
"Ibu ...... jangan usir Agung ya please...!Besok Agung ajak pacar Agung kesini deh,biar ibu ada teman gak sendirian lagi"Kata Agung memelas sambil merayu ibunya.
"Pacar yang mana?Kalau yang kamu ajak kesini perempuan centil si Nadia itu,ibu tidak mau.Ibu gak suka kamu sama perempuan yang suka umbar auratnya seperti dia, perempuan centil,suka pakai baju kurang bahan,dandanan menor seperti penyanyi dangdut yang mau manggung."Ucap Nenek.
"Kenapa?Tapi dia perempuan baik-baik lho bu,dia sayang sama Agung,dia juga rela melakukan apa saja asal bisa terus bersama Agung, berarti dia memang beneran sayang sama Agung."Kata Agung membela perempuan yang sering jalan dengannya mesti Agung gak begitu yakin dengan perasaannya sendiri terhadap Nadia.
Nadia adalah teman kuliah Agung dulu, mereka sudah dua tahun berpacaran tapi belum ada niatan Agung untuk melamarnya karena Agung belum mau menjalin hubungan sampai harus menikah.
Bagi Agung menikah,hidup berumah tangga hanya akan membuat hidupnya jadi ribet, Agung belum mau memikirkan untuk menikah padahal usianya sudah 35 tahun.
Selama ini Nadia selalu mendekatinya dan meminta Agung menjadi kekasihnya, akhirnya Agung menerimanya menjadi kekasihnya walau Agung tidak mencintainya.
"Kamu beneran suka gak sama dia?"Tanya Nenek memastikan.
"Em... gak tau bu... sabenarnya Agung juga bingung dengan perasaan Agung."Ucap Agung sambil menundukkan kepalanya.
"Kamu aja gak yakin dengan perasaanmu,mau ajak dia kesini.Pokoknya ibu gak setuju kamu sama Nadia,cari perempuan lain.Ibu gak mau punya menantu centil seperti itu.
Ibu maunya menantu yang lemah lembut,kalem, pintar ngurus suami dan rumah."Kata nenek tegas.
"Haduh... sabenarnya siapa sih yang mau nikah? Ribet banget syarat-syaratnya yak!"Ucap Agung sambil mengacak rambutnya sendiri.
Sekilas Agung teringat dengan perempuan yang bekerja di pabrik orang tuanya.
Wajahnya melintas begitu saja di bayangannya.
Tanpa sadar Agung tersenyum sendiri membayangkan wajah perempuan itu, jantung Agung berdebar saat mengingat perempuan yang bernama Salsabila.
"La bocah semprol satu ini malah senyam-senyum sendiri!Hai sulukutuk....kamu ngapain senyum-senyum sendiri,kamu kesambet ya?"Kata nenek sambil menjitak kepala Agung.
"Aduh bu...bisa gak sih kepalaku jangan dijitak terus..bisa penyok nanti nih kepala Agung..!"Rengek Agung manja.
__ADS_1
"Ibu nih kebiasaan,suka ganti nama Agung sembarangan,nama aku Agung bu...bukan semprol,bukan sulukutuk.
Sabenarnya Agung lagi membayangkan perempuan seperti yang ibu inginkan bu...dia ternyata bekerja di pabriknya bapak bu... senyumannya bu..bikin jantung Agung mau loncat.Dia perempuan yang cantik,lemah lembut,kalem,tapi sayangnya dia perempuan yang susah didekati bu...!"Kata Agung tanpa merasa malu berbicara kepada ibunya tentang apa yang dirasakan sambil membayangkan perempuan yang bekerja di pabrik tekstil milik bapaknya itu.
"Dia sudah punya laki belum?"Tanya nenek.
"Enggak tau bu...!"Jawab Agung singkat.
"Siapa perempuan itu Om?Apa Rendi juga mengenalnya?"Tanya Rendi penasaran.
"Kamu mana kenal,kamu kan bekerja di bagian pemasaran, sedangkan dia bekerja di bagian Sewing yaitu bagian pembuatan kain menjadi barang jadi atau menjahit kain.
Kalian tidak pernah ketemu lah."Kata Agung menjelaskan.
"Selidiki dulu dia,baru kamu ajak nikah kalau dia masih sendiri,tapi kalau ternyata perempuan itu sudah punya suami,kamu segera tinggalkan dia,kamu jangan coba-coba dekati perempuan yang kamu bicarakan tadi, jangan merusak rumah tangga orang lain.Karena ibu gak mau kamu jadi orang ketiga,ibu gak mau kamu terluka karena wanita."Kata nenek mengingatkan.
