
"Sekarang hentikan pertempuran ini dan kita bicarakan secara damai!" Ucap Scott dengan menekan seluruh kekuatannya sehingga tidak ada korban yang terluka.
"Pft! Berbicara secara damai? Kau pikir aku bodoh? Aku tidak akan pernah melakukannya!" Ucap Raja Haxley dengan menghancurkan kekuatan yang telah menahannya.
"Kau ternyata mirip dengannya!" Ucap Scott yang telah mengamati seluruh karakteristik Raja Haxley.
"Apa yang barusan kau bilang?" Tanya Raja Haxley yang kebingungan dengan perkataan yang diucapkan oleh Scott.
"Orang yang dulu kuhormati dan kukagumi justru menjadi orang yang kubenci. Mulai dari sifat, cara bicara, bahkan berpikirmu sama dengan Raja Kourtnef, si Raja Sialan itu!" Ucap Scott dengan tatapan dinginnya.
"Tunggu! Aku mirip dengan Kourtnef sialan itu? Yang benar saja!" Ucap Raja Haxley yang kesal dan benci karena telah mendengar pernyataan tersebut.
"Melalui ekspresimu, aku mengerti bahwa kau juga membencinya. Bagaimana? Kau mau bekerjasama dengan kami untuk menyelesaikan tugas kami? Kita akan buat kesepakatan yang saling menguntungkan ketiga pihak!" Ucap Scott.
"Apa? Kau mempercayai iblis sepertinya? Jangan-jangan... Ini... Ini semua adalah rencanamu!" Ucap Ravettha yang terkejut dan heran karena ia menyadari bahwa ia juga masuk ke dalam rencana milik Scott.
"Itu benar!" Ucap Scott dengan tersenyum senang.
"Jadi benar, ya? Itu artinya saat ia menghormati dan mengagumi Raja Kourtnef adalah tindakannya yang dilakukan secara impulsif! Saat ia mengetahui seluruh kebenaran yang telah tersembunyi sangat baik di dalam diri Raja Kourtnef, ia memilih untuk mengkhianatinya dan memilih untuk membalasnya saat ia memiliki waktu yang sangat tepat. Selagi ia menunggu waktunya tiba, ia pasti membuat rencana yang dapat menguntungkan dirinya dimasa depannya! Jika dia memiliki rasa simpati, ia pasti akan memikirkan orang yang akan berada di bawah naungannya. Untuk mendapatkan simpati dari para orang-orang tersebut, ia pasti akan memanipulasi, mencuri dan menipu para mangsanya sehingga mereka percaya, dan memilih untuk menjadi pengikutnya walaupun hal tersebut sangat terlihat natural dan dapat mengecoh target utamanya!" Pikir Ravettha.
"Bukankah dia juga hampir sama dengan orang yang ia benci? Hanya saja mereka memiliki perbedaan, yaitu Raja Kourtnef telah terlahir dengan kepribadian seperti itu. Sedangkan, Scott berubah karena ia mengalami suatu kejadian yang menyakiti perasaannya!" Pikir Ravettha yang telah menyimpulkan apa yang ia pikirkan.
"Sekarang pilihan itu ada di tanganku!" Pikir Ravettha kembali.
"Baiklah! Kita bekerjasama dengan syarat, kalian tidak boleh menyebutkan namaku karena aku adalah pemilik kemampuan 'Soul Leader'. Jika kalian punya keinginan lain, kalian bisa meminta kepadaku. Katakan saja apapun itu. Bagaimana?" Tanya Raja Haxley.
Ravettha menyetujui hal tersebut.
Sementara itu, Scott hanya mengangguk setuju dan tersenyum senang karena rencananya berjalan lancar.
"Kalau begitu kita harus memberikan seseorang sebagai umpan. Kalian tahu kan maksudku?" Tanya Scott dengan tersenyum licik.
"Ya!" Ucap Raja Haxley dan Ravettha secara bersamaan.
"Hei, nak! Berikan mantan pelayanku yang sudah kau lenyapkan itu, aku akan memanipulasinya untuk kalian berdua." Ucap Raja Haxley.
"Ini adalah jebakan! Saat aku akan memberikannya ke raja ini, dia bukan hanya sekedar memanipulasi pelayannya untuk dijadikan umpan melainkan ia juga akan memberikan beberapa alat atau kemampuan penyadap yang dapat memperhatikan seluruh pergerakan di pihakku ataupun Scott! Wajar saja jika dia belum sepenuhnya mempercayaiku maupun Scott!" Pikir Ravettha.
__ADS_1
"Baiklah. Ini mantan pelayan anda." Ucap Ravettha dengan mengeluarkan arwah dan tubuh pelayan yang terpisah untuk disatukan kembali.
"Terimakasih." Ucap Raja Haxley dengan mengambil serta menyatukan arwah dan tubuh pelayannya kembali.
