
Satu minggu telah berlalu, keadaan Rini dan bayinya sudah jauh lebih baik, mereka siap untuk kembali kerumah mereka.
Terlihat wajah Rini sudah kembali bersinar tidak pucat lagi begitu juga dengan bayinya yang sudah tampak sehat, Fariel nampak kelaparan dengan begitu rakusnya mulut Fareal yang mungil menyedot Asi bundanya, badannya terlihat lebih berisi semakin menggemaskan.tangan kanannya menutup Payu**dara Rini seolah sedang mempertahankan makanannya agar tidak ada yang mengambilnya.
"Uh sayang..kamu lapar ya nak, pelan-pelan minumnya nak, nanti kesedak!"Ucap Rini sambil memberikan ASI untuk Fariel,tapi Fareal malah semakin kuat menyedot Asi bundanya.
"Jangan dihabiskan dong nak, sisain buat ayah dong,ayah kan juga mau!" Rendi yang ikut duduk diatas ranjang pasien sambil memeluk tubuh istrinya dari samping, menarik tangan Fareal yang sedang menutupi payu**dara Rini pelan, digenggamnya tangan anaknya dengan lembut, nampak tangan Fareal bergerak-gerak berusaha melepaskan tangannya dari genggaman tangan sang ayah, setelah tangannya dilepaskan oleh ayahnya ia kembali menutupi payu**dara sang bunda dengan telapak tangannya.
"Hehehe... tenang saja nak,gak ada yang minta makanan kamu, ayah cuma bercanda."Ucap Rendi terkekeh melihat anaknya sikap anaknya yang sangat menggemaskan.
Lalu ia cium pipi istrinya dengan lembut.
"Terimakasih sayang,aku sangat bahagia, terimakasih karena kamu terus bertahan untuk kami."Ucap Rendi kembali mencium pipi istrinya dengan lembut, Rini hanya bisa tersenyum malu dengan kedua mata menatap bayi mungil yang ada di-pangkuannya, tangannya membelai lembut pipi bayi mungil itu.
"Rini...!Eh... maaf."Ucap Adel tiba-tiba masuk kedalam kamar inap Rini, langsung menghentikan langkahnya hendak keluar lagi karena Adel merasa tidak enak saat melihat sepasang suami-istri yang ada didalam kamar inap terlihat sangat romantis bersama dengan buah hatinya.
"Adel...sini,mau kemana kamu!"Seru Rini menoleh kearah Adel yang malah mau keluar lagi.
"Haduh..jadi gak enak nih mengganggu,main nyelonong aja,he...he..."Jawab Adel cengengesan.
Sorry gue baru sempet menjenguk lo Rin, kemarin sibuk dengan tugas kuliah."
"Gak apa-apa,kesini Del,kamu biasanya juga suka mengganggu."Canda Rini.
"Sama siapa Del? Mana pacar kamu si Om Juli."Sambung Rendi.
"Ih... jangan di ngomong gitu lah jadi malu."Jawab Adel.
Akhirnya Adel dan Julius resmi pacaran satu minggu yang lalu ketika Rini sedang kritis.
"Sini biar gue yang gendong anak lo Rin."Adel meminta bayi yang ada dipangkuan Rini.
"Hah..yang bener?Kamu sama Om Juli Del?"Tanya Rini kaget sambil menyerahkan bayinya ke Adel.
__ADS_1
"Em...."Adel tersenyum malu,ia menggoyang-goyangkan bayi mungil anak sahabatnya.
(Untuk mengetahui kisah cinta Adel dengan Julius nanti ada kisahnya sendiri ya kawan, author nanti bakal buat cerita tentang kisah cinta mereka setelah menyelesaikan cerita Rini dan Rendi, pokoknya ditunggu aja deh,he..he..)
"Wah...kamu nanti bakal jadi kakak iparnya bibi Rini dan om Bowo dong Del!"Seru Rini senang.
"Amiiin... do'akan saja semoga hubungan kita sampai kesana,tapi masih lama lah Rin, gue pingin menyelesaikan kuliah gue dulu, gue juga pingin meraih cita-cita gue untuk menjadi pengusaha sukses agar kedua orang tua gue bangga sama gue,dan kata Om Juli mau nunggu kok sampai gue siap jadi istrinya."Ucap Adel malu-malu.
