
Johan menghubungi ponsel milik Rini, terdengar suara ponsel Rini dari dalam kamar yang ditempati oleh Rini.
"Lho..kok suaranya ada didalam kamar?"Kata Johan lirih sambil berjalan kembali masuk ke dalam kamar Rini.
Tuliling.. tuliling...
Terdengar suara ponsel Rini diatas kasur.
Johan mengambil ponsel yang terdapat gambar atau setiker bunga teratai dibelakang layar handphone.
"lho.. HP Rini ada di dalam kamar, berarti Rini gak bawa HP dong!Tumben pergi gak bawa HP."Kata Johan sambil membalik-balikan HP milik Rini.
"Dimana dia? Aduh.... perasaan gue gak enak gini ya."Kata Johan sangat khawatir.
"Iya...mobil itu, berarti tadi tuh beneran Rini.
Haduh..kenapa gue jadi sebodoh ini sih, dasar lo ya Han,tadi tuh lo bukan sedang berhalusinasi,tapi itu beneran Rini."Kata Johan menyalahkan dirinya sendiri.
"Sekarang gue mesti bagaimana coba, gue aja gak tau keluar Rini,masa gue mesti telpon Wahyu,bisa ketahuan dong kalau selama ini cewek yang dia cari itu sama gue."Kata Johan mulai panik dan bingung apa yang mesti dilakukan.
Sementara di tempat lain terlihat seorang perempuan bertubuh tinggi seperti model sedang berdiri di depan pabrik tekstil seperti sedang menunggu seseorang.
Perempuan itu adalah Salsabila, kakaknya Rini.
"Kemana si mas Darmono,kok tumben jam segini belum dapat jemput gue."Batin Salsabila sambil memencet tombol handphone.Ia berusaha menghubungi Darmono,si tukang ojek langganannya.
Tin....
Terdengar suara klakson mobil dari belakang Salsabila membuat Salsabila yang sedang berdiri sambil menghubungi tukang ojek langganannya yang belum tersambung langsung berjalan minggir,ia menoleh ke belakang, ditatapnya mobil yang ternyata mobil milik bosnya.
"Ayok Sa, gue antar pulang."Kata Agung dari dalam mobil.
"Enggak lah pak makasih,saya nunggu tukang ojek langganan saya aja."Kata Salsabila menolak.
"Udah ayok gue antar lo pulang aja,ini udah malam lho Sa!"Kata Agung lagi.
__ADS_1
Salsabila terlihat cuek,ia berjalan setengah berlari menjauhi mobil bosnya itu.
Setelah berada ditempat yang lumayan jauh,ia kembali menekan tombol handphone miliknya.
"Halo mas...kok mas Dar belum datang ke pabrik?"Tanya Salsabila kepada tukang ojek langganannya.
"Maaf mbak saya tidak bisa menjemput mbak Salsa, mendadak istri saya sakit.
Sekarang saya sedang ada dirumah sakit mengantarkan istri saya berobat."Kata Darmono dari seberang telpon.
"Oh gitu..ya sudah mas gak apa-apa, nanti saya gampang nyari ojek lain saja, semoga istrinya cepat sembuh ya mas, makasih mas."Kata Salsabila langsung matikan panggilan telponnya.
Agung yang diam-diam keluar dari mobilnya dan berjalan pelan menghampiri Salsabila, tersenyum senang karena ternyata tukang ojek langganan Salsabila tidak bisa menjemputnya, berarti dia punya kesempatan untuk mengantar dan kembali bisa berduaan dengan Salsabila.
Dua menit yang lalu Agung membuka pintu mobilnya,ia turun dari mobil dan berjalan mendekati Salsabila yang terlihat gelisah seperti sedang menelpon seseorang.
Tanpa Salsabila sadari Agung ternyata sudah ada dibelakangnya.
"Haduh bagaimana nih...mana sudah malam lagi."Kata Salsabila lirih tapi bisa didengar Agung yang sudah berada di belakang Salsabila.
"Eh....bapak ngagetin aja deh,kok pak Agung ada disitu sih, kirain bapak tadi sudah pergi."Kata Salsabila sambil memegangi dadanya sendiri karena merasa kaget dengan kehadiran bosnya secara tiba-tiba dibelakangnya.
