
"Anda tahu masih tersisa satu permata lagi untuk menuntaskan tantangan anda. Seperti yang anda lihat saat ini, sistem mengalami kerusakan sebelumnya dan anda berhasil tidak menerima kerusakan. Sebelum tantangan anda tuntas, bisakah bergabung dengan kami melaksanakan sebuah misi?" Tanya pria misterius tersebut menjelaskan apa yang perlu didengar Ravettha.
"Kau memintaku bergabung sebagai imbalan sudah menyelamatkanku dari masalah?" Tanya Ravettha menatap sekali pandang lawan bicaranya hanya untuk memperbanyak informasi.
"Pemahaman anda tidak sepenuhnya salah. Hamba tahu anda tertarik mengetahuinya lebih dalam. Datanglah ke perusahaan kami." Ucap pria misterius dengan menyerahkan kartu namanya.
Ia pamit undur diri juga dengan gaya khasnya yang sopan dan hal ini membuat Ravettha tidak sepenuhnya percaya.
Dibandingkan kesan penampilannya, justru Ravettha merasa tidak perlu mencarinya untuk sementara waktu.
"Ravettha! Apa kau tau mengapa laut ini semakin menjijikkan?" Tanya Rencouff yang menghitung total perburuannya.
"Yang mana?" Tanya Ravettha memperhatikan ke sekelilingnya, terutama tubuhnya.
Ia seharusnya melihat lumuran darah di tubuhnya, tetapi tidak di saat ini.
Wajah penuh keceriaan memancar dari ekspresi Vicenzo dan di saat yang sama Ravettha akhirnya mengerti siapa yang membantunya bersih-bersih.
"Tentu saja laut dipenuhi darah, kepala musuh yang lepas dari badannya, dan bagian rahang gigi lenyap semua. Tidak masalah jika kau yang menghabisinya, sayangnya aku ingin cepat-cepat keluar dari sini!" Ucap Rencouff mendapati dirinya tidak bisa berenang.
"Loh? Bagaimana kau bisa jatuh ke sana?" Tanya Ravettha sama sekali tidak mengingat kehadiran rekannya ini.
"Pft!"
Vicenzo lebih mengetahui peristiwa ini langsung menahan tawanya.
Ia tidak ingin ikut terlibat dengan musuhnya.
"Hoi, orang asing! Bilang saja ingin mempermalukanku!" Teriak Rencouff yang berusaha bertahan hidup selama mungkin hingga permainan 'Shark Boot Camp' berakhir.
"Ayo kita pergi, sayang~ Bukankah ada yang ingin kita bicarakan?" Tanya Vicenzo tanpa meminta izin dan langsung menggendong kekasihnya.
Mengingat kembali perkataan yang pernah dikatakannya, Ravettha akhirnya merasa tidak bisa menarik kembali perkataannya.
Sementara mereka berdua pergi, Rencouff masih ditinggal sendirian.
"Kenapa juga aku yang ditinggal? Aku harus segera keluar dari sini!" Gumam Rencouff dengan mendengus kesal.
Di lain tempat, Vicenzo berhasil membawa Ravettha ke dunia miliknya.
Ruang dimensi telah sangat lama ia membangunnya hingga istananya pun terbentuk.
Tidak ada makhluk hidup yang berlalu-lalang, kecuali para robot canggih di sekitarnya.
"Woah! Jadi ini dunia milikmu, Cedric? Sangat mengagumkan!" Ucap Ravettha benar-benar terkesan saat menyaksikan beragam bentuk penampilan warga.
__ADS_1
"Ya, itu benar. Aku sungguh gembira kamu tidak takut berhadapan dengan mereka." Ucap Vicenzo memancarkan rasa senangnya meskipun terkesan berlebihan.
"Aku tidak mengerti mengapa harus takut saat berhadapan dengannya. Lagipula jika harus melihat hal tragis, aku tetap harus menguatkan diriku." Ucap Ravettha merasa ada sesuatu yang lebih menarik semakin lama mengenal partnernya ini.
"Kalau gitu janji ya?" Tanya Vicenzo menatap serius demi memeriksa keyakinan yang berada di dalam tubuh kekasihnya.
"Berjanji tetap harus menguatkan diri meskipun harus melihat hal tragis? Tentu saja!" Ucap Ravettha mulai memahami apa yang diinginkan partnernya ini.
"Selamanya?" Tanya Vicenzo mengubah tatapan seriusnya menjadi penuh kehangatan.
"Ya. Selamanya. Bagaimanapun juga aku bertanggungjawab dengan janji yang telah kubuat." Ucap Ravettha menyadari dirinya hampir tiba di tujuan.
Mendengar penjelasan kalimat terakhirnya, Vicenzo tersenyum kecil.
Ia diam-diam menantikan hari impiannya bersama Ravettha.
Gerbang pintu istana miliknya telah dibuka dan menyambut tuan rumah beserta tamu istimewa.
Mereka semua merahasiakan sebaik mungkin agar tidak terdengar ke telinga Ravettha.
"Selamat datang kembali, Tuan dan Nona Ravettha Toftrelnd Seinoray!" Ucap kepala pelayan, tangan kanan Vicenzo, dan kepala penjaga istana.
"Tuan, bukankah nona ini yang sering anda bicarakan?" Bisik tangan kanan Vicenzo bernama McLeizer.
