Ketulusan Cinta Rini 2

Ketulusan Cinta Rini 2
Bapak marah.


__ADS_3

"Hore...ibu sama bapak pulang...!"Teriak Ana saat kedua orang tuanya sudah sampai rumah sore harinya.


Ana mencium punggung tangan kedua orang tuanya yang baru pulang dari Jakarta.


"Mana oleh-oleh buat Ana bu?"Lanjut Ana.


"Kamu itu lho dek,ibu sama bapak ke Jakarta bukan jalan-jalan, mereka ke Jakarta untuk nemenin mbak Bila yang sedang dirawat dirumah sakit kok minta oleh-oleh, Ana kasih obat aja tuh bu!"Kaya Rini mencubit pipi Ana karena gemas dengan adiknya itu.


"Ih..kak Rini nih...malas lah,masa oleh-olehnya obat, memangnya Ana sakit,"Ucap Ana sambil cemberut.


"Bagaimana dengan keadaan mbak Bila bu?Kok mbak Bila gak dibawa pulang sekalian? Terus mbak Bila disana sama siapa bu?"Tanya Rini.


"Sabenarnya ibu sama bapak ingin membawa pulang mbakmu, karena ibu sama bapak bingung kalau terus-terusan tinggal di Jakarta,gak enak juga sama pacarnya mbakmu yang selalu mengantarkan makanan gratis untuk kami,dia juga yang sudah membiayai mbakmu berobat hingga terapi,ibu sama bapak juga kepikiran sama kalian berdua."Jelas bu Retno.


"Jadi penasaran pingin lihat pacarnya mbak Bila deh bu, pasti pacarnya mbak Bila orang kaya ya bu? Dia pasti sangat mencintai mbak Bila sampai harus membiayai mbak Bila berobat segala,beruntung banget mbak Bila punya pacar yang sayang sama dia ya bu, semoga mbak Bila bahagia ya bu sama pacarnya.


Rini ikut bahagia mendengarnya, akhirnya mbak Bila mendapatkan laki-laki baik dan sayang sama dia."Ucap Rini merasa bahagia.


"Kak Rini juga, beruntung punya pacar seperti mas Rendi, ganteng,baik,orang kaya lagi."Lanjut Ana memotong pembicaraan kakaknya


"Adek..."Bisik Rini lirih sambil mencubit lengan Ana,ia mengedipkan matanya memberi kode agar tidak membicarakan soal Rendi karena Rini tau kalau bapaknya pasti marah kalau tau dirinya masih menemui Rendi.


"Apaan sih kak Rini nih, sakit tau!"Ucap Ana, nampaknya dia tidak mengerti dengan kode dari kakaknya.

__ADS_1


"Bagaimana keadaan kalian nak?"Tanya bu Retno.


"Baik kok bu, kemarin kita malah habis diundang makan sama pacarnya mbak Rini bu, makanannya enak-enak, Ana aja sampai nambah tiga kali.


Tau gak bu,rumah mas Rendi ternyata bagus banget,besar,halaman rumahnya luas,banyak tanaman bunganya, cantik-cantik lho bu bunganya, mamanya mas Rendi malah nyuruh kita nginep di sana tapi kak Rini gak mau, padahal Ana pingin nginep lho bu, kasurnya empuk banget bu, Ana sempat tiduran dikamar tamu karena ngantuk habis makan sambil nungguin mbak Rini yang masih berduaan sama mas Rendi, terus mbak-mbak yang bekerja disana juga baik-baik semua, mereka yang nemenin Ana tidur di ruang tamu karena disuruh sama tante Citra buat nemenin Ana."Ana terus berbicara dengan semangat menceritakan apa yang ia alami kemarin bersama kakaknya dirumah kedua orang tua Rendi.


"Benarkah itu Rin?"Tanya bu Retno menatap Rini yang sedang menyiapkan makanan di meja makan.


