
"Kenapa mama lebih membela perempuan jala**ng ini daripada Siska ma?"Tanya Siska.
Tapi tidak dihiraukan oleh bu Citra yang sudah sangat marah dengan sikap menantunya itu.
"Ada apa sayang?"Tanya bunda Karmila yang baru keluar dari ruangan Rendi.
Bunda Karmila yang sedang berada didalam ruangan Rendi langsung keluar saat mendengar ada keributan diluar ruangan.
"Oalah.. maaf,ada bu Karmila toh."Ucap bu Citra merasa terkejut saat melihat besannya keluar dari ruangan itu.
"Eh...bu Citra sama pak Burhan."Jawab bu Karmila tidak kalah terkejutnya.
"Yasudah kami mau masuk dulu lihat keadaan Rendi."Kata bu Citra mendorong kursi roda yang ada suaminya sedang duduk diatasnya.
Pak Burhan hanya diam saja melihat keributan antara istri dan menantunya.
"Ayok Rin ikut tante,kamu ingin menemui Rendi bukan?"Tanya bu Citra sambil tersenyum melihat kearah Rini.
"I..iya tante."Jawab Rini gugup.
mereka berjalan melewati Siska dan ibunya yang masih berdiri sambil menahan amarahnya menatap Rini dengan tatapan tidak suka.
"Awas kamu pela**cur."Kata Siska dalam hati.
"Ayok ma..kita pergi saja dari sini, Siska muak melihat mereka semua."Kata Siska lirih.
"Hus..kamu jangan bicara seperti itu sayang,kamu bisa merusak semua rencana yang sudah kita susun."Kata bunda Karmila berusaha menasehati anaknya.
"Malas lah bun, yasudah kalau bunda mau disini, Siska pulang sendiri."Kata Siska langsung pergi meninggalkan ibunya yang masih berdiri diluar ruangan Rendi dirawat.
"Sis.. tunggu."Teriak bunda Karmila mengejar anaknya yang sedang berjalan meninggalkan dirinya.
Didalam kamar pasien,bu Citra dan pak Burhan tersenyum melihat anak mereka yang sudah tidak pucat lagi.
"Bangunlah nak, Siska dan ibunya sudah pergi."Kata bu Citra yang tau kalau sabenarnya Rendi sudah bangun,ia hanya pura-pura tidur agar tidak ketahuan kalau dirinya sabenarnya sudah tidak koma lagi.
"Mama..papa..!"Panggil Rendi setelah membuka kedua matanya, ditatapnya wajah kedua orangtuanya yang sangat dirindukannya,ia merindukan orang tua yang perhatian dan sayang kepada dirinya.
Rendi sudah lama merindukan hal seperti itu dari kedua orang tuanya yang selama ini tidak pernah mau mengerti dirinya.
__ADS_1
Yang mereka pikirkan hanya bekerja dan bekerja.Mereka hanya melakukan menurut keinginan mereka sendiri tanpa mau memikirkan keinginan anaknya.
"Bagaimana keadaan kamu sayang?"Tanya bu Citra menghampiri anaknya yang masih berbaring lemah diatas ranjang pasien.
"Sini Rin, memangnya kamu gak mau menemui Rendi?"Tanya bu Citra menoleh kearah Rini yang malah diam masih berdiri didepan pintu.
"I..iya."Jawab Rini gugup berjalan pelan kearah mereka, terlihat jelas wajahnya yang sedang ketakutan.
"Gak usah takut sayang. Maaf, tante selama ini sudah bersikap kasar sama kamu nak, tolong maafkan tante ya!"Kata bu Citra.
"Iya Tante."Jawab Rini singkat.
"Mama sama papa tidak marah lagi kan sama Rini? Tolong mama sama papa jangan membenci Rini,dia tidak bersalah, Rendi yang terus mencari dan memaksa dia untuk tidak jauh dari Rendi karena Rendi tidak bisa hidup tanpa dia."Kata Rendi memohon.
"Tidak sayang,mama sekarang sudah sadar kalau dia ternyata benar-benar tulus mencintai kamu, buktinya dia sampai nekat kesini padahal disini banyak macan yang bisa saja menerkamnya hidup-hidup tanpa ampun."Kata bu Citra.
"Macan?"Tanya Rendi bingung.