"Biasa aja kali Sa, ayok ikut gue cepetan kalau gak mau gue pecat."Kata Agung mengancam.
"Huh.. kebiasaan selalu saja itu yang diucapkan untuk memaksa gue mengikuti kemauannya."Kata Salsabila lirih dengan wajah cemberut.
"Ayok...kok malah bengong sih?"Kata Agung dengan suara keras.
"I.. iya pak!"Kata Salsabila gugup,ia langsung berlari mengikuti langkah kaki Agung yang begitu cepat.
"Agung masuk kedalam mobil, duduk di kursi kemudi.Tidak lama Salsabila datang dan membuka pintu tengah.
"Hai..siapa yang suruh lo duduk disitu."Kata Agung terdengar ketus.
"Lha tadi kata pak Agung,saya suruh ikut."Jawab Salsabila sambil masuk kedalam mobil dan duduk di kursi belakang Agung.
__ADS_1
"Enak saja, memangnya lo pikir gue supir lo apa."Kata Agung ketus.
"Terus gue mesti duduk dimana?"Kata Salsabila dengan polosnya.
"Haduh..."Kata Agung sambil menepuk keningnya sendiri.
"Pindah depan,enak saja duduk di belakang gue."Kata Agung dengan suara keras.
"Oh..iya pak."Kata Salsabila gak berani melawan.Ia duduk disebelah Agung.
"Nah gitu dong, begitu aja kok susah banget si."Kata Agung sambil membantu memasangkan sabuk pengaman untuk Salsabila karena Salsabila kesusahan menarik sabuk pengaman.
Agung mengambil kesempatan itu untuk bisa memandang wajah Salsabila lebih dekat lagi.
Ia pura-pura kesusahan menarik sabuk pengaman untuk dipasangkan di tubuh Salsabila.
"Kenapa pak?"Tanya Salsabila sambil melihat kearah tangan Agung yang sedang kesusahan menarik-narik sabun pengaman.
"Ini sepertinya macet deh gak bisa ditarik."Kata Agung dengan kedua mata mencuri pandang menatap wajah Salsabila, sedang tangan Agung terlihat sibuk membetulkan sabuk pengaman yang sengaja dibuat susah padahal sabenarnya tidak.
Salsabila memalingkan wajahnya melihat kearah tangan Agung yang sedang mencoba membetulkan sabuk pengaman yang katanya macet.
Agung tersenyum melihat wajah Salsabila yang terlihat begitu polos percaya begitu saja dengan ucapannya.
Salsabila membalikkan wajahnya, seketika jantung mereka seakan berhenti mendadak saat kedua mata mereka saling bertatapan.
Mereka saling diam beberapa saat, hingga akhirnya Salsabila memalingkan wajahnya lagi saat Agung berusaha mendekatkan bibirnya ke bibir Salsabila.Dengan jantung yang terasa mau loncat dari tempatnya sangking dekatnya wajah mereka, Salsabila merasa malu sendiri dan sedikit gugup saat melihat wajah Agung yang ternyata begitu tampan bila dilihat dari dekat.
"Eh....sudah bisa."Kata Agung pura-pura sabuk pengamannya sudah bisa ditarik.Agung menarik sabuk pengaman yang atas dan dipasangkan dibagikan pundak Salsabila sampai ke bawah pusar,lalu Agung kembali ke posisinya setelah memastikan sabuk pengaman itu sudah terpasang dengan benar di tubuh Salsabila dan terkunci dengan benar.
Sementara jantung Salsabila masih berdetak tidak karuan mengingat kejadian tadi,ia dapat mencium aroma parfum Agung dan bisa merasakan hembusan nafas Agung yang terasa begitu dekat di wajahnya,hamp saja bibir mereka bertemu jika Salsabila tidak langsung menghindar.
Disepanjang jalan mereka tidak berbicara, mereka sibuk dengan perasaan mereka masing-masing, tiba-tiba Agung menghentikan mobilnya mendadak setelah mereka berada di tempat yang sepi.
"Lho pak,kenapa kita berhenti di sini? Kontrakan saya masih jauh lho pak, jangan bilang kalau saya mesti turun disini ya pak,haduh pak saya takut kalau harus berjalan sendiri malam-malam,bapak tega banget deh."Kata Salsabila nyerocos aja.
__ADS_1