Jakarta bersama Rini dan Rendi,ini adalah pengalaman dia untuk yang pertama kalinya pergi ke Jakarta.


"Jakarta itu seperti apa sih non?"Tanya Inul dengan polosnya saat mereka sudah berada didalam mobil.


"Memangnya kamu belum pernah lihat Jakarta mbak?"Tanya Rendi sambil mengemudikan mobilnya.


"Belum pernah den,he..he.."Jawab Inul cengengesan.


"Nanti kita ajak mbak Inul jalan-jalan ya mas,biar dia tau Jakarta seperti apa."Ucap Rini yang duduk dikursi depan disamping suaminya mengemudi, sedang Inul berada di kursi tengah seorang diri.


"Tapi walaupun kata orang Jakarta itu indah,hidup di Jakarta sangat menyenangkan mau apa-apa terasa mudah asal ada uang,kalau aku sih lebih suka tinggal di kampung aja mbak."Lanjut Rini.


"Kenapa memangnya yang?"Tanya Rendi penasaran, sedangkan Inul hanya diam saja,ia terlihat serius mendengarkan ucapan majikannya itu.


"Suasana di kampung lebih tenang, udaranya lebih segar, pokoknya aku lebih nyaman tinggal di kampung,soalnya kan.....em......ada mas Rendi,he..he..."Jawab Rini sambil tertawa kecil menatap suaminya yang sedang fokus lihat ke jalan.


"Kamu bisa aja lho yang."Ucap Rendi mengacak rambut istrinya gemas dengan menggunakan tangan kanannya sedang tangan kirinya memegang setir mobil, tanpa menoleh kearah Rini,kedua mata Rendi tetap fokus kejalanan.


"Ehem...."Terdengar suara deheman dari belakang mereka.

__ADS_1


"Kenapa mbak ? Makanya cepetan nikah mbak, biar bisa seperti ini."Goda Rendi.


"Iya den,aku suka iri lihat kalian berdua,jadi pingin punya suami yang romantis,he..he.."Jawab Inul sambil ketawa kecil,ia senyum-senyum sendiri membayangkan punya pacar berwajah tampan dan romantis.


"Apa mbak Er sudah punya kekasih?"Tanya Rendi.


"Kan kemarin udah aku bilang kalau aku belum punya pacar,aden lupa ya?"Jawab Inul.


"Oh iya."Rendi menepuk keningnya sendiri.


Perjalanan dari Pekalongan ke Jakarta membutuhkan waktu berjam-jam lamanya, Rendi menoleh kearah istrinya ternyata sudah tidur dengan pulas , diusapnya lembut rambut istrinya, Rini menggeliat dan membuka matanya berlahan saat merasakan ada sentuhan tangan mengusap lembut rambutnya.


"Eh..kita sudah sampai mana mas?"Tanya Rini terbangun.


"Baru sampai Brebes, sudah kamu tidur lagi aja."Jawab Rendi.


"Mas Rendi capek? Kita istirahat dulu yok kalau mas capek."Ajak Rini mengusap lembut pipi Rendi yang sedang menyetir mobil dengan jarinya.


"Nanti kalau sudah sampai dirumah makan kita istirahat sambil makan."Jawab Rendi menggenggam tangan Rini dan menciumnya dengan lembut.


"Kamu pindahlah ke belakang bareng mbak Er aja yang,biar enak tidurnya."Perintah Rendi.


"Enggaklah,aku disini aja temenin mas Rendi."Jawab Rini sambil tersenyum menatap wajah suaminya yang begitu tampan.


"Ya sudah kamu tidur lagi gih, nanti mas bangunin kalau sudah sampai di tempat makan."Perintah Rendi lagi.


"Kursinya mau di turunin lagi gak?biar lebih nyaman tidurnya?"Tanyanya lagi.


"Enggak usah, seperti ini aja udah nyaman kok."Jawab Rini.


"Bagaimana dengan perut kamu yang? Sakit tidak perutnya?"Tanya Rendi khawatir.


