Ketulusan Cinta Rini 2

Ketulusan Cinta Rini 2
Di pindahkan ke ruang ICU


__ADS_3

"Tidak...."Ucap Rendi lirih sambil berjalan mundur dan menjatuhkan badannya di atas kursi yang ada dibelakangnya.


"Tenanglah Ren, gue yakin istri dan anak lo baik-baik saja percayalah sama gue, Rini adalah wanita yang kuat, pasti anaknya juga sama seperti ibunya,kuat dan tidak mudah menyerah."Kata Wahyu menguatkan sahabatnya yang terlihat lesu tidak mempunyai semangat.


"Ya Allah, tolong selamatkan istri dan anak hamba. Hamba gak mau kehilangan mereka."Do'a Rendi sambil meneteskan air mata.


Ceklek....


Pintu kembali dibuka dari dalam, Rendi langsung berdiri dan lari menuju kepintu begitu pintu ruang operasi terbuka.


Terlihat brankar dorong keluar dari dalam ruangan dengan seorang perempuan berwajah pucat terlihat sangat kemah sambil memejamkan matanya berbaring diatasnya.


"Sayang... bangun sayang."Ucap Rendi sambil berjalan mengikuti brankar yang sedang di dorong oleh para perawat, ditatapnya wajah istrinya yang begitu pucat dengan alat bantu pernapasan dihitungnya.


"Maaf Pak, jangan ganggu pasien dulu, keadaannya masih masih sangat lemah,ia harus segera dibawa keruang ICU."Kata salah satu perawat wanita yang sedang mendorong brankar dorong itu.


"Iya bener Pak, biarlah mereka yang menangani pasien, percayalah kepada mereka Pak."Lanjut seorang dokter laki-laki yang sedang berjalan dibelakang mereka.


"Apakah bapak suami pasien?"Tanya dokter itu.


"Iya Dok, saya suaminya.


Bagaimana keadaan istri saya Dok? Kenapa istri saya harus dibawa ke ruang ICU?"Tanya Rendi.


"Maaf pak, keadaan pasien saat ini membutuhkan perawatan khusus,kami mau minta maaf sebelumnya karena kami melakukan operasi tanpa persetujuan dari bapak sebagai suaminya. Pasien membutuhkan pertolongan secepatnya karena mengalami pendarahan, maaf kami terpaksa meminta persetujuan dari perempuan yang mengaku asisten rumah tangga pasien untuk melakukan operasi mengeluarkan bayi yang sabenarnya belum waktunya untuk lahir, jika tidak segera kami keluarkan bayinya,maka kemungkin nyawa pasien beserta anaknya tidak bisa ditolong karena pasien mengalami pendarahan yang cukup serius, Do'akan saja semoga istri bapak baik-baik saja,kami akan melakukan yang terbaik untuk pasien percayalah dengan kami."Kata dokter dengan ramah.


"Terimakasih Dok, tolong lakukan yang terbaik untuk anak dan istri saya,saya mohon."Rendi menatap Dokter itu dengan kedua mata berkaca-kaca.


****

__ADS_1


Malam harinya.


"Yu..,mbak Er... nitip Rini."Ucap Rendi saat mereka sudah berada didepan ruang ICU.


"Lo mau kemana?"Tanya Wahyu.


"Mau lihat anak gue."Jawab Rendi langsung pergi berlalu meninggalkan Wahyu dan Inul yang masih duduk.


"Mas,aku pulang dulu ya mau ambil baju ganti buat Den Rendi dan bikin makanan untuk kita."Pamit Inul yang sudah tidak menangis lagi.


"Nanti aja Er,biar lo gue antar nunggu Rendi balik kesini, soal makanan nanti kita beli saja."Jawab Wahyu tidak mau membiarkan Inul pulang sendirian.


Diruang NICU, terlihat Rendi yang sudah berganti dengan baku yang disediakan oleh pihak rumah sakit dan juga memakai masker sedang menatap bayi mungil yang berada didalam kotak kecil dengan berbagai alat bantu yang terpasang pada tubuh bayi mungil yang terlihat sangat lemah, terdapat alat monitor untuk mengetahui detak jantung bayi.


"Sayang...ini Ayah nak."Ucap Rendi lirih sambil meneteskan air mata antara bahagia dan sedih.


