Lord Of The Secret Dimension

Lord Of The Secret Dimension
Pertemuan Kembali Terpenuhi


__ADS_3

Mendengar sebuah perintah dari Yang Mulia Raja, Lougerca langsung mengangguk setuju dan berjalan menuju tengah ruangan singgasana.


Posisi dan ruang yang sangat cukup untuk membuka 'Poxhie Gate' tidak menyulitkannya dalam memanggil pasangannya, yaitu 'Poxhie Key'.


Pintu yang berukuran setengah dari luas ruangan singgasana Yang Mulia Raja dan Ratu tiba dengan prosesnya yang tergolong cepat.


Pintu tersebut dikelilingi oleh ranting dan dedaunan kristal murni, serta 'Poxhie Key' yang tiba dengan kilauan cahaya biru tua hingga ungu.


"Mendekatlah, Tuan-Tuan dan Nona!" Ucap Lougerca dengan dipenuhi keramahtamahannya.


"Baik! Terima kasih atas bantuannya!" Ucap Kalvetno secara spontan.


Levord, dan Vicenzo hanya sedikit bergerak mendekati Lougerca.


Pandangan mereka saling bertatapan dan berakhir pada pertentangan pendapat yang dimulai oleh Sorayna.


"Sepertinya kami melupakan sesuatu? Apa Yang Mulia masih ingat dengan kesepakatan sebelum kami bermain? Kami ingin mengambilnya sekarang!" Ucap Sorayna dengan memberikan penekanan pada kalimat terakhirnya.


"Ho...! Kejam sekali...! Kalian telah salah menuduh! Apa hanya itu yang kalian butuhkan? Bagaimana jika anak ini kulenyapkan saja?" Tanya Raja Ocheliux dengan menyeringai bersamaan dengan menunjukkan sebuah pusaran kristal.


Ia berjalan dan menuruni tangga, sementara permaisurinya hanya duduk memperhatikan semuanya dari atas.


Di dalam pusaran kristal tersebut, terbentuk kristal pipih yang disertai sebuah penglihatan dan kegiatan seorang anak kecil di masa sekarang.


Meskipun dimensi mereka terhubung satu sama lain, pemikiran Raja Ocheliux yang termasuk dewasa justru menikmati kehadiran sekaligus perbincangan kedua belah pihak.


"Kalian masih ingat dengan anak polos ini, bukan? Oh, lihatlah dengan baik! Perkataan permaisuriku sangat tepat! Manis sekali!" Ucap Raja Ocheliux dengan menahan tawanya.


Seperti yang ditunjukkannya, Raja Ocheliux benar-benar terlihat bersemangat dalam menarik perhatian Sorayna, Levord, Kalvetno, dan Vicenzo.


Ia sudah tidak sabar ingin melihat reaksi sesuai harapannya.


"Katakan saja jika kalian tidak ingin kami membawa pergi 'Telur Jiquousy' dari anda, Yang Mulia!" Ucap Sorayna dengan berterus-terang.


Pandangan matanya tertuju ke depan, mengawasi, dan memperhatikan gestur tubuh Yang Mulia Raja yang mulai tenang.


"Ternyata pikiran kita sejalur, ya? Siapa namamu tadi?" Tanya Raja Ocheliux dengan mengangguk setuju.


Ia kembali tersenyum dan mengetuk jam tangan kristalnya sekali.


Mendengar akan suara ketukan tersebut, Lougerca langsung mengetahui bahwa Yang Mulia Raja berniat mengakhiri pembicaraan sekaligus memberikan kesempatan kepada tangan kanannya agar dapat melaksanakan tugasnya.


Dirinya langsung memindahkan keempat tamu kerajaan secepatnya.


Sebelum Sorayna, Levord, Kalvetno, dan Vicenzo memasuki 'Poxhie Gate', Raja Ocheliux memberikan sebuah pesan terakhirnya.

__ADS_1


"Kalian dan kami tidak pernah bertemu, mengerti?" Tanya Raja Ocheliux dengan menatap keempat tamunya dari kejauhan.


Tidak ada satupun persetujuan ataupun penolakan.


Lougerca dengan tersenyum kecil langsung membuka 'Poxhie Gate' dengan secepat mungkin.


Saat pintu gerbang tersebut telah setengah terbuka, Sorayna, Levord, Kalvetno, dan Vicenzo langsung terhisap dan masuk ke dalamnya tanpa adanya peringatan sedikitpun.


Daya isap pintu gerbang yang sangat kuat membuat mereka berempat memiliki pikiran yang sama.


"Hu... Uhuk! Yang benar saja! Aku bisa terbaring di ranjang seharian!" Gumam Kalvetno dengan menyeka seluruh keringat dingin di wajahnya.


"Itu sudah pasti, Kalvetno! Pilihan kita hanya dua. Pergi sendiri dengan sesuai rencana kita atau kepergian yang direncanakan oleh mereka?" Tanya Vicenzo dengan meraih saku celana dan memberikan sapu tangannya.


"Kau benar...! Setidaknya biarkan suasana saat ini dramatis, Vicenzo!" Ucap Kalvetno dengan sangat kesal.


