
Padahal sudah jam delapan pagi tapi dua pasang suami-istri masih betah didalam selimut tebal sambil berpelukan.
Mereka adalah Rendi-Rini yang masih terlelap tidur karena habis begadang semalaman.
Setelah penuh perjuangan membakar jagung demi untuk memenuhi keinginan istri tercintanya yang pada akhirnya malah dibagikan oleh sang istri kesemua orang penghuni rumah pak Burhan dan bu Citra tanpa ada yang terlewatkan.
Pokoknya sudah seperti abang jualan jagung bakar,malam-malam disuruh bakar jagung. Kirain mau dimakan istrinya semua, eh... malah dibagikan.
Mereka berbincang-bincang hingga larut malam, setelah berada didalam kamar mereka berdua malah bergulat diatas ranjang hingga pagi hari.
"Em..."Rini menggeliat membuka matanya berlahan mencoba untuk bangun tapi tubuhnya tidak bisa digerakkan karena Rendi memeluknya dengan erat.
Rini terkejut saat melihat jam yang menempel di dinding kamarnya ternyata sudah jam delapan pagi.
"Sayang bangun sudah jam delapan."Kata Rini sambil menepuk-nepuk lengan Rendi merasa kaget ternyata sudah siang.
"Em... nanti sebentar lagi yang, masih ngantuk."Jawab Rendi tanpa membuka matanya.
"MAS RENDI KEBANJIRAN..."Teriak Rini membuat Rendi yang sedang enak-enak tidur langsung loncat karena kaget.
"Hihihi..."Rini terkekeh merasa lucu dengan sikap suaminya.
"Em...kamu ya, berani-beraninya kamu mengerjai mas, rasakan ini."Ucap Rendi kembali menindih tubuh istrinya yang masih polos tanpa memakai sehelai benang.
"Ampun mas..ampun....udah ah,ayok kita mandi sudah siang."Ajak Rini.
"Oh... tidak bisa,kamu sudah membangunkan junior aku jadi harus bertanggung jawab."Ucap Rendi tidak mau menyingkir dari tubuh Rini.
"Aduh mas, perutku sakit."Ucap Rini pura-pura.
"Hah.... maaf ya sayang."Ucap Rendi langsung menyingkir dari tubuh Rini dan mengusap lembut perut istrinya yang masih rata.
"Mandi yok."Ajak Rini.
"Ya sudah ayok."Ucap Rendi langsung bangun dan turun dari ranjang.Ia membopong tubuh Rini untuk dibawa kedalam kamar mandi bersamanya,
__ADS_1
Setelah lima belas menit mereka didalam kamar mandi mereka pun keluar juga dengan badan yang sudah kembali segar dan wangi.
***
"Mas, kita ke alun-alun Kajen yok mas,aku pingin makan nasi megono yang ada di alun-alun Kajen lho mas, nyam-nyam...em...
Ya mas ya, nanti kita ke alun-alun Kajen ya terus mampir kerumah ibu sama bapak,aku kangen sama mereka juga Ana."Rengek Rini manja menggoyangkan tangan Rendi yang sedang duduk dipinggir ranjang sambil memainkan handphonenya setelah mereka sudah rapi memakai baju santai karena hari ini Rendi ingin dirumah saja bersama istri tercinta.
"Mas Rendi lagi ngapain ?"Tanya Rini melihat ke layar handphone milik suaminya yang ternyata sedang mengetik pesan untuk seseorang.
"Mas Rendi sedang sms-an sama siapa sih?"Tanya Rini lagi karena suaminya terlihat cuek tidak mendengarkan ucapannya sambil duduk disamping sang suami.
"MAS..!"Teriak Rini ditelinga suaminya karena merasa kesal,ia memutar tubuhnya, duduk membelakangi Rendi sambil memonyongkan bibirnya dengan kedua tangan dilipat kedepan diatas perutnya sendiri.
"Iya sayaaang... aduh apaan sih yang."Teriak Rendi kaget sambil menutup telinganya sendiri karena suara Rini yang keras.
"Mas Rendi gak dengerin aku,hiks...hua...."Rini menangis seperti anak kecil karena merasa dicuekin oleh suaminya.
"Maaf sayang,tadi mas lagi membalas chatting dari teman-teman mas, mereka mengajak ketemuan nanti malam tapi mas gak bisa.Kamu tadi ngomong apa sayang? Jangan ngambek dong nanti ilang cantiknya,duh...cayang-cayangnya mas yang paling cantik dan gemesin...!"Ucap Rendi sambil memeluk tubuh istrinya dari belakang dengan kedua tangannya dilingkarkan ke perut Rini dan mengusap lembut perutnya yang masih rata, sedang kepalanya diletakkan di pundak istri tercintanya itu,ia mencium pipi istrinya dengan lembut.
"Maafin mas ya sayang, kamu tadi minta apa? Tanya Rendi sambil melepas pelukannya, Kedua tangan Rendi memegang pundak Rini, dengan pelan ia putar tubuh Rini kembali untuk menghadap kearahnya.