Rendi terus menatap malaikat kecilnya dengan kedua mata yang terus meneteskan cairan bening, ingin rasanya ia keluarkan bayinya dari dalam inkubator untuk digendong dan diciumnya,tapi apalah daya, anaknya yang lahir prematur membutuhkan tempat untuk menormalkan keadaannya yang belum sempurna.Ia membutuhkan perawatan khusus agar tumbuh menjadi bayi yang sama dengan bayi-bayi yang lainnya.


Akhirnya ia keluar dari ruangan itu karena tidak sanggup melihat keadaan bayinya sendiri didalam ranjang kecil yang ditutup plastik keras transparan dengan terpasang banyak alat bantu pada tubuhnya untuk menjaga bayinya yang lahir prematur agar tetap hangat,dan menjaga pertumbuhannya bayinya dengan baik,terlindungi dari bakteri.


"Bagaimana keadaan anak lo Ren?"Tanya Wahyu setelah Rendi sudah kembali.


Rendi terlihat murung, ia duduk dengan malas sambil menundukkan kepalanya.


"Gue antar Erna balik kerumah lo dulu ya, mengambilkan baju ganti buat lo sekalian cari makanan untuk kita."Pamit Wahyu.


"Ya sudah pergilah."Jawab Rendi lirih tidak bersemangat.


"Oke..,lo yang kuat, istri dan anak lo pasti bisa melewati ini, gue kenal banget Rini, Rini istri lo wanita yang kuat begitu juga dengan bayinya pasti kuat juga sama seperti ibunya.Ya sudah pergi dulu bro, kita cuma sebentar kok."Lanjut Wahyu sambil menepuk pundak sahabatnya berusaha menghibur, memberikan semangat dan kekuatan untuk sahabatnya itu agar tidak terlalu sedih.

__ADS_1


"Makasih Yu, gue gak tau apa yang bakal gue lakuin kalau tidak ada lo."Ucap Rendi menatap wajah Wahyu dengan wajah sendu.


"Lo jangan bicara seperti itu,kita teman, selamanya bakal jadi teman, sudah sepantasnya seorang teman saling membantu,memberi dukungan dan semangat untuk temannya yang sedang mengalami musibah."Jawab Wahyu sebelum akhirnya ia pergi mengantarkan Erna untuk pulang membersihkan diri dan mengganti bajunya karena dari pagi belum membersihkan diri dan mengganti bajunya juga untuk mengambilkan baju ganti untuk Rendi.


Tinggal lah Rendi seorang diri menunggu Rini yang saat ini sedang berada diruang ICU karena keadaannya masih kritis kekurangan banyak darah.


Setelah hampir satu jam Wahyu dan Inul pergi, mereka pun kembali lagi dengan membawa makanan dan baju ganti untuk Rendi, terlihat Rendi masih duduk bersender sambil memejamkan kedua matanya.


Ceklek....


Pintu ruang ICU terbuka, Rendi yang sedang duduk bersender sambil memejamkan matanya langsung bangkit dan berlari menghampiri seorang perawat dan dokter yang baru keluar dari dalam ruangan ICU.


"Bagaimana keadaan istri saya Dok?"Tanya Rendi.


"Alhamdulillah keadaan pasien sudah mulai membaik berkat pendonor yang mau mendonorkan darahnya untuk pasien."Jawab Dokter itu sambil tersenyum menatap wajah Rendi yang terlihat sangat khawatir dan tegang.


"Alhamdulillah, terimakasih Dok, apakah saya boleh melihat istri saya Dok?"Tanya Rendi terlihat sudah tidak sabar untuk melihat keadaan istri tercintanya.


"Boleh,tapi sebentar saja ya pak, soalnya keadaan pasien masih lemah, belum benar-benar pulih."Jawab Dokter.


"Terimakasih Dok."Jawab Rendi dengan wajah yang sudah kembali cerah.


"Jangan lupa bersihkan diri bapak dan ganti baju bapak dulu sebelum masuk kedalam."Kata Dokter mengingatkan.


"Baik Dok."Jawab Rendi bersemangat dengan wajah yang sudah tidak murung lagi.


"Ini Den, ganti baju Den Rendi."Inul menyerahkan kantong plastik yang berisi baju bersih milik Rendi.


"Terimakasih mbak Er."Ucap Rendi tulus mengambil kantong plastik dari tangan asisten rumah tangganya,ia bergegas pergi untuk membersihkan diri dan mengganti bajunya yang sudah kotor dengan baju bersih yang dibawakan Inul,ia juga memakai baju yang disediakan oleh pihak rumah sakit untuk menemui istrinya didalam ruang ICU.

__ADS_1


__ADS_2