
Kenalkan ini cucunya mbah, namanya Rendi,baru datang kemarin,dan itu didalam ada temannya yang baru datang tadi pagi."Kata nenek memberitahu.
"Oh my God... ganteng banget."Ucap Adel tampa sadar langsung disenggol oleh Sekar yang ada disampingnya
"Eh,he..he..."Adel tertawa kecil jadi malu.
"Iya,cucu mbah ini memang ganteng.Ayok masuk diluar dingin banget."Ajak mbah.
Rendi diam-diam melirik kearah Rini yang dari tadi menundukkan kepalanya.
"Lha... lo bukannya Wahyu?"Tanya Adel setelah mereka sudah berada didalam rumah mbah ternyata ada seorang pemuda tampan juga sedang duduk sambil memainkan ponselnya.
"Em...lo siapa ya?"Tanya pemuda tampan itu bingung.
"Gue Adel lho Yu, kita pernah bertemu dirumah Rini lo ingat gak?"Tanya Adel sambil mengulurkan tangannya.
"Lo ngapain kerumah Rini Yu?"Tanya Rendi kaget.
"Cuma mampir kok Ren."Jawab Wahyu berbohong padahal kejadian yang sabenarnya adalah dia memang sengaja ingin menemui Rini.
"Rin,lo kok diam saja."Tanya Wahyu melihat kearah Rini yang dari tadi menundukkan kepalanya.
"Eh...iya maaf mas, gue lagi kedinginan,he..he.."Jawab Rini mengangkat kepalanya sambil ketawa kecil yang dipaksakan.
"Lo kedinginan sayang?"Nih pakai jaket gue."Ucap Riko melepas jaketnya dan memakaikan ke tubuh Rini.
"Haduh.. makasih ya Ko,lo pengertian banget deh."Kata Rini merasa senang.
"Santai saja bro,atau pingin gue peluk biar tambah hangat."Goda Riko.
"Awas aja kalau lo berani peluk gue,tak jitak kepala lo."Ucap Rini sambil melotot kearah Riko.
"Ih jahat kali sayangku ini."Jawab Riko mencubit pipi Rini gemas.
"Sayang-sayang pala lo peyang!"Ucap Rini sambil cemberut.
"Ha..ha...lo sungguh lucu sekali sayangku."Riko kembali mencubit pipi Rini sambil tertawa terbahak-bahak.
__ADS_1
Tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang dari tidak suka melihat sikap mereka berdua, dia adalah Rendi yang terus menatap tajam kearah Riko,ia terlihat terlihat sangat marah melihat Riko yang bersikap manis kepada Rini apalagi saat Riko memakaikan jaketnya ke Rini, pingin rasanya ia melepas paksa jaket Riko dari tubuh Rini.
"Kenapa sih dengan gue? Rasanya gue sangat marah melihat berdua seperti itu,apa mereka pacaran?"Gumam Rendi dalam hati sambil menahan amarahnya melihat kearah Rini dan Riko.
"Cih... lagian sudah tau mau ke gunung gak mau bawa jaket."Kata Rendi sambil tersenyum sinis kearah Rini dan Riko yang terlihat begitu mesra.
"Ih.. apaan sih dia, dasar orang aneh."Gumam Rini dalam hati,lalu dia kembali bercanda dengan teman-temannya dan juga Wahyu tanpa mau memperdulikan pemuda sombong yang duduk di sebelah Wahyu.
Wahyu menatap Rendi dengan tatapan yang sulit diartikan.
Tiba-tiba Rini terlihat diam saja tidak menghiraukan perbincangan teman-temannya bersama dengan kedua pemuda yang ada didalam rumah nenek,Rasa dingin ditubuhnya mengalahkan segalanya, Rini sudah tidak bisa bersuara lagi, suara canda tawa dari teman-temannya sudah tidak bisa didengar lagi, mulutnya terasa kaku sangking dinginnya udara.
JEDER.. JEDER...
Terdengar suara petir berulang-ulang mengagetkan semua orang yang ada didalam rumah tua itu, mereka semua saling diam dan menutup telinga mereka masing-masing.
Rendi yang teringat kejadian waktu di warung langsung menoleh kearah Rini, tampak jelas tubuh Rini bergetar dengan kedua mata terpejam, wajahnya terlihat begitu pucat.
Rendi langsung bangun dari duduknya dan berjalan cepat menghampiri Rini, Adel yang sedang duduk disampingnya terpaksa menggeser duduknya memberikan tempat untuk Rendi.
