
Di Pekalongan.
"Mas Rendi.. jagungnya gosong itu,aku gak mau yang gosong,bakar lagi."Rengek Rini manja.
"Aduh yang,ini udah yang ketujuh lho yang,masa salah terus sih?"Tanya Rendi sudah mulai frustasi karena sudah membakar jagung sampai tujuh kali selalu salah,selalu dibilang kegosongan oleh istrinya.
Dua jagung sebelumnya yang sudah berhasil ia bakar meskipun agak gosong, Rini memberikannya kepada kedua satpam yang sedang berjaga didepan.
"Ini tinggal satu lagi lho yang, pokoknya harus pas,aku gak mau gosong lagi."Rengek Rini.
"Duh Gusti maha Agung...sabar..sabar."Ucap Rendi sambil mengelus dadanya sendiri menghadapi istrinya yang mendadak cerewet dan manja, mungkin karena dia lagi hamil muda sikapnya jadi berubah, yang tadinya mandiri jadi manja, untungnya Rendi menyadari akan hal itu.
"Mbak Er... Caca...mbak Juju...sini!"Teriak Rini memanggil para asisten rumah tangga mereka untuk bergabung.
"Iya non..."Ucap mereka sampai berlari menghampiri kedua majikannya yang sedang berada dihalaman rumah sambil membakar jagung.
"Ini buat kalian."Kata Rini menyerahkan tiga jagung bakar untuk ketiga perempuan yang sudah bertahun-tahun bekerja dirumah kedua orang tua Rendi.
"Oalah.. makasih non."Jawab mereka menerima jagung bakar yang sedikit gosong.
"Kok bilang makasih-nya cuma sama istri aku aja sih mbak?Yang bakar kan aku mbak bukan dia, dia tuh dari tadi cuma liatin aja,yang capek bakar tuh aku mbak-mbak."Protes Rendi sambil membakar jagung yang terakhir.
"He..he...iya den, maaf.
Terimakasih ya den Rendi."Kata Inul sambil ketawa kecil diikuti oleh dua temannya yaitu Caca dan Juju.
Rini mengusap lembut keringat di-kening Rendi dengan menggunakan telapak tangannya.
Rendi menoleh kearah istrinya sambil tersenyum.
"Makasih sayang.."Ucap Rendi sambil tersenyum menatap wajah istrinya yang sangat manis.
"Duh.. den Rendi sama non Rini bikin ngiri deh."Ucap Inul menggoda sepasang suami-istri yang terlihat romantis.
" Aku juga pingin punya pasangan romantis seperti den Rendi lah."Ucap Inul lagi.
"Memangnya kamu sudah punya pacar Nul?"Tanya Rini menatap Inul.
__ADS_1
"He..he..belum non."Jawab Inul jujur sambil tertawa kecil.
"Kalau begitu besok kamu ikut kita aja ke Jakarta menghadiri acara pernikahan om Agung dan mbak Bila, siapa tahu aja disana nanti kamu dapat kenalan."Ucap Rini.
"Ah..gak lah, malu non."Jawab Inul sambil tersenyum malu.
"Gak apa-apa,boleh ya mas, Inul ikut ke Jakarta bareng kita."Ucap Rini manja ke suaminya.
"Terserah kamu saja yang."Jawab Rendi.
"Yes..kamu ikut kita besok Nul, Caca sama mbak Juju gak apa-apa kan,mbak inul-nya aku ajak ke Jakarta?"Tanya Rini ke kedua teman asisten rumah tangga yang lain.
"Gak apa-apa kok non, kita malah seneng malah berharap semoga Inul dapet jodoh nanti disana, hehehe..."Jawab Juju dengan wajah ceria.
"Iya bener non, nanti Inul dikenalkan sama teman non Rini yang baik dan ganteng ya non,yang romantis juga seperti den Rendi."Lanjut Caca.
"Ih.. kalian apaan sih..!"Ucap Inul dengan wajah yang terlihat merah karena malu.
"Oke..siip..!"Jawab Rini sambil menunjukkan jempolnya ke arah kedua teman Inul.
"Sudah matang nih yang, jangan bilang ini juga kegosongan lho yang,mas nyerah deh kalau mas disuruh cari jagung lagi dan disuruh bakar lagi."Ucap Rendi menyerahkan jagung bakar ke istrinya yang sedang berbincang-bincang dengan para asisten rumah tangganya.
"Sayang kamu juga makan."Kata Rini dengan hati-hati melepas biji jagung dan menyuapkan ke-mulut suaminya.
Rendi langsung melahap jagung bakar yang disuapkan oleh istrinya ke-mulut dia.
"Enak tidak?"Tanya Rini sambil tersenyum menatap wajah suaminya yang terlihat sangat kelelahan.
