
"Master! Kau harus baca semua buku yang sudah disiapkan! Aku yakin anda akan menyukainya." Ucap Falext.
Ravettha langsung bersemangat setelah mendengar banyak buku yang sudah disiapkan oleh Falext.
"Wah! Dimana bukunya? Aku tidak sabar membacanya." Ucap Ravettha.
Buku yang sudah disiapkan oleh Falext muncul secara tiba-tiba.
Ia melihat tumpukan buku yang sangat banyak.
"Buku-buku tersebut berjumlah lebih dari sejuta, mungkin sekitar satu milliar buku atau bisa lebih. Menarik!" Pikir Ravettha dengan sangat senang.
"Ternyata kau sudah menyiapkan buku yang sangat banyak. Sepertinya aku akan menghabiskan waktu disini. Beritahukan padaku jika sudah waktunya bangun dari tidur agar aku bisa segera keluar!" Ucap Ravettha.
"Baik, master." Ucap Falext.
"Supaya tidak acak-acakan, saya sudah menyediakan dan menempatkannya di rak buku agar lebih rapi. Silahkan membaca." Ucap Falext.
"Terimakasih banyak, Falext." Ucap Ravettha dengan senang.
Ia mulai membaca satu per satu buku tersebut.
16 jam kemudian, Falext menghampiri masternya.
Selama 16 jam, ia sudah hampir selesai membaca dan menghapal seluruh isi buku tersebut.
"Aku benar-benar senang karena banyak informasi dan pengetahuan yang bisa kudapatkan disini." Pikir Ravettha.
"Master. Sekarang sudah waktunya untuk bangun. Anda sudah membaca semua bagian yang penting dari buku tersebut, bukan?" Tanya Falext.
"Tenang saja. Aku sudah melakukannya." Ucap Ravettha.
"Kalau begitu aku akan keluar dan bangun. Kita lanjutkan pembelajarannya lagi nanti, ya?" Tanya Ravettha.
"Tentu saja, master. Saya akan menyiapkan pembelajaran yang lebih baik lagi." Ucap Falext.
Ravettha keluar dari ruang pelatihan rahasianya dan ia langsung terbangun dari tidurnya.
"Masih pukul 3 pagi. Masih ada waktu untuk mengecek ulang persiapan sebelum berangkat ke kelas." Pikir Ravettha.
Lalu ia melihat teman sekamarnya, yaitu Sorayna yang masih tertidur lelap.
"Hei, bangun! Mau sampai kapan kau akan tidur terus? Lihat sudah pukul 3 pagi." Ucap Ravettha.
"Huuh... Berisik! Kan sudah kubilang, jangan ganggu aku. Urus saja dirimu sendiri!" Ucap Sorayna.
"Kalau begitu, aku tidak perlu membangunkannya. Mau bagaimana lagi." Pikir Ravettha.
"Lebih baik aku segera bersiap! Aku sudah telat dari jadwal!" Pikir Ravettha yang segera meninggalkan Sorayna.
Ia segera sarapan, mandi, mengenakan seragam sekolah, mengecek kembali perlengkapan sekolahnya, dan membereskan kamarnya.
__ADS_1
"Sudah lengkap dan siap semua, tidak ada yang ketinggalan. Kamar sudah bersih dan rapi. Kalau begitu aku tinggal berangkat." Pikir Ravettha.
Ravettha mengendong tas di punggungnya dan memakai sepatu.
Ia tidak lupa menutup pintu kamarnya dan pergi meninggalkan kamarnya menuju kelas.
Karena kelas masih sangat sepi pada tepat pukul 4 pagi, bahkan pintu kelasnya masih terkunci.
Ia menunggu di depan pintu kelas.
Karena tidak ada kursi untuk duduk, ia menggunakan skill 'Light House' nya untuk membuat kursi dari sedikit percikan kekuatannya tersebut.
Skill itu bisa digunakan untuk membuat segala hal apapun itu.
Ia menggunakannya karena lebih mudah dan praktis daripada kemampuan yang lainnya.
Selama menunggu pintu kelasnya dibuka, ia dikagetkan dengan kemunculan Falext yang secara tiba-tiba.
"Master! Daripada menunggu terlalu lama nanti, lebih baik anda mengerjakan pertanyaan yang sudah anda baca. Bagaimana?" Tanya Falext.
"Ide bagus, Falext. Aku setuju." Ucap Ravettha.
"Totalnya hanya ada 20 pertanyaan saja. Waktu pengerjaan adalah 15 menit. Tenang saja, semua pertanyaan tersebut tidak ada yang sulit. Silahkan dikerjakan, master." Ucap Falext.
