
"Maaf, Sebaiknya bapak jangan menemuinya dulu, agar kondisi pasien cepat pulih, karena dia sepertinya tidak ingin bertemu dengan anda, jika anda memaksa untuk menemuinya,itu malah akan membuat keadaan pasien menjadi bertambah buruk."Kata dokter memberitau setelah selesai memeriksa keadaan Salsabila.
"Sebegitu benci kah lo sama gue Sa? Maaf Sa... hiks..."Ucap Agung sambil terisak.
Memangnya apa yang sudah nak Agung lakukan sama putri bapak nak? Kenapa dia tidak Mau bertemu dengan nak Agung?"
"Maaf pak, sabenarnya siang itu dia salah paham."Jawab Agung.
Lalu Agung menceritakan kejadian yang sabenarnya,dimana mantan pacar Agung yang bernama Nadia tiba-tiba datang ke pabrik, Nadia ingin mereka bersama lagi seperti dulu tapi Agung menolaknya karena ia akan menikah, Nadia terus merengek minta agar Agung tidak meninggalkan dirinya.
Dia menarik tangan Agung dan mencium bibir Agung secara tiba-tiba, dan saat bersamaan Salsabila masuk kedalam ruang kerjanya.
Kecelakaan itu terjadi karena Salsabila marah dengan Agung,ia terus berlari tanpa melihat kejalan dan akhirnya ia tertabrak.
"Ini semua salah Agung pak,bu,hiks.."Ucap Agung sambil terisak,keadaannya terlihat sangat kacau.
Hati Agung terasa sakit, perempuan yang sangat dicintai tidak mau bertemu dengan dirinya.
"Kamu yang sabar nak Agung, ibu yakin kalau hati Bila sudah tenang dia pasti menerima kamu kembali."Bu Retno memberi semangat laki-laki yang dekat dengan putrinya yaitu Salsabila.
Satu minggu telah berlalu, keadaan Salsabila sudah mulai ada perkembangan.
Agung setiap hari sebelum dan sesudah pulang dari pabrik selalu berkunjung ke rumah sakit untuk melihat keadaan kekasihnya tapi ia hanya bisa melihat kekasihnya itu dari luar ruangan melalui kaca yang ada di ruang Bila dirawat.
Semakin hari keadaan Salsabila semakin membaik,ia sudah mulai bisa menggerakkan tangan dan badannya.
"Bu.. kenapa dengan kaki Bila bu, kenapa kaki Bila tidak bisa di gerakkan."Kata Salsabila saat ia tidak bisa menggerakkan kedua kakinya.
Sontak membuat bu Retno dan pak Karta yang berada disana saling bertatapan.
"Bu..apa yang terjadi dengan kedua kaki Bila bu? Bila gak merasakan apa-apa."Ucap Bila dengan kedua mata berkaca-kaca,ia menyibakkan selimut yang menutupi kedua kakinya.
"Pak...kaki Bila pak,hiks...! Tangis Bila pun pecah sambil menatap kedua kakinya.
"Sayang... jangan nangis nak,kakimu paling cuma keram."Kata ibu memeluk tubuh Salsabila.
"Sebentar ya nak, bapak panggil dokter."Pak Karta bergegas keluar untuk memanggil dokter.
"Ndak apa-apa sayang,paling karena kamu terlalu lama rebahan diatas ranjang jadi kakimu lemas."Kata bu Retno menggenggam tangan putrinya dengan lembut berusaha menenangkan dia.
Setelah cukup lama menunggu akhirnya pak Karta datang lagi bersama dengan seorang dokter.
Terlihat dokter memeriksa kedua kaki Salsabila,ia mengetuk-ngetuk lutut Salsabila dengan menggunakan sebuah sendok makan tang ada diatas meja yang ada didalam kamar Salsabila dirawat.
__ADS_1
Tuk..tuk..
Dokter memukul lutut Salsabila beberapa kali dengan sendok makan tapi tidak ada reaksi apapun dari Salsabila.
"Sakit?"Tanya dokter.
Salsabila menggelengkan kepalanya.
Tok..tok..
Dokter itu mengulangi mengetuk Kedua lutut Salsabila lebih kuat,tapi tidak ada reaksi apapun dari Salsabila.
"Saya tidak merasakan apa-apa dok!"Kata Salsa.
Dokter itupun menghentikan mengetuk Kedua lutut Salsabila karena tidak mendapat respon dari pasiennya.