"Enak dong..ini kan mas yang bakar dengan penuh cinta."Jawab Rendi dengan bangganya.
"Iya sayang, makasih ya."Ucap Rini kembali menyuapkan jagung bakar ke-mulut suaminya.
"Kok mas terus yang disuapin sih yang,sini kamu juga makan,kan kamu yang pingin makan jagung bakar."Kata Rendi meminta jagung bakar yang ada ditangan istrinya dan dengan hati-hati melepas biji jagung yang masih panas dari tempatnya dan menyuapkan ke-mulut istrinya.
Ketiga perempuan yang ada disamping mereka hanya bisa tersenyum merasa bahagia melihat keromantisan kedua majikanya itu.
"Lho..kok kalian pada makan jagung bakar kok mama sama papa gak dikasih sih?"Tanya bu Citra yang tiba-tiba keluar dengan pak Burhan yang berada diatas kursi roda.
__ADS_1
"Eh mama,papa,ini ma..pa.. masih tinggal satu lagi."Jawab Rini terkejut melihat kedua mertuanya yang tiba-tiba ada dibelakang mereka.
"Yah..cuma tinggal satu nih,Menang kamu beli jagung berapa Ren?Kok mama cuma kebagian satu sih, gosong lagi."Ucap bu Citra.
"Gak apa lah ma,satu untuk berdua biar romantis kayak Rendi nih ma..., Rendi cuma beli delapan soalnya,tapi sudah dibagi-bagi sama tuh mantu papa yang nyebelin suka banget nyiksa lakinya."Jawab Rendi.
"Mas Rendi..."Teriak Rini sambil melotot kearah Rendi.
"Iya yang, mas bercanda kok hehehe.."Ucap Rendi sambil terkekeh.
"Pelit amat sih lo Ren,beli kok cuma delapan,beli tuh yang banyak ngapa Ren."Sambung pak Burhan.
"Papa... Rendi kan gak tau kalau kalian juga mau, Rendi kan beli cuma buat junior Rendi biar gak ngences."Jawab Rendi sambil mengusap lembut perut istrinya yang masih rata.
"Ya sudah besok Rendi beli lagi yang banyak bila perlu Rendi sewa abang tukang jualan jagung bakar buat bakarin jagungnya biar lezat."Lanjut Rendi.
"He..he.. bercanda Ren."Jawab pak Burhan tertawa kecil.
"Senengnya lihat keluarga ini semakin hari semakin harmonis saja nya."Ucap Inul sambil tersenyum bahagia.
"Eh..mak Er,iya makasih ya ya mbak Er,kok kalian duduk dibawah sih mbak-mbak, nanti kalau ada cacing apa ulat bagaimana?"Ucap bu Citra menoleh kearah Inul dan kedua asisten rumah tangganya yang masih duduk diatas rumput sambil makan jagung bakar.
"Ya gak mungkin lah ulat atau cacing takut sama mereka ma, orang mereka aja biyungnya."Jawab Rendi asal.
"Ih den Rendi masa kita dibilangin biyunge cacing."Protes Inul sambil cemberut tidak terima membuat mereka yang ada disana tertawa terbahak-bahak melihat sikap Rendi dan Inul.
Sementara ditempat lain di kota Jakarta terlihat Adel yang sedang berada didalam apartemen Julius sedang sibuk mengerjakan tugas dari pak Ridwan yang belum selesai dikerjakan.
Adel yang awalnya bersikeras ingin pulang kerumah kedua orangtuanya akhirnya memutuskan untuk nginep di apartemen Juli karena tidak punya pilihan lain, Juli mengancam akan meminta ganti rugi satu milyar untuk memperbaiki mobilnya yang rusak gara-gara Adel kalau Adel masih memaksa untuk pulang.
"Om..yang nomor 86 apa maksudnya ini om?"Tanya Adel terlihat sangat kebingungan tidak tau maksud dari pertanyaan yang terlihat sangat susah bagi seorang Adel.
Dengan mudahnya Juli menjelaskan maksud dari pertanyaan dari nomor 86, sehingga Adel akhirnya bisa menjawab pertanyaan yang terlihat begitu susah.
Karena badannya yang terasa sakit akibat kecelakaan tadi dan juga karena merasa kelelahan akhirnya tanpa sadar Adel pun tertidur dengan pulas padahal ia belum menyelesaikan soal-soal yang diberikan oleh pak Ridwan sedang besok pagi mesti dikumpulkan.
Julius yang melihat itu, dengan hati-hati membopong tubuh Adel kedalam kamarnya dan di baringkan tubuh Adel diatas kasur empuk miliknya.
__ADS_1
Lalu ia kembali lagi ke ruang tengah untuk memeriksa tugas Adel dari dosennya yang ternyata belum selesai dikerjakan.