Ravettha membaca dan mengerjakan semua pertanyaan tersebut dengan teliti dan memeriksa kembali jawaban sebelum dikumpulkan.
"Sayang sekali waktu sudah habis, master. Jawaban secara otomatis akan diserahkan." Ucap Falext.
"Ya. Aku sudah mengerjakan semua pertanyaan tersebut. Bagaimana hasilnya?" Tanya Ravettha.
Seseorang berjalan menuju kelas Ravettha.
Lalu orang tersebut ternyata adalah guru piket.
"Ternyata ada anak yang sudah siap masuk kelas, ya?" Tanya seorang guru piket kepada Ravettha.
"Benar, pak." Ucap Ravettha dengan sopan dan bersemangat.
"Bagus. Kau tahu, nak? Anak yang datang lebih awal menunjukkan semangat memulai belajarnya."
Ia mengambil kunci dari saku bajunya dan membuka kelas yang terkunci tersebut.
Lalu, Ravettha pun masuk ke kelas dan memilih tempat duduk.
Ia memilih duduk di barisan paling depan.
Tidak terlalu banyak yang ingin duduk di barisan depan, sehingga ia belum mendapatkan teman sebangku.
Satu per satu murid-murid memasuki kelas tersebut dan memilih tempat duduknya.
"Rave! Ternyata kita sekelas. Bolehkah aku duduk disebelahmu?" Tanya Levord.
__ADS_1
"Tentu." Ucap Ravettha.
Tidak lama kemudian, seseorang memasuki kelas, yaitu wali kelas yang bernama pak Zorandh Geoltus Xunaka.
Semua murid di kelas, tiba-tiba menjadi hening setelah kedatangan guru tersebut.
"Kenapa mereka?" Ucap Ravettha menggunakan telepati.
"Kau tidak tahu? Dia termasuk lima besar guru tergalak yang ada di akademi ini." Ucap Levord menggunakan telepati.
"Benarkah? Lalu siapa sisanya?" Tanya Ravettha dengan menggunakan telepati.
"Aku kurang tahu yang itu. Sebaiknya kau harus berhati-hati dengan tidak membuat masalah di kelasnya." Ucap Levord menggunakan telepati.
"Baiklah, anak-anak. Hari kita akan berkenalan terlebih dahulu sebelum memulai pelajaran. Perkenalkan nama bapak adalah Zorandh Geoltus Xunaka. Bapak adalah wali kelas sekaligus guru pelajaran ilmu sihir." Ucap pak Zorandh.
"Sekarang giliran kalian. Dimulai dari yang paling depan." Ucap pak Zorandh.
Ravettha mendengarkan perkenalan teman-temannya dan mencatat semua nama temannya agar lebih mudah mengingatnya.
Sudah empat orang memperkenalkan dirinya, dan tibalah giliran Ravettha.
Ia memperkenalkan dirinya dengan percaya diri, jelas, dan singkat.
"Perkenalkan namaku Ravettha Toftrelnd Seinoray. Semoga kita bisa berteman baik. Mohon bantuannya." Ucap Ravettha.
Ia kembali duduk ke kursinya.
Selanjutnya adalah giliran Levord, ia memasang wajah dan sifatnya yang dingin.
"Namaku Levord Vanschtexion Aieraelf." Ucap Levord.
Ia tidak melanjutkan perkataannya dan langsung kembali duduk.
Perkenalan diri dilanjutkan kembali.
Sementara itu, di kamar asrama, Sorayna bangun kesiangan hingga terlambat masuk kelas.
"Tidak! Aku harus langsung bersiap-siap! Aku sudah terlambat!" Ucap Sorayna dengan kesal dan panik.
"Kenapa tidak ada yang membangunkanmu? Dan kemana anak itu?" Tanya Sorayna dengan kesal.
Ia sangat terburu-buru dan langsung pergi menuju kelasnya yaitu kelas jurusan penelitian.
"Dimana kelasnya? Seharusnya aku tidak telat di hari pertama ini. Nilai sikapku akan turun jika seperti ini." Pikir Sorayna dengan kesal sekaligus sedih.
"A-Akhirnya sampai juga." Ucap Sorayna dengan napas terengah-engah.
Sorayna membuka pintu kelasnya, lalu ia membungkukkan badannya dan berkata, "Maafkan saya, pak guru karena telah terlambat di jam pelajaran."
"Tidak apa-apa, bapak yakin kau tidak akan mengulanginya lagi. Silahkan perkenalkan namaku lalu pilih tempat duduk." Ucap pak Zorandh.
__ADS_1
"Baik, pak." Ucap Sorayna.
BERSAMBUNG