
Tepat pukul tiga sore Rendi beneran datang menjemput Rini dan Ana untuk diajak kerumah kedua orang tuanya yang ada di Pekalongan menggunakan mobilnya.
"Memangnya om sama tante sudah pulang mas? Bukannya mereka sedang ke Brengkolang?"Tanya Rini.
"Kok kamu tau kalau mereka ke Brengkolang?"Tanya Rendi kaget.
"Taulah,tadi pagi Rini bertemu dengan om Burhan dan tante Citra dijalan dekat sekolahan Ana, tante Citra bilang katanya mau ziarah ke makam nenek dan kakek mas Rendi di Brengkolang."Kata Rini memberitahu.
"Mereka sudah pulang tadi jam dua-an."Jelas Rendi.
"Ayok kita berangkat sekarang,mana Ana?"Tanya Rendi.
"ANA.. SUDAH SIAP BELUM?
AYOK KITA SUDAH MAU BERANGKAT NIH....!"Teriak Rini memanggil adiknya yang masih berada didalam kamar.
"Iya kak,sudah siap."Teriak Ana sambil berlari dari dalam kamar menghampiri kakaknya dan Rendi yang sedang berada diruang tengah.
Tepat pukul empat sore mereka akhirnya pergi ke Pekalongan.
Setelah menempuh perjalanan hampir satu jam, sampai juga mereka dirumah kedua orang tuanya Rendi.
"Wow...ini rumah siapa kak?"Tanya Ana menatap kagum bangunan mewah dan super besar yang ada didepannya.
Rendi memarkirkan mobilnya di halaman rumah pak Burhan yang sangat luas seperti lapangan sepakbola.
Terdapat sebuah taman di tengah-tengah halaman rumahnya, terlihat berbagai jenis bunga tertata rapi dihalaman rumah.
"Wow...cantiknya...! Teriak Ana kegirangan saat melihat bermacam-macam jenis bunga yang terlihat begitu cantik tertata rapi di halaman rumah kedua orang tua Rendi.
Ana sampai tidak berkedip melihat bunga-bunga itu karena dia sangat menyukai bunga, terutama bunga mawar dan anggrek.
"Bunganya cantik-cantik ya kak,keren....!Apa ini rumah mas Rendi?"Tanya Ana kagum.
__ADS_1
"Bukan dek,ini rumah kedua orang tua nas Rendi."Kata Rini menjelaskan.
"Mas Rendi cuma numpang disini."Lanjutnya.
Rendi hanya tersenyum mendengar ucapan Rini.
"Ih..kakak gak boleh bicara seperti itu,rumah orang tuanya mas Rendi ya berarti rumah mas Rendi juga."Protes Ana.
Mereka keluar dari mobil dan berjalan mengikuti langkah kaki Rendi.
Rini tiba-tiba menghentikan langkahnya, wajahnya terlihat pucat,ia jadi teringat saat pertama kali datang, dirumah itu ia dihina oleh kedua orang tua Rendi, mendadak ia merasa ragu untuk masuk kedalam rumah,ia takut bakal dihina untuk yang kedua kalinya.
Pintu rumah dibuka oleh seseorang dari dalam, terlihat seorang perempuan muda berambut pendek di ikat satu keluar dari dalam rumah sambil tersenyum ramah menatap Rini dan Ana, sepertinya perempuan muda itu sudah tau dengan kedatangan Rini dan adiknya. Perempuan itu dengan ramah mempersilahkan mereka masuk.
"Terimakasih mbak."Ucap Rini sambil tersenyum kearah perempuan muda yang membukakan pintu untuk mereka.
Diikuti Ana yang juga ikut mengucapkan terimakasih kepada perempuan muda itu dengan tulus sambil tersenyum.
"Iya non, silahkan masuk."Jawab perempuan itu dengan ramah.
"Sayang...ayok."Ajak Rendi menggenggam tangan Rini.
Rendi tersenyum menatap wajah Rini, berusaha meyakinkan Rini agar ia tidak merasa takut.
"Em.."Rini tersenyum, sentuhan tangan Rendi mampu mengusir keraguan dan ketakutannya,ia menganggukkan kepalanya menatap wajah Rendi.
Lalu mereka bersama sambil bergandengan tangan masuk kedalam rumah yang super mewah dan besar diikuti Ana dari samping mereka.