"Ciye-ciye... swit-swit...tapi jangan lama-lama lho Del kasihan om Juli sudah tua, keburu alot"Goda Rendi.
"Ih... emangnya om Juli mau diapain?"Tanya Adel bingung dengan ucapan Rendi.
"Suruh sunat lah, kalau kamu mau nikah sama itu om-om, Suruh dia sunat dulu sana,kamu belum tau kan kalau om Juli belum sunat?"Ucap Rendi.
"Hah... yang bener? Sok taulah."Jawab Adel tidak percaya.
"Yaelah kamu dibilangin orang tua gak percaya,aku tau dari om Agung Del."Jelas Rendi.
"Tapi... gue perhatiin ada yang beda deh sama orang yang ada didepan gue ini."Lanjut Adel memperlihatkan Rendi.
"Beda apanya Del?"Tanya Rini penasaran ikut memperhatikan suaminya,sedang Rendi menyipitkan matanya sambil melihat kearah dua perempuan yang sedang menatapnya.
"Hai... jangan liatin aku seperti itu,apa yang salah dengan aku hayo...!"Kata Rendi memeriksa keadaan dirinya sendiri.
"Cara bicara lo yang beda dodol!"Jelas Adel.
"Cara bicara aku bagaimana?"Rendi malah semakin bingung.
"Sekarang bicara lo terlihat lebih sopan, kalem dan lembut gak seperti dulu yang kasar."Jawab Adel.
"Yaelah Del,aku sekarang kan sudah tua, sudah punya anak jadi ya bicaranya harus dirubah untuk memberi contoh untuk anakku nanti..,kamu juga nanti harus merubah cara bicara kamu kalau kamu sudah punya anak, kalau bicara dengan suami kamu jangan lo-gue lagi."Nasehat Rendi.
"Iya Pak, siap."Jawab Adel sambil tersenyum .
__ADS_1
"Anak pinter."Balas Rendi.
"Oe. .oe ..."Tiba-tiba Fariel nangis.
"Haduh Rin,anak lo nangis nih!"Adel menyerahkan kembali Fariel ke Rini.
"Cup...cup...anak bunda kenapa?"Tanya Rini kembali memangku bayinya.
Tap...tap....
Terdengar langkah kaki memasuki kamar inap Rini.
"Oalah sudah ada Adel toh disini?"Tanya seorang perempuan paruh baya saat sudah berada didalam kamar inap Rini sambil berjalan menghampiri ketiga pemuda.
"Selamat pagi Bude,Pakde."Ucap Adel mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan dua orang yang baru datang, mereka adalah Bu Retno dan pak Karta.
Kedua orang tua Rini sudah lima hari berada di Jakarta, mereka langsung berangkat ke Jakarta begitu dikasih tau keadaan Rini dan bayinya yang sedang dirawat di rumah sakit.
Adel mencium punggung tangan kedua orang tua Rini.
"Mana pacar kamu Del?Ayok cepetan nikah, teman-teman kamu sudah pada nikah lho, memangnya kamu gak pingin punya anak seperti Rini?"Goda Bu Retno sambil mengusap lembut punggung Adel yang sedang mencium punggung tangannya.
" Kalau Adel nanti aja lah Bude, nunggu anak mereka orang pada gede."Jawab Adel santai.
"Lho...kok gitu, memangnya kamu mau nikahi anak teman kamu?"Tanya Pak Karta.
"He...he...ya enggaklah Pakde, Adel masih pingin kuliah dulu, masih pingin merasakan kebebasan."Jawab Adel.
"Iya-iya nak,Pakde cuma bercanda.Memang sebaiknya seperti itu, puaskan dulu masa muda kamu nak, jangan buru-buru mengambil keputusan, sabenarnya Pakde juga pinginnya Rini seperti itu tapi ternyata sudah kadung tresno sama nak Rendi,jadi ya Pakde pasrah yang penting anak-anak Pakde seneng."Kata Pak Karta.
Rini menundukkan kepalanya merasa malu.
"Kenapa bun?Ya gak apa-apa lah ya bun."Ucap Rendi menoleh kearah istrinya yang sedang menundukkan kepalanya sambil memangku bayinya,ia mengacak rambut Rini gemas.
__ADS_1