
"Alhamdulillah... kenyangnya."Ucap Rini setelah menghabiskan mie instan yang seharusnya buat dua orang,tapi dengan begitu lahapnya ia makan sendirian tanpa ada yang tersisa.
Bahkan sampai kuahnya pun habis ludes tak ada yang tersisa setetes pun.
"Hah....mie segitu banyaknya habis yang?"Tanya Rendi sambil melihat kearah mangkuk yang ada didepan Rini, Rendi menelan ludahnya sendiri merasa kaget saat melihat isi mangkuk berukuran besar yang tadi berisi penuh mie instan campur sayuran dan telor ayam ternyata sudah kosong.
"Sudah mas, tapi tunggu sebentar mas, Rini cuci dulu mangkuk sama panci bekas bikin mie tadi."Kata Rini bangun dari duduknya sambil mengangkat mangkuk untuk dibawa ketempat cucian piring.
"Sudah biarkan saja yang,biar mbak besok yang beresin,ayok kita kembali kekamar."Kata Rendi ikut bangun dari duduknya ia menghentikan langkah kaki istrinya,ia mengambil mangkuk yang dipegang istrinya dan diletakkan diatas meja makan lagi.
"Mas Rendi..gak boleh seperti itu hiks...."Rini malah menangis saat mangkuk yang ia pegang diminta dengan paksa oleh suaminya.
"Lha sih... kok malah nangis?"Rendi jadi bingung.
"Mas Rendi jahat,hiks...aku sebel sama mas Rendi, pokoknya kita beresin dulu mangkuk sama panci itu, hiks..."Teriak Rini sambil menangis.
"Ya ampun yang,ya sudah ayok kita beresin dulu mangkuk sama panci kotor itu."Kata Rendi dengan suara lembut mengambil mangkuk yang tadi diletakkan di atas meja makan,ia membawa mangkuk itu ketempat cucian piring bersama dengan panci dan perabotan yang lain bekas istrinya memasak mie instan.
Rini yang tadi sedang menangis langsung tersenyum bahagia melihat sikap suaminya yang menuruti keinginannya.
Ia membantu suaminya membersihkan dapur yang sedikit berantakan bekas ia masak mie instan.
"Nah..sekarang sudah rapih,kita kekamar lagi yok!"Ajak Rendi merangkul pundak istri setelah mereka membersihkan dapur dan mencuci mangkuk,panci dan perkakas lain yang kotor.
"Makasih mas,cup..."Rini mencium singkat pipi suaminya lalu melingkarkan tangannya di pinggangnya.
"Em... istriku sekarang jadi genit ya."Ucap Rendi tersenyum melihat istrinya sambil menarik hidungnya karena merasa gemas.
"Sayang...mas mau minta upah karena sudah menemani kamu makan."Bisik Rendi lirih ditelinga Rini.
"Upah?"Tanya Rini bingung.
"Iyalah "Jawab Rendi singkat.
"Tapi aku kan gak punya uang mas, bagaimana aku kasih mas Rendi upah."Ucap Rini dengan polosnya.
"Siapa bilang mas mau uang,mas mau upah yang lain lah."Jawab Rendi.
"Em .."Rini menyipitkan matanya sambil menggaruk kepalanya terlihat bingung.
Hap...
Rendi langsung membopong tubuh Rini agar cepat sampai kekamar mereka.
"Aaa.."Teriak Rini kaget.
__ADS_1
"Hus..jangan berisik yang, nanti membangunkan seisi rumah dengar suara kamu."Kata Rendi sambil berjalan.
Dikecupnya bibir Rini dengan lembut.
"Pipimu sekarang jadi seperti bakpao yang, badanmu kadi semakin berat,tapi mas suka lihat perubahan kamu sekarang,kamu jadi lebih gemesin ,mas jadi pingin peluk kamu terus, soalnya jadi lebih terasa,he...he...."Kata Rendi setelah mencium bibir istrinya.
"Hem..."Rini hanya tersenyum malu,ia menempelkan kepalanya di dada Rendi, sedangkan kedua tangannya ia lingkarkan di leher suaminya itu.
Dengan hati-hati Rendi membuka pintu kamarnya dengan menggunakan siku tangannya,lalu ia menutup pintu kamarnya lagi dengan menggunakan kaki dia.
Diletakkan tubuh Rini dengan hati-hati diatas kasur.
"Kamu harus bertanggung jawab sudah buat mas tidak bisa tidur lagi."Ucap Rendi kembali mencium bibir istrinya dengan lembut.
Ia langsung naik keatas kasur disamping istrinya, Rendi memperdalam ciumannya saat merasakan ada balasan dari istrinya.
Sedangkan kedua tangannya berusaha melepas kancing daster milik istrinya satu persatu hingga terbuka semua.
Akhirnya mereka melakukan olahraga malam dengan begitu lembut, entah kenapa kali ini Rendi ingin melakukannya dengan begitu lembut padahal biasanya ia melakukannya dengan begitu ganas sampai Rini ampun-ampun karena tubuhnya terasa remuk melayani suaminya yang sangat perkasa dan bertenaga. Setelah satu jam mereka bergulat diatas kasur,mereka tertidur lagi dengan pulas karena sama-sama merasa lelah hingga pagi hari.
