Ketulusan Cinta Rini 2

Ketulusan Cinta Rini 2
Ayok kita bakar ayam!


__ADS_3

Rendi terus nempel dengan Rini, tidak mau membiarkan kekasihnya itu dekat dengan siapapun termasuk Riko yang jelas-jelas sudah menjadi suami Sekar.


Sabenarnya Rini merasa risih karena ada teman-temannya tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa karena Rendi menatapnya dengan tatapan tajam.


Rendi malah menyuruh Rini duduk di pangkuannya.


Ia sengaja melakukan itu agar semua orang yang berada disana tau kalau Rini hanya miliknya seorang.


Terlihat berlebihan sih,tapi begitulah Rendi.


Jika sudah menyukai seseorang maka ia akan berusaha mempertahankannya dengan segenap jiwa dan raga.(Hehehe..lebay๐Ÿ˜)


"Aduh..kok tiba-tiba panas ya?"Ucap Johan sudah tidak tahan melihat kemesraan Rini dan Rendi.


Cemburu, itulah kata-kata yang tepat untuk Johan.


Sepertinya ia sudah mulai jatuh cinta beneran dengan Rini.


Ia baru menyadari tentang perasaannya saat Rini jauh darinya.


"Enggak ah."Jawab Sekar dengan polosnya.


"Bep.... sepertinya ada yang sedang cemburu."Bisik Riko ketelinga Sekar.


"Hah..siapa?"Tanya Sekar masih belum menyadari.


"Tuh..!"Riko memberi tau ke istrinya dengan cara menatap ke arah Johan lalu ia mengedipkan matanya.


Sekar mulai mengerti maksud suaminya.


"Mas Jo... mending mas Jo keluar saja yok sama gue, kita ngobrol diluar biar mas Jo gak kepanasan."Ajak Riko yang tau kalau laki-laki tampan yang bernama Johan itu sedang cemburu melihat Rendi yang terus mendekap tubuh Rini dari belakang.


Sesekali Rendi sengaja mencium leher belakang kekasihnya itu untuk memanas-manasi dua pemuda yang sepertinya juga menyimpan perasaan untuk Rini.


Ia tidak rela jika wanitanya disukai oleh laki-laki lain. diam-diam Johan dari tadi melirik ke arah Rendi yang terus mengusap lembut rambut Rini dan menciumi tengkuk lehernya membuat Johan jadi merasa kepanasan terbakar cemburu.


Lain halnya dengan Wahyu yang terlihat santai tidak terlalu memperdulikan sikap Rendi.


Padahal dari dulu Wahyu yang paling berantusias untuk mendapatkan Rini, entah kenapa hari ini dia sepertinya sudah tidak perduli lagi dengan Rendi dan Rini.


Untung tadi Ana diajak adiknya Sekar untuk bermain dirumahnya jadi tidak melihat adegan yang tidak boleh dilihat oleh anak kecil.

__ADS_1


Tiiin...


Terdengar suara klakson begitu keras dari luar rumah Rini membuat semua orang yang ada didalam rumah menoleh kedepan untuk melihat siapa yang ada diluar.


"Nah,itu pasti dia."Kata Sekar.


"Dia siapa Kar?"Tanya Wahyu yang duduk disamping Sekar dan Riko.


"Nanti mas Wahyu juga tau sendiri."Kata Sekar.


Sekar langsung pergi keluar rumah diikuti Riko, Wahyu dan Johan.


Sedang Rini yang hendak ikut keluar ditahan oleh Rendi untuk tetap duduk di pangkuannya.


Terlihat seorang perempuan berpakaian seperti anak laki-laki turun dari motor,ia melepas helm yang dipakainya dan meletakkannya di atas motor.


"Ayam-ayam...!"Teriak perempuan itu sambil mengambil tiga ekor ayam potong yang berukuran jumbo yang ditali di dekat setang motor.


Terlihat senyum Wahyu mengembang saat melihat Adel.


Deg...


Jantung Adel serasa berhenti sejenak saat melihat Wahyu yang ternyata juga ada disana.


Mereka saling bertatapan sebentar tanpa diketahui oleh yang lain.


"Adel... akhirnya lo datang juga, senengnya..."Sekar langsung mendekap tubuh Adel yang sedang menenteng tiga ekor ayam.


"Kek..kek..kek"


Terdengar suara ayam-ayam itu berusaha melepaskan diri dari tali yang mengikat kaki mereka.


