
"Wow...."Chelsea merasa kagum saat memasuki kamar barunya.
Sebuah kamar berukuran sedang tidak terlalu luas,tapi terlihat rapih.
Bunda Karmila menyuruh seseorang untuk mendekorasi kamar tidur cucunya menjadi seindah mungkin saat Siska masih berada dirumah sakit, ditutupnya kembali pintu kamar lalu berlahan Chelsea masuk kedalam kamarnya yang dulu pernah ia tempati
"Bunda...."Panggil Chelsea sambil duduk dipinggir ranjang, teringat dengan bundanya, terbayang wajah sang bunda sedang tersenyum menatapnya
"Sabenarnya Chelsea gak mau pergi ninggalin bunda,tapi... hiks... seandainya bunda tau apa yang sabenarnya Chelsea rasakan, aku sangat menyayangi bunda."Gumam Chelsea lirih.
Tok...tok....
"Sayang...apa ibu boleh masuk nak?"Terdengar suara Siska dari luar menyadarkan lamunan Chelsea tentang bundanya.
"Iya bu,masuk aja."Jawab Chelsea sambil mengusap air matanya sendiri, Chelsea langsung bangun dan berjalan menghampiri kopernya yang masih berada dipinggir ranjang, dibukanya koper itu dengan hati-hati ia keluarkan satu per satu buku sekolahnya, disusunnya dengan rapih bukunya diatas meja belajar.
Ceklek....
Pintu kamar dibuka dari luar.
"Sayang...apa kamu butuh bantuan nak?"Tanya Siska sambil berjalan menghampiri anaknya yang sedang sibuk menyusun buku dimeja belajar.
"Boleh kalau tidak merepotkan ibu,he...he...."Jawab Chelsea tertawa kecil menyembunyikan kesedihannya.
"Ya sudah sini ibu bantu."Siska mengeluarkan baju-baju Chelsea dari dalam koper dsn disusun didalam lemari pakaian berukuran besar yang terletak didepan ranjang.
"Besok berangkat sekolah jam berapa nak?"Tanya Siska sambil membereskan baju-baju Chelsea.
"Jam tujuh bu."Jawab Chelsea singkat.
"Ya sudah besok ibu antar."Ucap Siska.
****
Keesokan paginya dirumah Rini dan Rendi.
Tok... tok....
"Fa..."
Tok...tok....
"Fareal..."Panggil Rini sambil mengetuk pintu kamar anaknya berulang kali karena anaknya masih belum membuka pintu.
Ceklek...
Rini menekan gagang pintu kamar Fareal ternyata gak dikunci.
"Ealah...anak bujang jam segini masih molor."Ucap Rini sambil berjalan mendekati putranya yang masih terlelap tidur diatas kasur.
__ADS_1
"Sayang... bangun nak sudah siang,mau kuliah tidak?"Tanya Rini sambil menggoyang-goyangkan kaki Fareal .
"Em ...bunda, memangnya jam berapa sekarang bun?"Tanya Fareal menggeliat tapi belum mau membuka matanya.
"Sudah jam tujuh Fa."Rini memberitahu.
"Hah...jam tujuh bun? Waduh bun, kenapa bunda gak bangunin Fareal dari tadi?"Fareal nampak terkejut langsung membuka matanya melihat ke jam dinding kamarnya dan bergegas melompat dari tempat tidur,ia berlari masuk kedalam kamar mandi.
"Lha...mana bunda tau kalau kamu belum bangun."Jawab Rini membereskan kamar anaknya yang sudah seperti kapal pecah.
"Nanti sepulang kuliah kamu berangkat ke Pekalongan, semalam bunda sudah bicara sama ayah."Langsung Rini sambil merapikan tempat tidur Fareal.
"Enggak bun, jangan nanti sore, nunggu minggu depan aja."Teriak Fareal dari dalam kamar mandi.
Ceklek...
Pintu kamar mandi dibuka, terlihat Fareal hanya memakai handuk yang dililitkan di pinggangnya, dengan rambut basah tercium aroma wangi sampo.
"Kenapa mesti minggu depan?"Tanya Rini.
"Soalnya tiga hari lagi Fareal mau ada pertandingan basket, kalau minggu depan Fareal libur selama dua minggu."Jelas Fareal berjalan lemari pakaian untuk mengambil bajunya.
"Oh gitu...ya sudah terserah kamu saja lah Fa, cepetan pakai bajunya,bunda tunggu diruang makan."Ucap Rini keluar dari dalam kamar Fareal.
Dengan gerakan cepat Fareal memakai bajunya karena sudah sangat terlambat.
setelah beberapa menit Fareal keluar dari kamar dengan keadaan sudah rapi.