Rendi dan Rini saling berpandangan dengan wajah bingung tidak tau apa yang dimaksud bu Citra.
"Ha..ha... sudahlah, kalian jangan terlalu memikirkan itu."Bu Citra malah tertawa melihat ekspresi wajah dua pemuda yang terlihat sangat menggemaskan.
Sudah lama pak Burhan tidak melihat istrinya tertawa seperti itu sejak dirinya sakit.
Cukup lama mereka berada di rumah sakit, tidak ada lagi rasa canggung antara Rini dan kedua orangtuanya Rendi.
Sepertinya mereka sudah mulai mau menerima kehadiran Rini.
"Mama sama papa pulang dulu ya sayang,nenek sama kakek lagi dijalan,
Mungkin nanti sore mereka baru sampai."Kata bu Citra memberitahu.
"Nenek pulang ke Jawa ma?Sama om Agung gak?"Tanya Rendi.
"Enggak,om Agung nanti menyusul hari minggunya kalau pabriknya libur."Kata bu Citra menjelaskan.
"Oh..."Ucap Rendi.
"Sayang...kamu disini dulu temani Rendi ya,pulangnya biar diantar sama pak Rudi,nanti mama telpon pak Rudi untuk mengantarmu pulang."Kata bu Citra ke Rini.
__ADS_1
"Iya ma."Jawab Rini nurut.
"Yasudah mama tinggal ya sayang."Pamit bu Citra.
Rini mencium punggung tangan bu Citra dan pak Burhan bergantian.
"Akhirnya mereka mau menerima kamu sayang."Ucap Rendi saat kedua orangtuanya pergi.
Rini hanya tersenyum malu sambil menundukkan kepalanya saja.
Lain halnya dengan Siska,ia terlihat sedang marah-marah dirumah kedua orang tuanya.
"Kurang ajar...ini semua karena perempuan itu,awas saja dia."Teriak Siska sambil mengacak-acak kamarnya.
"Siska...apa yang kamu lakukan sayang?"Tanya bunda Karmila kaget melihat dalam kamar putri kesayangannya sudah seperti kapal pecah.
"Siska benci sama mereka semua bun, terutama sama si Rini itu ma,tadi mama Citra sampai membentak Siska gara-gara dia,pela**cur itu sudah mengambil semua yang Siska punya.
Pertama dua ambil Rendi, sekarang mama sama papanya Rendi,entah siapa lagi besok yang bakal pela**cur itu ambil dari Siska."Kata Siska penuh emosi.
"Kenapa kamu jadi seperti ini suh Sis?Kalau sikap kamu seperti itu mereka malah semakin membenci kamu,kamu harus bisa mengontrol emosi kamu dong nak."nasehat bunda Karmila.
"Tapi bun, perempuan itu sudah menghancurkan semuanya,rencana Siska semua berantakan gara-gara perempuan itu.
Kita harus segera menyingkirkan dia bun, Siska gak mau dia mengambil apa yang sudah Siska miliki."Kata Siska terlihat tidak sabar.
"Kamu tenanglah dulu sayang, jangan gegabah dalam bertindak, kita butuh persiapan yang matang untuk melakukan itu,jadi bunda minta sama kamu jangan bertindak gegabah lagi seperti kemarin.
Gara-gara kamu tidak bisa mengontrol emosi kamu, semua rencana yang sudah bunda rencanakan jadi berantakan."Kata bu Karmila memberi pengertian untuk putri kesayangannya.
"Tapi bun, memangnya bunda mau merencanakan apa lagi sih bun?Siska gak mau gagal terus, pokoknya tuh perempuan harus lenyap dari muka bumi ini bun, Siska gak mau tau, pokoknya Siska gak mau lihat muka dia lagi."Ucap Siska dengan suara keras.
"Apa yang sabenarnya sedang kalian rencanakan?Bapak gak menyangka ternyata selama ini kalian begitu jahat."Terdengar suara seseorang laki-laki yang tiba-tiba masuk kedalam kamar Siska.
Laki-laki itu adalah pak Surya, bapaknya Siska.
Pak Surya yang baru pulang merasa terkejut saat mendengar ada keributan di dalam kamar putri satu-satunya.
Diam-diam dia menguping pembicaraan istri dan putrinya itu dari balik pintu.
__ADS_1