"Bisakah kita bicara sebentar pak,bu,ada yang ingin saya bicarakan.", Ucap dokter itu.
"Iya dok."Jawab pak Karta singkat.
Ia bersama istrinya mengikuti langkah kaki dokter itu menuju ruangannya.
"Maaf pak,ada yang ingin saya sampaikan.
Maaf pak ,bu,pasien yang bernama Salsabila mengalami kelumpuhan."Kata dokter itu memberitahu.
"Apa dok?Lum..lumpuh dok?"Tanya pak Karta dan bu Retno bersamaan.
"Iya pak,bu,tapi tidak permanen kok, pasien bisa di sembuhkan asal rajin terapi."Jawab dokter.
Mereka pun berjalan untuk kembali ketempat Salsabila saat ini berada setelah berbicara dengan dokter.
"Bagaimana ini pak? Terapi kan mahal,darimana kita mendapatkan uang sebanyak itu."Kata bu Retno sedih sambil berjalan.
"Tenanglah bu,bapak akan bekerja keras demi kesembuhan Bila."Jawab pak Karta menguatkan istrinya yang terlihat sedih dan putus asa.
"Bapak."Panggil seseorang dari belakang mereka.
Pak Karta dan istrinya menoleh kebelakang, terlihat Agung bersama kedua orang tuanya berjalan menghampiri mereka.
"Nak Agung,pak,bu."Ucap bu Retno.
"Bagaimana keadaan Salsabila bu?"Tanya Agung setelah berada didepan kedua orang tuanya Salsa.
__ADS_1
Terlihat wajah bu Retno yang berubah sendu.
"Ada apa bu?Kok wajah ibu terlihat murung?Apa terjadi sesuatu dengan calon mantuku?"Tanya nenek menatap wajah bu Retno penuh selidik.
"Bila lum...puh bu,hiks.."Jawab bu Retno sambil terisak tidak sanggup menahan air matanya lagi.
"Lumpuh?"Agung dan kedua orangtuanya nampak terkejut.
"Kamu yang sabar ya ibunya Bila,kita berdoa saja semoga Bila bisa disembuhkan."Nenek memeluk tubuh bu Retno yang terlihat sangat sedih.
"Kata dokter lumpuhnya hanya sementara,dia bisa di sembuhkan dengan rajin terapi."Lanjut pak Karta.
"Agung ingin menemui Salsa,tapi sepertinya Salsa belum mau bertemu dengan Agung,ini semua salahku,bodoh..aku memang bodoh."Kata Agung dengan wajah sedih menyalahkan dirinya sendiri.
"Sabarlah nak, nanti bapak coba memberi pengertian untuk dia,tapi untuk saat ini bapak minta kamu untuk bersabar,"Ucap pak Karta.
"Sudahlah Gung, kamu jangan terus-terusan menyalahkan dirimu sendiri, tenangkan dirimu sendiri."Kata kakek menepuk pundak anaknya.
"Iya nak Agung benar kata bapakmu.
Ya sudah ayok kita temui Salsabila, kasihan dia sendirian didalam sana."Ajak pak Karta.
Kedua orang tua Salsabila dan kedua orangtuanya Agung masuk kedalam kamar pasien yang ditempati Salsabila.
Agung menghentikan langkahnya saat mereka sudah sampai didepan pintu kamar pasien yang ditempati Salsabila.
"Ayok nak sebaiknya kamu ikutlah masuk bersama kita."Ajak bu Retno.
"Tapi bu, Salsa..."Ucap Agung ragu-ragu,bu Retno tersenyum menatap Agung dan akhirnya Agung masuk kedalam untuk menemui pujaan hatinya.
"Pak,bu,nenek,kakek."Panggil Salsabila menatap satu persatu empat orang tua yang sedang berjalan mendekatinya.
Ia langsung memalingkan wajahnya saat melihat seorang pemuda tampan yang berada dibelakang bu Retno.
Dengan langkah cepat bu Retno menghampiri putrinya.
"Sayang...nak Agung sangat merindukanmu sayang,kamu jangan bersikap seperti itu."Bisik bu Retno lirih ditelinga Salsabila .
Salsabila hanya bisa menunduk tidak berani berkata apa-apa.
"Apa kata dokter tadi,bagaimana dengan kaki Bila bu? Kenapa kaki Bila tidak bisa di gerakkan."Ucap Salsabila menatap serius kearah ibunya.
Tampak kedua mata bu Retno berkaca-kaca lalu memeluk tubuh Salsabila dengan erat.
__ADS_1