Ketulusan Cinta Rini 2

Ketulusan Cinta Rini 2
Di bawa ke rumah sakit.


__ADS_3

"Ini bagus gak Nul?"Tanya Rini memperlihatkan satu set baju bayi ke Inul.Mereka sudah kembali berbicara seperti dua orang sahabat bukan asisten rumah tangga dengan majikannya.


"Wow lucunya...bagus Rin."Jawab Inul tidak memanggil dengan sebutan non lagi sesuai janjinya ke Rini jika mereka sedang berdua saja memanggil namanya saja karena Rini tidak mau dipanggil non.


"Lihat...yang itu juga bagus."Ucap Inul menunjukkan baju bayi yang lain.


"Ya udah deh, dua-duanya aku ambil."Lanjut Rini.


Saat mereka sedang asyik memiliki baju bayi tiba-tiba mereka bertemu dengan seseorang yang juga sedang memilih baju bayi di toko itu.


"Eh...lo!"Ucap perempuan itu kaget.


"Non Siska?"Kata Inul gak kalah kagetnya saat melihat wajah perempuan yang ada didepannya.


"Non Siska sedang hamil juga?"Tanya Inul menatap perut Siska yang juga buncit tapi tidak sebesar perut Rini.


"Ehem...iya, memang kenapa?"Jawab Siska gugup.


"Wah...selamat ya mbak."Ucap Rini mengulurkan tangannya untuk memberikan selamat,tapi dengan kasar Siska menepis tangan Rini dan mendorongnya.


"Non Siska, kasar sekali anda dengan non Rini."Kata Inul memegang lengan atas Rini.Menahn tubuh Rini agar tidak terjatuh.


"Heh...."Siska tersenyum sinis kearah mereka lalu pergi begitu saja tanpa berbicara sepatah katapun.


"Ih... amit-amit jabang bayi... ucapin amit-amit jabang bayi Rin,biar anak kamu gak seperti perempuan itu!"Perintah Inul sambil mengusap lembut perut Rini.


"Ternyata mbak Siska juga sedang hamil, berarti dia sudah nikah lagi. Alhamdulillah kalau begitu lah ya Nul."Ucap Rini bersyukur berarti sudah tidak ada yang mengganggu rumah tangganya lagi.


"Aku kok malah curiga tuh anak punya bapak atau tidak."Jawab Inul.


"Hus..kamu tuh Nul,gak boleh ngomong seperti itu,ayok kita bayar baju ini terus kita lanjut nyari perlengkapan yang lain."Ajak Rini berjalan menuju kasir untuk membayar baju bayi yang ia pilih bersama Inul.


"Capek juga ya Nul, kita pulang saja yok!"Ajak Rini sambil memegangi pinggangnya yang pegal.


"Kamu gak apa-apa kan Rin?"Tanya Inul khawatir.

__ADS_1


"Enggak apa-apa Nul,cuma agak pegal saja.


"Ya sudah ayok kita pulang,sini belanjaannya biar aku yang bawa."Inul meminta kantong plastik berisi belanjaan yang dipegang Rini.


"Udah gak apa-apa Nul,ini gak berat kok,kamu kan sudah bawa banyak belanjaan."Ucap Rini menatap Inul yang terlihat kesusahan membawa beberapa kantong plastik yang berisi belanjaan keperluan bayinya nanti dan juga keperluan untuk mandi seperti sabun, sampo, tisu dan masih banyak lagi.


"Sebentar ya Rin,aku cari taksi dulu."Kata Inul setelah mereka berada diluar mall, Inul meletakkan belanjaannya dan berlari memanggil taksi yang biasa mangkal didepan mall.


"Auw...." Saat sedang berdiri menunggu Inul memanggil taksi tiba-tiba ada yang mendorong Rini dari belakang hingga terjatuh.


"Aduh..."Rini memegangi perutnya,ia menoleh kebelakang terlihat seorang perempuan sedang tersenyum licik kearahnya.


"Syukurin lo!"Ucap perempuan itu langsung pergi meninggalkan Rini. sedang kesakitan.


"Tolong...."Rini berteriak meminta tolong sambil menahan sakit.


"Tolong...."Suara Rini melemah, dan akhirnya ia pingsan setelah melihat ada darah dikakinya,ia mengeluarkan banyak darah akibat terjatuh tadi.


