Ketulusan Cinta Rini 2

Ketulusan Cinta Rini 2
Pertengkaran Rendi dan istrinya.


__ADS_3

"Iya, maaf sayang.


Mas benar-benar minta maaf, mas gak akan melakukannya sebelum kamu benar-benar halal untukku,tapi kamu juga harus janji gak joget goyang ngebor seperti tadi didepan orang banyak,kamu boleh joget seperti tadi tapi didepan aku saja."Kata Rendi berbicara dengan lembut.


"Memangnya kenapa?Kan cuma joget aja lho mas?Tuh para artis di TV aja suka joget goyang ngebor tapi gak dimarahin sama pasangan mereka."Ucap Rini dengan polosnya.


"Itu beda sayangku...kalau para artis itu memang sudah pekerjaannya, mereka melakukan itu demi uang, karena mereka akan dibayar ."Jelas Rendi.


"Memangnya kamu ingin dibayar juga?Gak apa-apa kalau kamu mau dibayar, nanti aku yang akan bayar, terserah kamu mau berapa,yang penting lo joget goyang ngebornya sama aku saja,tapi aku maunya kamu goyang ngebor diatas kasur!"Kata Rendi lirih.


"Ih..apaan sih...!Ucap Rini malu sambil menundukkan kepalanya, menyembunyikan wajahnya yang sudah berubah merah.


"Pokoknya kalau sampai aku lihat kamu berjoget seperti tadi ditempat umum awas saja,jangan salahkan aku jika berbuat lebih dari tadi,aku akan menelanjangi-mu dan memakan-mu tanpa ampun."Ancam Rendi menakut-nakuti Rini.


Rini langsung diam tidak berani bicara,ia menelan ludahnya sendiri merasa ngeri membayangkan kekasihnya itu menyentuh tubuhnya dan menidurinya, mengambil dengan paksa sesuatu yang berharga dalam hidupnya.Ia jadi merinding takut dengan kekasihnya itu.


"Ih..."Ucap Rini tanpa sadar membayangkan hal jorok bersama dengan kekasihnya itu.


"Kamu ngapain?Hayo lo...sedang mikirin apa? Pasti lagi membayangkan sedang kikuk bersama aku ya...?"Tanya Rendi menggoda Rini.


"Ih... apaan sih,buat apa aku mikirin itu, amit-amit."Kata Rini malas.


"Ya sudah...Ayok kita balik ketempat Sekar,aku mau beli bakso ditempat yang tadi,aku lapaaaaar."Teriak Rini menghilangkan rasa takutnya.


"Haduh yang... Jangan teriak dong,aku gak tuli, kupingku masih normal."Jawab Rendi sambil menutup telinganya,lalu menyalakan mesin mobil dan menjalankan mobilnya untuk mencari penjual bakso.


"Habisnya mas Rendi nyebelin, cepetan jalannya aku lapar."Perintah Rini dengan wajah cemberut tanpa menoleh ke arah Rendi.


Rendi menoleh ke arah Rini,ia tersenyum melihat kekasihnya yang sedang cemberut.

__ADS_1


"Kenapa senyum-senyum?"Tanya Rini ketus.


"Aku seneng, karena kamu memakai gaun itu, berarti tandanya kamu selalu mengingat aku."Kata Rendi masih tersenyum.


"GR..."Ucap Rini jutek.


Ia baru sadar kalau dirinya memakai gaun yang dibelikan oleh Rendi waktu itu.


Rendi mengantar Rini kembali ketempat Sekar,ia menemani kekasihnya itu makan bakso ditempat yang dikasih tau Ana.


Sudah merasa kenyang Rini kembali menemui teman-teman sekolahnya waktu masih sekolah SMP dulu.yang masih disana menunggu dirinya. Setelah memastikan kekasihnya itu aman sudah berkumpul lagi dengan Adel, Rendi langsung pulang kerumah kedua orangtuanya.


Sesampai di rumah kedua orangtuanya terlihat Siska sudah menunggunya di depan pintu.


"Bagus.. pantas saja gak mau ajak gue kondangan, ternyata lo menemui pela**cur itu."Kata Siska sambil tersenyum sinis.


"Maksud lo apa?"Tanya Rendi menghentikan langkahnya mendekati Siska yang sedang berdiri didepan pintu sambil bersedekap.