"Eh... sarapan dulu sini."Panggil Rini.
"Haduh... sudah terlambat nih bun,"jawab Fareal berjalan menghampiri kedua orang tuanya, ia terpaksa mengikuti perintah sang bunda.
Diambilnya gelas berisi susu hangat yang sudah disiapkan dimeja makan untuk dirinya
Glek...glek...glek..
Fareal langsung menghabiskan satu gelas susu hangat bikinan sang bunda dengan posisi berdiri.
"Ah..."
Plek...
diletakkan gelas itu diatas meja dengan kasar menimbulkan suara keras setelah Fareal menghabiskan isinya dengan sekali minum.
"Hati-hati dong sayang,pecah nanti meja bunda."Kata Rini dengan suara lembut.
"Hehehe...sorry bun, buru-buru nih.
Sudah bun,ayah.... Fareal pamit."Fareal mencium punggung tangan kedua orang tuanya bergantian lalu ia langsung berlari meninggalkan kedua orang tuanya yang sedang sarapan.
__ADS_1
"Oalah... anak bujangnya siapa itu bun?"Tanya Rendi setelah kepergian anak semata wayangnya.
"Tau...anak siapa ya? Bunda gak berasa lahirin dia."Jawab Rini bercanda.
"Ih...bunda jahat banget...!"Seru Fareal sambil berlari keluar rumah.
"Hahaha...."Terdengar suara tawa dari kedua orang tua Fareal.
"Jadi kapan Fareal ke Pekalongan bun?"Tanya Rendi tiba-tiba menghentikan tawa Rini.
"Minggu depan saja katanya yah."Jawab Rini, tiba-tiba wajahnya berubah sendu sambil menatap sebuah kursi yang biasa dipakai untuk duduk Chelsea.
"Bunda kenapa gak makan?"Tanya Rendi melirik piring istrinya yang masih penuh dengan nasi.
"Bunda gak nafsu makan yah, kira-kira Chelsea sudah makan belum ya yah? Semalam dia tidurnya nyenyak gak dirumah Siska."Ucap Rini dengan kedua mata berkaca-kaca menatap kursi didepannya, terbayang olehnya wajah Chelsea sedang tersenyum manja.
"Bun, nanti siang kita makan diluar aja yok, kita sudah lama gak makan diluar lho bun!"Seru Rendi mencoba mengalihkan perhatian istrinya yang sepertinya sedang memikirkan putri mereka.
"Eh...apa yah."Jawab Rini menoleh kearah Rendi ketika tersadar dari lamunannya.
"Kita nanti sore makan diluar yok!"Ulang Rendi menggenggam tangan Rini dengan lembut sambil tersenyum menatap wajah ayu istrinya.
"Memangnya kita mau makan dimana yah?"Tanya Rini.
"Em...dimana ya?"Terlihat Rendi sedang memikirkan sesuatu.
" Bagaimana kalau kita makan ayam bakar saja bun, ayah kangen pingin mengenang masa-masa indah saat kita masih pacaran dulu,hehe...."Ucap Rendi.
"Oke, nanti bunda ke pabrik apa ayah yang jemput?"Tanya Rini.
"Biar ayah yang jemput bunda saja."Jawab Rendi kembali melirik istrinya yang ternyata masih menatap kursi didepan mereka yang biasa dipakai buat duduk Chelsea.
"Mbak...mbak! Panggil Rendi kepada asisten rumah tangganya.
"Dalem pak."Jawab seorang gadis remaja berlari menghampiri mereka diruang makan.
"Ada apa pak?"Tanya asisten rumah tangga itu sambil berdiri disamping kedua majikannya yang sedang sarapan bersama.
"Tolong bawa kursi itu ke belakang mbak!"Perintah Rendi menunjukkan kursi tempat duduk Chelsea agar istrinya tidak menatapnya terus yang membuat istri tercintanya itu jadi sedih.
"Eh... jangan mbak, kenapa mesti dibawa ke belakang yah?"Tanya Rini terkejut.
"Biar bunda gak sedih,bunda dari tadi lihatin kursi milik Chelsea terus."Jawab Rendi.
"Jangan dibawa kebelakang, sudah biarkan saja mbak, nanti juga Chelsea balik ke sini lagi, sudah mbak balik aja ke belakang."Perintah Rini.
"Baik bu, permisi."Gadis remaja itu kembali' lagi ke belakang.
"Bunda yakin gak apa-apa? Ayah gak mau bunda sedih."Kata Rendi setelah asisten rumah tangganya sudah pergi.
__ADS_1
"Ayah apa-apaan sih,mau nyingkirin kursi putri kita, bunda sebel sama ayah."