"Haah! Anak itu mulai lagi!" Gumam Sorayna bersamaan dengan memutarkan kedua bola matanya.


"Sahabatku! Lihat ke depan sana! Itu jalan keluarnya, kan?" Tanya Levord dengan menatap penuh penasaran ke arah depannya.


Pertanyaan yang belum dijawab oleh ketiga sahabatnya itu berhasil dibuktikan sepihak.


Kesepakatan yang telah mereka buat di awal pertemuan ternyata membuahkan hasil.


Keempat sahabat tersebut akhirnya dapat dipertemukan dengan satu sahabat yang mereka cari.


"Tempat apa ini?" Tanya Kalvetno dengan tidak percaya bahwa dirinya memasuki kamar anak perempuan.


Dirinya juga mengalami hal yang sama dengan kedua sahabat laki-laki yang lainnya.


Hanya terdapat ruang tidur dan dilengkapi meja belajar disana.


Selain itu, tidak ada seorangpun di dalamnya.


Kalvetno, Sorayna, dan Levord saling dipenuhi pertanyaan, sedangkan Vicenzo menemukan hal lain yang lebih menarik perhatiannya.


Perhatiannya tertuju pada setumpukan kertas di atas meja.


Dibandingkan dengan gaya tulisan, hasil berkas aura dan sidik jari terasa dengan jelas oleh indera terbaiknya.


"Aku menemukanmu, sayang...!" Gumam Vicenzo dengan tersenyum senang.


Kedua tangannya yang akan meraih tumpukan kertas lainnya diharuskan menundanya untuk sementara waktu.


Ia sama sekali tidak ingin melihatkan titik kelemahannya selain orang-orang yang dicintainya.

__ADS_1


"Apa yang kau temukan disana, Vicenzo?" Tanya Sorayna dengan melirik ke arah meja bertumpukan buku dan kertas yang cukup berserakan.


"Apa kau sangat dekat dengan Ravettha?" Tanya Vicenzo dengan berjalan menuju pintu kamar.


"Kau barusan mengatakan nama sahabat perempuanku! Bagaimana kau tahu ini kamarnya?" Tanya Sorayna dengan berterus terang mengatakan seluruh pertanyaan terpenting di saat ini.


"Baguslah...!" Ucap Vicenzo dengan menyembunyikan rasa senangnya.


"Kalvetno! Apa kau mengerti perkataannya?" Tanya Sorayna berpaling dan emosinya langsung berubah menjadi kesal karena ia menganggap dirinya kurang memperhatikan lingkungan sekitarnya.


"Tidak terlalu." Ucap Kalvetno dengan berjalan dan menatap ke luar jendela.


"BRUK!"


Terdengar suara hantaman pintu oleh seseorang, yang tidak lain adalah Paman Elliovent.


Ia benar-benar tidak tahu jika tepat di belakang pintu terdapat Vicenzo yang juga ingin membuka pintu kamar.


"Siapa kalian?" Tanya Paman Elliovent.


Dirinya yang datang dengan membawa tinta hitam dan pena, dengan cepatnya langsung memeriksa satu per satu peristiwa yang telah terlewatkannya.


Pemeriksaan tersebut lebih difokuskan pada perdamaian karena baginya, mencari tahu solusi dari masalah keadaan itu sangatlah penting.


"Kami adalah teman akademi sekaligus sahabat Ravettha, paman. Apa Ravettha masih disini? Kami ingin menyelesaikan tugas kelompok." Ucap Sorayna dengan memperhatikan setiap pilihan kata yang diucapkannya.


"Kudengar ada yang menyebut namaku dan tentunya itu bukan paman! Apa itu kau, Sorayna?" Tanya Ravettha yang baru saja tiba di belakang tubuh pamannya sekaligus ikut membantu pemeriksaan pamannya.


Tangan kirinya yang masih menggenggam secangkir cokelat panas, sedangkan sisi yang lainnya mencelupkan sebatang cokelat blueberry.


Rambut setengah panjangnya yang masih cukup basah dan ujung syal hitam yang menjuntai ke lantai, tidak membuatnya kehilangan kontak mata dengan keempat sahabatnya.


"Hwaaaaaa! Harusnya kita menjelajah dunia bersama-sama, Vette! Ku yakin kau pasti menyesal tidak mengalaminya!" Ucap Sorayna yang langsung melompat kegirangan, mengajak sahabat perempuannya melompat ceria, dan sesekali memeluk dengan erat.


Mendapati reaksi Sorayna yang terlalu bersemangat, Ravettha justru tidak bisa menahan ajakan berpelukannya.


Ia dengan secepat mungkin menyerahkan cangkir beserta cokelat blueberry yang telah tercampur kepada pamannya.


Pamannya yang menyadari akan hal tersebut, ternyata kurang sigap dalam merespon.


Cangkir Ravettha langsung disambut dengan hangat oleh Vicenzo seperti cokelat panas yang telah dijadwalkan menikmati segala kenikmatannya.


"Saya dapat mengamankan cangkirnya, paman!" Ucap Vicenzo dengan tersenyum senang.


"Oh... Oh! Baiklah!" Ucap Paman Elliovent yang terkejut saat melihat kebahagiaan yang terpancar kuat dari para tamu keponakannya.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2