
Di Pekalongan.
Saat Rendi sedang mandi, diam-diam Siska mengambil handphone milik suaminya itu.
Ia memencet tombol handphone, terlihat foto dua sepasang kekasih yang terlihat sangat bahagia tersenyum sambil berangkulan, mereka adalah Rendi dengan Rini, Siska meremas tangannya sendiri menahan amarahnya.
"Ternyata lo masih menyimpan perempuan jala**ng ini,sial.
Lihat aja nanti apa yang bakal gue lakuin ke lo Ren,gue bakal buat lo bertekuk lutut di hadapan gue,memohon agar gue tidak pergi,hem..."Kata Siska lirih sambil tersenyum licik.
Ia mematikan handphone suaminya lalu meletakkannya lagi ditempat semula dan bergegas keluar kamar, saat bersamaan Rendi keluar dari kamar mandi dengan hanya memakai handuk yang dililitkan di pinggangnya.
Terlihat celana pendek dan kaos pendek sudah ada dipinggir ranjang, Rendi hanya melihatnya sekilas lalu dia berjalan menuju lemari pakaiannya tanpa memperdulikan baju yang sudah disiapkan oleh istrinya.
"Bajunya sudah gue siapkan lho Ren."Kata Siska tidak jadi keluar kamar saat melihat suaminya ternyata sudah selesai mandi.
Siska berjalan mendekati suaminya,ia mengambil baju suaminya yang tadi diletakkan di pinggir ranjang.
"Sayang.. pakailah ini."Kata Siska memberikan kaos dan celana pendek ke Rendi, tapi Rendi terlihat cuek tidak memperdulikannya.
Ia malah mengambil kaos dan celana yang lain didalam lemari pakaian.
"Hah..."Siska melempar kasar baju Rendi diatas ranjang karena kesal dengan sikap suaminya itu.
Ia berjalan keluar kamar dengan perasaan kesal.
Terlihat kedua mertuanya berada di ruang tengah sedang duduk bersantai sambil menonton acara televisi.
"Selamat pagi sayang."Kata bu Citra saat melihat menantunya yang baru keluar dari kamar.
"Selamat pagi ma, pa!"Ucap Siska kepada kedua orangtuanya.
"Mana suamimu sayang? Kalian sarapan berdua saja gak apa-apa kan?,tadi mama sama papa sudah sarapan, habisnya kalian ditungguin dari tadi tidak keluar-keluar dari kamar,ya sudah kita sarapan dulu deh."Kata bu Citra.
"Iya ma,gak apa-apa."Jawab Siska.
Siska berjalan mendekati asisten rumah tangga mertuanya yang kebetulan sedang ada di dapur untuk membuat minum.
"Itu minum buat Rendi ya mbak?"Tanya Siska.
"Iya non."Jawab asisten rumah tangga itu singkat.
"Sini biar aku saja yang buatin minum buat Suamiku,kamu pergi sana."Kata Siska dengan angkuhnya meminta asisten rumah tangga itu pergi. meminta gelas yang baru terisi gula dan teh celup.
__ADS_1
Siska masukkan air panas kedalam gelas itu,ia mengambil botol kecil didalam kantong celananya.
Ia menoleh ke kanan-kiri, setelah ia memastikan aman tidak ada siapa-siapa,ia menuangkan isi botol kecil itu kedalam minuman Rendi.
"Em... lihat aja,lo pasti bakal jatuh ke pelukan gue."Kata Siska lirih sambil tersenyum licik.
Lalu ia berjalan menuju meja makan, diletakkan secangkir teh manis hangat ditempat Rendi duduk.
Setelah menunggu beberapa menit Rendi keluar dari dalam kamar.
"Sayang sarapan dulu."Kata Siska sambil tersenyum manis ke arah suaminya.
"Mbak Ros sudah buatin teh anget nih buat lo!"Kata Siska dengan suara lembut.
"Huh sok manis."Kata Rendi dalam hati sambil duduk disebelah Siska.
Rendi menyeruput teh hangat lalu mengambil roti bakar yang sudah disiapkan oleh mbak, asisten rumah tangga mereka.Siska melirik ke arah suaminya,ia tersenyum penuh kemenangan karena rencananya berjalan dengan lancar.