"Ya sudah ayok kita ke Kajen sekarang, mumpung sekarang mas lagi gak ke konveksi, besok mas ke konveksi-nya sekalian mau membagikan gaji para karyawan konveksi.Ayok kita turun dulu,mama sama papa pasti sudah menunggu kita dibawah untuk sarapan bareng."Ajak Rendi mengusap air mata Rini dengan jarinya lalu Rendi menggenggam tangan Rini dengan lembut mengajak keluar dari kamar dan berjalan menuruni tangga kelantai satu.
Sesampai di bawah ternyata kedua orang tuanya sudah berada di ruang makan menunggu mereka turun untuk sarapan bersama.
"Selamat pagi ma..pa..!"Sapa Rendi dan Rini bersamaan.
"Selamat pagi sayang,ayok sarapan dulu sini,mama sama papa dari tadi nungguin kalian berdua lama banget sih turunnya."Ucap bu Citra.
"Maaf ma, tadi Rendi lagi cattingan sama teman-teman Rendi, mereka ngajak Rendi ketemuan nanti malam tapi Rendi menolaknya karena Rendi gak mau ninggalin bidadari Rendi ini ma."Kata Rendi menjelaskan sambil melirik kearah istrinya yang sedang menundukkan kepalanya mungkin karena malu, mereka duduk dikursi berhadapan dengan kedua orang tua Rendi.
"Ehem..."Bu Citra berdehem menggoda.
"Ren, nanti sore mama sama papa berangkat ke Jakarta dulu ya, bantu nenek mempersiapkan acara pernikahan om kamu yang tinggal dua hari lagi, besok kamu kesana-nya setelah kamu memberikan gaji para pekerja konveksi." Perintah pak Burhan memecahkan suasana.
__ADS_1
"Kamu juga harus kasih mereka bonus karena seminggu ini mereka sudah mau lembur buat menyelesaikan jaitan yang akan dikirim ke Batam,para pekerja konveksi yang ada di daerah Wonopringgo juga harus kamu kasih bonus juga ya Ren,papa sudah dua bulan gak pernah memberikan bonus kepada para pekerja disana."Lanjut pak Burhan memerintahkan anak semata wayangnya.
"Iya pa, nanti Rendi bakal kasih mereka bonus karena mereka sudah menyelesaikan pekerjaan mereka dengan sangat baik.Semua baju yang kita kirim didaerah Batam,Bali dan Jakarta semua diterima dengan baik tidak ada satupun pelanggan yang komplain."Jelas Rendi.
"Kalian nanti berangkat berdua saja? Kenapa gak bareng aja nanti bareng Rendi saja pa setelah Rendi memberikan gaji para pekerja."
"Kasihan nenekmu harus mengurus semuanya sendiri,kan calon istrinya om kamu masih belum bisa jalan sama seperti papa jadi belum bisa bantu nenekmu."Jelas pak Burhan.
"Papa gak apa-apa cuma berdua sama mama?"Tanya Rendi.
"Ealah Ren, biasanya kita kalau mau kemana-mana juga cuma berdua."Jawab bu Citra.
"Tapi kan sekarang papa lagi sakit ma."Jawab Rendi.
"Kamu lupa, kan mama bisa nyetir mobil."Jelas bu Citra.
"Nanti kita diantar sama pak Rudi."Sambung pak Burhan memberitahu.
"Oh..ya sudah kalau ada pak Rudi, kirain mama cuma berdua sama papa."Kata Rendi merasa lega.
"Em.. maaf ma,pa,kami ajak mbak Er ikut bersama kami ke Jakarta boleh tidak?"Tanya Rini ragu.
"Hem... memangnya mbak Er mau?"Tanya balik bu Citra.
"Mau kok ma, semalam Rini sudah bicara sama Inul,eh.. maksud aku mbak Er,mbak Er-nya mau kok ma."Jawab Rini.
"Ya sudah gak apa,malah nanti mbak Er bisa bantu disana."Kata bu Citra setuju.
"Jadi boleh ma, Rini ajak mbak Er?"Tanya Rini terlihat sangat bahagia.
"Iya sayang,yang penting kamu senang."Kata bu Citra sambil tersenyum menatap wajah menantunya yang pipinya sudah mulai tembem karena doyan makan semenjak hamil.
"Hari ini kamu pingin makan apa nak? Biar suamimu nanti suruh beliin."Tanya bu Citra.
"Kita nanti mau ke Kajen ma, Rini lagi pingin makan nasi megono yang ada di alun-alun Kajen."Rendi yang menjawab pertanyaan mamanya yang seharusnya ditujukan kepada Rini.
__ADS_1
"Oalah...ya sudah sana pergi sekarang saja mumpung masih pagi, kalau siang-siang takutnya nasi megono-nya sudah habis."Perintah bu Citra.
"Kalau begitu kami pamit ma,pa."Ucap Rendi langsung bangun dari duduknya diikuti Rini, mereka mencium punggung tangan kedua orang tua itu bergantian.