"Iya bu, maaf bu..pak,


Rini gak bisa menolak undangan dari tante Citra untuk makan dirumahnya."Jawab Rini pelan takut kedua orang tuanya marah, karena sebelum kedua orang tua Rini pergi ke Jakarta mereka sempat berpesan untuk tidak menemui Rendi dulu.


"Bagaimana dengan istrinya Rendi Rin,kenapa kamu mau diajak makan dirumah mereka? Bagaimana dengan perasaan istrinya Rendi,katanya orang tua Rendi tidak setuju kamu berhubungan dengan Rendi? Terus kenapa mereka mengundang kalian makan dirumahnya?Bapak gak mau kamu merusak rumah tangga orang ya Rin,kamu gak dengar kata bapak, supaya tidak berhubungan dengan Rendi lagi? Memangnya tidak ada laki-laki lain, kenapa kamu masih juga berhubungan dengan Rendi sih Rin?Dia sudah punya istri lho Rin,kamu jangan pernah berhubungan dengan Rendi lagi Rin, bapak gak suka!"Pak Karta berbicara dengan suara keras terus menyerang Rini dengan banyak pertanyaan membuat Rini jadi bingung sekaligus takut mau menjawab.


Bu Retno mengajak suaminya untuk segera mandi karena badan mereka sudah sangat lengket habis melakukan perjalanan jauh, seharian berada didalam bus membuat badan mereka jadi pegal-pegal dan lengket juga bau keringat.


Akhirnya Rini bisa bernafas lega setelah kedua orangtuanya masuk kedalam kamar mereka.


"Rini,bapak belum selesai berbicara, pokonya kamu harus menjelaskan semuanya ke bapak."Teriak pak Karta yang sudah ada didalam kamarnya.


Deg.


Rini menelan ludahnya sendiri,ia merasa takut dan juga khawatir bapaknya nanti akan marah-marah dengannya setelah ia menceritakan kejadian yang sabenarnya.

__ADS_1


"Kamu sih Na, pakai bilang kita habis diundang makan dirumah kedua orang tua mas Rendi,bapak jadi marah kan?"Ucap Rini lirih kearah Ana.


"Ya.. maaf, Ana gak tau kalau bapak bakalan marah."Ucap Ana menyesal tidak bisa mengendalikan ucapannya.


"Memangnya mas Rendi sudah menikah kak?Tapi kemarin gak ada istrinya mas Rendi,cuma ada tiga mbak yang baik hati,apa jangan-jangan salah satu dari mbak itu ternyata istrinya mas Rendi kak?Kok aneh sih,kalau memang salah satu dari mbak itu istrinya mas Rendi kenapa kemarin gak ikut makan bersama kita kak?"Tanya Ana dengan polosnya membuat Rini jadi tertawa mendengar ucapan Ana.


"Hahaha.."Rini terus tertawa sambil menyiapkan bahan-bahan untuk membuat makanan.


"Kok kakak malah ketawa sih?"Tanya Ana jadi bingung.


"Sudahlah dek jangan ngomongin soal itu,kamu mending bantuin kakak petik sayuran sini,apa kupasin bawang."Perintah Rini.


Terlihat ada sayur kacang panjang yang terlihat segar baru dikeluarkan dari dalam kulkas.


"Okelah kalau begitu."Jawab Ana mengambil sayuran kacang panjang yang ada diatas meja, Ana memetik sayuran itu menjadi kecil-kecil dan dimasukkan kedalam baskom ukuran sedang,lalu ia cuci sayuran mentah itu.


Ana melanjutkan mengiris tempe tipis-tipis untuk digoreng dengan terigu.


Tidak lupa ada makanan favorit mereka berdua yang tidak pernah ketinggalan yaitu ayam goreng.....


Sedangkan Rini menyiapkan bumbu-bumbunya.


Mereka bekerja sama memasak di dapur untuk makan malam bersama kedua orang tua mereka yang baru pulang dari Jakarta.

__ADS_1


Saat Rini sedang menumis bumbu,bu Retno keluar dari dalam kamar,ia berjalan menuju kedapur untuk menemui kedua putrinya yang sedang sibuk memasak.


__ADS_2