"La terus pacarnya om Agung mau dikemanain kalau om Agung sama perempuan itu."Kata Rendi.
"Putusin saja Gung!Ibu gak setuju kalau kamu sama si ondel-ondel itu."Kata nenek tegas
"Ah bodoh amat lah, yang penting ibu gak setuju kamu sama ondel-ondel itu.
Kamu selidiki dulu tentang perempuan yang sudah bikin hati kamu berdebar itu Gung,ajak dia kesini kalau kamu sudah berhasil menyelidiki perempuan itu."Kata nenek tidak sabar pingin segera mengetahui siapa perempuan yang dimaksudkan anaknya itu.
"Iya bu...Ya sudahlah Agung mau tidur,dah ibuku yang paling cantik, Agung sayang ibu selamanya."Kata Agung sambil bangun dari duduknya lalu mendekati ibunya dan mencium pipi ibunya singkat,pipi ibunya yang sudah mulai peyot karena usia ibunya Agung sudah 62 tahun.
Sekarang tinggal Rendi dan neneknya yang masih duduk di sofa ruang tengah sambil menonton acara televisi.
"Kapan kamu bawa pacar kamu kesini Ren? Nenek kesepian lho Ren kalau kalian lagi dipabrik,kakek kamu belum pulang-pulang.
Si Agung suruh nikah susahnya gak ketulungan."Ucap neneknya Rendi.
__ADS_1
"Iya nek... besok Rendi ajak Rini kesini."Kata Rendi dengan kedua mata masih melihat ke televisi, mengganti saluran televisi dengan film barat kesukaannya.
"Haduh Ren...jangan diganti dong sinetronnya Nenek,sini remotnya balikin!"Perintah nenek merasa kesal sinetron kesukaannya di ganti dengan film barat tembak-tembakan.
"Ih nenek jangan kebanyakan nonton sinetron Nek...nanti jadi ikut-ikut jahat kayak di sinetron,
Nenek mau saja dibohongi sinetron lho...!"Kata Rendi sambil menyerahkan remote televisi karena tidak mau membantah perintah neneknya.
"Biarin,daripada lihat orang berantem bikin jantungan saja."Ucap Nenek.
"Ya sudah lah terserah Nenek saja, Rendi mau kekamar dulu ya Nek...mau telpon pacar Rendi saja lah...daripada nonton sinetron."Kata Rendi langsung bangun dari duduknya hendak berjalan menuju kamarnya.
"Sudah baikan nih marahnya,kemarin katanya sudah gak perduli? Katanya masa bodoh,gak mau tau...?"Ledek nenek Rendi.
"He..he...sudah dong nek,kan nenek sendiri yang bilang,kalau marahan itu gak boleh lama-lama!"Jawab Rendi santai.
"Ya sudah ya Nek Rendi kekamar dulu,dah Nenek..!"Kata Rendi langsung pergi meninggalkan neneknya yang masih menonton acara televisi diruang tengah.
"Dasar anak muda... yang satunya gak pernah mau serius sama perempuan,yang satunya nempel terus gak mau dipisahkan."Ucap Nenek sambil menatap punggung Rendi yang sudah menjauh dari tempatnya saat ini sedang duduk.
Sementara didalam kamar Rendi sedang mencoba menghubungi Rini tapi nomor handphone Rini tidak bisa dihubungi.
"Lo kemana sih Rin...? Dihubungi kok gak bisa."Kata Rendi merasa kesal.
"Ya sudah lah...gue mending tidur saja daripada emosi."Kata Rendi sambil meletakkan handphone miliknya di atas meja yang ada disamping ranjangnya.
Rendi merebahkan tubuhnya di atas kasur sambil menatap langit-langit kamar, membayangkan wajah kekasihnya yang sangat dirindukannya.
Baru sehari tidak bertemu rasanya seperti sudah satu tahun gak ketemu,itulah cinta pinginnya berduaan terus.
Rendi mencoba memejamkan matanya untuk tidur tapi tidak bisa, akhirnya Rendi mengambil handphone miliknya lagi, dilihatnya foto Rini yang disimpan di galeri foto.
__ADS_1
Rendi tersenyum melihat foto dirinya dan kekasihnya itu satu persatu.
"Rasanya gue pingin cepat jadikan lo menjadi milik gue seorang.Lo harus menjadi milik gue,gak ada yang boleh miliki lo selain gue."Ucapan Rendi lirih sambil memandangi foto Rini .