"Sayang.. akhirnya kalian datang juga."Ucap bu Citra yang sedang berada diruang santai bersama pak Burhan.
"Sini nak!
Gak usah takut sayang,"Lanjut bu Citra.
__ADS_1
Rini dan Ana berjalan mendekati bu Citra dan pak Burhan,mereka mencium punggung tangan kedua orang tua Rendi itu bergantian.
"Ini adeknya Rini ya? Siapa nama kamu sayang?"Tanya bu Citra menatap kearah Ana saat Ana mencium punggung tangan dirinya.
"Namaku Ana tante,"Jawab Ana sambil tersenyum.
Tiba-tiba datang seorang perempuan memakai jilbab membawa minum dan cemilan untuk mereka.
"Terimakasih mbak Er."Ucap bu Citra kepada asisten rumah tangganya.
Mbak Erna atau Inul membungkukkan badannya sambil tersenyum lalu pergi kedapur setelah meletakkan cemilan dan minuman diatas meja.
"Ayok diminum sayang,gak usah malu-malu ya,anggap saja rumah sendiri."Ucap bu Citra.
"Iya tante, terimakasih."Jawab Rini.
Mereka kembali berbincang-bincang, sesekali terdengar tawa mereka memenuhi ruangan membuat para asisten rumah tangga mereka yang sedang menyiapkan makanan untuk mereka makan bersama nanti malam ikut bahagia.
"Senengnya ya Nul,lihat majikan kita tertawa seperti itu,selama aku bekerja disini,aku tidak pernah mendengar mereka tertawa seperti itu"Ucap Caca sambil mencuci daging yang akan dimasak.
"Iya Ca,aku juga baru pertama kali ini mendengar mereka tertawa bersama seperti itu, semoga pacar den Rendi yang sekarang bisa merubah suasana rumah penuh canda tawa ya,aku terus terang merasa bersyukur banget akhirnya den Rendi sama non Siska bercerai, habis aku suka kasihan melihat den Rendi, setiap hari berantem terus sama non Siska,dari pertama kali menikah sampai akhirnya mereka bercerai gak pernah aku mendengar mereka berbicara lembut, selalu berbicara kasar dan keras, lama-lama bisa jantungan aku kalau mereka terus bersama.
"Kamu ngomong apa to Nul,apa hubungannya den Rendi sama istrinya berantem sama kamu jantungan."Potong mbak Juju yang sedang mengulek bumbu.
"Ya ada dong mbak Juju, setiap hari aku selalu dibikin kaget sana mereka berdua yang tiba-tiba berbicara keras,suka membanting barang-barang sampai pecah berantakan, bikin jantungku mau copot aja dengerin mereka yang tidak pernah akur, sudah seperti tom and Jerry aja."Ucap Inul.
"He..he...kamu itu ada-ada aja Nul..nul!"Kata Mbak Juju tertawa mendengar ucapan Inul.
"Tapi,bener kata kamu Nul,aku juga sabenarnya seneng banget saat tau kalau den Rendi sudah bercerai sama nenek lampir itu,gemes aku sabenarnya sama dia,pingin tak ulek tuh orang."Lanjut mbak Juju dengan wajah kesal sambil mengulek bumbu.
"Waduh..tenang mbak Juju, sabar-sabar, jangan emosi mbak."Kata Inul dan Caca bersamaan saat melihat teman mereka yang tiba-tiba memukul ulekan hingga terdengar suara yang begitu keras, untung ulekannya tidak pecah gara-gara Juju yang mengulek bumbu dengan kasar,ia terlihat sangat emosi mengingat kelakuan mantan istri Rendi yang suka marah-marah gak jelas sama mereka jika dirinya sedang berantem sama suaminya, Siska juga suka gak sabaran jika meminta sesuatu, mereka terlambat sedikit langsung kena marah.
"Habis sebel kalau ingat kelakuan tuh nenek lampir,kok bisa-bisanya nyonya sama tuan begitu menginginkan dia jadi menantunya."Kata Juju heran.
__ADS_1
"Iya, semoga pacar den Rendi yang ini tidak seperti non Siska."Jawab Inul.
Tiga hari yang lalu Rendi dan Siska telah resmi bercerai, sekarang Siska sudah kembali bersama kedua orang tuanya.