Ketulusan Cinta Rini 2

Ketulusan Cinta Rini 2
Rencana Julius.


__ADS_3

Ceklek..


Pintu kamar dibuka oleh seseorang.


Deg...


Adel langsung menoleh kearah pintu yang dengan perasaan was-was.


"Halo kucing kecil,lo sudah bangun toh!"Ucap seorang laki-laki sambil berjalan mendekati Adel yang sedang duduk dipinggir ranjang.


"Lo..lo mau apa? Kenapa gue ada disini?"Tanya Adel langsung menggeser duduknya saat Juli berjalan mendekatinya.


"Gak usah GR lo, gue cuma mau lihat keadaan lo aja, baguslah kalau lo sudah sadar."Jawab Julius santai.


"Ke.. kenapa lo bawa gue kesini?


Aw..."Ucap Adel sambil kesakitan saat ia hendak berdiri.


"Cik..cik... Udah seperti itu masih juga belagu lo, udah diem aja jangan banyak bergerak, sebentar lagi dokter datang kesini untuk memeriksa keadaan lo."Kata Julius sambil duduk dikursi yang ada disamping ranjang dengan kaki dilipat.


"Haduh..gue mesti pulang sekarang om, gue harus ngerjain tugas dari pak Ridwan kalau gak gue bisa gak lulus,bisa gawat tujuh turunan nih!"Ucap Adel memaksakan diri untuk berdiri.


"Aduh... kaki gue sakit banget, sepertinya gue keseleo nih,om kenapa bawa gue kesini bukannya kerumah sakit,om pasti mau berbuat mesum sama gue ya?"Tanya Adel curiga.


"Cih.... dasar bocah ingusan,otak lo tuh yang mesum, gue bawa lo kesini karena gue malas berhubungan dengan rumah sakit, gue juga gak tau dimana rumah lo, sembarangan kalau ngomong, lagian kenapa sih lo pakai pingsan segala jadi merepotkan saja."Ucap Juli dengan ketus.


"Ya sudah sekarang gue kan sudah sadar, sekarang gue mau pulang,


Hah... motor gue... motor gue dimana om?"Tanya Adel saat baru menyadari tentang motornya.


"Gue tinggal, buat apa motor butut seperti itu."Jawab Julius cuek.


"Serius lo om, waduh om keterlaluan deh, gitu-gitu tuh motor banyak berjasa sama gue,selalu nemenin gue kemanapun gue pergi.


Kalau motor itu dicuri orang bagaimana?Ah..om Juli nih gimana sih, nanti gue kuliah naik apa kalau motor gue dicuri orang."Kata Adel dengan wajah cemberut terlihat sangat emosi.


"Beli aja yang baru,gitu aja kok repot."Jawab Julius masih bersikap cuek.


"Hai om sombong orang kaya, memangnya beli motor baru gak pakai duwit,orang seperti om sih gampang buat beli motor baru,tapi orang seperti gue,itu perlu perjuangan yang sangat luar biasa untuk dapat motor baru."Teriak Adel sambil menahan amarahnya.

__ADS_1


Ting tong..


Terdengar suara bel berbunyi.


"Ceramahnya nanti saja kucing kecil, itu pasti dokternya sudah datang."Ucap Julius bangkit dari duduknya dan bergegas pergi keluar kamar untuk membukakan pintu.


"Ih.. sumpah tuh orang satu ngeselin banget, pantas saja jadi bujang tua,mana ada cewek yang betah sama dia yang sombongnya selangit."Gumam Adel lirih setelah Juli sudah keluar dari kamar.


Tidak lama seorang perempuan cantik yang terlihat dewasa masuk kedalam kamar Adel bersama Julius.


"Juli... ternyata lo menyimpan cewek cantik didalam apartemen,em... ternyata lo suka yang muda Jul, pantas saja gue lo tolak, ternyata gadis seperti ini yang lo cari,gue mundur aja deh.


Kirain lo gak suka sama perempuan, katanya lo bakal menjomblo seumur hidup ,ini kabar yang sangat mengejutkan, gue mesti bilang sama om Eric dan tante Callysta."Ucap seorang perempuan memakai jas putih dengan rambut panjang yang dibiarkan terurai.


"Udah lo periksa aja dia, terus cepetan pergi dari sini."Kata Juli ketus.


"Em..."Perempuan itu tersenyum menatap Adel.


"Siapa namanya dek?"Tanya perempuan itu kepada Adel.


"Adel dok."Jawab Adel singkat.