"Del... ngapain lo bawa ayam banyak kesini?Mau buat kondangan?Rini belum mau nikah Del!"Ucap Riko dengan tatapan yang hanya fokus ke ayam-ayam yang dibawa Adel.


Rini yang mendengar ada Adel langsung menarik tangan kekasihnya agar mau melepaskan dirinya dari dekapan dia.


"Sembarangan lo ko,ini ayam potong bukan ayam banyak ko!"Jelas Adel.


"Iya, maksud gue kok lo bawa banyak ayam kesini mau buat apa?"Ucap Riko dengan suara sengaja di-pelan kan agar jelas.


"Ini ayam potong Ko bukan banyak ayam."Kata Adel sengaja mengerjai Riko.

__ADS_1


"Wadoh Del...ah mboh lah, terserah padamu."Teriak Riko menyerah,jika melayani Adel ia malah bakal stres sendiri karena jika sudah berdebat dengan Adel hanya akan membuat kepalanya jadi terbelah dua karena Adel bakal terus memujokkan dirinya ke pertanyaan yang paling sulit.


"Hahaha.. tumben lo Ko tidak melawan gue, biasanya lo yang paling semangat buat gue mati kutu.


Ternyata benar kata orang tua, kalau sudah menikah kemampuan otaknya jadi berkurang soalnya kebanyakan berduel diatas ranjang, hihihi..."Ucap Adel sambil tertawa kecil.


"Adel... senengnya lo pulang."Kata Rini yang baru keluar dari dalam rumah langsung menghampiri sahabatnya itu dan memeluk tubuh Adel.


"Muka lo kenapa Rin?"Tanya Adel kaget melihat ada perban yang menempel di pipi Rini.


"Tadi katanya bininya Rendi ngamuk langsung menghajar Rini seperti orang kesurupan."Kata Sekar menjelaskan.


"Tuh cewek jadi-jadian ternyata belum berubah juga,seneng banget buat teman gue celaka.Gemes gue jadian pingin cakar tuh muka dia yang sok kecakepan."Ucap Adel marah.


"Oh ya.. Ayok kita bakar ayam!Nih ayamnya udah gue bawa, kita bakar ayam cuy,gak apalah bakar ayamnya sekarang, sabenarnya pinginnya pas malam tahun baru,tapi semalam gue masih dijalan jadi ya sekarang saja bakar-bakar ayamnya,he..."Kata Adel memperlihatkan ayam-ayam yang berukuran besar kepada Rini.


"Nyami-nyami...ayok-ayok!"Wajah Rini langsung bersemangat saat mendengar makanan.


Johan tersenyum melihat ekspresi wajah Rini yang terlihat sangat menggemaskan jika berhubungan dengan makan enak.


Ia jadi teringat kenangan indah saat bersama Rini di apartemennya.


Ia paling suka menggoda Rini, mereka sering bercanda dan tertawa bersama.


Rendi yang melihat Johan sedang tersenyum menatap kekasihnya langsung mendekap tubuh Rini dari samping membuat Johan langsung memalingkan wajahnya karena kembali merasa cemburu.


"Sayang..sudah dong, jangan bersikap seperti itu,gak enak dilihat sama yang lain."Bisik Rini merasa risih dengan sikap kekasihnya yang sangat berlebihan.


"Biarkan saja."Jawab Rendi cuek.


"Aih...dah ah...!"Ucap Rini memutar bola matanya merasa kesal dengan sikap Rendi.


"Ayok gaes, kita bikin api buat bakar ayam.Mbah Riko sama pak bos ganteng... tolong potong ayamnya,"Kata Adel bersikap sopan ke Riko seolah sedang bicara dengan seseorang yang sudah tua.


"Haiya...masa ane di panggil mbah, jangan mentang-mentang ane udeh nikah ye,terus dipanggil mbah,hua... jahat banget lo Del,ane masih muda dan ganteng gini lo panggil mbah."Protes Riko dengan wajah sedih.


"Hihihi..."Adel terkekeh merasa lucu dengan ekspresi wajah Riko.


"Rendi sama Wahyu buat api buat bakar ayam.


Dan kita bertiga para ciwik-ciwik siapkan bumbu."Perintah Adel dengan tegas.

__ADS_1


"Sudah Ko,ayok kita ikhlaskan saja."Kata Wahyu menepuk pundak Riko.


__ADS_2