"Enggak yang, perutku biasa aja."Jawab Rini.

__ADS_1


"Ya sudah tidurlah sayang,kamu juga baik-baik disitu ya dek, jangan nakal kasihan bundamu nanti kalau kamu nakal."Ucap Rendi mengusap lembut perut istrinya yang masih rata.


"Em.."Rini tersenyum menurut,ia kembali tidur dengan memeluk bantal kecil yang sengaja ia bawa dari rumah.


Setelah melakukan perjalanan jauh dan melelahkan akhirnya mereka sampai juga di rumah kakek-neneknya Rendi di daerah Pluit tepat berbarengan dengan suara adzan subuh,tapi sebelumnya mereka sempat berhenti dirumah makan untuk makan malam dan juga beristirahat sebentar menghilangkan rasa lelah dan ngantuk karena Rendi membawa mobil seorang diri tanpa ada yang menggantikan.


Salsabila yang sedang duduk di kursi roda langsung berdiri saat melihat adiknya datang.


"Mbak Bila..., hiks....aku kangen, hiks..."Rini langsung berlari menghampiri kakaknya dan memeluk kakak kandungnya itu dengan erat, sedangkan kedua orang tua mereka sekarang masih berada di perjalanan menuju Jakarta bersama dengan keluarga Bowo,adik kandung pak Karta, Mereka berangkat dari Kajen jam delapan malam, mungkin siangnya mereka baru sampai Jakarta.


"Mbak Bila sudah bisa berdiri?Mbak Bila sudah bisa jalan?"Tanya Rini melepas pelukannya dan menatap kedua kaki kakaknya,ia merasa bahagia karena kakaknya sudah tidak lumpuh lagi.


"Iya Rin,mbak sudah bisa berjalan tapi belum boleh terlalu lama."Jawab Salsabila,ia kembali duduk diatas kursi rodanya kembali.


"Syukurlah mbak,aku seneng banget."Ucap Rini dengan wajah ceria.


"Sayang... lebih baik kamu istirahat dulu, bagaimana dengan cucu mama?Dia baik-baik saja kan? Perutmu gak sakit kan sayang?"Bu Citra menghampiri Rini yang sedang berbincang-bincang dengan calon adik iparnya,ia membelai lembut rambut menantunya yang panjang terurai dan juga mengusap lembut perut menantunya yang masih rata.


"Kamu sedang hamil Rin?"Tanya Salsabila terkejut.


"Iya mbak, hari ini pas dua minggu usia kandungan aku mbak."Jawab Rini sambil tersenyum simpul.


"Selamat ya Rin, sebentar lagi mbak punya ponakan baru."Ucap Salsabila merasa bahagia.


"Semoga saja kamu juga cepat kasih ibu cucu ya nak, jangan mau kalah sama adikmu,cepat susul dia."Kata nenek yang tiba-tiba ada dibelakang mereka.


"Em..i..iya bu."Jawab Salsabila gugup,ia tersenyum malu sambil menundukkan kepalanya dengan wajah dia yang sudah berubah merah.


"Ibu....."Ucap bu Citra menatap ibu mertuanya sekilas lalu ia berjalan menghampiri Salsabila yang sedang duduk di kursi roda.


"Udah jangan didengarkan kata ibu Bil,"Lanjut bu Citra sambil membelai rambut Salsabila dengan lembut,ia tau kalau saat ini calon adik iparnya sedang menahan malu.


"Mbak Bila... semangat."Seru Rini sambil tersenyum memberikan semangat untuk kakak kandungnya.

__ADS_1


"Iya Rin, makasih."Jawab Salsabila tersenyum melihat adik kandungnya.


Setelah menikah dan tinggal dirumah kedua orang tua suaminya,Rini tidak pernah bertemu dengan kakak kandungnya lagi karena Salsabila dibawa ke Jakarta oleh keluarga Agung untuk berobat.Sekarang mereka baru bertemu kembali.


__ADS_2