Sudah belum periksa nya,lama banget."Kata Julius ketus.


"Sabar bos,ini lagi diperiksa."Jawab dokter perempuan itu yang ternyata adalah teman baik Julius, merupakan dokter Keluarga pak Eric dan mama Callysta, kedua orang tua Julius.


"Kok lo gak bawa ke rumah sakit aja sih Jul, lukanya cukup serius lho Jul,dan sepertinya kaki gadis ini keseleo, jangan biarkan dia bergerak untuk beberapa hari ini."Ucap dokter perempuan itu setelah selesai memeriksa keadaan Adel.


Dokter perempuan itu menulis sesuatu diatas kertas kecil,dan menyerahkan kepada Julius.


"Lo tebus obat ini di apotik."Lanjut dokter perempuan itu sambil menyerahkan selembar kertas yang isinya resep obat yang harus dibeli Julius untuk Adel.


"Oke."Jawab Julius singkat menerima kertas dari temannya.


"Halalin dia Jul,mama Callysta pasti marah besar kalau tau ini."Bisik perempuan itu ditelinga Juli.


"Udah ayok gue antar kedepan, jangan ikut campur urusan gue,ini tidak seperti yang lo pikirkan,awas kalau sampai lo bilang ke mama-papa gue."Ucap Julius menarik tangan perempuan itu dengan kasar.


"Dek, nanti jangan lupa minum obatnya ya, tenang saja dek,nanti kakak usahakan agar lo segera dinikahi Juli."Teriak perempuan itu sambil berjalan karena Juli menarik tangannya untuk meninggalkan kamar.

__ADS_1


Adel hanya diam saja sambil menggaruk kepalanya sendiri merasa bingung.


"Hah.. menikah sama om-om?Iuh...gak banget deh."Gumam Adel dalam hati.


"Gue harus cepat pergi dari tempat ini,emak sama bapakku bakal marah besar."Gumam Adel lirih.


"Lo mau kemana?"Tanya Juli yang sudah kembali kedalam setelah mengantar perempuan tadi sampai depan apartemen miliknya, melihat Adel sedang berjalan diruang tengah dengan kaki pincang.


"Mau pulang lah,tas gue mana om?"Tanya Adel.


"Tas lo sudah gue buang."Jawab Juli asal.


"Halah om... didalam tas ada tugas pak Ridwan yang harus gue kerjakan,om jahat banget sih...!"Teriak Adel marah.


"Hua... Kenapa nasib gue seperti ini sih, sungguh menyebalkan."Teriak Adel lagi sambil duduk di sofa yang ada di ruang tengah.


"Tas lo ada... dasar bocah ingusan, kayak gitu aja nangis, tunggu disini jangan kemana-mana, gue ambilkan tas lo dulu."Ucap Juli keluar apartemen untuk mengambil tas Adel yang masih berada didalam mobilnya.


"Emak....kenapa nasib gue jadi sial seperti ini, hiks...ini semua karena om sombong itu."Ucap Adel setelah Juli sudah tidak ada didalam apartemen.


Sementara ditempat lain terlihat seorang pemuda tampan terlihat sangat gelisah mondar-mandir didalam kamarnya mencoba menghubungi nomor seseorang yang belum juga tersambung.


"Adel..lo kemana sih, angkat dong sayang?"Ucap pemuda itu terus menekan tombol handphone mencoba menghubungi nomor handphone Adel yang tidak juga diangkat.


"Ini semua salah gue,coba tadi gue gak matiin handphone."Gumam pemuda itu sambil menghubungi nomor handphone Adel yang belum juga diangkat oleh pemiliknya.


Pemuda itu adalah Wahyu, kekasih Adel.


Tuliling..tulililiing....


Julius yang sudah berada didalam mobilnya untuk mengambil tas Adel, dikejutkan oleh suara yang terdengar begitu nyaring didalam tas milik Adel.


Karena penasaran Juli membuka tas Adel dan mengambil handphone milik Adel yang terus berbunyi.


"Wahyu..? Siapa Wahyu?"Gumam Juli lirih saat melihat layar handphone terdapat panggilan masuk dengan tulisan Wahyu.


Juli mematikan panggilan telpon dari Wahyu itu,lalu ia sengaja mengosongkan baterai handphone Adel agar tidak ada yang menelponnya.


Ia kembali berjalan ke apartemennya sambil tersenyum sendiri penuh kemenangan.

__ADS_1


Entah apa yang sedang ia rencanakan hanya dia sendiri yang tau.


__ADS_2