Terlihat beberapa berlarian menghampiri Rini yang sudah tergeletak dilantai tidak sadarkan diri dengan banyak darah.


Inul yang baru datang dengan naik taksi langsung berlari saat melihat ada banyak orang berkerumun ditempat majikannya tadi berdiri.


"Gak tau mbak, saat kami lihat dia sudah seperti ini."Jawab seorang perempuan paruh baya yang ada disana.


"Ayok cepetan kita langsung bawa dia ke rumah sakit."Kata supir taksi yang ikut keluar melihat keadaan korban. supir taksi yang terlihat masih muda langsung membopong tubuh Rini dibawa masuk kedalam mobil taksinya diikuti oleh Inul sambil membawa belanjaan masuk kedalam taksi.


Supir taksi itu langsung menjalankan mobilnya pergi kerumah sakit terdekat.


"Rin... maafin aku Rin,hiks... bangun Rin,apa yang terjadi kenapa bisa seperti ini?"Ucap Inul sambil terisak mengusap lembut kepala Rini yang diletakkan di pangkuannya.


"Cepetan pak, hiks...!"Lanjut Inul sambil terisak.


Hanya membutuhkan waktu sebentar akhirnya mereka sampai dirumah sakit.


"Aduh Nul perutku sakit."Kata Rini kesakitan setelah ia sadar dari pingsannya.

__ADS_1


"Iya sebentar ya Rin, kita sudah sampai rumah sakit, para perawat itu akan membawa kamu untuk diperiksa.


Terlihat beberapa perawatan laki-laki dan perawat perempuan berlarian sambil mendorong brankar dorong setelah pak supir taksi memanggil mereka karena ada pasien yang membutuhkan pertolongan.


Dengan hati-hati para perawat laki-laki itu membopong tubuh Rini untuk keluar dari dalam mobil dan dengan hati-hati pula diletakkan di atas brankar dorong.


"Aduh... sakit...."Ucap Rini sambil memegangi perutnya yang dengan kakinya yang sudah dipenuhi darah.


"Hiks...hiks... bertahanlah Rini."Ucap Inul sambil menangis tidak tega melihat keadaan majikannya yang sudah menganggapnya sebagai saudara bukan sebagai asisten rumah tangga.


"Maaf mbak, silahkan mbaknya tunggu disana saja ya,biar pasien kami yang menangani."Kata salah satu dari perawat perempuan sambil menunjuk tempat duduk yang ada di depan ruangan persalinan.


Tidak lama terlihat seorang dokter perempuan berlarian memasuki ruang persalinan.


"Oh...aku harus telpon den Rendi."Kata Inul mengusap air matanya,ia mengambil handphone dia yang ada didalam tas kecil miliknya.


Dengan tangan bergetar ia memencet tombol handphone berusaha menghubungi nomor Rendi.


"Haduh...Den... angkat telponnya...!"Kata Inul lirih karena nomor yang ia hubungi tidak diangkat oleh pemiliknya.


Inul mengulangi panggilannya yang tidak diangkat oleh Rendi.


Setelah melakukan panggilan telepon sampai tiga kali akhirnya Rendi mengangkat panggilan telpon darinya.


"Halo Den,Den...Non Rini Den...!"Kata Inul dengan suara gugup setelah panggilan telponnya diangkat oleh Rendi.


"Rini kenapa mbak?Apa yang terjadi dengan istri aku mbak?"Tanya Rendi dipanggilan telpon terdengar sangat khawatir.


"Non Rini...hiks..."Inul malah menangis membuat Rendi jadi semakin khawatir.


"Mbak Inul tolong bicara yang benar,apa yang terjadi dengan Rini?"Bentak Rendi nampak marah.


"Non Rini...non Rini masuk rumah sakit Den Rendi,hiks...."Jawab Inul sambil menangis dengan suara bergetar.


"Apa yang terjadi dengan Rini mbak?Ada di rumah sakit mana?"Tanya Rendi sangat khawatir.

__ADS_1


"Di rumah sakit Xx...."Jawab Inul memberitahu dimana saat ini mereka berada.


Rendi langsung mematikan panggilan telpon dari Inul dan bergegas pergi ke rumah Sakit yang dikatakan oleh asisten rumah tangganya itu.


__ADS_2