Saat Raja Haxley sedang menyatukan arwah dan tubuh pelayannya, ia memanfaatkan kesempatan tersebut untuk mempelajari kunci dari 'Soul Leader'.
"Sudah selesai! Sekarang kau kuperintahkan untuk menjadi umpan. Dengarkan penjelasanku!" Ucap Raja Haxley dengan mendekatkan dirinya untuk membisikkan sesuatu kepada pelayannya.
"Misi kau adalah menjadi pemilik palsu dari 'Soul Leader'. Jika si sialan itu mengetahui kebenarannya, kau yang akan mati di tanganku kali ini!" Bisik Raja Haxley dengan tersenyum licik.
Pelayannya tersebut langsung mendengarkan seluruh penjelasan yang diberikan oleh majikannya dengan seksama.
"Apa kau sudah mengerti?" Tanya Raja Haxley.
"Ya, Tuan muda." Ucap pelayan tersebut dengan penuh kepatuhan.
"Karena dia sudah bangkit kembali, kami sudah bisa menggunakannya, bukan?" Tanya Scott.
"Ya, silahkan." Ucap Raja Haxley dengan tersenyum senang.
Ravettha hanya memperhatikan seluruh kondisi dan gaya percakapan mereka tanpa ada yang menyadari akan hal tersebut.
"Baik." Ucap Ravettha dan pelayan tersebut dengan mengikuti Scott pergi.
Scott membawa Ravettha dan pelayan Raja Haxley ke dalam suatu rumah tua yang jauh dari tempat sebelumnya.
"Kau tahu tempat ini?" Tanya Scott kepada pelayan Raja Haxley.
"Ini adalah rumah yang sudah ditinggalkan sejak 1 abad yang lalu." Ucap pelayan Raja Haxley.
"Ternyata kau cukup tahu, ya?" Tanya Scott dengan memanggil gurunya melalui jendela panggilan yang diberikan saat diberikan penjelasan sekaligus syarat untuk pelaksanaan tugasnya.
"Guru! Aku dan Ravettha telah menemukan pemilik 'Soul Leader' itu!" Ucap Scott yang berbicara melalui jendela panggilan.
"Bagus! Sekarang kembalilah ke tempat pelatihan!" Ucap Raja Kourtnef yang berbicara melaluinya jendela panggilan.
"Baik, guru!" Ucap Scott dan Ravettha secara bersamaan.
__ADS_1
Mereka langsung pergi menuju tempat latihannya.
Saat ia berada di pertengahan jalan, suara jendela misi kembali muncul.
"Ding~!"
"Selamat! Anda telah menemukan pemilik kemampuan 'Soul Leader'. Anda lulus pelatihan terakhir untuk hari ini!" Bunyi pesan tersebut kepada Ravettha dan Scott.
"Bagaimana? Aku tidak membohongimu, bukan?" Tanya Scott kepada Ravettha melalui telepatinya.
Ravettha hanya diam dan memperhatikannya saja tanpa mengatakan sesuatu dipikirannya maupun secara lisan.
"Kau bisa mempercayaiku untuk kedepannya." Ucap Scott dengan tertawa tersenyum percaya diri.
Akhirnya mereka berdua telah tiba di tempat latihan.
Mereka berdua melihat para murid yang sedang berkumpul dan sibuk dengan latihan mandirinya.
"Apa mereka tidak mengikuti pelatihan terakhirnya?" Tanya Ravettha kepada Scott.
"Kurasa mereka telah menyelesaikan, tetapi tugasnya dibuat berbeda dengan kita." Ucap Scott.
"Yah... Aku justru penasaran dan ingin melihat mereka menyelesaikan tugasnya." Pikir Ravettha yang kecewa setelah mendengar hal tersebut.
"Hei, hei! Kenapa kau cemberut begitu? Hm... Kau cemberut karena datang yang paling terakhir?" Tanya Karin dengan menghampiri Ravettha.
"Kenapa kau selalu memperhatikan dan mendekatiku?" Tanya Ravettha dengan yang masih sedih karena kehilangan kesempatan untuk menyaksikan kehebatan para murid lainnya.
"Menurutku? Itu sangat susah untuk dijelaskan. Yang penting adalah aku ingin menjadi teman sekaligus partner belajarmu. Bagaimana?" Tanya Karin.
"Ehm... Aku tidak sebaik anda dalam belajar. Sepertinya aku hanya akan merepotkan anda." Ucap Ravettha.
"Itu bukan jadi masalah! Kita bisa belajar bersama! Aku akan membantumu sebisaku!" Ucap Karin.
"Hoi! Kalau mau belajar bersama tuh bilang-bilang dong! Jangan cuma ajak satu orang! Aku juga ingin belajar bersama!" Ucap Ranson dengan mendatangi mereka berdua.
"Kami juga!" Ucap Dalton, dan Scott secara bersamaan.
__ADS_1
"Ya, baiklah! Mohon bimbingannya!" Ucap Ravettha dengan menyembunyikan rasa senangnya.
BERSAMBUNG