"Hem.. bagus, habiskan Ren, sebentar lagi lo bakal memohon-mohon ke gue untuk memenuhi keinginan nafsumu,he..he...
Karena gue sudah memasukkan obat perangsang kedalam teh manis lo!"
Kata Siska didalam hati sambil tersenyum.
Rendi memegang kepalanya karena merasa pusing.
"Lo kenapa sayang?"Tanya Siska memegang lengan Rendi,tapi Rendi mendorong tangan Siska dengan kasar agar menjauh darinya.
"Lo gak usah sok kuat Ren,lo sedang sakit,ayok gue bantu lo ke kamar."Kata Siska memegang tangan Rendi untuk membantu suaminya itu berdiri.
"Awas lo,gak usah pegang-pegang gue, minggir."Kata Rendi mendorong tubuh Siska,ia berjalan sambil sempoyongan kedalam kamarnya.
"Ada apa dengan kepala gue,kenapa tiba-tiba kepala gue pusing,dan...ah...kenapa dengan tubuhku ini? Rasanya aku merasakan gairah yang luar biasa."Kata Rendi dalam hati sambil berjalan sempoyongan masuk kedalam kamarnya.
"Kamu kenapa Ren?"Tanya bu Retno yang melihat anaknya jalan sempoyongan.
"Gak tau ma, tiba-tiba kepala Rendi pusing."Jawab Rendi sambil memegangi kepalanya sendiri.
"Kamu sakit?Biar ibu telpon dokter suruh kesini ya?"Tanya bu Retno.
"Gak usah ma,biar Siska yang mengobati mas Rendi,mas Rendi cuma butuh Siska."Jawab Siska sambil berlari menghampiri Rendi.
"Ma, tolong telpon dokter Lambang Sekarang ma."Kata Rendi sambil melepas tangan Siska dari tangannya.
__ADS_1
"Kamu gak perlu dokter mas,kamu hanya perlu gue."Bisik Siska lirih ketelinga Rendi.
"Apa maksud lo,awas.. singkirkan tangan lo dari tubuh gue."Bentak Rendi.
"Bagaimana?Mama perlu telpon dokter Lambang tidak Ren?"Tanya bu Retno bingung.
"Iya.. tidak..."Jawab mereka berdua dengan jawaban yang berbeda.
"Telpon dokter Lambang Sekarang juga ma, Rendi sudah gak kuat."Kata Rendi dengan suara keras.
Pak Burhan yang mengalami stroke, tidak bisa bicara hanya diam saja sambil duduk di kursi roda dengan kedua mata berkaca-kaca, sepertinya pak Burhan ingin mengatakan sesuatu tapi tidak bisa ia katakan.
"Nanti kalau Dokter Lambang sudah datang, suruh dia ke kamarku ma."Perintah Rendi sambil berjalan menuju kamarnya.
Rendi membanting pintu kamar dengan kasar dan menguncinya.
Tok.. tok...tok..
Ren,bukain pintunya, percayalah sama gue,lo hanya membutuhkan gue saja,lo gak butuh dokter yang lain.
Lo lupa kalau gue juga seorang dokter?"Kata Siska sambil mengetuk pintu kamar berulang kali.
Rendi tidak mau membuka pintu kamarnya,ia terdengar berteriak didalam kamar seperti sedang kesakitan.
Setelah menunggu hampir 30 menit akhirnya dokter yang ditunggu datang.
"Nak Lambang, cepetan tolongin Rendi nak!"Kata bu Citra setelah kedatangan dokter Lambang yang juga teman Rendi.
"Ada apa dengan Rendi Tante?"Tanya dokter Lambang.
"Gak tau nak Lambang, tiba-tiba Rendi sakit setelah sarapan."Jawab bu Citra.
"Cepetan nak Lambang langsung masuk kedalam kamar Rendi saja."Kata bu Citra.
Mereka berjalan cepat menuju kamar Rendi.
"Sayang..ini mama nak,bukain pintunya nak, dokter Lambang sudah datang."Kata bu Citra sambil mengetuk pintu kamar.
Tok..tok..
"Ren..bukain Ren."Kata dokter Lambang ikut mengetuk pintu kamar.
"Apa yang sabenarnya terjadi Sis?"Tanya dokter Lambang kepada Siska yang terlihat gelisah berdiri di belakangnya.
__ADS_1