Sesigap mungkin, kepala pelayan menyadari kebutuhan majikan dan tamunya ini langsung pamit undur diri dan bersiap menyajikan pelayanan yang terbaik.
"Paman Arken! Tolong perketat 100 kali pertahanan kita." Ucap Vicenzo dengan menurunkan Ravettha agar tetap berada di sampingnya.
"Benar sekali! Ini baru menggairahkan. Keponakanku, kau paling tau apa yang kucari." Ucap Paman Arken pamit undur diri dengan api semangat terbesar yang ia miliki.
"Mari ikut denganku, sayang! Kau, McLeizer! Mundur 18 langkah dariku!" Ucap Vicenzo memberikan batasan pada satu bawahan paling merepotkannya.
"Tuan!" Ucap McLeizer merasa khawatir berlebihan terhadap keselamatan majikannya.
Hanya satu hal yang bisa ia lakukan, yaitu menuruti perintah Vicenzo.
Bahkan jika harus diminta nyawanya, dirinya pun harus menyerahkannya secara sukarela.
Mengetahui pengabdian McLeizer terhadap Vicenzo ternyata berhasil membuat Ravettha kagum sekaligus senang.
"Aku kagum dengan tangan kananmu, Cedric. Dia memastikan keamananmu segenap nyawanya." Ucap Ravettha memberikan keantusiasannya.
"Ya, itu memang tugasnya." Ucap Vicenzo merasa sedikit bangga dengan caranya mengatur tatanan istananya.
Dirinya mempersilahkan kekasihnya duduk tepat di pangkuannya dan berencana mendengarkan keinginan Ravettha.
__ADS_1
"Kamu duduk disini saja bersamaku." Ucap Vicenzo menebak reaksi yang akan dikeluarkan Ravettha.
Ia benar-benar ingin tahu bagaimana respon kekasihnya saat menyembunyikan perasaannya.
"Kursi yang ini tidak ingin dipatahkan?" Tanya Ravettha sebisa mungkin mengalihkan perhatiannya demi menjaga akal sehatnya.
"Saat ini belum kusentuh, walaupun sengaja ingin mematahkan kakinya." Ucap Vicenzo mengakui rencana busuknya.
"Ya sudah! Kalian berdua memang digunakan untuk jadi kursiku. Jadi aku bisa bebas memilihnya." Ucap Ravettha yang tidak peduli apa yang diuji partnernya ini.
Tidak ada satupun yang menyangka Ravettha dengan mudahnya duduk di pangkuan Vicenzo.
McLeizer yang menyaksikan keputusan tamunya ini akhirnya menyadari maksud majikannya dan justru tidak menghentikannya.
Dirinya memilih untuk menunggu di luar tanpa memberi tahu majikannya.
"Permisi, Tuan McLeizer. Bisakah tinggal disini sampai urusanku selesai?" Tanya Ravettha melalui telepatinya.
"Jika anda yang memintanya, maka baiklah." Ucap McLeizer membalas permintaan Ravettha dari telepati singkatnya.
Meskipun Vicenzo sebagai majikan McLeizer, ia tetap saja tidak bisa bertindak gegabah dan langsung berebut kekuasaan dengan Ravettha.
"Tidak mengherankan jika kamu mengetahui seluruh kegiatanku. Yang membuatku tidak mengerti adalah mengapa kamu bersusah payah ingin terus dekat denganku?" Tanya Ravettha tanpa membuang waktu berharganya hanya untuk basa-basi.
"Karena kamu segalanya bagiku, Ravettha." Ucap Vicenzo mengungkapkan apa yang ada di isi hatinya.
"Ganti pertanyaan! Apa benar kamu yang memberikanku kotak itu di kehidupan pertamaku, dan membantuku lakukan pembantaian di kehidupan keduaku, Cedric?" Tanya Ravettha berhasil menangkap banyak petunjuk yang bisa ia dapatkan selama di 'Lautan Waktu'.
"Itu sangat benar, sayang." Ucap Vicenzo menyerahkan secangkir cokelat panas kepada kekasihnya.
"Terakhir, mengapa kamu terus mengatakan dan melakukan tindakan manis hanya di depanku?" Tanya Ravettha mengambil secangkir cokelat panas yang diberikan Vicenzo.
"Karena kamu calon istriku." Ucap Vicenzo sangat gembira dirinya telah diperhatikan sejauh ini oleh kekasihnya.
"BWOOSHHH!!! Uhuk!"
"Sayang! Biarkan aku yang membersihkannya!" Ucap Vicenzo panik melihat keadaan Ravettha yang basah karena minuman cokelat panasnya.
"Seenaknya memanggilku dengan sebutan menjijikkan itu! Tidak habis pikir mengapa juga di awal pertemuan itu aku membuat kontrak dengannya. Hm... Jadi ini hal menyeramkan yang kurasakan saat bertemu lagi dengannya?" Pikir Ravettha benar-benar tidak rela mendapati Vicenzo menyentuh pakaiannya.
Menyadari dirinya diperhatikan saat membersihkan noda di pakaian Ravettha, Vicenzo justru tersenyum puas.
"Seseorang! Cepat bunuh diriku!" Teriak Ravettha di dalam pikirannya.
BERSAMBUNG
__ADS_1