"Tunggu.. apa maksud lo,kenapa lo bilang seperti itu,siapa yang lo bilang pela**cur."Kata Rendi menarik tangan Siska dan membawanya keluar rumah agar pembicaraan mereka tidak didengar oleh kedua orang tuanya dan para asisten rumah tangga mereka.


"Siapa lagi kalau bukan Rini, perempuan ja**lang lo itu."Kata Siska dengan suara keras.


Plak...


Sebuah tamparan cukup keras mendarat di pipi Siska.


"Jaga ucapan lo,awas sekali lagi lo bilang itu tentang dia,gue buat hidup lo menderita."Ucap Rendi sambil menggenggam tangan Siska dengan kuat lalu dihempaskan dengan kasar tangan Siska itu.


"Hahaha...lo sungguh menjijikan."Kata Siska sambil ketawa terbahak-bahak.

__ADS_1


"Hah..gak salah dengar gue? Bukannya lo yang menjijikan,lo enak-enak bergulat berindehoi tidur dengan laki-laki lain sampai hamil, setelah itu lo nangis-nangis didepan kedua orang tua gue katanya gue yang sudah membuat lo hamil, haha...lucu,dan ketika sudah menikah pun masih tidur dengan laki-laki lain, sudah berapa laki-laki yang tidur bareng lo?"Tanya Rendi menghina.


" Awas...nanti kena penyakit Aids baru tau rasa lo!"Ancam Rendi menakut-nakuti.


"Lo...!"Teriak Siska mengangkat tangannya untuk menampar suaminya tapi tangannya langsung di tahan oleh Rendi dan kembali dihempaskan dengan kasar.


"Aw..."Siska kesakitan memegang tangannya yang dihempaskan dengan kasar oleh suaminya.


"Darimana lo tau kalau gue tidur dengan laki-laki lain?"Tanya Siska merasa terkejut suaminya bisa tau perbuatannya saat berada di Bali.


"Gak penting."Jawab Rendi singkat.


"Terserah lo mau bicara apa,gak ada yang percaya dengan ucapan lo, bahkan kedua orang tua dan nenek lo saja sudah tidak percaya lagi dengan ucapan lo, mereka lebih percaya dengan ucapan gue.


Gue lakukan itu karena lo,coba waktu itu lo gak ninggalin gue sendiri disana,suami macam apa lo... meninggalkan istrinya sendiri yang seharusnya berbulan madu dengan suaminya,tapi suaminya malah sibuk mencari perempuan lain,ya sudah..gue juga cari laki-laki lain buat nemenin liburan gue biar gak kesepian.


Lo juga bersenang-senang kan dengan tadi?"Kata Siska dengan suara keras.


"Hahaha.. benar-benar lo perempuan tidak tahu malu, sebutan pela**cur itu lebih cocok untuk lo, sungguh disayangkan perempuan cantik seperti lo ternyata memiliki kepribadian yang menjijikan seperti seorang pela**cur."Kata Rendi membalikkan badannya dan berjalan masuk kedalam rumah meninggalkan Siska yang masih berdiri di luar.


Tanpa mereka sadari, pak Burhan yang sedang duduk di teras kamarnya yang ada dilantai dua mendengar pertengkaran mereka dibawah.


Terlihat cairan bening keluar dari kedua matanya tapi beliau tidak bisa mengatakan sesuatu,pak Burhan susah bicara akibat stroke.


"Lho...papa ada disini toh?"Tanya bu Citra yang baru masuk kedalam kamar, mencari keberadaan suaminya ternyata ada di teras kamar.Pak burhan bisa menjalankan kursi rodanya menggunakan kedua tangannya.


"Papa kenapa nangis?"Siapa yang sudah membuat papa sedih?"Tanya bu Citra sambil berjongkok didepan suaminya dan mengusap air mata suaminya menggunakan jarinya.


"Papa jangan nangis lagi ya? Mama akan selalu menemani papa,gak akan pernah meninggalkan papa sendiri."Ucap bu Citra sambil mengusap lembut pipi suaminya.

__ADS_1


"M...ma...ma...."Kata pak Burhan ingin mengatakan sesuatu tapi tidak bisa karena mulutnya terasa kaku untuk digerakkan.


"Ada apa pa?Papa sebaiknya tidur saja ya,ayok!"Ajak bu Citra mendorong kursi roda suaminya masuk kedalam, ditutupnya pintu teras kamarnya dan dengan hati-hati membantu suaminya berdiri,bu Citra memapah tubuh suaminya untuk pindah ke tempat tidur mereka.


__ADS_2