Wahyu menatap Rendi dengan penuh kecurigaan.
"Rin..lo gak apa-apa?"Tanya Rendi memastikan tapi yang ditanya hanya diam saja tidak menjawab.
"Rin.. tangan lo dingin banget."Ucap Sekar menggenggam tangan Rini.
Rendi langsung mendekap tubuh Rini kedalam pelukannya tidak perduli mesti ada banyak pasang mata yang melihatnya.
Wahyu memalingkan wajahnya saat melihat kejadian itu, hatinya terasa sakit saat melihat wanita yang disukainya dipeluk oleh laki-laki lain yang merupakan sahabatnya sendiri.
"Apa benar Rendi menyukai Rini? Kenapa takdir begitu kejam ke gue? Haruskah gue bersaing dengan sahabat gue sendiri? Sungguh rasanya sakit sekali."Ucap Wahyu dalam hati dengan rasa sesak di dadanya.
Sedang ketiga teman Rini hanya bisa diam tidak berani bersuara, mereka sangat mencemaskan keadaan Rini.
"Mbah, punya minyak kayu putih tidak?"Tanya Rendi ke mbahnya.
"Mbah ndak punya, adanya minyak tanah."Jawab mbah dengan polosnya.
__ADS_1
Rendi mendekap tubuh Rini dengan erat seolah tidak mau melepaskannya, dengan kedua mata terpejam Rini dapat merasakan hangatnya tubuh Rendi,ia dapat mendengar detak jantung Rendi, tercium aroma parfum yang sama yang mampu menenangkan hatinya yang dipenuhi ketakutan.
Berlahan rasa dingin yang ia rasakan berubah menjadi hangat,ia merasa tenang dan nyaman didalam pelukan Rendi,ia pun tertidur dengan pulas didalam dekapannya.
Adel berpindah tempat duduknya menghampiri Sekar.
"Aduh Kar, ngiri deh liat Rini.Kapan gue dipeluk cowok ganteng seperti dia ya?"bisik Adel ke telinga Sekar.
"Iya Del, beruntung banget dia sampai tertidur dengan pulas begitu, hihihi...."Jawab Sekar.
Mereka berbisik-bisik lirih tapi masih bisa didengar oleh Wahyu.
Wahyu membuang nafasnya dengan kasar,ia memejamkan matanya, wajahnya terlihat sendu sedang hatinya...dia sendiri yang tau bagaimana dengan hatinya saat ini.
"Alhamdulillah.. akhirnya berhenti juga hujannya,ayok gaes kita harus cepat pulang nanti takut kemalaman di jalan."Seru Riko menyadarkan mereka yang sedang diam dengan perasaan masing-masing.
Adel yang sempat tertidur langsung bangun.
"Yes.. akhirnya berhenti juga hujannya."Seru Adel merasa senang setelah terjebak hampir dua jam dirumah mbah karena hujan.
Rendi melonggarkan pelukannya saat merasakan ada gerakan dari Rini.
Dengan berlahan Rini membuka matanya,ia merasa terkejut saat menyadari berada didalam pelukan pemuda sombong yang paling ia benci.
"Kenapa gue...?Ucap Rini merasa bingung sambil mengingat kejadian kenapa ia bisa berada didalam pelukan Rendi.
"Segarnya yang habis dipeluk cowok ganteng...!"Goda Adel menyenggol lengan Rini.
Rini yang sudah mulai ingat dengan kejadian sebelumnya langsung menundukkan kepalanya merasa malu, wajahnya langsung berubah merah karena malu.
"Ayok gaes sudah siap belum?Kita harus balik sekarang, sebentar lagi gelap."Ajak Riko.
"Em..nih jaket lo ko."Ucap Rini melepas jaket yang ia pakai lalu menyerahkan ke Riko.
"Udah lo pakai aja sayang."Kata Riko sambil tersenyum menatap wajah Rini.
Rendi yang melihat itu langsung menarik jaket yang ada di genggaman Rini,ia melempar dengan kasar ke arah Riko.
__ADS_1
"Dia sudah tidak butuh Jaket lo,biar dia pakai jaket gue aja,ayok gue antar lo pulang, gue tidak bisa biarin lo pulang bersama mereka."Kata Rendi menarik tangan Rini.
Rini dan teman-temannya hanya bisa diam, mereka saling bertatapan satu sama yang lain, mereka jadi bingung mendengar ucapan Rendi apalagi Wahyu sampai bengong tidak percaya dengan ucapan temannya yang terlihat berlebihan.