Keesokan paginya Rendi yang sudah bangun duluan memandangi wajah istrinya yang masih terlelap tidur, disingkirkan rambut yang menutupi wajah ayu istrinya,
ia tersenyum memandangi wajah istrinya yang terlihat sangat menggemaskan seperti anak kecil saat sedang tidur,dikecupnya dengan lembut bibir istrinya membuat Rini yang sedang terlelap tidur menggeliat saat merasakan ada benda kenyal yang menempel di bibirnya.
"Em..."Rini menggeliat sambil mengeluarkan suara tapi belum mau membuka kedua matanya.
"Em..bentar lagi mas,masih ngantuk,aku capek banget."Kata Rini masih belum mau membuka matanya.
"Mandi dulu yok,sudah subuh lho yang."Bisik Rendi lirih.
"Em..."Rini menyingkirkan tangan Rendi yang sedang mengusap pipinya,ia membalikkan badannya lalu kembali tertidur dengan pulasnya.
"Ya sudah."Jawab Rendi tidak mau mengganggu tidur istrinya, dikecupnya pipi Rini dari belakang lalu ia langsung turun dari ranjang bergegas kekamar mandi untuk membersihkan diri hendak melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslim melaksanakan ibadah shalat subuh.
Tidak lama ia keluar dari dalam kamar mandi dengan hanya memakai handuk yang dililitkan di pinggangnya.
Dilihatnya istrinya yang ternyata masih tertidur dengan pulas.
Ia mengambil bajunya didalam lemari pakaian.
Hanya membutuhkan waktu sebentar ia sudah terlihat rapih memakai kemeja panjang, sarung dan tidak lupa memakai peci.
Lalu ia segera melaksanakan ibadah shalat subuh karena sudah sangat terlambat.
Rendi menoleh kebelakang setelah selesai sholat subuh, dilihatnya istrinya yang ternyata masih belum berniat bangun.
__ADS_1
Rendi yang sedang duduk diatas sajadah langsung bangun, ia melepas peci dan Sarungnya,lalu dirapihkan kembali sajadah dan diletakkan perlengkapan sholatnya diatas kursi.
Dengan hati-hati Rendi berjalan menghampiri istrinya yang masih berbaring diatas kasur.
Cup...
Rendi mengecup bibir mungil milik istrinya sambil berjongkok.
"Em...mas Rendi."Rini menggeliat lalu membalikkan badannya membelakangi suaminya.
"Ealah... masih belum bangun toh..."Ucap Rendi, akhirnya iapun menyerah tidak mau mengganggu tidur istrinya yang terlihat begitu nyenyak.
Rendi pun keluar dari kamarnya membiarkan istrinya tidur.
"Istrimu mana Ren?"Tanya bu Citra yang sedang duduk di kursi meja makan bersama dengan pak Burhan saat melihat anaknya keluar dari dalam kamar hanya seorang diri.
"Masih tidur ma."Jawab Rendi jujur.
"Apa dia sakit sayang?"Tanya bu Citra.
"Enggak ma,cuma sikapnya akhir-akhir sedikit aneh ma."Kata Rendi sambil duduk di kursi.
"Aneh bagaimana Ren?"Tanya pak Burhan bingung.
"Makan Rini sudah tiga hari ini seperti orang sedang kesurupan pa,semalam aja padahal baru jam dua malam,dia minta ditemenin makan katanya lapar.
Dan tau gak pa,ma, Rini masak mie sampai dua bungkus, sudah pakai sayuran, telor dua butir sampai penuh satu mangkuk besar.
Ternyata dia mampu menghabiskan makanan sebanyak itu sendirian.
Jangan-jangan dia kesurupan ma,kita harus cari orang pintar secepatnya ma, takut terjadi sesuatu sama Rini."Kata Rendi memberitahu tentang perubahan istrinya.
"Hah... jangan-jangan....em..yes, hihihi..."Bu Citra malah tertawa cekikikan mendengar ucapan dari anak semata wayangnya.
"Lho..mama kok malah ketawa sih?Orang Rendi lagi khawatir mama malah kesenangan."Protes Rendi.
"Kamu gak usah khawatir, istrimu gak apa-apa, nanti siang kamu ajak istrimu ke dokter Lili saja Ren,nanti kamu akan tau kenapa istrimu makannya banyak,dia lagi kasih makan dua nyawa."Kata bu Citra memberitahu.
"Hah..jadi bener ma,kalau Rini kesurupan?"Tanya Rendi kaget.
Pletak ..
Bu Citra menjitak kepala Rendi.
"Haduh ma...kok kepala Rendi malah di-jitak sih ma, sakit lho ma."Kata Rendi mengusap kepalanya sendiri.
__ADS_1
"Sembarangan kalau ngomong.
Sudah jangan protes, pokoknya nanti siang kamu ajak istrimu ke tempat dokter Lili saja."Kata bu Citra tidak mau dibantah.